Santapan Harian Keluarga, 5-11 Juli 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Persekutuan Yang Saling Menghidupkan

Minggu, 05 Juli 2020                           

bacaan : 2 Korintus 5 : 11 – 21

Pelayanan untuk pendamaian
11 Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu. 12 Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah. 13 Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu. 14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. 15 Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 18 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19 Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 20 Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

PERSEKUTUAN YANG SALING BERBAGI DITENGAH BENCANA

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, khususnya di Maluku dan Maluku Utara telah berdampak langsung bagi kehidupan warga gereja dan masyarakat. Dampak yang terlihat ialah adanya sejumlah warga gereja dan masyarakat yang tertular virus tersebut dan diisolasi atau harus dirawat di Rumah Sakit, ada orang yang diisolasi dan ada orang dalam pengawasan. Selain dampak kesehatan yang dialami, ada juga dampak sosial, ekonomi dan politik. Ada sejumlah orang kehilangan lapangan pekerjaan, terputusnya jaringan pemasaran, untuk itu sangat dibutuhkan dukungan berbagai pihak. Sejalan dengan itu mengalirlah bantuan dari pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga sosial/keagamaan termasuk gereja, untuk bisa mempertahankan kehidupan yang dianugerahkan Tuhan. Dalam situasi hidup yang demikian, hari ini kita merayakan Perjamuan Kudus. Perjamuan yang mengingatkan kita tentang peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus demi keselamatan manusia dan dunia. Di dalam perjamuan kudus kita duduk dan makan sehidangan dengan Tuhan. Roti dan anggur  adalah lambang dari tubuh dan darah Yesus yang dikorbankan bagi kita. Karena itu menurut Rasul Paulus dalam 2 Korintus 5:11-21, dikatakan, orang-orang yang hidup dalam persekutuan dengan Kristus tidak lagi hidup untuk diri mereka sendiri, tetapi bagi Kristus. Hidup bagi Kristus, nampak dalam kehidupan orang percaya yang tidak  mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain. Tetapi hidup dalam persekutuan gereja dan masyarakat yang saling peduli dan berbagi kasih satu dengan yang lain, yaitu hidup yang saling menghidupkan. Hal ini diwujudkan melalui berbagai bantuan sosial dan dukungan doa bagi saudara-saudara kita yang mengalami dampak sosial-ekonomi dari pandemic virus corona ini.

Doa:   Ya Tuhan, jadikanlah kami sebagai persekutuan yang saling berbagi dan saling menghidupkan.  Amin.

Senin, 06 Juli 2020                                  

bacaan : Yesaya 55 : 1 – 5

Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari TUHAN
Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! 2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud. 4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa; 5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.

DENGARKANLAH SUARA TUHAN

Ketika pandemi covid-19 semakin mencemaskan, menguatirkan dan menakutkan warga gereja dan masyarakat, karena virus tersebut  terbukti telah membuat ribuan orang di dunia yang menjadi korban jiwa dan jutaan yang harus dirawat. Selain itu, ada  berjuta-juta orang mengalami dampak sosial ekonomi. Mereka kehilangan pekerjaan dan terancam kelaparan. Virus corona membuat  kehidupan manusia seakan tersandra dan tak berdaya membebaskan diri. Dalam situasi ketidak-berdayaan itu kita mendengar firman Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Yesaya: ”Sedengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup” (Yesaya 55:3.a). Firman Tuhan ini disampaikan oleh Yesaya kepada umat Israel yang tidak berdaya menghadapi situasi sosial politik di tanah buangan Babel. Dalam keadaan ketidak-berdayaan itu, Tuhan melawat umat-Nya dan memberi penguatan, bahwa Tuhan akan menyelamatkan umat-Nya dari keadaan hidup yang mereka alami, asalkan umat mau mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti-Nya. Kesediaan umat untuk mendengarkan suara Tuhan akan berdampak pada penyelamatan hidup mereka. Di sini Firman Tuhan mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan berkuasa menyelamatkan kita dari segala persoalan dan bencana, termasuk pandemi virus corona. Tetapi kita diminta untuk datang kepada Tuhan dan  mendengarkan suara-Nya. Datang kepada Tuhan dan mendengarkan suara-Nya adalah tanda dari kehidupan orang percaya yang mengandalkan Tuhan menghadapi berbagai persoalan. Sebab dengan mendengarkan suara Tuhan, kita diberi hikmat untuk bagaimana menghadapi dan mengatasi persoalan kita, termasuk wabah virus corona. Dengarlah suara Tuhan, lewat  doa dan membaca Alkitab secara pribadi dan keluarga.

Doa: Ya Tuhan,  layakanlah kami untuk  mendengar suara-Mu. Amin

Selasa, 07 Juli 2020                                

bacaan : Kejadian 45 : 16 – 20

16 Ketika dalam istana Firaun terdengar kabar, bahwa saudara-saudara Yusuf datang, hal itu diterima dengan baik oleh Firaun dan pegawai-pegawainya. 17 Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Katakanlah kepada saudara-saudaramu Buatlah begini: muatilah binatang-binatangmu dan pergilah ke tanah Kanaan, 18 jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini. 19 Selanjutnya engkau mendapat perintah mengatakan kepada mereka: Buatlah begini: bawalah kereta dari tanah Mesir untuk anak-anakmu dan isteri-isterimu, jemputlah ayahmu dari sana dan datanglah ke mari. 20 Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barang-barangmu, sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini adalah milikmu."

HIDUP YANG MELAKSANAKAN RENCANA TUHAN

Sudah seharusnya jika setiap manusia melakukan kebaikan kepada sesama maupun lingkungan sekitarnya. Dengan perbuatan-perbuatan kebajikan yang dilakukan setiap orang kepada sesama dan lingkungannya maka akan membuat kehidupan di dunia ini menjadi lebih baik. Yusuf adalah salah satu contoh yang dapat kita teladani. Ia walaupun diperlakukan oleh saudara-saudaranya dengan sangat jahat dan tidak manusiawi namun ketika ia sukses dalam pemerintahan ia menolong saudara-saudara dan orang tuanya yang sedang mengalami krisis pangan, bahkan melalui pengaruhnya maka Firaun memberi kesempatan bagi orang tua dan saudara-saudaranya untuk membangun hidup di Gosyen, suatu daerah subur di delta sungai Nil. Mengapa Yusuf membalas kejahatan dengan kebaikan? Sebab ia selalu memamahi perjalanan hidupnya berdasarkan rencana-rencana Allah yang indah. Ia memahami bahwa rancangan Allah dalam dirinya ialah untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena itu ia tidak hanya menjadi berkat bagi keluarganya tetapi juga bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Yusuf telah menjalani hidupnya dalam rencana-rencana Allah bagi dunia sehingga dunia diselamatkan dari ancaman krisis pangan selama tujuh tahun. Sama seperti Yusuf maka Tuhan juga punya rencana-rencana yang indah dalam kehidupan kita sebagai umat-Nya. Rancangan-rancangan itu tidak lain dari rancangan damai sejahtera bagi manusia dan dunia. Alangkah indahnya jika kita pun dapat menjalani hidup ini dalam rencana-rencana Tuhan yang indah itu terutama dalam menghadapi dampak dari virus covid-19 ini sehingga kecintaan kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama senantiasa menjadi karakter beriman kita dalam semangat saling menghidupkan agar kehidupan ini menjadi semakin indah demi kemuliaan Tuhan.

Doa: Ya Tuhan tuntunlah keluarga kami untuk hidup sesuai rencana-Mu. Amin.

Rabu, 08 Juli 2020                                  

bacaan : Kejadian 45 : 21 – 28       

 21 Demikianlah dilakukan oleh anak-anak Israel itu. Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Firaun; juga diberikan kepada mereka bekal di jalan. 22 Kepada mereka masing-masing diberikannya sepotong pesalin dan kepada Benyamin diberikannya tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin. 23 Di samping itu kepada ayahnya dikirimkannya sepuluh ekor keledai jantan, dimuati dengan apa yang paling baik di Mesir, lagipula sepuluh ekor keledai betina, dimuati dengan gandum dan roti dan makanan untuk ayahnya dalam perjalanan. 24 Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka: "Janganlah berbantah-bantah di jalan." 25 Demikianlah mereka pergi dari tanah Mesir dan sampai di tanah Kanaan, kepada Yakub, ayah mereka. 26 Mereka menceritakan kepadanya: "Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka. 27 Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segala perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk menjemputnya, maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu. 28 Kata Yakub: "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati."

HIDUP UNTUK SALING MENGHIDUPI

Perbuatan baik manusia terhadap sesama manusia dan ciptaan lain didasarkan pada keyakinan atau iman. Keyakinan atau iman itu lahir dari pengalaman hidup orang percaya. Pengalaman yang dihayati dalam hubungan dengan Allah dan kehendak-Nya di dalam kenyataan hidup manusia. Demikianlah penghayatan iman Yusuf anak Yakub. Pengalaman hidupnya yang pahit karena perlakuan saudara-saudaranya yang membenci dan menjual dia, tidak dijadikannya sebagai dasar untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia pahami dan hayati sungguh bahwa sekalipun dia dibenci dan disingkirkan oleh saudara-saudaranya, tetapi Allah tetap mengasihi dan memelihara dia. Bahkan ketika dia diberi kesempatan oleh Firaun, penguasa Mesir, untuk menjadi Mangku Bumi, dia pahami dan hayati sebagai pemberian Allah demi kehidupan banyak orang, termasuk saudara-saudaranya. Oleh karena itu, ketika saudara-saudaranya dari negeri mereka, Israel pergi untuk membeli makanan di Mesir, dia memperlakukan mereka dengan baik. Dia percaya bahwa demi memelihara kehidupan, maka Allah menyuruh dia ke Mesir mendahului saudara-saudaranya. Di sini Yusuf meyakini bahwa sekalipun saudara-saudaranya berbuat jahat kepadanya, tetapi Allah sanggup mengubah yang jahat menjadi kebaikan. Keyakinan ini yang membuat dia berbuat baik kepada saudara-saudaranya. Cerita Yusuf mau mengajarkan kepada kita sebagai orang-orang percaya untuk berbuat baik kepada siapa saja. Khususnya di tengah tantangan wabah virus corona yang membuat banyak orang yang mengalami kekurangan makanan. Dalam situasi yang demikian, kita terpanggil untuk saling membantu, tanpa melihat siapa dia dan apa latarbelakang hidupnya. Kita terpanggil sebagai persekutuan yang saling menghidupi dalam keluarga, gereja  dan masyarakat.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah kami alat berkat-Mu yang menghidupkan sesama manusia dan ciptaan lain. Amin.

Kamis, 09 Juli 2020                                  

bacaan : Ruth 2 : 1 – 17 

Rut bertemu dengan Boas
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." 3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh. 4 Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!" 5 Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?" 6 Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. 7 Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti." 8 Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. 9 Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu." 10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?" 11 Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung." 13 Kemudian berkatalah Rut: "Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan." 14 Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: "Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini." Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya. 15 Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itupun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; 16 bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia." 17 Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.

SALING MENGHIDUPKAN MERUPAKAN CIRI HIDUP BERIMAN

Pandemi Covid-19 telah menghantam banyak aspek kehidupan masyarakat di dunia termasuk kita di Maluku dan Maluku Utara di mana GPM melayani. Selain mereka yang terjangkit, pengaruh yang paling dirasakan adalah kerugian ekonomi yang diderita oleh para pekerja di sektor informal karena mereka terpaksa tidak bekerja atau pendapatan yang berkurang akibat orang harus tetap tinggal di rumah, bekerja di rumah dan bahkan beribadah di rumah. Begitu juga para petani dan pedagang pasar yang tidak dapat memasarkan dagangannya karena terputusnya sarana transportasi. Bagi kalangan ekonomi menengah ke atas hal ini mungkin tidak terlalu mengganggu kebutuhan hidup mereka, tetapi bagi kalangan masyarakat biasa tentu sangat memprihatinkan. Mereka dengan terpaksa harus ke luar rumah untuk mencari rezeki demi kelangsungan hidup keluarganya walau pun resiko tertular virus mematikan ini sangat tinggi. Sebagai warga bangsa, lebih-lebih lagi sebagai warga gereja, maka kepekaan sosial untuk saling membantu menjadi sangat penting dan mesti menjadi karakter beriman kita. Artinya, ketika kita melakukan sebuah kebajikan bukan karena kita ikut-ikutan atau juga supaya kita dipuji melainkan kita sadar bahwa persekutuan yang saling menghidupkan itu adalah ciri beriman kita sebagai wujud nyata dari penerapan hukum kasih. Hal ini juga terlihat dalam hubungan Boas dengan Rut, ketika Rut harus kehilangan suaminya dan ia memutuskan untuk tetap setia mendampingi ibu mertuanya Naomi, maka Rut harus bekerja untuk mencari nafkah hidup bagi mereka. Di tengah kondisi yang sulit, ia bertemu dengan Boas seorang pemilik ladang yang baik hati dan mau membantunya dengan mengijinkannya bekerja di ladang jelai. Hidup yang saling membantu hendaklah terus dijaga dan dirawat dengan baik ketika menghadapi berbagai kesulitan.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami memuliakan-Mu dengan menjadi orang yang berfaedah bagi sesama. Amin.

Jumat, 10 Juli 2020                                

bacaan : Ruth 2 : 18 – 23 

18 Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu, 19 maka berkatalah mertuanya kepadanya: "Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!" Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: "Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas." 20 Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita." 21 Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku." 22 Lalu berkatalah Naomi kepada Rut, menantunya itu: "Ya anakku, sebaiknya engkau keluar bersama-sama dengan pengerja-pengerjanya perempuan, supaya engkau jangan disusahi orang di ladang lain." 23 Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.

MEMBERI ADALAH SPIRITUALITAS SALING MENGHIDUPKAN

Memberi adalah sebuah tindakan menyerahkan, membagikan, menyediakan, dan menyampaikan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain. Ada berbagai alasan atau motivasi seseorang untuk memberi. Ada yang bertujuan untuk memperoleh pujian, dihormati dsb, tetapi ada pula yang memahami hal memberi itu sebagai sebuah panggilan iman yang harus dilakukannya demi kemuliaan Tuhan. Banyak orang beralasan tidak dapat memberi oleh karena dirinya tidak mempunyai sesuatu untuk diberi atau pun juga karena merasa belum berkelebihan. Oleh karena itu maka jarang sekali terjadi bahwa seseorang memberi dari kekurangannya. Ini tidak berarti bahwa memberi dari kekurangan tidak pernah terjadi. Banyak sudah kisah-kisah nyata tentang orang-orang yang memiliki hati yang mulia, sehingga selalu berbagi dengan orang lain dari kekurangannya. Misalnya, Simon Ozoemena, seorang pengemis asal Nigeria, ia terketuk hatinya melihat begitu banyak korban banjir yang menderita di tempat tinggalnya. Tak tahan melihat kondisi para korban banjir yang menderita maka ia menyerahkan uang 2 juta rupiah hasil sedekah yang dikumpulkan dari berbagai gereja kepada pemerintah. Ia meminta agar pemerintah menggunakan uang itu dengan baik demi menolong korban banjir. Ketika ditanya mengapa ia memberikan semua uang yang disedekahkan gereja kepadanya demi membantu korban banjir? Simon berkata, “dulu sebelum ada banjir kehidupan mereka lebih baik dari saya tetapi sekarang kehidupan mereka jauh lebih susah dari saya.” Menolong orang yang susah bukan setelah kaya. Rut yang membawa separuh makanan yang menjadi bagiannya ketika mengumpulkan jelai kepada Naomi, mertuanya adalah spiritualitas yang saling menghidupkan. Alangkah indahnya jika kita pun dapat menjalani hidup dalam semangat saling menghidupkan di tengah situasi dampak covid-19 ini. Amin.

Doa: Ya Tuhan, berilah kasih-Mu nyata dalam hidup keluarga kami. Amin.

Sabtu, 11 Juli 2020                     

bacaan : Kisah Para Rasul   9 : 36 – 43 

36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. 37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. 38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: "Segeralah datang ke tempat kami." 39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. 40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. 43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.

PERBUATAN BAIK AKAN TETAP HIDUP

Ada peribahasa usang yang berbunyi “harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya dan manusia mati meninggalkan budi baiknya”. Rasanya peribahasa ini tetap relevan sepanjang masa. Bahwa seseorang yang semasa hidupnya selalu melakukan kebajikan maka ketika ia meninggal orang lain merasa kehilangan yang dalam serta budi baiknya tetap dikenang. Tabita adalah salah satu contohnya. Tabita (Dorkas) dikenal sebagai seorang yang sangat baik hati. Dengan tulus ikhlas Tabita banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah kepada mereka yang berkekurangan. Kehidupan Tabita benar-benar menjadi berkat bagi banyak orang, terutama kaum miskin. Ketika dia sakit dan meninggal, orang-orang merasa sangat kehilangan dan menangisi kepergiannya. Mereka pun mendesak Petrus agar berdoa bagi Tabita, dan mujizat pun terjadi, Tabita pun hidup kembali. Peristiwa mujizat yang spektakuler ini mungkin secara fisik tidak pernah terjadi lagi, namun secara spiritual terus terjadi hingga saat ini. Betapa banyak orang-orang baik yang telah menjadikan hidup mereka menjadi berkat bagi orang lain dan budi baik mereka terus dikenang dan bahkan menjadi kisah-kisah inspiratif bagi orang lain dari satu generasi ke generasi berikutnya. Secara fisik mereka telah meninggal namun perbuatan-perbuatan kebajikan yang telah mereka lakukan tetap hidup dalam komunitas mereka sepanjang masa. Setiap umat Tuhan sudah tentu memahami bahwa dengan beriman kepada Kristus maka hidupnya bukan lagi untuk dirinya melainkan bagi Tuhan dan sesama. Alangkah indahnya jika kita dalam menjalani hidup beriman di dunia ini dapat menjadikan kebajikan sebagai bagian dari karakter beriman kita sehingga semangat saling menghidupkan diantara sesama kita benar-benar mewarnai iman dan perbuatan kita bagi kemuliaan Tuhan. Amin.

Doa:  Ya Tuhan, bentuklah hidup keluarga kami untuk menghidupi sesama, amin

*sumber : SHK bulan Juli 2020, Terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey 
Fatal error: Uncaught exception 'wfWAFStorageFileException' with message 'Unable to save temporary file for atomic writing.' in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:30 Stack trace: #0 /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(650): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/k2376458/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 30