Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 September 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Menjadi Gereja Yang Menghamba Kepada Allah

Minggu, 06 September 2020       

bacaan : 1 Petrus 5 : 1 – 11

Gembalakanlah kawanan domba Allah
Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. 2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. 3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. 4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. 5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. 7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. 10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. 11 Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

KELUARGA MENJADI GEREJA YANG MENGHAMBA KEPADA ALLAH

Hari ini, bersama semua warga Gereja Protestan Maluku, kita bersyukur di usia 85 tahun gereja kita. Perjalanan panjang yang telah ditempuh, melewati berbagai persoalan dan tantangan bahkan ancaman, baik yang berasal dari luar persekutuan gereja maupun persoalan yang terjadi dalam kehidupan bergereja kita. Rasul Petrus menggambarkan persekutuan gereja sebagai “kawanan domba Allah”. Tuhan Yesus mengandaikan persekutuan jemaat sebagai domba-domba-Nya (Yoh.21:15-19; 1Pet.5:1) dan IA sendiri menyediakan diri-Nya menjadi Gembala domba (Yoh.10:1-20). Dalam bacaan kita, tanggungjawab untuk menggembalakan “kawanan domba”, dalam arti jemaat Tuhan, dipercayakan Tuhan kepada para pelayan-Nya, antara lain Simon Petrus. Tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan rendah hati, penuh cinta kasih dan sukarela tanpa paksaan. Untuk menggembalakan kawanan domba Allah, para gembala harus berlaku seperti seorang hamba yang melayani, dan bukan sebagai “tuan” yang memerintah. Sebab ketika Sang Gembala Agung itu datang, setiap orang yang “menghamba” akan mendapat mahkota keselamatan dari Allah. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk melaksanakan tanggungjawab “menggembalakan kawanan domba Allah”, sebab anak-anak di dalam keluarga adalah “domba-domba Allah” yang harus digembalakan untuk mempelajari dan menghayati nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggungjawab untuk menggembalakan, yaitu: mengajar, mendidik, membina, mengasuh dan mendewasakan anak-anak dalam iman kepada Tuhan Yesus. Orang tua hendaklah menjadi “gembala” yang rendah hati, yang mengasuh anak-anaknya tanpa kekerasan namun dengan kelemah-lembutan, dan penuh kasih sayang. Masa depan gereja ini sangat ditentukan dengan pertumbuhan iman dan spiritualitas generasi baru gereja, yaitu anak-anak.

Doa: Terima kasih, Tuhan untuk penyertaan-Mu bagi Gereja kami, Amin.

Senin, 07 September 2020      

bacaan : Matius 20 : 25 – 28

25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

MENGHAMBA DALAM MELAYANI

Ketika murid-murid-Nya bertengkar untuk menjadi yang terbesar atau yang terutama di antara mereka, Tuhan Yesus memanggil mereka secara khusus untuk mengajarkan prinsip dan kebenaran ini. Memang saat itu pemerintah dan raja-raja memerintah rakyatnya dengan keras dan tangan besi. Tetapi Yesus mengatakan bahwa dalam kerajaan Surga, mereka harus melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Mereka harus menjadikan sikap saling melayani sebagai sikap yang menjadi pola bagi seseorang yang mau jadi terbesar. Itulah ciri dari para pengikut Tuhan Yesus. Hal ini tidak lepas dari pola Kerajaan Surga yang memang harus mendudukkan Tuhan Yesus sebagai yang terutama. Orang percaya harus menyembah dan melayani Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Tuhan. Tuhan Yesus sendiri memberi contoh bagaimana Ia datang ke dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Sebab itu Ia menghendaki agar para murid senantiasa punya hati menghamba yaitu hati yang tulus melayani umat dengan penuh kerendahan hati dan tidak mencari kepentingan diri sendiri. Dalam situasi pandemic seperti sekarang ini, memang sangat diperlukan orang-orang berhati hamba yang mau melayani dengan tulus. Telah banyak dokter, perawat dan petugas medis lainnya, bergotong royong melayani masyarakat yang sakit dan terinfeksi covid-19. Begitu juga ada banyak pihak yang mau saling membantu meringankan beban orang lemah dan miskin. Demikianlah seharusnya kita hidup saling melayani dan membantu dengan hati yang tulus, apalagi sebagai satu keluarga. Hidup yang menghamba dengan saling melayani hendaklah menjadi cara hidup keluarga-keluarga Kristen yang hidupnya selalu meneladani Kristus untuk melayani sebagai seorang hamba.

Doa: Ya Tuhan, biarlah kami selalu rendah hati dalam melayani, Amin.

Selasa, 08 September 2020   

bacaan : Matius 23 : 11 – 12

11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 MERENDAH DALAM MELAYANI AKAN DITINGGIKAN

Dalam bacaan hari ini Yesus menegaskan supaya hidup kita tidak seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yaitu mereka yang suka mencari perhatian, gila hormat dan kekuasaan, segala tindakannya bertujuan supaya dapat dilihat orang. Sebaliknya Yesus menghendaki supaya kita bersikap ‘merendahkan diri’, bukan berarti kita menempatkan diri lebih rendah dengan membungkukkan badan terhadap orang lain. Merendahkan diri disini berarti “bersikap rendah hati”, sikap hati yang takluk pada kebenaran Allah, menyadari keberadaan diri sebagai orang berdosa lalu mau melayani dan memperhatikan sesama, dan tidak memegahkan diri. Apa yang diajarkan Yesus agar kita mau selalu merendahkan diri adalah sesuatu yang penting. Karena apabila kita merendahkan diri maka dengan cara-Nya tersendiri, Ia akan meninggikan kita. Tuhan menghendaki kalau kita melakukan pelayanan, bukan untuk memperkaya diri atau mencari kepujian nama diri, apalagi bersikap angkuh dan sombong seolah-olah kita saja yang penting. Kita melakukan pelayanan sesungguhnya untuk menjadi berkat bagi sesama dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Semua ini dapat kita lakukan kalau kita mengakui dengan rendah hati kalau kita membutuhkan Tuhan untuk berkarya, sehingga kita menjadi alat-Nya yang berguna. Karena itu, saat ini kita kembali diingatkan akan pentingnya sebuah sikap rendah hati, terutama ketika kita ingin melayani-Nya. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Oleh sebab itu, rendahkanlah dirimu seorang akan yang lain dalam takut akan Tuhan

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu merendah dalam melayani demi kemuliaan-MU. Amin,

Rabu, 09 September 2020       

bacaan : Matius 11 : 25 – 30

Ajakan Juruselamat
25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. 26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. 28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

MELANGKAH BERSAMA YESUS

Pernahkan saudara memikul sesuatu? Bila pernah, maka apapun beban yang dipikul akan terasa beratnya. Tubuh kita hanya sanggup mengangkat beban dengan berat yang terkontrol sesuai kekuatan fisik yang kita miliki. Untuk sanggup mengangkat beban yang berat tentu butuh fisik yang baik. Kalau sedang lapar atau sakit, maka pasti tubuh ini tak akan sanggup mengangkat beban berat. Jelasnya secara fisik, jika tubuh kita dalam keadaan tidak normal, maka hilanglah kekuatan, bahkan untuk berjalan saja bisa terasa sulit. Namun di samping beban fisik, ada juga beban yang tak kalah beratnya meski tidak terlihat secara fisik. Itulah yang kerap disebut dengan ‘beban pikiran’. Beban pikiran tak terlihat secara fisik, namun sanggup membuat orang betul-betul menjadi lemah dan tak berdaya. Ya! Beban pikiran bisa lebih berbahaya dari beban fisik. Orang dapat mengurangi atau melepaskan beban fisik dengan mudah; namun untuk beban pikiran, tidak semudah melepas beban fisik. Orang akan menjadi stress, depressi atau bisa lebih parah lagi. Melepas beban pikiran butuh keyakinan bahwa hidup ini akan lebih terasa ringan. Pastikanlah bahwa beban hidup yang terasa begitu berat, tidak harus kita pikul sendiri. Jika merasa tak sanggup, ingatlah bahwa ada yang sanggup memikulnya, dialah Yesus Juru Selamat kita. Firman Tuhan ini menjadi jaminan bagi setiap orang percaya yang merasa berat beban hidupnya untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan dan tak ragu datang kepada-Nya karena dengan kasih dan kelembutan-Nya, Dia sanggup untuk menopang dan memberi kelegaan bagi siapa yang percaya dan mau melangkah bersama-Nya.

Doa: Ya Yesus Kristus, kupercaya bahwa Engkau sanggup menolongku dari beban-beban hidup yang terasa berat ini. Kuatkanlah kakiku untuk berdiri tegak dan melangkah bersama-Mu Tuhan, Amin.

Kamis, 10 September 2020         

bacaan : Kisah Para Rasul  20 : 17 –  21

Perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus
17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.

BERANI MENGAMBIL RISIKO

“Raja Panggalamei menjadi geram dan menyimpulkan bahwa Munson dan Lyman adalah musuh dan dibawanyalah kedua orang tersebut ke pasar. Tiba di pasar, masyarakat telah mengelilingi kedua orang itu. Mereka berdua tahu bahwa nyawa mereka terancam, maka berdoalah mereka menyerahkan hidup kepada Tuhan. Belum sempat menutup doa, Munson dan Lyman sudah ditusuk dari belakang”. Demikianlah sekelumit kisah Samuel Munson dan Henry Lyman, dua orang pekabar Injil Baptis asal Amerika yang menjadi martir di tanah Batak. Sejarah mencatat bahwa mereka terbunuh hanya karena salah paham akibat keterbatasan bahasa dalam berkomunikasi. Meski nyawa taruhannya, namun apa yang terjadi pada mereka berdua telah menjadi cikal bakal bertumbuhnya Injil di tanah Batak. Di atas batu peringatan martir mereka, tertulis sebaris kalimat yang berbunyi,” Darah martir adalah benih Injil Kristus”. Saudaraku, itulah risiko yang diambil oleh para pekabar Injil. Sejak gereja mula-mula,  pekabaran Injil telah dihiasi dengan nyawa para martir. Sebut saja para rasul, murid-murid Yesus, termasuk juga Rasul Paulus. Bukan hanya nyawa taruhannya, tetapi juga hidup dan kerja mereka yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Pilihan mereka tentu bukanlah pilihan yang enak, namun jika mereka memilih jalan yang penuh risiko, itu karena mereka ingin menjadi hamba Kristus yang setia.  Saudaraku, hidup ini memang penuh dengan risiko. Suka atau tidak suka, tetap saja ada pilihan yang mengandung risiko. Hari ini, kita belajar dari sikap para rasul dan misionaris yang memilih jalan penuh risiko demi cintanya pada Tuhan. Hidup kita sebagai orang percaya adalah pilihan iman yang penuh risiko, namun apapun yang kita hadapi lakukanlah dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, jadilah hamba yang setia dengan tetap melakukan kehendak Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, tuntunlah kami melewati jalan yang sulit dan penuh resiko, amin

Jumat, 11 September 2020   

bacaan : Filipi 2 : 5 – 11

5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

KARAKTER SEORANG HAMBA

Mendengar nama “Yasuke”, sepintas orang akan berpikir bahwa ia seorang Jepang. Padahal sebenarnya Yasuke adalah seorang budak kulit hitam yang dibawa orang Portugis ke Jepang. Laporan dari misionaris Yesuit turut menceritakan tentang budak ini. Hal yang menarik dari Yasuke adalah, ia seorang yang rendah hati, dan bersedia melebur dalam kehidupan budaya Jepang, ia bahkan menguasai dengan baik bahasa Jepang. Kesetiaannya teruji dalam pertempuran sengit melawan pemberontakan dan ia diberi pangkat kehormatan ‘samurai’ di zaman pemerintahan Nobunaga. Menurut laporan, setelah pertempuran berakhir, Yasuke tidak terbunuh dan akhirnya kembali ke tempat asalnya, namun Yasuke terus dikenang sebagai seorang asing yang mendapat pangkat ‘samurai’ di Jepang. Kisah Yasuke mengingatkan kita pada Tuhan Yesus yang rela masuk dalam kehidupan manusia dan mengambil rupa seorang hamba, dan kesetiaan-Nya pada kehendak Bapa menjadikan nama-Nya ditinggikan hingga saat ini. Karakter hamba bukanlah karakakter yang rendah, sebaliknya karakter hamba yang setia justru lebih tinggi nilainya dibandingkan bila berlagak bos tapi berkhianat. Belajar dari Yasuke yang menampilkan potret seorang hamba menuruti teladan Yesus, maka kita sebagai orang percaya yang sudah diselamatkan oleh Yesus, hendaklah memberi diri untuk menjadi ‘hamba Kristus’. Jadilah sebagai seorang hamba yang taat dan setia di jalan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya. Jangan biarkan kesombongan dan keangkuhan menguasai diri hingga melupakan bahwa kita hanyalah seorang hamba-Nya. Tendahkanlah dirimu seperti seorang hamba, niscaya Tuhan akan mengangkatmu ke tempat yang terhormat.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah diriku agar memiliki hati seorang hamba yang setia. Amin.

Sabtu, 12 September 2020     

bacaan : Lukas 14 : 7 – 11

Tempat yang paling utama dan yang paling rendah
7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 8 "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, 9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. 10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

MERENDAHKAN DIRI AKAN MENDAPAT HORMAT

Ada satu kecenderungan menarik, di kelas seminar, ceramah, atau diskusi, yaitu deretan kursi bagian depan jarang sekali ditempati; sebaliknya banyak orang lebih memilih duduk di tengah atau belakang. Namun bila acara-acara seperti undangan, konser, talk show, atau hajatan, maka kursi yang paling depan pasti adalah VIP atau VVIP yang ditempati kaum elit. Jika kita bukan termasuk golongan elit, maka sudah tentu akan memilih duduk di belakang; selain itu meski diundang sebagai tamu penting, namun kitapun harus memastikan dikenal oleh penerima tamu karena jika tidak, maka sudah tentu kitapun akan disuruh duduk di belakang, kecuali bila ada yang mengenal. Saudaraku, ini menunjukkan bahwa budaya manusia cenderung memilih kelas sosial. Cara pandang manusia memang strukturalis dan terikat dengan sistem kelas sehingga seseorang bisa dihormati berdasarkan ukuran jabatan, kekayaan, atau pengaruh. Bahayanya bila kita tidak peduli dengan sistem itu dan ”menahbiskan” diri kita sebagai “yang terhormat” menurut diri sendiri, maka yang terjadi adalah kesombongan yang berakibat fatal. Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengajarkan tentang merendahkan diri karena dengan merendahkan diri maka kita akan mendapat penghormatan di mata manusia. 

Doa: Tuhan, tuntunlah aku agar hidup dengan rendah hati dan tidak menganggap diri lebih penting dari Jauhkanlah dari padaku kesombongan yang dapat menghancurkan hubunganku dengan sesama, Amin.

*sumber : SHK September 2020; oleh LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey