Santapan Harian Keluarga, 3-9 November 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 03 November 2019
bacaan : Matius 22 : 1-14
Perumpamaan tentang perjamuan kawin
Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 2 “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. 8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”
Dipilih Untuk Mengabdi Dalam Masyarakat Majemuk
Diundang ke perjamuan kawin merupakan hal yang menyenangkan, namun perumpamaan ini menjelaskan bahwa mereka yang diundang tidak satupun yang datang, mereka mengemukakan berbagai alasan. Itulah gambaran orang Farisi, para Imam dan ahli Taurat yang merasa memiliki hak sebagai umat pilihan Allah untuk diselamatkan dan mengabaikan undangan untuk masuk ke Kerajaan Sorga. Undangan Kerajaan Sorga membutuhkan respons manusia, lewat kesediaan untuk datang memenuhi undangan tersebut, mempersiapkan diri dengan menggunakan pakaian pesta yaitu pakaian yang sesuai dengan Kerajaan Allah yaitu pertobatan, perbuatan baik, kasih, iman yang terwujud dalam hidup sebagai persekutuan dan sukacita. Undangan untuk menikmati keselamatan dalam Kerajaan Sorga sebenarnya bersifat universal, tidak terbatas pada satu suku atau golongan tetapi seluruh manusia: orang baik, orang jahat, bahkan orang-orang yang terbuang dari dalam masyarakat. Ya…,semua orang yang ditemui diberbagai tempat oleh para hamba raja di panggil untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Dan setiap orang yang datang memenuhi undangan harus menggunakan pakaian pesta, yaitu pertobatan dan pembaruan diri. Masyarakat majemuk adalah sasaran kasih Allah yang terus dipanggil untuk menikmati keselamatan Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus membutuhkan para pelayanNya yang setia untuk terus mencari dan mengundang siapa saja untuk menikmati keselamatan yang IA sediakan. Persoalannya adalah, apakah masih ada orang yang bersedia untuk dipakai Allah melaksanakan tugas pelayanan itu? Sebab banyak yang terpanggil tetapi sedikit yang terpilih.
Doa: Tuhan, pakailah kami untuk melaksanakan tugas pelayananMu. Amin.
Senin, 04 November 2019
bacaan : 1 Tawarikh 16 : 37 – 43
Orang-orang yang ditunjuk untuk beberapa tugas ibadah
37 Lalu Daud meninggalkan di sana di hadapan tabut perjanjian TUHAN itu Asaf dan saudara-saudara sepuaknya untuk tetap melayani di hadapan tabut itu seperti yang patut dilakukan setiap hari; 38 juga Obed-Edom dan saudara-saudara sepuaknya yang enam puluh delapan orang itu; Obed-Edom bin Yedutun dan Hosa adalah penunggu-penunggu pintu gerbang. 39 Tetapi Zadok, imam itu, dan saudara-saudara sepuaknya, para imam, ditinggalkannya di hadapan Kemah Suci TUHAN di bukit pengorbanan yang di Gibeon, 40 supaya pagi dan petang tetap dipersembahkan korban bakaran kepada TUHAN di atas mezbah korban bakaran, dan supaya dikerjakan segala yang tertulis dalam Taurat TUHAN yang diperintahkan-Nya kepada orang Israel. 41 Dan bersama-sama mereka ikut Heman dan Yedutun dan selebihnya dari orang-orang yang terpilih, yang ditunjuk dengan disebut namanya untuk menyanyikan: “Syukur bagi TUHAN. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” 42 Pada Heman dan Yedutun itu ada nafiri dan ceracap untuk para pemain, juga alat-alat musik pengiring nyanyian untuk Allah. Dan anak-anak Yedutun harus menjaga pintu gerbang. 43 Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu masing-masing ke rumahnya, dan Daud pulang untuk memberi salam kepada seisi rumahnya.
Orang Tua, Belajarlah Dari Raja Daud!!!
Setelah akhirnya menduduki tampuk pemerintahan sebagai raja Israel, hal pertama yang dilakukan Daud adalah memindahkan Tabut perjanjian Allah dari Kiryat Yearim ke Yerusalem kota Sion. Daud tidak mau proses pemindahan itu berjalan seadanya. la mengatur dengan sangat serius dan teliti. Mulai dari siapa yang mengangkat, bagaimana prosesnya, siapa saja yang mengiringi proses pemindahan tersebut, siapa yang bertanggung jawab, dan siapa yang tetap tinggal di Kemah Suci di Gibeon agar mezbah korban bakaran tidak pernah kosong. Daud mengatur dengan serius, teliti dan bersungguh-sungguh. Daud memilih orang-orang terbaik sesuai keahlian dan potensi dirinya. Bagi Daud semua yang terkait dengan Kemuliaan Allah harus dilaksanakan dengan sungguh hati, tidak main-main, bukan hanya dengan tangan tetapi juga dengan hati, pikiran dan perasaan. Sebagai opa, oma, papa dan mama dalam tiap keluarga Kristen, bagaimanakah kita melaksanakan tanggung jawab sesuai panggilan yang ada pada kita? Apakah seadanya saja? Setengah hati? Tidak serius? Atau..? Sebagai orang-orang pilihan Tuhan dalam tiap rumah tangga Kristen untuk melakukan berbagai tugas dan pelayanan sehari-hari, hendaknya dengan sepenuh hati kita melakukan peranan kita dengan sungguh hati bagi anak-cucu kita. Hal terpenting yang mesti kita kembangkan dalam hidup keluarga kita adalah membagi peran dan tugas kepada setiap anak-cucu dalam melaksanakan pekerjaan rumah tangga sebagai wujud rasa percaya kita akan kemampuan yang ada pada mereka. Dan nilai terpenting dari semua itu adalah dengan sendirinya kita telah menanamkan rasa tanggung jawab kepada mereka sejak kecil jika kelak dikemudian hari mereka terpilih untuk melakukan berbagai tugas di hidup mereka.
Doa: Tolong kami Tuhan untuk mulai membangun komitmen guna melakukan peran sebagai orang tua kepada anak-cucu kami. Amin.
Selasa, 05 November 2019
bacaan : Yosua 4 : 1 – 13
Kedua belas batu peringatan
Setelah seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian: 2 “Pilihlah dari bangsa itu dua belas orang, seorang dari tiap-tiap suku, 3 dan perintahkanlah kepada mereka, demikian: Angkatlah dua belas batu dari sini, dari tengah-tengah sungai Yordan ini, dari tempat berjejak kaki para imam itu, bawalah semuanya itu ke seberang dan letakkanlah di tempat kamu akan bermalam nanti malam.” 4 Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku, 5 dan Yosua berkata kepada mereka: “Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel, 6 supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu? 7 maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya.” 8 Maka orang Israel itu melakukan seperti yang diperintahkan Yosua. Mereka mengangkat dua belas batu dari tengah-tengah sungai Yordan, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Yosua, menurut jumlah suku Israel. Semuanya itu dibawa merekalah ke seberang, ke tempat bermalam, dan diletakkan di situ. 9 Pula Yosua menegakkan dua belas batu di tengah-tengah sungai Yordan itu, di tempat bekas berjejak kaki para imam pengangkat tabut perjanjian itu. Batu-batu itu masih ada di sana sampai sekarang. 10 Para imam pengangkat tabut itu tinggal berdiri di tengah-tengah sungai Yordan, sampai selesai dilakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepada Yosua untuk disampaikan kepada bangsa itu, sesuai dengan segala yang diperintahkan Musa kepada Yosua. Maka menyeberanglah bangsa itu dengan cepat-cepat. 11 Ketika seluruh bangsa itu selesai menyeberang, maka menyeberanglah tabut TUHAN itu serta para imam di depan mata bangsa itu. 12 Juga bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu menyeberang, dengan bersenjata, di depan orang Israel itu, seperti yang dikatakan Musa kepada mereka. 13 Kira-kira empat puluh ribu orang yang siap untuk berperang menyeberang di hadapan TUHAN ke dataran Yerikho untuk berperang.
Peringatan Atau Tanda Bagi Keluarga
Pa Frans dan ibu Welly memiliki 3 orang putra dan putri yang sudah beranjak remaja. Hidup mereka sangat rukun dan sopan. Setiap hari mereka terlihat kompak dalam mengerjakan tugas-tugas di dalam rumah. Sepulang sekolah dan les, mereka berbagi pekerjaan rumah dan itu berlangsung setiap hari. Pa Frans dan ibu Welly mengajarkan putra-putri mereka untuk berbagi peran dalam melakukan setiap pekerjaan di rumah. Dan hasilnya sungguh sangat memuaskan mereka sebagai orang tua. Selain itu anak-anak pa Frans dan ibu Welly juga terlihat sangat manis dan sopan dalam hidup orang saudara dan juga pergaulan mereka di luar. Cara mereka berbicara dan berperilaku, menunjukan mereka diajar dan dididik dengan begitu baik oleh kedua orang tua mereka. Bahkan bukan itu saja, pa Frans dan ibu Welly selalu mengingatkan anak-anaknya tentang ibadah Binakel. Sebab bagi pa Frans dan ibu Welly ibadah Binakel tersebut sangatlah penting sebagai kesempatan mereka bisa share tentang apa saja dengan anak-anak mereka. Oleh karenanya untuk mengingatkan bahwa Binakel itu penting, maka di setiap kamar tidur mereka, dipasang bingkai dengan gambar foto keluarga mereka yang sedang berdoa di ruang keluarga. Ini menjadi tanda bahwa jika mereka melihat bingkai gambar tersebut, maka itu mengingatkan mereka akan ibadah Binakel yang melaluinya mereka belajar dan tidak melupakan akan kasih Tuhan yang selalu menyertai dan memberkati hidup keluarga mereka. Demikian juga yang dapat kita pelajari dari bacaan kita hari ini, bahwa Tuhan tidak menghendaki Israel melupakan perbuatan baik Tuhan kepada mereka ketika menyebrangi sungai Yordan, olehnya Tuhan menyuruh mereka untuk membuat sebuah tugu peringatan dengan 12 batu dari tiap-tiap suku. Sebab salah satu musuh iman paling besar adalah LUPA!!!
Doa: Tuhan, ingatkanlah keluarga kami akan kasih setiaMu. Amin.
Rabu, 06 November 2019
bacaan : Lukas 5 : 1 – 11
Penjala ikan menjadi penjala manusia
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Turutilah Panggilan Tuhan
Panggilan kemuridan dimulai dari lingkup yang paling bawah dan sederhana. Kisah pemanggilan para murid Yesus berawal dari perjumpaan Yesus dengan sejumlah nelayan yang sedang menjala ikan, yang sudah semalam-malaman namun belum mendapat seekor ikanpun. Ketika Yesus naik ke perahu Simon dan menyuruhnya pergi ke tempat yang dalam dan menjala ikan di sana. Wibawa dan kuasa Yesus sungguh luar biasa membuat para nelayan terposana untuk melakukan apa yang diminta oleh-Nya. Ini terlihat dalam jawaban Simon Petrus: Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga (ay.5b). Yesus telah mengundang para nelayan untuk mengambil bagian dalam karya perutusan-Nya. Sebelumnya mereka hanya penjala ikan, dijadikan penjala manusia. Perjumpaan Yesus tidak sekedar membuat para murid terpesona, melainkan meneguhkan mereka untuk ambil bagian dalam karya pelayanan-Nya. Respons mereka terhadap panggilan Yesus ialah dengan meninggalkan segalanya yang mereka miliki. Itulah sebuah konsekwensi dari panggilan kemuridan. Memang ada banyak cara yang dipakai Yesus dalam memanggil setiap orang menjadi murid dan memberitakan keselamatan bagi dunia. Panggilan pemuridan dianugerahkan kepada siapa saja melalui peran yang beragam. Sebagaimana Petrus dengan taat merespons perintah Yesus, maka kita pun diharapkan memiliki respons yang sama. Sekalipun kita sadar bahwa kita terbatas dan penuh dosa, janganlah ragu dan merasa rendah diri. Percayalah dan turutilah panggilan Tuhan! Dialah yang memanggil kita dengan tidak memperhitungkan kelemahan dan keberdosaan kita, tetapi Dia meminta kesediaan dan kesetiaan kita untuk melayani Dia dalam diri sesama kita.
Doa: Ya Tuhan, jadikan kami sebagai penjala manusia. Amin.
Kamis, 07 November 2019
bacaan : Keluaran 17 : 8 – 13
Kemenangan orang Israel melawan orang Amalek
8 Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim. 9 Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” 10 Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. 11 Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 12 Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. 13 Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang. 14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.” 15 Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: “Tuhanlah panji-panjiku!” 16 Ia berkata: “Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”
Kebersamaan Sejati
Kebersamaan sejati akan mendatangkan keberhasilan besar. Itulah yang dikisahkan dalam Keluaran 17:8-13. Yosua dan umat Israel taat melaksanakan apa yang dikatakan Musa, pemimpin mereka. Mereka menghormati Musa dan menjalankan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Kebersamaan ini terbukti ketika mereka maju berperang melawan orang Amalek. Sementara Yosua dan umat Israel maju berperang, Musa, Harun, dan Hur naik ke puncak bukit. Musa mengangkat tangan untuk meninggikan Allah, sehingga umat Israel yang dipimpin Yosua dalam peperangan bisa tetap kuat, dan sebaliknya jika Musa kelelahan dan tangannya harus diturunkan maka orang Amalek akan menjadi kuat. Oleh karena itu, Harun dan Hur meletakkan batu di bawah kedua tangan Musa yang teracung. Sehingga umat Israel bersama Yosua tetap bertahan terus berperang, dan akhirnya peperangan itu dapat dimenangkan. Inilah keberhasilan dari kebersamaan yang kokoh, kemenangan di dalam Tuhan. Pertanyaan adalah apakah kebersamaan seperti itu masih ada dalam kehidupan persekutuan keluarga, gereja, dan masyarakat kita sekarang ini? Pertanyaan ini penting, sebab realita kehidupan modern memperlihatkan bahwa nilai kebersamaan semakin menurun, sedangkan roh individualistis, materialistis, konsumeristis, dan hedonistis semakin menggerogoti kehidupan manusia. Sehingga orang hidup hanya untuk diri sendiri, tidak lagi mau peduli dengan kehidupan sesama yang lain. Sebagai keluarga kristen kita diingatkan bahwa sebagaimana Tuhan telah membangun kebersamaan di antara Musa, harun, Hur, Yosua dan umat Israel dengan posisi masing-masing untuk kemuliaan nama Tuhan, begitu juga dengan kita. Mari kita renungkan apakah kita telah menempati posisi kita masing-masing dengan ketaatan membangun kebersamaan?
Doa: Ya Tuhan, ajar kami untuk membangun kebersamaan. Amin.
Jumat, 08 November 2019
bacaan : Keluaran 18 : 13 – 27
Pengangkatan hakim-hakim
13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: “Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?” 15 Kata Musa kepada mertuanya itu: “Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah.” 17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. 19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.” 24 Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. 25 Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 26 Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri. 27 Kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya.
Bersedia Mendengar Nasihat Orang Lain
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak angkuh. Pemimpin yang baik selalu bersedia mendengar nasihat orang lain. Ini juga yang ditunjukan Musa ketika dipercayakan Tuhan menjadi pemimpin Israel. Ayat renungan menyatakan bahwa Musa mendengarkan nasihat Yitro dan melakukannya. Sebab memang nasihat Yitro itu juga demi kebaikan Musa. Musa dinasihati untuk mendelegasikan tugasnya kepada orang lain, sehingga bebannya akan menjadi ringan. Selain itu juga, bahwa terbuka kesempatan bagi orang lain untuk mengembangkan potensi diri yang dimiliki. Dengan turut melibatkan orang-orang yang akan membantu, maka masalah-masalah yang dihadapi dan dialami umat Israel akan dapat tertangani (lih. Ay. 21, 23). Di lembaga manapun, termasuk keluarga, pendelegasian tugas itu sangatlah penting. Sehingga seorang pemimpin tidak akan monopoli dan menangani semua pekerjaan sendiri. Hal penting yang mesti diperhatikan dalam pendelegasian tugas adalah harus memilih orang-orang yang mampu, yang bertanggung jawab menjalankan perannya dengan baik. Pendelegasian tugas sangat berkaitan dengan sebuah kepercayaan dan integritas. Tidak mungkin kita mempercayakan sebuah tugas penting kepada sembarangan orang. Musa memang harus memilih orang-orang yang sudah teruji kualitas hidup dan integritas diri.Mereka yang dipilih adalah orang-orang cakap, berhikmat, dan takut akan Tuhan. Orang seperti yang bisa dipercaya, dan benci kepada suap. Mungkin ada banyak orang yang cakap dibidangnya masing-masing, tapi sulit sekali untuk menemukan orang-orang yang bisa dipercaya, takut Tuhan, dan benci kepada suap. Musa bisa berhasil menjalankan tugas kepemimpinannya, hanya karena didukung orang-orang yang berkualitas. Sebagai keluarga marilah kita belajar dari Musa.
Doa: Ya Tuhan, jadikan kami pemimpin yang baik. Amin.
Sabtu, 09 November 2019
bacaan : Bilangan 1 : 1 – 19
Laskar Israel dihitung
TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai, dalam Kemah Pertemuan, pada tanggal satu bulan yang kedua dalam tahun yang kedua sesudah mereka keluar dari tanah Mesir: 2 “Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-laki di Israel 3 yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang. Engkau ini beserta Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya masing-masing. 4 Dari tiap-tiap suku harus ada satu orang yang mendampingi kamu, yakni orang yang menjadi kepala dari suku yang diwakilinya itu. 5 Dan inilah nama semua orang yang harus mendampingi kamu. Dari suku Ruben: Elizur bin Syedeur; 6 dari suku Simeon: Selumiel bin Zurisyadai; 7 dari suku Yehuda: Nahason bin Aminadab; 8 dari suku Isakhar: Netaneel bin Zuar; 9 dari suku Zebulon: Eliab bin Helon; 10 dari keturunan Yusuf: Elisama bin Amihud dari suku Efraim, dan Gamaliel bin Pedazur dari suku Manasye; 11 dari suku Benyamin: Abidan bin Gideoni; 12 dari suku Dan: Ahiezer bin Amisyadai; 13 dari suku Asyer: Pagiel bin Okhran; 14 dari suku Gad: Elyasaf bin Rehuel; 15 dari suku Naftali: Ahira bin Enan.” 16 Itulah orang-orang yang dipilih dari umat itu, masing-masing sebagai pemimpin dari suku bapa leluhurnya; mereka inilah kepala-kepala pasukan Israel. 17 Lalu Musa dan Harun memanggil orang-orang yang tertunjuk namanya itu, 18 dan pada tanggal satu bulan yang kedua mereka menyuruh segenap umat berkumpul. Kemudian silsilah orang-orang Israel disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, sedang nama-nama mereka yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat orang demi orang, 19 seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Demikianlah Musa mencatat mereka di padang gurun Sinai.
Kelebihan Kecil, Jangan Diabaikan
Tuhan Allah menciptakan tiap manusia sebagai mahluk yang mulia, artinya setiap orang diciptakan dengan dengan keunikannya tersendiri. Sehebat-hebatnya seseorang, pasti dia punya kelemahan dan seburuk-buruknya seseorang pasti dia punya kelebihan. Karena itulah manusia disebut sebagai mahluk sosial dimana mereka tidak bisa hidup sendiri tetapi saling membutuhkan. Menyadari bahwa jumlah umat Israel yang sementara melewati perjalananpanjang menuju Tanah Kanaan, dan tiap suku dari bangsa itu memiliki karakter yang berbeda, maka ketika berada di padang gurun Sinai, Tuhan berfirman kepada Musa agar menghitung jumlah seluruh umat itu menurut suku mereka, kemudian mencatat nama semua laki-laki berusia 20 tahun keatas, dan memilih seorang pemimpin dari tiap-tiap suku untuk mendampingi Musa. Hal ini penting untuk menyatukan kekuatan yang mereka miliki, tetapi juga supaya terbina keutuhan persekutuan diantara mereka. Seringkali kita tidak menyadari adanya kekuatan-kekuatan kecil dalam suatu persekutuan besar, yang harus diberdayakan. Orang lebih senang melihat keburukan orang lain daripada kelebihannya. Padahal, jika kekuatan-kekuatan kecil itu disatukan akan menjadi kekuatan besar untuk mengelola persekutuan dalam suatu perjalanan kehidupan. Demikian halnya dengan kehidupan keluarga, masing-masing anggota keluarga memiliki kelebihan dan kelemahannya. Persoalannya adalah, bagaimana kekuatan itu dapat disatukan menjadi sumber daya untuk merawat keutuhan kehidupan keluarga. Proses “mencatat nama” adalah proses mengenal lebih dalam kekuatan dan keunikan setiap anggota keluarga, walaupun sangat kecil, jangan pernah diabaikan, sebab ketika disatukan akan menjadi energi yang besar.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menghargai kelebihan orang lain. Amin.
*sumber : SHK terbitan bulan November 2019 oleh LPJ-GPM

