Santapan Harian Keluarga, 30 Agust – 5 September 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Keluarga Kristen Sebagai Gereja “

Minggu, 30 Agustus 2020      

bacaan : Mazmur 78 : 1 – 11

Pelajaran dari sejarah
Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. 2 Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. 3 Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, 4 kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. 5 Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, 6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, 7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; 8 dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. 9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran; 10 mereka tidak berpegang pada perjanjian Allah dan enggan hidup menurut Taurat-Nya. 11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya kepada mereka.

KELUARGA KRISTEN SEBAGAI GEREJA

Gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus; mereka ditebus, diampuni, dibarui,  dan hidup menurut jalan yang ditunjukan-Nya. Persekutuan itu menjadi penting dalam kehidupan keluarga, sebagai “gereja kecil”, tempat yang baik untuk pertumbuhan iman, pewarisan nilai-nilai kehidupan, dimana setiap orang akan mengalami kehangatan cinta kasih, keadilan, kesetiaan, saling menghormati, hidup penuh sukacita dan damai sejahtera. Proses pertumbuhan iman dan pewarisan nilai-nilai kehidupan itu diceriterakan dalam Mazmur 78 sebagai nyanyian pengajaran Asaf: “…Hukum Taurat diberi-Nya,,, nenek moyang diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak yang akan lahir kelak, ….menceriterakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah”. Sebagai “gereja”, keluarga diberi tanggungjawab untuk memperkenalkan cinta kasih Kristus dalam kehidupan setiap anggotanya, dari generasi ke generasi, agar mereka percaya dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kehidupan mereka. Itulah misi utama dari gereja Tuhan yang berlangsung di keluarga. Saat ini, keluarga Kristen diperhadapkan dengan tantangan zaman yang mewabah bagaikan “virus”, yang siap menghancurkan keutuhan sendi-sendi kesetiaan, kasih sayang, keadilan, sukacita dan damai. Namun demikian, “sang Kepala Gereja” yaitu Yesus Kristus, tidak akan pernah membiarkan “gereja-Nya”, yaitu keluarga dihancurkan oleh virus apapun, DIA akan bertindak untuk memulihkan dan menyelamatkan. Namun demikian, tindakan penyelamatan itu akan berlangsung, ketika semua anggota keluarga tetap percaya, bersekutu, berdoa, bergantung, berlindung dan berharap hanya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat kehidupan.     

Doa: Tuhan, tolong kami untuk menjadikan keluarga kami sebagai “gereja”,  mewariskan nilai-nilai kehidupan, Amin.

Senin, 31 Agustus 2020         

bacaan : Keluaran 20 : 1 – 17 

Kesepuluh firman
Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: 2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. 3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. 7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. 8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: 9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, 10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. 11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. 12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. 13 Jangan membunuh. 14 Jangan berzinah. 15 Jangan mencuri. 16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. 17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

MENJADI KELUARGA YANG TAAT

Di sebuah kelas Taman Kanak-kanak seorang guru berkata, “ Anak-anak, Ibu menaruh kue dan permen ini di atas meja. Ibu ada keperluan sebentar di kantor. Nanti kalau Ibu kembali, Ibu akan bagikan semua makanan ini untuk kalian!” Tanpa sepengetahuan anak-anak, para peneliti memasang monitor CCTV yang dipakai untuk melihat apa saja yang dilakukan anak-anak itu. Begitu sang guru keluar, beberapa anak segera mengambil kue dan permen itu. Sebagian anak mulanya ragu, tetapi melihat sikap teman yang lain mereka pun ikut mengambil. Hanya sedikit anak yang taat dan tetap duduk. Dengan cermat para peneliti mencatat perilaku setiap anak. Tiga puluh tahun kemudian, mereka mengadakan penelitian ulang terhadap anakanak tersebut. Ternyata anak-anak yang dulu taat, kini menjadi orang-orang yang berhasil. Sedangkan anak-anak yang tidak taat menjadi orang-orang yang gagal, baik dalam rumah tangga maupun karier yang mereka bangun. Dalam bacaan kita, Allah memberikan sepuluh perintah kepada Israel yang mesti ditaati. Berbeda dengan tuntutan dewa-dewi bangsa lain yang  berkisar pada pemberian kurban materiil, kesepuluh perintah Allah justru bersifat teologis dan etis. Kesepuluh perintah itu bisa digolongkan ke dalam dua bagian besar yaitu, perintah untuk mengasihi Allah dan perintah untuk mengasihi sesama. Allah hanya meminta hal sederhana dari kita yaitu ketaatan, ketika kita taat pada kehendak-Nya, itu sangat menyukakan hati-Nya. Jadikanlah keluargamu sebagai keluarga yang taat, untuk mematuhi kehendak Tuhan dengan mematuhi berbagai peraturan dan kebijakan dari para pemimpin gereja dan masyarakat. Didiklah anak-anak menjadi generasi masa depan yang taat, sebab ketaatan akan mendatangkan berkat yang tak berkeputusan.

Doa: Tuhan, bimbinglah kami untuk selalu taat pada kehendak-Mu, sehingga kami menjadi satu keluarga yang memuliakan Allah. Amin.

Selasa, 01 September 2020      

bacaan : Pengkhotbah 9 : 8 – 10

8 Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu. 9 Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari. 10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

MENJADI KELUARGA YANG SALING SETIA

Menjadi keluarga yang setia memang tidak mudah, sebab ada banyak tantangan dan persoalan yang bisa saja membuat ketidaksetiaan itu muncul dalam kehidupan keluarga. Membaca kitab Pengkhotbah, kita melihat pengalaman raja Salomo, yang hidupnya bergelimang kemewahan, baik harta benda, tetapi juga menikmati kehidupan dengan sejumlah istri dari bangsa sekitar. Hal ini tentu membuat Salomo terjebak dalam ketidaksetiaan kepada Tuhan Allah dan juga kepada seisi keluarganya. Salomo merasakan bahwa semua yang ia jalani dalam hidupnya adalah kesia-siaan, itulah yang ia katakan dalam bacaan hari ini. Disini, Salomo ingin membagi pengalamannya bahwa hidup manusia  akan lebih berarti jika dikendalikan oleh Tuhan Allah. Karena itu, dalam bacaan ini, Salomo berbicara tentang bagaimana orang dapat menikmati hidupnya dalam kesetiaan pada Tuhan Allah, yaitu hidup dalam kesucian, dengan hati yang bersih dari segala keinginan daging dan kenikmatan dunia, yang dilambangkan dengan pakaian yang selalu putih. Selain itu, kesetiaan kepada Allah juga dapat terwujud dalam hidup yang terus mengalirkan berkat untuk dinikmati oleh sesama, seperti minyak yang baik diatas kepala (ay.8). Kesetiaan kepada Allah hendaklah terlihat dalam kesetiaan untuk menjaga keutuhan rumah tangga, dengan merawat keharmonisan hidup suami – isteri sebagai anugerah Tuhan, saling setia satu dengan yang lain, saling mengampuni jika ada yang melakukan kesalahan (ay.9). Kesetiaan itu juga harus nampak dalam kehidupan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak, yang akan terwujud dalam seluruh aktifitas sehari-hari, maupun dalam melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan oleh Tuhan kepada setiap orang, agar dapat dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Semua itu akan terwujud ketika bergantung dan berharap hanya kepada Tuhan Allah, dengan demikian, kesetiaanmu tidak akan sia-sia, dan pasti diberkati oleh Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarlah kami menjadi setia. Amin.                                                     

Rabu, 02 September 2020                  

bacaan : Amsal 31 : 10 – 31

Puji-pujian untuk isteri yang cakap
10 Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. 11 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. 12 Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. 13 Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. 14 Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. 15 Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. 16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. 17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. 18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. 19 Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal. 20 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. 21 Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap. 22 Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya. 23 Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. 24 Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang. 25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. 26 Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. 27 Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. 28 Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: 29 Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. 30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. 31 Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

KELUARGA YANG BERBAGI PERAN DENGAN ADIL

Setiap keluarga pasti mendambakan suasana damai dan bahagia dalam kehidupan mereka. Hal ini bukan sesuatu yang instan atau langsung jadi, tetapi harus diupayakan dengan berbagi peran secara adil, ibarat “tiem work” atau tim kerja. Memang keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak adalah suatu tim kerja yang kompak dan solid. Hubungan antar anggota keluarga tidak hanya bersifat saling melengkapi tetapi juga saling mengisi. Setiap orang dalam keluarga memiliki tanggungjawab yang sama untuk merawat kebersamaan. Dalam bacaan kita terlihat adanya ketidak-seimbangan dalam pembagian peran anggota keluarga. Ketika seorang isteri dipuji-puji sebagai “isteri yang cakap”, hal ini terjadi karena karena ia melakukan semua tugas keluarga atau tugas rumah tangga seorang diri. Dikatakan: “Ia bangun kalau masih malam..”(ay.15.a), “pada malam hari, pelitanya tidak padam” (ay.18.b). Artinya bahwa, hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah. Ia bukan saja menyediakan makanan, tetapi juga membuat pakaian bagi seisi rumah, dan mengerjakan ladangnya dengan membuat kebun anggur. Jika semua pekerjaan itu hanya dikerjakan oleh satu orang, dalam hal ini oleh isteri atau “mama”, maka ia bukanlah isteri yang cakap tetapi “isteri yang cape”, sebab pastia dia tidak punya waktu untuk beristirahat.Saat ini, banyak perempuan memiliki tugas rangkap, sebagai ibu rumah tangga tetapi juga sebagai wanita karier. Oleh sebab itu, sepatutnya ada pembagian peran dalam keluarga secara adil bagi seluruh anggota keluarga, baik suami, isteri, orang tua dan anak-anak, agar terciptalah suasana yang adil, aman dan damai, sesuai kehendak Allah. Keluarga sebagai gereja, adalah persekutuan yang saling menopang dan berbagi peran dengan adil sehingga semua orang dapat menikmati hidupnya dengan baik.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk berbagi peran dengan adil, Amin.    

Kamis, 03 September 2020          

bacaan : Markus  7 : 9 – 13

9 Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. 10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. 11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban--yaitu persembahan kepada Allah--, 12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya. 13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."

KELUARGA YANG SALING MENGHORMATI

Saling menghormati adalah salah satu “nilai hidup” penting yang perlu dibangun dan diwariskan mulai dari keluarga, sebagai tempat pewarisan nilai. Dalam bacaan kita, Markus 7:9-13, Tuhan Yesus mengecam sikap orang Farisi yang suka mencari-cari alasan untuk tidak menghormati orang tua mereka, padahal firman Tuhan dengan tegas mengatakan: “hormatilah ayahmu dan ibumu…”(ay.10.a). Mereka lebih mengutamakan kepentingan diri daripada tanggungjawab untuk menghormati orang tua. Orang tua adalah sosok yang patut mendapat penghargaan sebagai bentuk rasa “terima kasih”, karena pengorbanan mereka bagi kehidupan dan masa depan anak-anak. Setiap orang tua pasti rela mengorbankan seluruh hidupnya, baik waktu, pikiran, maupun tenaga untuk anak-anaknya. Tanggungjawab orang tua adalah memelihara dan mendewasakan anak-anak untuk hidup sesuai kehendak Tuhan. Untuk itu diharapkan orang tua akan menghormati hak-hak anak, antara lain hak untuk mendapatkan pendidikan, kasih sayang, nafkah hidup, menyampaikan pendapat, dan sebagainya. Karena itu, anak-anak patut menghormati orang tua, menghargai jerih lelah mereka, dan setelah anak-anak menjadi dewasa, tanggungjawab mereka adalah melayani orang tua mereka. Itulah sikap saling menghormati yang harus ditumbuhkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sikap saling menghormati juga hendaklah terwujud dalam cara: saling bertegur sapa, memberi salam, mengucapkan terima kasih, menghargai pendapat sesama anggota keluarga dan lainnya. Keluarga sebagai gereja adalah basis persemaian nilai-nilai hidup untuk mengutuhkan persekutuan, antara lain dengan saling menghormati. Sikap saling menghormati yang bertumbuh dalam keluarga, kemudian akan menjadi “gaya hidup” yang juga dapat menghargai dan menghormati sesama yang lain.   

Doa: Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh Kudus-Mu untuk hidup saling menghargai, amin

Jumat, 04 September 2020               

bacaan : Yohanes 2 : 1 – 11

Perkawinan di Kana
Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; 2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. 3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." 4 Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." 5 Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" 6 Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. 7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh. 8 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu merekapun membawanya. 9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki, 10 dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." 11 Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

TUHAN ALLAH MENYEDIAKAN BERKAT BAGI KELUARGA

“Berkat Tuhan mari hitunglah, kau kan kagum oleh kasih-Nya…”, refrein lagu Kidung Jemaat 439 “Bila Topan K’ras Melanda Hidupmu” adalah gubahan seorang penyair, Johnson Oatman dan pengarang melodinya Edwin Othello Excel. Syair lagu ini tercipta saat Oatman mengimani bahwa dalam segala keadaan, termasuk saat dilanda topan k’ras sekalipun, ia tetap percaya untuk mengingat dan menghitung berkat yang Tuhan Allah karuniakan dalam hidup keluarganya. Dalam bacaan kita hari ini, Yohanes 2:1-11, menceriterakan tentang persoalan yang dialami oleh satu keluarga di Kana, ketika berlangsung pesta perkawinan. Persoalan yang dihadapi mereka adalah kehabisan anggur, minuman utama dalam acara pesta itu. Di tengah persoalan yang mereka hadapi, Yesus bertindak untuk memberi pertolongan, rupanya Yesus juga hadir di pesta itu atas undangan keluarga. Mengundang Yesus untuk hadir dalam kehidupan keluarga adalah hal yang sangat penting. Selain itu dibutuhkan juga rasa solidaritas dari anggota keluarga yang peka dengan persoalan yang terjadi dan segera bertindang meminta Yesus untuk memberi pertolongan, yang saat itu diperankan oleh ibu Yesus. Ternyata Yesus tau apa yang sedang terjadi dalam kehidupan keluarga dan Yesus segera bertindak untuk memberi pertolongan. Dalam kehidupan keluarga Kristen, berbagai persoalan seringkali terjadi secara beruntun, Baik persoalan antara suami dan isteri, orang tua dan anak-anak, persoalan kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Belajar dari pengalaman Yohnson Oatman dan kisah perkawinan di Kana, mengajak setiap orang percaya termasuk keluarga kita, agar selalu setia mengundang Yesus hadir dalam kehidupan keluarga dan serahkanlah semua persoalan untuk diselesaikan bersama Yesus. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus selalu menyediakan berkat yang tidak berkeputusan bagi keluarga kita.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk bersyukur atas berkat-Mu, Amin.                                                                                    

Sabtu, 05 September 2020        

bacaan : 1 Tawarikh 17 : 23 – 27

23 Dan sekarang, ya TUHAN, diteguhkanlah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu. 24 Maka nama-Mu akan menjadi teguh dan besar untuk selama-lamanya, sehingga orang berkata: TUHAN semesta alam, Allah Israel adalah Allah bagi orang Israel; maka keluarga hamba-Mu Daud akan tetap kokoh di hadapan-Mu. 25 Sebab Engkau, ya Allahku, telah menyatakan kepada hamba-Mu ini, bahwa Engkau akan membangun keturunan baginya. Itulah sebabnya hamba-Mu ini telah memberanikan diri untuk memanjatkan doa ke hadapan-Mu. 26 Oleh sebab itu, ya TUHAN, Engkaulah Allah dan telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu. 27 Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya."

MENJADI KELUARGA YANG BERSYUKUR

“Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga….” adalah sebuah lirik lagu yang menjadi tema sebuah sinetron “Keluarga Cemara” yang menceriterakan kehidupan satu keluarga sederhana yang damai dan bahagia karena seisi keluarga mereka hidup dalam kasih sayang yang sejati. Hal ini berbeda dengan kehidupan keluarga raja Daud, dimana Daud sebagai pimpinan keluarga kedapatan tidak setia dan hidup dengan banyak isteri yang didapatkan dengan cara yang tidak terpuji. Sekalipun Allah mengampuni dosa Daud, namun penyesalan Daud tidak akan pernah cukup untuk menghapus semua akibat dari perbuatan dosanya yang telah membunuh Uria dan mengambil isterinya Batsyeba. Oleh sebab itulah, dalam kesadaran yang sungguh, Daud merendahkan dirinya dihadapan Tuhan Allah, memohon pengampunan-Nya serta mensyukuri semua yang telah Tuhan lakukan dalam hidupnya. “Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?” (ay.16.b). Perkataan ini adalah ungkapan hati raja Daud, mensyukuri semua perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Daud bersyukur, karena Tuhan Allah mau mengampuni segala dosanya, dan memberkati keluarganya. Akhirnya Daud mengakui bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga dan karena itulah ia bersyukur dan memohon berkat bagi keluarganya. Jika kita merenungkan semua yang Tuhan Allah lakukan dalam hidup kita, baik itu pengampunan-Nya, penebusan-Nya, pertolongan-Nya, penyertaan-Nya dan semua berkat-berkat yang diberikan-Nya kepada keluarga kita, maka hanya ada satu hal yang dapat kita katakan: “Terima kasih Tuhan, atas kasih setia-Mu yang telah menyertai perjalanan hidup keluarga kami”. Menjadikeluarga yang bersyukur hendaklah terwujud dalam seluruh aktifitas hidup kita, yang menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk tau berterima kasih, Amin.

*sumber : SHK bulan Agust-Sept 2020, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey