Santapan Harian Keluarga, 28 Juni – 4 Juli 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Jadikan Bumi Mezbah Bagi Tuhan “

Minggu, 28 Juni 2020                         

bacaan : Kejadian 8 : 1 – 22

Air bah surut
Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. 2 Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit, 3 dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. 4 Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat. 5 Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung. 6 Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. 7 Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi. 8 Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. 9 Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. 10 Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera; 11 menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. 12 Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya. 13 Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. 14 Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering. 15 Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: 16 "Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; 17 segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi." 18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya. 19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. 20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. 22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

JADIKANLAH BUMI SEBAGAI MEZBAH BAGI TUHAN

Ketika Nuh dan keluarganya diselamatkan oleh Allah dari ancaman Air Bah, Nuh mendirikan mezbah bagi Allah dan mempersembahkan korban di atasnya. Hal ini adalah sama dengan akta pengakuan yang dibuat oleh Nuh bahwa Allah adalah pemilik dan penguasa atas bumi. Bumi bukan milik manusia untuk disalah gunakan dan dirusakan, tetapi adalah milik Allah yang harus dihormati hak hidupnya, harus dirawat dan dipelihara untuk hidup secara berkelanjutan.  Nuh sudah merasakan akibat dari kehancuran bumi karena keangkuhan dan kekerasan yang dilakukan manusia di atas dan terhadap bumi, kini mengambil prakarsa untuk memperbaiki sikap manusia terhadap bumi. Karena itu hanya dengan mengikuti kehendak Allah sajalah maka bumi dan seluruh isinya bisa berfungsi untuk saling memberi hidup. Setelah itu, terjadi perubahan atas sikap Nuh terhadap bumi yang diperkokoh dengan suatu hubungan perjanjian baru, dimana Tuhan Allah berjanji untuk memelihara bumi dan menjamin hidup manusia. Ini berarti tidak boleh ada lagi penghancuran dan kekerasan terhadap bumi oleh siapapun khususnya manusia. Sebaliknya manusia dituntut untuk memperlalukan bumi sebagai mezbah atau tempat suci dari Allah, sebagai wujud dari kesadaran dan pengakuannya akan Allah sebagai pemilik atas diri manusia dan atas seluruh bumi. Dewasa ini akibat dari kehancuran lingkungan hidup sangat terasa, baik dalam bentuk kekeringan yang hebat atau banjir dan tanah longsor yang dahsyat maupun dalam bentuk bermunculannya berbagai penyakit akibat wabah virus yang mengancam.  Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa bumi adalah “saudara sesama ciptaan”,  oleh sebab itu harus dikasihi, dijaga dan dirawat agar dapat hidup bersama di hadapan Tuhan.

Doa :  Tuhan, biarlah keluarga kami dapat mencintai bumi dan menjadikannya mezbah bagiMu. Amin.

 Senin, 29 Juni 2020                             

bacaan : Mazmur 115 : 16 – 18

16 Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia. 17 Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun ke tempat sunyi, 18 tetapi kita, kita akan memuji TUHAN, sekarang ini dan sampai selama-lamanya. Haleluya!

BUMI SEBAGAI TEMPAT MEMUJI TUHAN

Menurut Pemazmur dalam bacaan hari ini, memuji Tuhan sangat terkait dengan mengakui kekuasaan dan kebesaran Tuhan atas dunia ciptaanNya. Ada dua hal yang sangat mendasar, yakni:

1). Langit (heaven=Sorga) tempat kediaman Allah yang menyelenggarakan kuasa-Nya di bumi.

2). Bumi – diberikan-Nya kepada manusia – sebagai tempat tinggal manusia untuk melaksanakan segala aktifitas yang diperintahkan-Nya (Kej.1:28).

Kedua hal ini memperlihatkan kuasa dan kebesaran Tuhan, tetapi juga kasih dan kebaikan-Nya bagi manusia. Jadi kita mesti mengingat selalu bahwa kita, manusia ini tinggal di bumi milik Tuhan! Karena itu kita harus menjadikan bumi sebagai sarana memuji Tuhan, banyak orang tidak menyadari hal ini, sehingga hanya memanfaatkan waktu yang terbatas dalam dunia dengan bekerja dan bekerja untuk hal-hal yang bagi dan menurut mereka sangat berharga secara materi: Memiliki banyak harta yang dapat diwariskan kepada anak cucu, hidup mewah dan menjadi terkenal, dsb. Hidup seperti ini bukanlah gaya hidup orang percaya, jika tidak memperlihatkan ucapan terimakasih kepada Allah, sang Pemilik bumi, Pemilik Kehidupan. Jika Tuhan tidak menciptakan bumi ini, kita tinggal dan berkarya di mana?.       Sebagai manusia, kita sangat memerlukan bumi dan alam semesta ciptaan Tuhan.                                                                                                                                                                                            

Karena itu, mari bersyukur kepada Tuhan dan memuji nama-Nya dengan segenap hati, selama kita hidup di dunia ini sambil menjadikan bumi ini sebagai mezbah bagi nama-Nya yang Kudus. Sebagai mezbah bagi Tuhan, bumi harus dirawat, dipelihara,  dan dikuduskan, mulailah dengan mengubah “gaya hidup”  yang ramah dan bersahabat dengan alam.

Doa: Ya Tuhan, biarlah di bumi ini kami memuji-Mu selamanya. Amin.

Selasa, 30 Juni 2020                           

bacaan : Ulangan 26 : 1 – 11

Mempersembahkan hasil pertama
"Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana, 2 maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. 3 Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita. 4 Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu. 5 Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. 6 Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, 7 maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami. 8 Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat. 9 Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. 10 Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu, 11 dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu."

PERSEMBAHKANLAH YANG TERBAIK BAGI TUHAN

Bumi sebagai tempat di mana kita hidup dan berusaha, adalah pemberian Tuhan supaya kita dapat menikmati berbagai hasil bumi demi kelangsungan hidup. Namun satu hal yang mesti diingat bahwa jangan sampai kita lupa mempersembahkan hasil pertama itu kepada Tuhan. Dan itu dapat kita lihat dalam bacaan hari ini. Persembahan hasil pertama adalah panen pertama dari hasil bumi yang dikelola umat di tanah perjanjian yang dipersembahkan kepada Tuhan. Persembahan ini mengajar umat untuk mengingat kasih setia Tuhan yang telah memimpin mereka mendapatkan tanah perjanjian. Dengan melakukan hal ini mereka mengakui bahwa semua yang mereka dapatkan ini adalah anugerah Tuhan yang telah memimpin mereka sampai saat itu. Memberi persembahan bukan karena Tuhan kekurangan sehingga membutuhkan pemberian manusia, tetapi karena alasan lain: Pertama, agar umat Tuhan selalu ingat bahwa tanah subur yang mereka tinggali adalah pemberian Tuhan. Kedua, agar umat Tuhan menghormati Tuhan dengan datang dan beribadah kepada-Nya. Mereka harus menyediakan waktu untuk membawa persembahan dan beribadah kepada Tuhan. Ketiga, agar umat Tuhan mengingat perbuatan Tuhan di masa lampau ketika membawa persembahan hasil pertama. Pelajaran penting bagi kita, jangan sampai kita lupa bahwa Tuhanlah yang telah memberi berkat-Nya bagi kita, Hal yang sama harus kita akui  bahwa Tuhan yang memberi kita pekerjaan, kesehatan yang tetap, baik walau ditengah ganasnya virus corona, Tuhan memberikan kita kehidupan, di tanah tempat kita berpijak ini.  Oleh karena itu, respons kita adalah mengingat Dia dan mempersembahkan hidup kita. Selain itu berkat Tuhan yang kita terima menjadikan kita memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan orang di sekitar kita agar pekerjaan dan kemuliaan Tuhan semakin nyata.

Doa: Tuhan, ajarilah kami mempersembahkan yang terbaik kepadaMu. Amin

Rabu, 01 Juli 2020                                    

bacaan : Kejadian 35 : 9 – 15

9 Setelah Yakub datang dari Padan-Aram, maka Allah menampakkan diri pula kepadanya dan memberkati dia. 10 Firman Allah kepadanya: "Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu." Maka Allah menamai dia Israel. 11 Lagi firman Allah kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu. 12 Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu." 13 Lalu naiklah Allah meninggalkan Yakub dari tempat Ia berfirman kepadanya. 14 Kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni tugu batu; ia mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya. 15 Yakub menamai tempat di mana Allah telah berfirman kepadanya "Betel".

MERAWAT BUMI SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR BAGI ALLAH

Untuk menjadi mitra Allah kita dipanggil dan diberi tanggungjwab untuk merawat dan melestarikan seluruh ciptaan Allah. Tanggungjawab itu telah dipercayakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Dalam bacaan kita, Allah kembali meneguhkan janji-Nya untuk mempercayakan tanggungjawab merawat kehidupan di bumi kepada Yakub dan keturunannya. Untuk meneguhkan perjanjian itu, Allah memerintahkan Yakub untuk keluar dari kehidupan lamanya, meninggalkan segala perbuatan yang tidak benar, membarui hidupnya dan menjumpai Allah di Betel. Bahkan sebelum pengukuhan perjanjian itu terjadi, Yakub harus melewati suatu pergumulan berat sampai pangkal pahanya menjadi pincang. Setelah itu, barulah Allah meneguhkan perjanjian dengan Yakub dan mengulangi peneguhan nama Yakub sebagai Israel disertai perintah untuk beranak-cucu dan menjadi berkat bagi bumi ciptaan Tuhan. Allah juga mengulangi peneguhan janji-Nya kepada Abraham dan Ishak, untuk memberikan negeri dan tanah itu, beserta segala kekayaannya kepada Yakub dan keturunannya untuk dirawat dan diberdayakan bagi kehidupan anak-cucunya dikemudian hari. Meresponi semua yang dilakukan oleh Allah dalam kehidupannya, Yakub mendirikan sebuah tugu peringatan sebagai mezbah ungkapan syukur kepada Allah. Sesungguhnya, tanggungjawab untuk merawat dan memberdayakan bumi dengan segala kekayaannya, bagi kehidupan segala makhluk adalah juga perintah Allah kepada setiap orang percaya. Bumi sebagai rumah kehidupan, sepatutnya dijaga, dirawat dan dipelihara dengan baik, dengan jalan merawat air, tanah, tumbuhan, hewan dan semua yang ada disekitar kita, yang akan memberikan berkat-berkat kehidupan kepada kita. Itulah mezbah ungkapan syukur atas kasih dan berkat Tuhan yang selalu dinikmati dari hari ke hari. Jadikanlah bumi sebagai mezbah ungkapan syukur bagi kemuliaan Allah

Doa: Tuhan, tolong kami untuk merawat bumi ciptaan-Mu, Amin.    

Kamis, 02 Juli 2020                                 

bacaan : Ulangan 23 : 9 – 14

Ketahiran perkemahan
9 "Apabila engkau maju dengan tentaramu melawan musuhmu, maka haruslah engkau menjaga diri terhadap segala yang jahat. 10 Apabila ada di antaramu seorang laki-laki yang tidak tahir disebabkan oleh sesuatu yang terjadi atasnya pada malam hari, maka haruslah ia pergi ke luar perkemahan, janganlah ia masuk ke dalam perkemahan. 11 Kemudian menjelang senja haruslah ia mandi dengan air, dan pada waktu matahari terbenam, ia boleh masuk kembali ke dalam perkemahan. 12 Di luar perkemahan itu haruslah ada bagimu suatu tempat ke mana engkau pergi untuk kada hajat. 13 Di antara perlengkapanmu haruslah ada padamu sekop kecil dan apabila engkau jongkok kada hajat, haruslah engkau menggali lobang dengan itu dan menimbuni kotoranmu. 14 Sebab TUHAN, Allahmu, berjalan dari tengah-tengah perkemahanmu untuk melepaskan engkau dan menyerahkan musuhmu kepadamu; sebab itu haruslah perkemahanmu itu kudus, supaya jangan Ia melihat sesuatu yang tidak senonoh di antaramu, lalu berbalik dari padamu."

ALLAH MENGHENDAKI UMATNYA HIDUP BERSIH DAN SEHAT

Akhir-akhir ini, perilaku hidup bersih dan sehat menjadi primadona kehidupan, ketika pandemic covid-19 melanda kehidupan manusia hampir di seluruh belahan dunia. Padahal hidup bersih dan sehat sesungguhnya adalah panggilan iman bagi setiap orang percaya. Dalam kitab Ulangan 23:9-14, umat Israel diingatkan oleh Musa agar mereka menjaga kekudusan perkemahan, sebab di dalam kemah ada tabut perjanjian yang  melambangkan kehadiran Allah ditengah-tengah kehidupan mereka. Hal ini terkait dengan situasi perang dan kehidupan nomaden (berpindah-pindah) dari umat Israel, sebab pentahiran dan kekudusan perkemahan sangat mempengaruhi kemenangan didalam peperangan. Untuk menjaga kekudusan perkemahan, maka harus ada upaya pentahiran sikap dan perilaku hidup terkait dengan kehidupan etik moral, tetapi juga dengan perilaku hidup sehat sesuai dengan standart kesehatan. Dengan demikian telah diatur area atau wilayah yang steril atau bebas dari kenajisan dan hidup yang tidak sehat. Disini sangat ditekankan bahwa kualitas kesehatan pribadi sangat menentukan kualitas kesehatan umat atau perkemahan pada umumnya. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa, hidup beriman harus berwujud pada sikap dan perilaku hidup yang sehat, baik sehat jasmani maupun sehat rohani. Ditengah pandemic virus corona ini, panggilan iman kita sebagai orang percaya adalah berjuang menjaga kesehatan, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Menjaga kebersihan rumah, halaman, dan berbagai fasilitas kesehatan yang lain adalah tanggungjawab iman orang percaya yang harus terus dilakukan, agar umat memiliki ketahan fisik yang kuat tetapi juga spiritualitas umat yang berpihak kepada kehidupan.

Doa:   Tuhan, ajarlah kami untuk terus menjaga kesehatan diri dan keluarga kami sebagai wujud panggilan hidup beriman, Amin.

Jumat, 03 Juli 2020                               

bacaan : 2 Samuel 24 : 18 – 25

Mezbah didirikan dekat Yerusalem Tulah berhenti
18 Pada hari itu datanglah Gad kepada Daud dan berkata kepadanya: "Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat pengirikan Arauna, orang Yebus itu." 19 Lalu pergilah Daud, sesuai dengan perkataan Gad, seperti yang diperintahkan TUHAN. 20 Ketika Arauna menjenguk dan melihat raja dengan pegawai-pegawainya mendapatkannya, pergilah Arauna ke luar, lalu sujud kepada raja dengan mukanya ke tanah. 21 Bertanyalah Arauna: "Mengapa tuanku raja datang kepada hambanya ini?" Jawab Daud: "Untuk membeli tempat pengirikan ini dari padamu dengan maksud mendirikan mezbah bagi TUHAN, supaya tulah ini berhenti menimpa rakyat." 22 Lalu berkatalah Arauna kepada Daud: "Baiklah tuanku raja mengambilnya dan mempersembahkan apa yang dipandangnya baik; lihatlah, itu ada lembu-lembu untuk korban bakaran, dan eretan-eretan pengirik dan alat perkakas lembu untuk kayu bakar. 23 Semuanya ini, ya raja, diberikan Arauna kepada raja." Arauna berkata pula kepada raja: "Kiranya TUHAN, Allahmu, berkenan kepadamu." 24 Tetapi berkatalah raja kepada Arauna: "Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa." Sesudah itu Daud membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga lima puluh syikal perak. 25 Lalu Daud mendirikan di sana mezbah bagi TUHAN dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Maka TUHAN mengabulkan doa untuk negeri itu, dan tulah itu berhenti menimpa orang Israel.

KETAATAN MENDATANGKAN PEMULIHAN ALLAH

Berawal dari ketidaktaatan Daud yang meragukan kemampuan dan penyertaan Tuhan Allah, ketika ia menghitung kekuatan tentaranya, seakan-akan Daud mengabaikan kemahakuasaan Tuhan Allah. Maka Tuhan Allah menegur Daud dengan mendatangkan tulah penyakit sampar diantara orang Israel, yang menyebabkan kematian banyak orang. Ketika Gad diutus untuk memperingati Daud, agar bertobat dan berbalik dari kesalahannya, maka Daud menyesal dan malu, ia sadar akan segala perbuatannya yang telah mengecewakan Tuhan Allah. Daud mendengarkan suara Tuhan melalui Gad nabi-Nya, yang menyuruh Daud untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan Allah. Daud taat dan mengikuti perintah Tuhan, dan dia mendirikan mezbah bagi Tuhan Allah serta mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan sebagai pujian dan penyembahan bagi Allah dan memohon pengampunan dan pemulihan bagi umatnya. Hal itu adalah bukti dari suatu ketaatan yang menghasilkan pertobatan, pemulihan dan pembaruan hidup. Melihat ketaatan Daud, Allah mengabulkan doanya dan menghentikan tulah itu serta memulihkan keadaan Israel. Ketaatan adalah hal penting dalam kehidupan orang percaya, taat melaksanakan tugas dan tanggungjawab, taat berdoa dan beribadah, taat untuk berpegang pada iman dan pengharapan kepada Allah dalam Yesus Kristus. Ketika terjadi pandemic covid-19 yang juga mewabah sampai di Maluku dan Maluku Utara, bahkan mengancam kehidupan umat Tuhan, maka yang diharapkan adalah ketaatan. Lewat pandemic ini, kita belajar menjadi taat, masyarakat diharapkan mentaati semua peraturan pemerintah untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus, tetapi juga pemerintah dan semua pihak yang adalah pelayan masyarakat akan mentaati tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dan benar. Hanya dengan ketaatan, Tuhan Allah akan memulihkan kehidupan kita.

Doa: Tuhan, ajarilah kami menjadi taat, Amin.

Sabtu, 04 Juli 2020                                  

bacaan : Kejadian 2 : 8 – 15  

Manusia dan taman Eden
8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. 9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. 10 Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. 11 Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. 12 Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. 13 Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. 14 Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat. 15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

PELIHARALAH ALAM CIPTAAN TUHAN YANG KAYA

Ketika melihat hamparan tanah yang subur, air yang jernih, gunung-gunung yang menghijau, laut yang membiru dan pemandangan alam yang indah, apakah yang saudara rasakan? Pasti semua orang akan berdecak kagum dan mengambil gambar-gambar yang indah dengan berfoto selfie. Tetapi apakah ada sebuah pengakuan tentang “Sang Pencipta?”, yang menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya. Kejadian 2:8-15, menceriterakan bahwa untuk kehidupan manusia yang diciptakan-Nya, Tuhan Allah membuat sebuah taman di Eden, sebelah Timur. Tuhan Allah tidak membangun sebuah gedung mewah tetapi membuat sebuah taman dengan menyediakan semua yang dibutuhkan oleh manusia. Allah menumbuhkan berbagai pohon untuk dimakan buahnya, tetapi juga ada pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Allah juga mengalirkan suatu sungai dari Eden yang terbagi menjadi empat aliran sungai untuk mengairi daerah itu. Berbagai kekayaan alam disediakan oleh Allah seperti batu permata, emas, batu krisopras juga damar bedolah. Semua itu disediakan Allah untuk kehidupan manusia. Dan setelah semuanya dipandang baik, Allah menempatkan manusia yang diciptakannya di taman itu, dengan suatu tanggungjawab untuk mengusahakan dan memeliharanya. Jika kita memandang alam sekitar kita, betapa sempurnanya ciptaan Allah: matahari, bulan, bintang, tanah, air, tumbuhan, hewan, lautan, udara, dan lainnya, semua itu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita manusia. Namun jangan pernah melupakan bahwa ada tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita, untuk mengusahakan dan memeliharanya. Jika kita manusia mengabaikan tanggungjawab pemeliharaan itu, maka akibatnya bumi ciptaan Allah ini akan rusak dan manusialah yang akan menderita. Oleh sebab itu peliharalah bumi ciptan Tuhan dengan setia dan penuh kasih.Doa: Terima kasih Tuhan Yesus untuk alam ciptaan-Mu yang kaya, Amin.

*sumber : SHK bulan Juni-Juli 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey