fbpx

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Desember 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 22 Desember 2019 (Adv. IV) 

bacaan : Mikha 5 : 1 – 4

Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. 3 (5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. 4 (5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, 5 (5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.

Menyambut Kedatangan Mesias Yang Membawa Damai Sejahtera

Sesuatu yang kecil, yang sederhana, biasanya dianggap rendah, tidak berharga dan tidak berguna. Misalnya, anak kecil sering dianggap belum mampu melakukan hal-hal yang besar dan sulit. Karena itu dalam pandangan manusia/dunia, sesuatu yang kecil dan sederhana itu tidak dianggap. Manusia/dunia hanya mau memberi nilai terhadap sesuatu yang dianggap besar, wah, dan spektakuler. Karena itu yang kecil dan sederhana bagi dunia merupakan sebuah ketidakmungkinan,tetapi bagi Allah, segala sesuatu menjadi mungkin. Melalui nubuat nabi Mikha, seperti yang tertera dalam bacaan kita di Minggu Adventus keempat ini, dikatakan bahwa Raja Mesias tidak dilahirkan di Yerusalem, pusat pemerintahan dan keagamaan Yahudi, pusat kehidupan elit-elit agama, tetapi justru di Bethlehem, kota yang terkecil di antara kota-kota kaum Yehuda. Di Bethlehem yang kecil itu, Raja Mesias akan lahir dan Ia akan bertindak sebagai gembala yang akan menggemabalakan umatNya dalam kekuatan Tuhan serta menjadi besar sampai ke ujung-ujung bumi. Dia akan menjadi damai sejahtera, dan memberi damai sejahtera kepada umatNya dan seisi dunia ini. Nubuatan nabi Mikha ini dipenuhi dan digenapkan dalam Yesus Kristus sebagai Mesias yang lahir di Bethlehem (lih. Matius 2:6). Dialah yang akan bertindak sebagai gembala (lih. Mazmur 23). Dia akan mengambil alih kepemimpinan bangsa Israel bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kekuatan Tuhan. Dia senantiasa berada dalam relasi dengan Tuhan Allah. Kuasa kerajaanNya sampai ke ujung-ujung bumi dan Dia menjadi damai sejahtera yang di dalamnya tercipta suatu stabilitas kehidupan manusia serta alam yang dapat berkembang. Karena itu dia disebut Raja Damai. Selamat memasuki Minggu Adventus keempat. Tuhan Yesus memberkati kita semua!

Doa: Tuhan, berilah damai sejahteraMu melingkupi dunia ini. Amin.

Senin, 23 Desember 2019                    

bacaan : Imamat 26 : 3 – 6

Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, 4 maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. 5 Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram. 6 Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu.

Keluarga Kristen Belajar Taat dan Setia

Kebutuhan utama hidup manusia adalah kebutuhan primer yang menyangkut tiga hal yakni: Sandang (Pakaian), Pangan (Makanan) dan Papan (Tempat Tinggal). Tiga kebutuhan ini sangat mendasar dan menjadi sebuah keharusan. Namun sadarkah kita, bahwa selain tiga kebutuhan tersebut, ada juga kebutuhan lain yang mesti kita penuhi, yakni: Hidup berpegang pada ketetapan dan perintah Tuhan yang merupakan sebuah keharusan bagi orang beriman. Bahkan ketetapan dan perintah Tuhan itu haruslah menjadi kebutuhan utama sama seperti kita membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal setiap hari. Bacaan kita hari ini jelas mengatakan bahwa orang beriman harus setia berpegang pada ketetapan dan perintah Tuhan serta melakukannya dalam hidup setiap hari. Orang yang setia memelihara dan memberlakukan perintah Tuhan dalam hidupnya, pasti akan selalu dipelihara dan disertai oleh Tuhan.

Musim datang silih berganti, hujan diberikan Tuhan membasahi tanah sehingga tanah akan memberi kehidupan, pohon-pohon akan memberi buah yang banyak untuk dimakan dan keluarga kita diam di negeri dengan aman, tentram dan sejahtera. Itulah janji Tuhan kepada setiap keluarga orang-orang percaya yang setia dan taat pada perintah-Nya. Namun, realita menggambarkan bahwa ada orang yang tidak setia memelihara firman Tuhan sehingga apa yang dilakukannya jauh dari kehendak Tuhan.

Opa, oma, papa, mama dan anak-cucu dalam tiap keluarga Kristen haruslah sadar bahwa jalan hidup kita diatur oleh Tuhan. Ia-lah yang telah setia memelihara hidup kita hingga dipenghujung tahun kehidupan ini serta memberikan kita menikmati damai sejahteraNya. Dalam persiapan diri menyambut kelahiranNya  dua hari ke depan sekaligus kedatanganNya kembali, biarlah keluarga kita tetap setia menjadikan firman Tuhan sebagai penuntun hidup kita setiap hari.

Doa: Tuhan, jadikan keluarga kami setia menuruti kehendak-Mu. Amin.

Selasa, 24 Desember 2019                   

bacaan : Matius 1 : 18 – 25

Kelahiran Yesus Kristus

18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” 22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai kita. 24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Imanuel, Sang Raja Damai

Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang Anak Laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia IMANUEL, yang berarti:  Allah menyertai kita. Nama Imanuel disini mengandung suatu pernyataan bahwa: lewat peristiwa Natal, Allah memilih menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus dan diam diantara manusia dan seluruh ciptaanNya. Allah memilih untuk menyertai kita dan bersama-sama dengan kita dalam setiap langkah hidup, setiap usaha dan setiap kerja kita, bahkan mendamaikan berbagai pihak yang saling bermusuhan. Disini terlihat kepedulian Allah, yang mau menjadi rendah, mau menjumpai manusia, mau beserta, mau bersama-sama dan menghadirkan damai sejahtera-Nya bagi manusia. Hal ini berbeda dengan pandangan orang-orang Yahudi, yang memahami bahwa Allah tidak mungkin menjadi rendah, apalagi menjadi manusia dan hidup bersama dengan manusia. Akhir-akhir ini kecendrungan untuk membangun hidup bersama mulai terkikis, dan mungkin saja hilang karena berbagai kepentingan. Manusia hidup saling bermusuhan, saling menghancurkan, untuk kepentingan diri, kelompok dan golongannya sendiri. Apakah di keluarga, jemaat dan persekutuan lain, masih ada keinginan untuk duduk bersama, bicara bersama dan kerja bersama? Persiapan Natal adalah sebuah proses untuk menyambut Karya Damai Sejahtera Allah bagi semua ciptaan-Nya. Natal mengingatkan kita untuk terus menata dan membangun hidup bersama, serta menghadirkan damai dalam pikiran, tutur kata, perbuatan, kerja dan karya kita.

Doa: Tuhan, bersamalah dengan kami untuk meneruskan karya damai sejahtera-Mu bagi seluruh ciptaan. Amin.

Rabu, 25 Desember 2019                     

bacaan : Lukas 2 : 8 – 20

Gembala-gembala

8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” 13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” 15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” 16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. 17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. 19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. 20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Memuliakan Allah Dengan Menghadirkan Damai Sejahtera

Perayaan Natal selalu dihubungkan dengan Damai dan ucapan selamat Natal selalu disertai harapan semoga Natal membawa Damai. Walaupun demikian peristiwa Kelahiran Yesus terjadi ditengah berbagai peristiwa, ketika manusia tidak memiliki damai karena mengalami berbagai persoalan ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan dan sebagainya.Lukas 2:14 adalah sebuah nyanyian damai, yang menegaskan bahwa kelahiran Yesus membawa puji-pujian bagi Kemuliaan Allah dan sekaligus menghadirkan damai sejahtera di bumi bagi orang-orang yang berkenan kepadaNya. Ada tiga hal yang dapat dimaknai, yang pertama: damai sejahtera itu dapat dinikmati ketika orang menjaga kekudusan hidup dan ketulusan hati. Hati yang tulus adalah hati yang rela untuk mengampuni dan hidup berbagi dengan orang lain. Hal kedua: Damai sejahtera itu dapat dinikmati kalau kejahatan dapat dikalahkan dengan kebaikan, perbuatan kebaikan adalah menebarkan kasih dimana ada kebencian dan menebarkan damai dimana ada permusuhan. Hal ketiga: damai sejahtera itu hanya didapat didalam Yesus, ketika Yesus ditempatkan didalam hati, pusat seluruh keinginan manusia. Hal ini berarti bahwa damai sejahtera itu akan dirasakan oleh manusia apabila Allah dimuliakan lewat seluruh aktifitas hidup manusia. Damai sejahtera yang dimaksudkan berkaitan dengan relasi yang harmonis antara manusia dengan Allah tetapi juga antara manusia dengan sesama ciptaan yang lainnya.

Doa: Tuhan, jadikan kami alat damai sejahtera-Mu. Amin.

Kamis, 26 Desember 2019                      

bacaan : Lukas 2 : 21 – 40

Yesus disunat dan diserahkan kepada Tuhan — Simeon dan Hana

21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. 22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, 24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. 25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” 36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Keluarga Yang Taat, Menghadirkan Damai Sejahtera

Peristiwa Kelahiran Yesus menggambarkan ketaatan-Nya untuk menjadi rendah, menjadi sama dengan manusia. Dalam bacaan Lukas 2:21-40, ketaatan Yesus nampak pada kesediaan-Nya untuk mematuhi berbagai peraturan Hukum Taurat yang menjadi tradisi orang Yahudi. Bukan hanya Yesus yang taat tetapi juga beberapa tokoh lain seperti Maria dan Jusuf, juga Simeon dan Hana. Walaupun awalnya mereka tidak mengerti maksud dan rencana Allah, namun ketaatan Maria dan Jusuf terlihat pada kesadaran mereka akan tugas dan tanggungjawab sebagai orangtua, untuk mematuhi berbagai peraturan Hukum Taurat seperti memberi nama kepada Anak itu, mengantarkan Anak mereka ke Bait Allah dan diserahkan kepada Tuhan sesuai Taurat Musa, supaya Anak itu dikuduskan bagi Allah dan memberi persembahan korban. Ketaatan Maria dan Jusuf terus terlihat dalam tanggungjawab membesarkan Anak mereka sehingga Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah (ay.40). Ketaatan yang sama juga terlihat dalam kehidupan Simeon dan Hana, yang dalam penantian yang panjang, merasakan damai sejahtera sampai diusia lanjut mereka ketika berjumpa dengan Mesias. Keluarga Kristen sepatutnya menjadi keluarga yang taat kepada Yesus dan menjadikan rumah mereka sebagai tempat pewarisan nilai-nilai kristiani, nilai-nilai damai sejahtera, lewat pendidikan, pembinaan dan teladan hidup, agar disana anak-anak dapat bertumbuh menjadi besar, menjadi kuat dan penuh hikmat dan kasih karunia Allah, bahkan tetap menikmati damai sejahtera itu sampai di usia lanjut.

Doa: Tuhan, jadikan keluarga kami alat damai sejahtera-Mu, amin.

Jumat, 27 Desember 2019                     

bacaan : Mazmur 147 : 1 – 6

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.

Kuasa Yang Tak Berbatas dan Tak Terhingga

Secanggih apapun alat buatan manusia bahkan sekuat dan semampu apapun fisik kita sebagai manusia, pasti ada juga kelemahannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa sehebat apa pun teknologi, sepintar apa pun manusia, pasti ada batasnya, dan hanya Tuhan yang “Tak Berbatas dan Tidak Terhingga.” Dan itu terlihat jelas dalam bacaan kita hari ini. Perenungan pemazmur melambungkan imajinasi kita untuk memahami Dia yang “tak berbatas dan tidak terhingga”. Dan itu terlihat bagaimana Ia mengumpulkan kembali umat Israel yang tercerai berai di seluruh penjuru dunia bukan hal yang sulit bagi-Nya, memulihkan orang yang sudah tidak punya harapan hidup adalah keahlian-Nya, menghitung bintang di galaksi terjauh pun mudah saja bagi-Nya, menyelimuti langit dengan awan, menurunkan hujan di tempat tertentu dan menahannya di belahan bumi lainnya, membuat gunung, menumbuhkan rerumputan, memberi makan hewan-hewan di padang, semua bisa dilakukan-Nya sekaligus! (8-9). Kehebatan kita maupun sarana-sarana yang kita gunakan dalam berkarya tidak mengesankan-Nya (11). Dia adalah Mesias yang hadir dengan damai sejahterahNya yang abadi, yang meneduhkan hati dan hidup keluarga kita di masa penantian ini. Kita kerap frustrasi dengan waktu yang sempit dan tanggung jawab yang banyak. Kita tidak tahu bagaimana menyikapi relasi persaudaraan yang rusak sementara kasih dan kesabaran kita terbatas. Kita tidak maha-hadir, otak kita tidak maha-tahu, namun, mana yang lebih sering kita andalkan? Diri kita, sesama manusia, teknologi, atau Tuhan yang “Tak Berbatas dan Tidak Terhingga? Sungguh, kita perlu senantiasa diingatkan betapa hebat dan tidak terbatasnya Tuhan kita!

Doa: Tuhan, kami mengakui kekuasaanMu yang tak terhingga dalam hidup keluarga kami. Amin. 

Sabtu, 28 Desember 2019                

bacaan : Mazmur 147 : 7 – 11

7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

Hati Keluarga Yang Taat dan Takut Akan Tuhan

Tiga hari lagi, kita akan mengakhiri tahun kehidupan 2019 dengan berbagai suka dan duka di dalamnya. Dan sepanjang perjalanan hidup persekutuan keluarga Kristen di tahun ini, diakui tidaklah selalu berjalan dengan baik dan mulus. Ada saja hal-hal yang kadang menghancurkan suasana hati dan situasi hidup orang bersaudara akibat berbagai konflik yang ada. Hal ini jika tidak disikapi dengan baik, pastilah akan menghancurkan tatanan hidup keluarga dan orang bersaudara. Oleh karena itu kita perlu belajar menyikapinya sedini mungkin agar terhindar dari kehancuran hubungan orang saudara. Dalam bacaan hari ini, diungkapkan bahwa kehancuran yang dialami Israel mendorongnya bangkit menjadi bangsa yang takut akan Tuhan, tahu bersyukur dan bermazmur memuliakan Tuhan yang mahakuasa. Tuhan mengasihi Israel yang sekarang menjadi bangsa yang takut akan Tuhan dan yang berharap kepada kasih-setia Tuhan. Pemazmur juga berharap segala bangsa di dunia ini, menjadi bangsa yang takut dan taat kepada Tuhan, agar Tuhan mengasihi dan memberkatinya. Menjadi bangsa yang takut dan taat kepada Tuhan tidak harus dimulai setelah kehancuran oleh hukuman Tuhan. Tetapi dimulai dengan hidup beriman dan berusaha hidup menurut maksud Tuhan. Jadilah seperti bangsa Swiss di Eropa, yang tidak menghendaki ekspansi wilayah tetapi tetap menjadi negeri yang damai dan melindungi setiap insan. Alangkah baiknya, bila kita belajar dari firman Tuhan hari ini, dimana Tuhan menghendaki kita sebagai keluarga Kristen memiliki hati yang taat kepada-Nya, bergantung dan berharap hanya pada-Nya, agar dapat menjadi berkat dalam membangun kebersamaan yang penuh damai sejahtera dengan sesama di dunia ini.

Doa: Ya Tuhan Yesus, jadikan hati kami taat kepada-Mu. Amin.

*sumber : SHK bulan Desember 2019 oleh LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *