Santapan Harian Keluarga, 2-8 Agustus 2020

jemaatgpmsilo.org

TEMA MINGGUAN : “Menjadi Rupa Allah Dalam Iman dan Karya”

Minggu, 02 Agustus 2020                    

bacaan : Kejadian 5 : 1-32

Keturunan Adam
Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; 2 laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama "Manusia" kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. 3 Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. 4 Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 5 Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati. 6 Setelah Set hidup seratus lima tahun, ia memperanakkan Enos. 7 Dan Set masih hidup delapan ratus tujuh tahun, setelah ia memperanakkan Enos, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 8 Jadi Set mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati. 9 Setelah Enos hidup sembilan puluh tahun, ia memperanakkan Kenan. 10 Dan Enos masih hidup delapan ratus lima belas tahun, setelah ia memperanakkan Kenan, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 11 Jadi Enos mencapai umur sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati. 12 Setelah Kenan hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Mahalaleel. 13 Dan Kenan masih hidup delapan ratus empat puluh tahun, setelah ia memperanakkan Mahalaleel, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 14 Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun, lalu ia mati. 15 Setelah Mahalaleel hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Yared. 16 Dan Mahalaleel masih hidup delapan ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan Yared, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 17 Jadi Mahalaleel mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati. 18 Setelah Yared hidup seratus enam puluh dua tahun, ia memperanakkan Henokh. 19 Dan Yared masih hidup delapan ratus tahun, setelah ia memperanakkan Henokh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 20 Jadi Yared mencapai umur sembilan ratus enam puluh dua tahun, lalu ia mati. 21 Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. 22 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 23 Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. 24 Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. 25 Setelah Metusalah hidup seratus delapan puluh tujuh tahun, ia memperanakkan Lamekh. 26 Dan Metusalah masih hidup tujuh ratus delapan puluh dua tahun, setelah ia memperanakkan Lamekh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 27 Jadi Metusalah mencapai umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati. 28 Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki, 29 dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: "Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN." 30 Dan Lamekh masih hidup lima ratus sembilan puluh lima tahun, setelah ia memperanakkan Nuh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. 31 Jadi Lamekh mencapai umur tujuh ratus tujuh puluh tujuh tahun, lalu ia mati. 32 Setelah Nuh berumur lima ratus tahun, ia memperanakkan Sem, Ham dan Yafet.

MENJADI RUPA ALLAH 

Hal penting bagi masyarakat adat di Maluku adalah silsilah, sebab dengan silsilah atau daftar keturunan, orang dapat  memahami asal-usul dirinya. Dalam Kitab Kejadian 5, juga dicantumkan daftar keturunan atau silsilah dari Adam sampai dengan Nuh. Memang tidak semua nama dituliskan secara detail, bahkan terkesan hanya nama laki-laki dan nama perempuan diabaikan, namun dari daftar silsilah ini, kita dapat mempelajari makna kehidupan setiap generasi. Dalam silsilah ini, ada sepuluh (10) generasi yang disebutkan, mulai dari Adam sampai dengan Nuh. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia telah berlangsung selama ribuan tahun, dan masing-masing “Nama” memiliki fungsi atau sangat berarti bagi generasinya dan dalam konteksnya sendiri-sendiri. Setiap orang yang dicatat dalam silsilah ini, disebutkan berapa lama dia hidup, kapan dia memiliki anak dan kapan dia meninggal. Dengan menuliskan nama-nama mereka dalam daftar silsilah, menunjukan bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah yang berharga dan Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi setiap orang. Namun demikian, dibutuhkan juga kesediaan manusia untuk memberi dirinya dipakai oleh Allah. Hal ini berarti, bahwa masa hidup manusia merupakan kesempatan untuk membangun hidup yang lebih bermakna. Setiap generasi memiliki konteks hidup yang khusus, sebagai sarana untuk menampakan tanggungjawab dan karya-nya sebagai ciptaan yang “serupa dengan Allah”. Bagi orang kristen, tanggungjawab untuk berkarya di tengah keluarga, gereja dan masyarakat adalah panggilan iman untuk mewujudkan “rupa Allah” ditengah dunia ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, janganlah menyianyiakan waktu hidupmu, tetapi berilah dirimu untuk melayani Yesus, yaitu melayani orang-orang yang lemah dalam setiap kerja dan pelayananmu.

Doa: Tuhan, pakailah hidup kami selagi kami masih kuat. Amin.  

Senin, 03 Agustus 2020                      

bacaan : Nehemia 13 : 1-14

Kesetiaan Nehemia kepada hukum
Pada masa itu bagian-bagian dari pada kitab Musa dibacakan dengan didengar oleh rakyat. Didapati tertulis dalam kitab itu, bahwa orang Amon dan orang Moab tidak boleh masuk jemaah Allah untuk selamanya. 2 Karena mereka tidak menyongsong orang Israel dengan roti dan air, malah mengupah Bileam melawan orang Israel supaya dikutukinya. Tetapi Allah kami mengubah kutuk itu menjadi berkat. 3 Ketika mereka mendengar pembacaan Taurat itu mereka memisahkan semua peranakan dari orang Israel. 4 Tetapi sebelum masa itu imam Elyasib yang diangkat untuk mengawasi bilik-bilik rumah Allah kami, dan yang mempunyai hubungan erat dengan Tobia, 5 menyediakan sebuah bilik besar bagi Tobia itu. Sebelumnya orang membawa ke bilik itu korban sajian, kemenyan, perkakas-perkakas dan persembahan persepuluhan dari pada gandum, anggur dan minyak yang menjadi hak orang-orang Lewi, para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang, dan persembahan khusus bagi para imam. 6 Ketika peristiwa itu terjadi aku tidak ada di Yerusalem, karena pada tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta, raja Babel, aku pergi menghadap raja. Tetapi sesudah beberapa waktu aku minta izin dari raja untuk pergi. 7 Lalu aku tiba di Yerusalem dan melihat kejahatan yang dibuat Elyasib untuk keuntungan Tobia, sebab bagi Tobia ini telah disediakannya sebuah bilik di pelataran rumah Allah. 8 Aku menjadi sangat kesal, lalu kulempar semua perabot rumah Tobia ke luar bilik itu. 9 Kemudian kusuruh tahirkan bilik itu, sesudah itu kubawa kembali ke sana perkakas-perkakas rumah Allah, korban sajian dan kemenyan. 10 Juga kudapati bahwa sumbangan-sumbangan bagi orang-orang Lewi tidak pernah diberikan, sehingga orang-orang Lewi dan para penyanyi yang bertugas masing-masing lari ke ladangnya. 11 Aku menyesali para penguasa, kataku: "Mengapa rumah Allah dibiarkan begitu saja?" Lalu kukumpulkan orang-orang Lewi itu dan kukembalikan pada tempatnya. 12 Maka seluruh orang Yehuda membawa lagi persembahan persepuluhan dari pada gandum, anggur dan minyak ke perbendaharaan. 13 Sebagai pengawas-pengawas perbendaharaan kuangkat imam Selemya dan Zadok, seorang ahli kitab, dan Pedaya, seorang Lewi, sedang Hanan bin Zakur bin Matanya diperbantukan kepada mereka, karena orang-orang itu dianggap setia. Mereka diserahi tugas untuk mengurus pembagian kepada saudara-saudara mereka. 14 Ya Allahku, ingatlah kepadaku karena hal itu dan janganlah hapuskan segala perbuatan bakti yang telah kulakukan terhadap rumah Allahku dan segala pelayanan di dalamnya!

BERPEGANG TEGUH PADA PRINSIP IMAN

Apabila kita diperhadapkan dengan suatu permasalahan  ketidakadilan atau kejahatan yang berkaitan dengan sikap iman kristen, apa yang kita lakukan? Apakah kita akan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kristiani yang tidak berkompromi dengan ketidakadilan, ataukah kita lebih memilih posisi aman untuk berkompromi dengan kejahatan dan membiarkan saja ketidakadilan atau kejahatan itu terjadi, yang penting kita selamat. Hari ini kita belajar dari Nehemia untuk mampu bersikap tegas dan tak kenal kompromi, ketika ia kembali ke Yerusalem dan mendapati pemanfaatan Bait Allah yang bertentangan dengan kehendak Allah. Nehemia melihat sendiri bagimana imam Elyasib bersama Tobia, mencemari Bait Allah dengan memanfaatkan fasilitas untuk keuntungan diri, dan mereka merampas hak orangorang Lewi yang dipercayakan untuk melayani di Bait Allah. Melihat hal itu, Nehemia bertindak untuk menegur imam Elyasib atas perbuatannya, Nehemia mentahirkan seluruh perkakas ibadah di Bait Suci dan mengembalikan orang-orang Lewi bersama para penyanyi pada tempatnya untuk melayani di Bait Suci. Nehemia memilih untuk berpegang teguh pada prinsip imannya, dan bersikap tegas jika itu bertentangan dengan kehendak Allah, sebab semua yang ia lakukan adalah untuk kepentingan bersama. Demikian juga dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, dimanapun kita berada, baik di tempat kita bekerja atau pun di keluarga, jika kita melihat ada sesuatu yang tidak adil dan tidak benar, janganlah ragu untuk menegur, tetapi hendaklah menegur dengan penuh kasih untuk sebuah pembaruan hidup. Apabila ada anggota keluarga yang melakukan kesalahan atau kekeliruan, tegurlah dia dengan penuh kasih dan tolonglah dia untuk menyadari kesalahannya dan mengubah sikap dan laku hidupnya. 

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk mewujudnyatakan iman dalam hidup  dan karya sesuai kehendak-Mu. Amin.

Selasa, 04 Agustus 2020                

bacaan : Nehemia 13 : 15-22

15 Pada masa itu kulihat di Yehuda orang-orang mengirik memeras anggur pada hari Sabat, pula orang-orang yang membawa berkas-berkas gandum dan memuatnya di atas keledai, juga anggur, buah anggur dan buah ara dan pelbagai muatan yang mereka bawa ke Yerusalem pada hari Sabat. Aku memperingatkan mereka ketika mereka menjual bahan-bahan makanan. 16 Juga orang Tirus yang tinggal di situ membawa ikan dan pelbagai barang dagangan dan menjual itu kepada orang-orang Yehuda pada hari Sabat, bahkan di Yerusalem. 17 Lalu aku menyesali pemuka-pemuka orang Yehuda, kataku kepada mereka: "Kejahatan apa yang kamu lakukan ini dengan melanggar kekudusan hari Sabat? 18 Bukankah nenek moyangmu telah berbuat demikian, sehingga Allah kita mendatangkan seluruh malapetaka ini atas kita dan atas kota ini? Apakah kamu bermaksud memperbesar murka yang menimpa Israel dengan melanggar kekudusan hari Sabat?" 19 Kalau sudah remang-remang di pintu-pintu gerbang Yerusalem menjelang hari Sabat, kusuruh tutup pintu-pintu dan kuperintahkan supaya jangan dibuka sampai lewat hari Sabat. Dan aku tempatkan beberapa orang dari anak buahku di pintu-pintu gerbang, supaya tidak ada muatan yang masuk pada hari Sabat. 20 Tetapi orang-orang yang berdagang dan berjualan rupa-rupa barang itu kemudian bermalam juga di luar tembok Yerusalem satu dua kali. 21 Lalu aku memperingatkan mereka, kataku: "Mengapa kamu bermalam di depan tembok? Kalau kamu berbuat itu sekali lagi akan kukenakan tanganku kepadamu." Sejak waktu itu mereka tidak datang lagi pada hari Sabat. 22 Juga kusuruh orang-orang Lewi mentahirkan dirinya dan datang menjaga pintu-pintu gerbang untuk menguduskan hari Sabat. Ya Allahku, ingatlah kepadaku juga karena hal itu dan sayangilah aku menurut kasih setia-Mu yang besar!

BERANI BERKATA “TIDAK”

Dalam kepemimpinan Nehemia, ia selalu berorientasi untuk   melakukan  pemulihan bagi orang Israel, dengan membangun kembali Bait Allah dan tembok kota yang hancur. Nehemia merasa sangat terganggu ketika berhadapan dengan sikap Tobia dan Sanbalat, yang menentang pekerjaan pembanguna Bait Allah. Namun demikian, sikapnya tidak didukung oleh para pemimpin di Israel, sebab mereka memilih berkompromi dengan Tobia dan Sanbalat untuk menggagalkan pekerjaan pembangunan itu.  Mereka mencemari rumah Tuhan, melanggar kekudusan hari Sabat, dan melakukan kawin campur. Namun demikian, Nehemia berani menentang semua itu, ia menegakkan kembali hukum Tuhan ditengah-tengah bangsa Israel. Ia bertindak tegas terhadap perbuatan Tobia dan Sanbalat, yang menjadi musuh orang Israel. 

Nehemia tidak segan untuk mengatakan “tidak” pada hal yang keliru dan melanggar kehendak Tuhan. Apakah selama ini kita termasuk orang yang sulit berkata “tidak”? Apakah kita lebih memilih untuk menjaga perasaan karena “malu hati” dan takut untuk melukai perasaan orang lain, sehingga akhirnya kita pun terkesan berkompromi dengan hal yang salah? Tanpa kita sadari sikap seperti itu tidaklah mendidik, dengan membiarkan kesalahan terus terjadi, tanpa berupaya untuk menegur. Hari ini kita belajar dari Nehemia yang tidak segan-segan untuk berkata “tidak” untuk hal yang salah. Ia berani menghadapi segala resiko yang harus ia tanggung, karena melakukan hal yang baik dan benar. Seringkali kita berhadapan dengan sikap banyak orang yang bertentangan dengan kehendak Tuhan dan menyakiti sesama. Disini dibutuhkan ketegasan kita untuk  berani mengatakan “tidak”, artinya kita tidak berkompromi apalagi ikut-ikutan melakukan kejahatan, yang mengorbankan orang lain. 

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu hidup menurut kehendak-Mu, amin

Rabu, 05 Agustus 2020                          

Ester 7 : 1-10

Haman diadukan oleh Ester dan dihukum mati
Datanglah raja dengan Haman untuk dijamu oleh Ester, sang ratu. 2 Pada hari yang kedua itu, sementara minum anggur, bertanyalah pula raja kepada Ester: "Apakah permintaanmu, hai ratu Ester? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu? Sampai setengah kerajaan sekalipun akan dipenuhi." 3 Maka jawab Ester, sang ratu: "Ya raja, jikalau hamba mendapat kasih raja dan jikalau baik pada pemandangan raja, karuniakanlah kiranya kepada hamba nyawa hamba atas permintaan hamba, dan bangsa hamba atas keinginan hamba. 4 Karena kami, hamba serta bangsa hamba, telah terjual untuk dipunahkan, dibunuh dan dibinasakan. Jikalau seandainya kami hanya dijual sebagai budak laki-laki dan perempuan, niscaya hamba akan berdiam diri, tetapi malapetaka ini tiada taranya di antara bencana yang menimpa raja." 5 Maka bertanyalah raja Ahasyweros kepada Ester, sang ratu: "Siapakah orang itu dan di manakah dia yang hatinya mengandung niat akan berbuat demikian?" 6 Lalu jawab Ester: "Penganiaya dan musuh itu, ialah Haman, orang jahat ini!" Maka Hamanpun sangatlah ketakutan di hadapan raja dan ratu. 7 Lalu bangkitlah raja dengan panas hatinya dari pada minum anggur dan keluar ke taman istana; akan tetapi Haman masih tinggal untuk memohon nyawanya kepada Ester, sang ratu, karena ia melihat, bahwa telah putus niat raja untuk mendatangkan celaka kepadanya. 8 Ketika raja kembali dari taman istana ke dalam ruangan minum anggur, maka Haman berlutut pada katil tempat Ester berbaring. Maka titah raja: "Masih jugakah ia hendak menggagahi sang ratu di dalam istanaku sendiri?" Tatkala titah raja itu keluar dari mulutnya, maka diselubungi oranglah muka Haman. 9 Sembah Harbona, salah seorang sida-sida yang di hadapan raja: "Lagipula tiang yang dibuat Haman untuk Mordekhai, orang yang menyelamatkan raja dengan pemberitahuannya itu, telah berdiri di dekat rumah Haman, lima puluh hasta tingginya." Lalu titah raja: "Sulakan dia pada tiang itu." 10 Kemudian Haman disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekhai. Maka surutlah panas hati raja.

JADILAH PEMBELA KAUM LEMAH 

Sejarah mencatat bahwa, ada banyak kisah terkenal yang   berlatarbelakang kerajaan dan diwarnai dengan berbagai kepentingan politik, pemberontakan, hingga penghianatan. Kisah Ester dalam bacaan kita, hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah persekongkolan rahasia yang dilakukan oleh “orang dalam” di Istana Raja. Diceriterakan bahwa, Ester seorang gadis Yahudi yang terpilih menjadi Ratu di Kerajaan Persia, berani bertindak untuk menyelamatkan bangsanya dari persekongkolan jahat Haman, seorang pembesar kerajaan yang ingin memusnahkan seluruh orang Yahudi. Ester bertindak menjadi jaminan atas keselamatan bangsanya, meski sebenarnya tindakannya itupun sangat beresiko bagi hidupnya seandainya raja tidak merespons atau bahkan menolak permintaannya sebagai seorang ratu. Ester malah berkata: “..kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Est.4:16.b). Di sisi lain, Haman digambarkan sebagai orang yang “menggali lobang dan jatuh sendiri ke dalamnya”, karena rencana jahatnya berujung pada hukuman yang harus ia terima. Hal ini seperti kata peribahasa: “Siapa menabur angin menuai badai”, atau lebih jelas lagi seperti kata Tuhan Yesus: “barang siapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat 26:52). Kisah penyelamatan bangsa Yahudi dari ancaman pembunuhan oleh Haman, akhirnya dirayakan oleh orang Israel sebagai hari raya Purim, disini peran Ester tetap dikenang sebagai seorang perempuan yang berani mempertaruhkan seluruh hidupnya demi menyelamatkan bangsanya dari ancaman kematian. Keberanian Ester menginspirasi kita semua untuk mampu bertindak membela yang lemah dan tertindas dan berani melawan kejahatan, baik yang nyata maupun yang terselubung. Dengan demikian, kita telah menampakkan wajah Allah yang berpihak kepada yang lemah.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk bertindak membela yang lemah. Amin.  

Kamis, 06 Agustus 2020                  

bacaan : Nehemia 13: 23-31

23 Pada masa itu juga kulihat bahwa beberapa orang Yahudi memperisteri perempuan-perempuan Asdod, perempuan-perempuan Amon atau perempuan-perempuan Moab. 24 Sebagian dari anak-anak mereka berbicara bahasa Asdod atau bahasa bangsa lain itu dan tidak tahu berbicara bahasa Yahudi. 25 Aku menyesali mereka, kukutuki mereka, dan beberapa orang di antara mereka kupukuli dan kucabut rambutnya dan kusuruh mereka bersumpah demi Allah, demikian: "Jangan sekali-kali kamu serahkan anak-anak perempuanmu kepada anak-anak lelaki mereka, atau mengambil anak-anak perempuan mereka sebagai isteri untuk anak-anak lelakimu atau untuk dirimu sendiri! 26 Bukankah Salomo, raja Israel, telah berbuat dosa karena hal semacam itu? Walaupun di antara begitu banyak bangsa tidak ada seorang raja seperti dia, yang dikasihi Allahnya dan diangkat oleh Allah itu menjadi raja seluruh Israel, namun diapun terbawa ke dalam dosa oleh perempuan-perempuan asing itu. 27 Apakah orang harus mendengar bahwa juga kamu berbuat segala kejahatan yang besar itu, yakni berubah setia terhadap Allah kita karena memperisteri perempuan-perempuan asing?" 28 Seorang dari anak-anak Yoyada bin Elyasib, imam besar itu, adalah menantu Sanbalat, orang Horoni itu. Oleh sebab itu kuusir dia dari padaku. 29 Ya Allahku, ingatlah bagaimana mereka mencemarkan jabatan imam serta perjanjian mengenai para imam dan orang-orang Lewi. 30 Kutahirkan mereka dari segala sesuatu yang asing dan kutetapkan tugas-tugas untuk para imam dan orang-orang Lewi, masing-masing dalam bidang pekerjaannya, 31 pula kutetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api pada waktu-waktu tertentu dan untuk hasil-hasil yang pertama. Ya Allahku, ingatlah kepadaku, demi kesejahteraanku!

JAGALAH KEKUDUSAN HIDUP

Seorang narapidana yang dipenjarakan karena perbuatannya, mengaku bertobat dan tidak lagi mengul    angi perbuatannya. Namun ketika bebas dari tahanan, ia kembali melakukan kejahatan yang sama dan mengantarnya kembali ke penjara. Dengan kata lain, orang tersebut tidak jera dan cenderung mengulangi lagi perbuatannya. Kita pun tahu bahwa meskipun sudah ada lembaga khusus yang bertindak menangani perbuatan korupsi, namun tetaplah tak mampu membuat jera para koruptor. Pertanyaannya adalah: Mengapa hal itu terjadi? Sulit untuk menjawabnya, karena ada banyak motivasi dibalik pelanggaran dan perbuatan jahat seseorang. Jika kita menengok kisah bangsa Israel dalam Alkitab, selalu diwarnai dengan pelanggaran yang berkali-kali dilakukan. Pelanggaran bukan hanya terhadap hukum Taurat, tapi lebih dari itu yakni terhadap kekudusan di hadapan Allah. Seakan tidak pernah jera, meskipun telah “dihukum” berkali-kali oleh Tuhan, dengan menjadi tawanan bangsa Babel maupun Persia. Tetapi justru ketika kembali dibebaskan, atau sekembalinya mereka ke Yerusalem, citra sebagai umat pilihan Allah menjadi tercoreng oleh pelanggaran umat sendiri. Nehemia yang melihat hal itu kemudian bertindak dengan keras untuk mengembalikan citra umat di hadapan Allah dan juga di hadapan bangsa lain. Kekudusan Allah di hadapan manusia hanya bisa terjaga bila umat-Nya mampu menunjukkan ketaatan yang sungguh-sungguh. Kekudusan-Nya tak cukup hanya dengan kata-kata pengakuan pertobatan, melainkan harus betul-betul nyata dalam pikiran, perasaan, sikap, dan tingkah laku. Dengan kata lain, tutur kata harus sejalan dengan tingkah laku, karena tak ada yang tersembunyi di mata Allah. Mari menjaga hidup untuk tidak melakukan pelanggaran, baik terhadap hukum, norma, etika, adat istiadat, dan yang paling penting terhadap kehendak Tuhan. 

Doa:  Bapa Sorgawi, tuntunlah kami agar mampu menjaga kekudusan hidup dihadapan-Mu, Amin. 

Jumat, 07 Agustus 2020                     

bacaan : Daniel 1 : 1-21

Di istana Babel
Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. 2 Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Semuanya itu dibawanya ke tanah Sinear, ke dalam rumah dewanya; perkakas-perkakas itu dibawanya ke dalam perbendaharaan dewanya. 3 Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, 4 yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. 5 Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. 6 Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. 7 Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. 8 Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. 9 Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; 10 tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: "Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja." 11 Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: 12 "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; 13 sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu." 14 Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. 15 Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. 16 Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka. 17 Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. 18 Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, bahwa mereka sekalian harus dibawa menghadap, maka dibawalah mereka oleh pemimpin pegawai istana itu ke hadapan Nebukadnezar. 19 Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. 20 Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. 21 Daniel ada di sana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh.

KEKUATAN DI DALAM KEYAKINAN

Penyair terkenal, Kahlil Gibran pernah menuliskan kata-kata  bijak yang berbunyi: “Tuhan membukakan pintu kebenaran bagi siapa saja yang mengetuknya dengan keyakinan”. Kata kunci dari kalimat bijak itu adalah: KEYAKINAN. Ya! Keyakinan adalah faktor penting yang mampu mengubah hidup. Keyakinan dapat membuat seseorang tak pernah merasa gagal meski ia harus mengulangi dan mencoba berkali-kali hingga berhasil. Keyakinan melahirkan semangat dan karakter pantang menyerah, meski mungkin harus berbeda jalan dengan orang lain. Meski demikian keyakinan pun dapat menjadi bumerang bila tidak dikelola secara positif. Kisah tentang Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya  di tanah Babel, adalah kisah tentang keyakinan yang luar biasa dan dikelola secara positif, yakni keyakinan bahwa Allah yang mereka percaya penuh dengan kuasa. Atas dasar keyakinan itulah maka mereka menerapkan sikap menjaga kekudusan dan menjauhi kenajisan. Modal keyakinan itu pula yang membuat mereka mampu menunjukkan kekuatan Allah di hadapan orang-orang Babel. Allah menjaga dan melindungi mereka karena mereka sanggup menjaga kekudusan hidup di hadapan Allah. Kita yang hidup di zaman ini tentunya masih memiliki keyakinan akan kuasa Allah, meskipun tak dapat disangkal bahwa manusia zaman modern lebih mengandalkan rasio dibandingkan keyakinan. Sering terjadi dalam kehidupan, kita lebih menggunakan perhitungan matematis, teoretis atau untung-rugi dibandingkan keyakinan, padahal keyakinanlah yang dapat melengkapi segala perhitungan itu. Keyakinan bukan soal percaya diri semata, melainkan percaya bahwa ada kuasa yang menopang, melindungi dan menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yakni kuasa Tuhan. Jadilah orangorang yang penuh dengan keyakinan, maka Tuhan tidak akan membiarkan anda berdiri di luar jangkauan-Nya. 

Doa:  Ya  Yesus, tuntunlah kami agar mampu bertumbuh dalam iman dan  keyakinan akan kuasa dan kasih-Mu. Amin

Sabtu, 08 Agustus 2020                           

bacaan : 1 Samuel 25: 14-35

14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangnya, katanya: "Ketahuilah, Daud menyuruh orang dari padang gurun untuk memberi salam kepada tuan kita, tetapi ia memaki-maki mereka. 15 Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang. 16 Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka. 17 Oleh sebab itu, pikirkanlah dan pertimbangkanlah apa yang harus kauperbuat, sebab telah diputuskan bahwa celaka akan didatangkan kepada tuan kita dan kepada seisi rumahnya, dan ia seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia." 18 Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai, 19 lalu berkata kepada bujang-bujangnya: "Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu." Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya. 20 Ketika perempuan itu dengan menunggang keledainya, turun dengan terlindung oleh gunung, tampaklah Daud dan orang-orangnya turun ke arahnya, dan perempuan itu bertemu dengan mereka. 21 Daud tadinya telah berkata: "Sia-sialah aku melindungi segala kepunyaan orang ini di padang gurun, sehingga tidak ada sesuatupun yang hilang dari segala kepunyaannya; ia membalas kebaikanku dengan kejahatan. 22 Beginilah kiranya Allah menghukum Daud, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika kutinggalkan hidup sampai pagi seorang laki-laki sajapun dari semua yang ada padanya." 23 Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah. 24 Ia sujud pada kaki Daud serta berkata: "Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini. 25 Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh. 26 Oleh sebab itu, tuanku, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku! 27 Oleh sebab itu, pemberian yang dibawa kepada tuanku oleh budakmu ini, biarlah diberikan kepada orang-orang yang mengikuti tuanku. 28 Ampunilah kiranya kecerobohan hambamu ini, sebab pastilah TUHAN akan membangun bagi tuanku keturunan yang teguh, karena tuanku ini melakukan perang TUHAN dan tidak ada yang jahat terdapat padamu selama hidupmu. 29 Jika sekiranya ada seorang bangkit mengejar engkau dan ingin mencabut nyawamu, maka nyawa tuanku akan terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup pada TUHAN, Allahmu, tetapi nyawa para musuhmu akan diumbankan-Nya dari dalam salang umban. 30 Apabila TUHAN melakukan kepada tuanku sesuai dengan segala kebaikan yang difirmankan-Nya kepadamu dan menunjuk engkau menjadi raja atas Israel, 31 maka tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Dan apabila TUHAN berbuat baik kepada tuanku, ingatlah kepada hambamu ini." 32 Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; 33 terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. 34 Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu--jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing." 35 Lalu Daud menerima dari perempuan itu apa yang dibawanya untuk dia, dan berkata kepadanya: "Pulanglah dengan selamat ke rumahmu; lihatlah, aku mendengarkan perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik."

CINTA MENYELAMATKAN KEHIDUPAN

Tahun 1740, Suzanne Barbot, membuat suatu tulisan  berjudul: “Beauty and the Beast” artinya “Si Cantik dan si Buruk Rupa”, yang mengisahkan tentang seorang perempuan cantik yang diserahkan kepada seorang laki-laki kaya namun buruk rupa. Meski tidak sama persis, namun kisah ini hampir menyerupai kisah Nabal dan Abigail. Bedanya adalah Nabal bukannya seorang yang buruk rupa, melainkan “buruk sifat”. Dalam bacaan kita, Nabal digambarkan sebagai seorang kaya yang angkuh, kasar, dan pelit. Akibat sifatnya itu, Nabal telah membuat Daud tersinggung dan ia tidak menyadari bahwa bahaya sedang datang menimpanya ketika Daud siap untuk menyerang perkemahannya. Sebaliknya  sang isteri, Abigail digambarkan sebagai si cantik yang berhikmat, sehingga dengan hikmatnya, ia berhasil menyelamatkan Nabal dari ancaman pedang Daud, tetapi juga menyelamatkan Daud dari perbuatan pertumpahan darah. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita  menemukan karakter  Nabal dan Abigail itu. Kekayaan, harta dan kekuasaan memang dekat dengan kecantikan,namun tidaklah berguna bila tanpa hikmat dan kebijaksanaan. Peran Abigail memberi inspirasi tentang hikmat, kebijaksanaan dan cinta. Suatu pelajaran bagi kita agar tidak silau dengan kekayaan sehingga merendahkan orang lain, tapi juga tentang bagaimana membela kehidupan, terlebih khusus kehidupan keluarga. Satu hal yang sangat berharga, sehingga cerita “Si Cantik dan si Buruk Rupa” mendapat tempat di hati penggemarnya, adalah “Cinta”. Percayalah bahwa, ketika dengan kerendahan hati dan hikmatnya, Abigail berhadapan dengan Daud, itu karena cintanya untuk menyelamatkan keluarganya. Dengan cinta pula, Tuhan Yesus berkorban untuk menyelamatkan kita; dan semoga dengan cinta pula, anda dapat melakukan hal-hal yang baik bagi kehidupan. 

Doa:  Ya Tuhan, berilah hatiku penuh dengan hikmat, kebijaksanaan dan cinta, untuk menyelamatkan kehidupan. Amin. 

*Sumber : SHK bulan Agustus 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey 
Fatal error: Uncaught exception 'wfWAFStorageFileException' with message 'Unable to save temporary file for atomic writing.' in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:30 Stack trace: #0 /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(650): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/k2376458/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 30