Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Juli 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Merawat Air Demi Kelangsungan Hidup Segala Makhluk

Minggu, 12 Juli 2020                               

bacaan : Bilangan 20 : 2 – 13

Miryam mati Dosa Musa dan Harun
2 Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, 3 dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: "Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! 4 Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? 5 Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?" 6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. 7 TUHAN berfirman kepada Musa: 8 "Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya." 9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. 10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?" 11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. 12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." 13 Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.

RAWATLAH AIR BAGI KEHIDUPAN SEGALA MAKHLUK

Air merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan semua makhluk di bumi. Begitu pentingnya air, sehingga manusia dan semua makhluk tidak bisa hidup tanpa air. Seringkali terjadi pertengkaran atau permusuhan hanya karena tidak mendapatkan air, itulah yang digambarkan dalam bacaan firman Tuhan hari ini. Dalam perjalanan umat Israel di padang gurun, mereka tidak memperoleh air, sebab itu mereka ‘bertengkar’ dengan Musa dan ‘menggugat’ kepemimpinan Musa yang diutus Allah. Lalu Tuhan menyuruh Musa untuk memukul gunung batu dan dari dalamnya keluarlah air, sehingga bangsa itu dan seluruh ternak mereka dapat minum. Dinamailah tempat itu Meriba, karena orang Israel telah bertengkar dan telah mencobai Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak ada ditengah kesulitan yang mereka hadapi. Salah satu persoalan yang kita hadapi saat ini adalah semakin berkurangnya sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup umat manusia. Tidak jarang diberbagai tempat orang mengeluh dan bersungut bahkan bertengkar hanya karena tidak mendapatkan air. Atau kalau ingin mendapatkan air bersih harus dibeli dengan harga yang sangat mahal. Kondisi ini hendak mengingatkan kita sebagai orang percaya teristimewa keluarga Kristen, marilah kita memanfaatkan air yang ada dengan sebaik-baiknya, kita hemat air dan tidak membiarkannya terbuang percuma. Kita juga harus menjaga sumber-sumber mata air yang ada disekitar kita dengan tidak menebang pohon sembarangan atau membuatnya menjadi kotor, agar air yang kita dapatkan akan dapat dinikmati juga oleh generasi anak cucu kita kedepan. Itulah panggilan iman kita, yang dipercayakan oleh Tuhan Allah sejak bumi ini diciptakan.

Doa: Tuhan, terima kasih atas sumber-sumber air yang telah memberikan kehidupan kepada kami. Amin.

Senin, 13 Juli 2020                            

bacaan : Yesaya 41 : 17 – 20

17 Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. 18 Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. 19 Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, 20 supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya.

BERHARAPLAH PADA TUHAN SANG PEMBERI HIDUP

Sampai saat ini kita semua masih berada dalam kondisi yang sulit akibat pandemic virus corona yang melanda dunia ini. Ada orang yang sudah merasa lelah dan bosan berdiam dirumah saja. Ada orang yang mengeluh karena memikirkan kebutuhan tiap hari. Ada orang yang sudah mulai putus asa lalu bertanya sampai kapan badai ini akan berlalu? Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan dan sampai kapan kesulitan ini akan kita alami, tetapi satu hal yang pasti adalah kita percaya bahwa Tuhan Allah kita akan selalu ada dan setia menuntun, menyertai, memberi berkat dan kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Kita tidak boleh meragukan kuasa Tuhan yang sanggup memulihkan kondisi ini. Hal yang kita hadapi saat ini, hampir sama dengan kondisi yang dialami umat Israel pada zaman Yesaya, walaupun keadaan begitu sulit karena orang-orang sengsara tidak dapat menemukan air sehingga mereka kehausan, namun Tuhan Allah tidak pernah meninggalkan mereka. Tuhan membuat mata air membual ditengah dataran, dan membuat padang gurun menjadi telaga, dan memancarkan air dari tanah kering, sehingga  tanaman-tanaman kembali ditumbuhkan. Semua itu harus direspons oleh umat yang mengakui semua itu dilakukan oleh Tuhan Allah Yang Mahakudus, dan mereka semua akan memuliakan Nama-Nya. Pengalaman iman ini hendaklah menjadi pembelajaran bagi kita sebagai orang percaya ditengah kondisi sulit sekarang ini. Kita harus percaya dan mengakui bahwa Allah didalam Tuhan Yesus Kristus adalah pemelihara kehidupan kita, Ia menjamin kehidupan segala makhluk, sebab itu yakinlah bahwa kita akan dapat melewati situasi sesulit apa pun, jika kita berserah dan berharap hanya kepada Tuhan. Teruslah percaya dan berjuang untuk merawat hidup ini dan seluruh ciptaan-Nya supaya kehidupan yang baik terus berlanjut.

Doa:  Tuhan Pemelihara hidup kami, kuatkan kami untuk terus merawat hidup dan alam ciptaan-Mu ini. Amin.

Selasa, 14 Juli 2020                               

bacaan : Hakim-Hakim 7 : 4 – 6

 4 Tetapi TUHAN berfirman kepada Gideon: "Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka turun minum air, maka Aku akan menyaring mereka bagimu di sana. Siapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, tetapi barangsiapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang tidak akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang tidak akan pergi." 5 Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum." 6 Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air.

BERSAMA TUHAN KITA MENANG

Dalam tradisi Israel, untuk memenangkan sebuh peperangan, diperlukan pasukan perang dengan perbandingan jumlah yang seimbang, bahkan lebih untuk dapat mengalahkan musuh. Itulah pemikiran Gideon saat ia hendak memimpin peperangan antara Israel melawan Midian. Namun, apa yang dipikirkan Gideon berbeda dengan yang dipikirkan oleh Allah. Allah tidak membutuhkan banyak orang yang berperang dengan mengandalkan kekuatan sendiri, yang Allah butuhkan adalah sedikit orang tetapi yang bergantung pada Allah. sebab itu, Allah sendiri menyeleksi mereka yang akan ikut berperang melalui media air, yakni berdasarkan cara mereka minum. Hasil akhirnya hanya tinggal tiga ratus orang yang akan berperang melawan ribuan musuh. Tentu ini mustahi, perbandingan yang sangat tidak seimbang. Namun, disinilah Allah menunjukan kekuatan dan kemahakuasaan-Nya, hingga akhirnya kemenangan dimiliki oleh Israel. Kisah ini mengajarkan kita hal penting bahwa kekuatan manusia itu tidak ada apa-apanya kalau ia bergantung pada dirinya sendiri dan bukan kepada Allah sumber kehidupan. Mengandalkan diri sendiri sama artinya dengan melupakan Allah. Itulah sebabnya dalam kondisi terancam karena virus corona ini, mari kita sadar bahwa kita tidak akan mampu mengatasinya tanpa Tuhan. Dengan cara Tuhan yang tidak terpahami oleh pemikiran kita, biarlah kita meminta Allah menunjukkan kuasaNya untuk meruntuhkan tembok keangkuhan kita sebagai manusia, agar kita selalu akan bergantung dan berharap hanya kepada Allah. Supaya akhirnya kita akan mengaku bahwa hanya bersama Allah dalam Yesus Kristus, kita bersama seisi keluarga dapat keluar sebagai pemenang dari ancaman kehidupan ini.

Doa:  Kami yakin oleh pertolongan-Mu Tuhan, kami akan menang dari segala ancaman dunia ini. Amin.

Rabu, 15 Juli 2020                                 

bacaan : Kejadian 24 : 16 – 21

16 Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik. 17 Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: "Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu." 18 Jawabnya: "Minumlah, tuan," maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. 19 Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: "Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum." 20 Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu. 21 Dan orang itu mengamat-amatinya dengan berdiam diri untuk mengetahui apakah TUHAN membuat perjalanannya berhasil atau tidak.

AIR LAMBANG KEHIDUPAN DAN CINTA KASIH

Air memang sangat dibutuhkan manusia untuk hidup. Itu karena sebagian besar  organ-organ tubuh manusia mengandung unsur air, misalnya: Paru-paru (90%), darah (82%), kulit (80%), otot (75%), otak (70%), dan tulang (20%). Bayangkan saja bila seseorang kekurangan air, maka organ-organ tubuh yang disebutkan tadi pasti juga terganggu. Ketika Ribka memberi minum kepada Hamba Abraham, itu bukanlah sekedar memberi pertolongan bagi orang yang kehausan, melainkan jauh lebih dari itu yakni ketulusan dan kebaikan hatinya demi kehidupan, bukan hanya kepada manusia tapi juga ciptaan yang lain yaitu hewan peliharaan termasuk unta. Bila kita membaca kisahnya secara utuh, maka sang hamba tentu senang sekali karena ia mendapat “tanda“ bahwa Ribka adalah sosok yang ditentukan Tuhan untuk menjadi isteri Ishak, sesuai keinginan Abraham, tuannya; tapi yang tidak kalah penting dari kisah ini adalah, air menjadi tanda cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama dan ciptaan yang lain. Kini ketika seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19, air menjadi standar protokoler kesehatan untuk melindungi tubuh yang rentan terhadap virus. Hampir di segala tempat disediakan penampung air untuk mencuci tangan bagi siapa saja. Perhatikanlah, ini bukan sekedar tuntutan standar kesehatan dalam menghadapi wabah virus, melainkan lihatlah itu sebagai tanda kasih antarsesama  demi kehidupan kita bersama. Mari bersyukur karena Tuhan memberi air demi kehidupan kita, dan mari menjaga alam yang menyediakan air bagi kehidupan kita, karena semua makhluk membutuhkannya. Di situlah kita menebarkan cinta kasih demi membela dan merawat kehdiupan.

Doa:    Ya Tuhan, Engkaulah mata air kehidupan. Mampukanlah diriku dan keluargaku untuk berbuat baik dan menebarkan cinta kasih bagi banyak orang yang haus akan kasih-Mu, Amin.

Kamis, 16 Juli 2020                             

bacaan : Zakharia 14 : 8 – 11

8 Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem; setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin. 9 Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya. 10 Seluruh negeri ini akan berubah menjadi seperti Araba-Yordan, dari Geba sampai ke Rimon di sebelah selatan Yerusalem. Tetapi kota itu akan menjulang tinggi dan tetap tinggal di tempatnya, dari pintu gerbang Benyamin sampai ke tempat pintu gerbang yang dahulu, yakni sampai ke pintu gerbang Sudut, dan dari menara Hananeel sampai ke tempat pemerasan anggur raja. 11 Orang akan menetap di dalamnya, sebab penumpasan tidak akan ada lagi, dan Yerusalem akan tetap aman.

TUHAN MENGANUGERAHKAN AIR KEHIDUPAN

Ketika wabah Covid-19 melanda dunia, cara ampuh untuk memutus rantai penyebarannya adalah dengan jalan tinggal di rumah (stay at home). Namun, banyak kisah miris terkuak dari mereka yang terkena imbasnya, mulai dari tukang ojek yang kehilangan langganan, pekerja yang terpaksa dirumahkan, siswa dan mahasiswa yang kesulitan akses internet, hingga anggota keluarga yang berduka karena ditinggal orang terkasih namun tak bisa menghadiri pemakaman, dan masih banyak lagi cerita dari keluarga-keluarga yang merasakan masa ini menjadi masa tersulit dalam hidup mereka. Di sisi lain, semua orang bertanya dan menunggu kapan wabah ini berakhir dan kehidupan kembali berjalan normal seperti semula, ataukah sebaliknya terpaksa menjalani hidup new normal, yaknihidup normal dengan “cara baru” (karena virus ini dianggap tidak akan berakhir). Kita pun berharap mendapat kabar baik seperti yang disampaikan nabi Zakharia kepada Israel, bahwa Tuhan berkenan untuk mengubah segala penderitaan dan duka mereka dengan janji mengalirkan “air kehidupan”. Sebagai orang percaya, yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam janji-Nya. Manakala Ia berjanji menyertai kita, maka hal itu terjadi sesuai kehendak-Nya. Saat inipun Ia sementara mengalirkan “air kehidupan” bagi setiap orang yang memanfaatkannya bukan hanya sebagai air untuk mengikuti protokoler kesehatan, melainkan juga “air kehidupan” yakni kasih, iman dan pengharapan akan hidup sebagai anugerah-Nya. Tuhan tidak pernah menciptakan dan menyediakan anugerah yang sia-sia bagi kita. Oleh sebab itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya demi kehidupan dengan rasa syukur kepada-Nya.  

Doa:   Tuhan Yesus, Engkaulah air hidup, mengalirlah dalam hidup kami, agar hidup kami diliputi kesejukan dan kesegaran anugerah-Mu, Amin.

Jumat, 17 Juli 2020                                 

bacaan : 1 Tawarikh 11 : 15 – 19

15 Sekali datanglah tiga orang dari ketiga puluh kepala ke gunung batu mendapatkan Daud dekat gua Adulam, sedang tentara orang Filistin berkemah di lembah Refaim. 16 Pada waktu itu Daud ada di dalam kubu gunung dan pasukan pendudukan orang Filistin pada waktu itu ada di Betlehem. 17 Lalu timbullah keinginan pada Daud, dan ia berkata: "Sekiranya ada orang yang memberi aku minum air dari perigi Betlehem yang ada dekat pintu gerbang!" 18 Lalu ketiga orang itu menerobos perkemahan orang Filistin, mereka menimba air dari perigi Betlehem yang ada dekat pintu gerbang, mengangkatnya dan membawanya kepada Daud. Tetapi Daud tidak mau meminumnya, melainkan mempersembahkannya sebagai korban curahan kepada TUHAN, 19 katanya: "Jauhlah dari padaku, ya Allah, untuk berbuat demikian! Patutkah aku meminum darah taruhan nyawa orang-orang ini? Sebab dengan mempertaruhkan nyawanya mereka membawanya." Dan tidak mau ia meminumnya. Itulah yang dilakukan ketiga pahlawan itu.

BERKORBAN DEMI AIR

Mayor Charles Whittlesey, memimpin batalionnya yang terjebak di hutan Argonne, Prancis, dari kepungan tentara Jerman. Kisah itu diangkat dalam film berjudul The Lost Battalion, yang menggambarkan dengan heroik, keberanian para prajurit Amerika yang harus bertahan, baik terhadap serangan  tentara Jerman yang bertubi-tubi, maupun dari tembakan bantuan artileri teman sendiri yang salah sasaran. Di tengah kondisi yang sulit itu, mereka kehabisan persediaan air. Beberapa prajurit yang mencoba mengambil air di sungai telah ditembak mati oleh sniper musuh. Charles tak ingin mengorbankan prajuritnya lagi, namun seorang prajurit menawarkan diri dan dengan berani berlari cepat sambil menghindar sekaligus memancing keluar musuh untuk dibidik sniper Amerika. Ada sedikit kesamaan antara apa yang dilakukan sang prajurit dengan apa yang juga dilakukan oleh tiga orang prajurit Daud, yakni sama-sama mengambil air di wilayah musuh meski nyawa jadi taruhannya. Bedanya, Charles sebagai pemimpin tak rela prajuritnya menjadi korban meski demi kebutuhan semua prajurit di dalam pasukannya; sedangkan Daud sebaliknya berkeinginan menikmati air yang ada di wilayah musuh. Artinya ada perbedaan antara berkorban demi kebutuhan banyak orang, dengan berkorban demi keinginan pribadi semata. Untungnya Daud menyadari hal itu sehingga ia tidak jadi meminum air itu, sebaliknya mempersembahkannya kepada Tuhan sebagai tanda bahwa ia menghargai kehidupan para prajuritnya. Dalam kehidupan sehari-hari, air begitu penting bagi kita, namun dalam keadaan yang sulit, air bisa menjadi penyebab hingga kita tak mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Gunakanlah air sesuai kebutuhan demi kehidupan kita,  dan ingatlah bahwa hanya Yesus Kristus satu-satunya yang telah berkorban demi Air Hidup yang kita nikmati selamanya.

Doa:  Ya Yesus, siramilah kami dengan “air hidup-Mu” agar kami lebih menghargai cinta kasih kepada sesama ciptaan-Mu, Amin.

Sabtu, 18 Juli 2020                             

bacaan : Yehezkiel 47 : 1 – 12

Sungai yang keluar dari Bait Suci
Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. 2 Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. 3 Sedang orang itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di pergelangan kaki. 4 Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang. 5 Sekali lagi ia mengukur seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. 6 Lalu ia berkata kepadaku: "Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?" Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai. 7 Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana. 8 Ia berkata kepadaku: "Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, 9 sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup. 10 Maka penangkap-penangkap ikan penuh sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, sangat banyak. 11 Tetapi rawa-rawanya dan paya-payanya tidak menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam. 12 Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat."

ALIRAN AIR KEHIDUPAN

Dalam tradisi manusia, laut, sungai, kali, danau, sumur dan mata air, memiliki nama atau diberi nama. Kita pun menjumpai bahwa aliran air sering berfungsi sebagai pembatas alami hak atas tanah warisan dan selalu diberi nama yang berhubungan dengan yang sejarah dari yang berhak atasnya. Nama-nama air itu sesungguhnya bukan hanya sekedar petunjuk tetapi juga bernilai sakral untuk menjaga agar manusia tidak bertindak semena-mena dan juga mengingatkan manusia bahwa segala makhluk hidup di dunia ini bergantung pada air untuk menyambung hidup. Di beberapa tempat yang kesulitan air tanah, masyarakatnya bahkan membuat bak penampung air hujan yang bisa dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan air, dan hidup mereka baik-baik saja. Tentu saja di mana ada air, di situ pasti ada kehidupan. Tuhan Allah telah menyediakan semua itu dengan adil agar makhluk hidup bisa menikmatinya juga dengan adil, sebagaimana ditunjukkan-Nya kepada Yehezkiel dalam suatu penglihatan. Menariknya bahwa Yehezkiel melihat sumber air itu keluar dan mengalir dari ambang pintu Bait Suci, yang mengalir kearah Timur, makin lama makin dalam. Kemana saja air itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan disana akan hidup, baik ikan-ikan juga tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya aliran air itu melambangkan aliran kehidupan yang bersumber dari Allah. Tugas Yehezkiel adalah mengingatkan umat agar mereka selalu memandang kepada Allah sang “sumber hidup”, yang terus mengalirkan kehidupan bagi segala makhluk ciptaan-Nya. Sejalan dengan itu tugas manusia teristimewa orang percaya, adalah memuliakan Tuhan Allah dengan merawat dan memelihara semua ciptaan-Nya dengan baik dan benar, sebagai ungkapan syukur atas pemeliharaan-Nya. Dengan demikian aliran air kehidupan itu akan terus mengalir dalam keluarga kita.

Doa:  Tuhan, tuntunlah kami agar mampu hidup dengan baik, benar dan adil, terhadap sesama ciptaan yang lain. Amin.

*sumber : SHK bulan Juli 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey 
Fatal error: Uncaught exception 'wfWAFStorageFileException' with message 'Unable to save temporary file for atomic writing.' in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:30 Stack trace: #0 /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(650): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/k2376458/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 30