Santapan Harian Keluarga, 4 – 10 Oktober 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Roh Kudus Menuntun Gereja Untuk Bersekutu

Minggu, 04 Oktober 2020                   

bacaan : 1 Korintus 10 : 14 – 24

14 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! 15 Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan! 16 Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? 17 Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu. 18 Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah? 19 Apakah yang kumaksudkan dengan perkataan itu? Bahwa persembahan berhala adalah sesuatu? Atau bahwa berhala adalah sesuatu? 20 Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat. 21 Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. 22 Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia? 23 "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 24 Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.

BERSEKUTU DI DALAM YESUS

Hari ini, kita merayakan Perjamuan Kudus Oikumene, dimana didalamnya kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, telah dipersatukan kepada Kristus melalui Perjamuan Kudus, sebagai lambang penebusan Kristus untuk menyelamatkan hidup kita. Lewat Perjamuan Kudus Oikumene, kita diingatkan untuk menjaga keutuhan persekutuan umat sebagai ‘Tubuh Kristus’, agar tidak terpecah-pecah karena berbagai kepentingan. Dalam kehidupan jemaat Korintus, yang hidup ditengah-tengah lingkungan masyarakat yang masih percaya kepada allah lain dan menyembah dewa-dewa, orang Korintus seringkali tergoda untuk mengikuti perayaan-perayaan mereka. Bahkan seringkali mereka yang ‘lemah’ dan gampang tergoda, ikut menikmati makanan yang sudah dipersembahkan kepada para berhala. Oleh sebab itu Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar mereka menjauhi penyembahan berhala. Paulus mengajak jemaat Korintus untuk belajar dari pengalaman ‘nenek moyang Israel’ yang “mendua hati” dengan menyembah Allah Israel tetapi sekaligus juga, mereka menyembah kepada para berhala bangsa asing, yang mengakibatkan Allah menjadi murka dan menghukum mereka. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus, kita telah diselamatkan oleh Yesus, melalui pengorbanan-Nya di bukit Kalvari, oleh sebab itu ketika kita ‘duduk bersama’, untuk makan dan minum di Meja Perjamuan Tuhan, kita diingatkan untuk tetap merawat keutuhan persekutuan kita. Artinya, jika salah seorang diantara kita ‘tergoda’ karena ‘kelemahannya’ untuk tidak setia kepada Allah dalam Yesus Kristus, maka kita yang ‘kuat’ wajib membantu mereka yang ‘lemah’ dengan saling mengingatkan, saling menegur, saling mendoakan, dan menuntunnya untuk sadar, bertobat dan berbalik dari kesalahannya, agar dia diselamatkan oleh Yesus.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk saling menegur dan mendoakan, jika ada yang berbuat salah, Amin.

Senin, 05 Oktober 2020                 

bacaan : Kisah Para Rasul 20 : 22 – 28

22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. 28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.

RENDAH HATI DALAM BERSEKUTU

Paulus menjadi ‘tawanan’ Roh, artinya ia tidak dapat bertindak sekehendak hati, namun semuanya harus sejalan dengan pimpinan Roh Kudus. Di dalam hati Paulus tersimpan semangat yang berkobar-kobar untuk memberitakan Injil. Paulus menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba, maka dari itu dia belajar taat kepada Roh Kudus sehingga Paulus hanya mau melangkah dan berbicara atas kehendak Tuhan saja. Bila Tuhan menghendakinya untuk pergi dan melakukan sesuatu, maka Paulus taat dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi atas dirinya. Penjara, aniaya, sengsara dan penderitaan tidak menghalanginya untuk tetap memberitakan Injil, karena ia percaya bahwa Tuhan besertanya kemanapun ia pergi. Paulus mau dengan rendah hati dan rela taat pada kehendak Allah. Dengan dasar itulah, ia berpesan kepada mereka untuk menjaga diri sendiri dan “seluruh kawanan”, karena merekalah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat. Masihkah keluarga-keluarga kita mengandalkan pimpinan Roh Kudus dalam menjalani hidup, agar apa yang dilakukan sejalan dengan apa yang dikehendaki Tuhan? Maukah selalu kita bersekutu dengan rendah hati dan taat supaya kita pun dapat dipakai sebagai alat untuk memberikan kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah kepada orang lain? Sebagai keluarga kristen, sangat penting untuk kita hidup mengandalkan kuasa Roh Kudus dan bersekutu bersama dengan rendah hati lalu hidup dalam ketaatan. Karena hanya dengan begitu kita dapat menjadi alat kesaksian yang hidup bagi banyak orang.

Doa: Ya Tuhan, Tuntunlah kami dalam Roh untuk bersekutu dengan rendah hati dan hidup dalam ketaatan kepada-Mu, Amin.

Selasa, 06 Oktober 2020               

bacaan : Kisah Para Rasul 15 : 22 – 29

Jawab kepada Antiokhia
22 Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu. 23 Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: "Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. 24 Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka. 25 Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, 26 yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. 27 Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu. 28 Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: 29 kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."

 MENGINGATKAN DALAM KESABARAN

Paulus, Barnabas, Yudas, dan Silas menerima mandat dari persidangan para rasul dan penatua di Yerusalem untuk mengunjungi jemaat Antiokhia. Yudas dan Silas menerima tugas khusus untuk menyampaikan surat penggembalaan secara lisan dalam rangka menanggapi keresahan jemaat soal ajaran. Keresahan itu disebabkan karena jemaat Antiokhia menerima ajaran dari orang-orang yang tidak memiliki otoritas rasuli dalam hal mengajar, sehingga jemaat menjadi bingung dan hatinya goyah. Jemaat Antiokhia mendengarkan penjelasan Yudas dan Silas mengenai isi surat, yaitu berupa nasihat agar mereka menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, darah binatang yang mati dicekik, dan juga percabulan. Dalam nasihat itu, jemaat didorong dengan penuh kesabaran untuk terus-menerus berbuat baik. Ketika kita mengingatkan seseorang, apakah kita menuntunnya dengan penuh kesabaran ataukah kita marah dan menghakiminya dengan kata-kata yang kasar? Saat seorang guru mengajar murid-muridnya, ia dituntut untuk menuntunnya dengan kesabaran sampai murid tersebut mengerti apa yang diajarkan oleh gurunya. Gurunya akan menggunakan segala teknik mengajar hanya agar anak muridnya dapat mengerti apa yang disampaikannya, tetapi akan berbeda bila guru itu tidak sabar, ia mungkin akan marah-marah dan keluar kelas dan akhirnya anak muridnya akan bingung dan semakin tidak mengerti. Ditengah berbagai masalah yang meresahkan hati kita akibat pandemi virus corona saat ini, hiduplah sebagai keluarga yang saling mengingatkan dalam kesabaran, jangan meresahkan dan membuat susah hidup orang lain, tetapi jagalah agar tetap melakukan hal yang berkenan bagi Tuhan.

Doa: Tuhan, Tuntunlah kami untuk saling mengingatkan dalam kesabaran, dan tidak meresahkan hidup orang lain, Amin.

Rabu, 07 Oktober 2020                  

bacaan : Kisah Para Rasul 15: 30 – 34

30 Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. 31 Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan. 32 Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan menguatkan hati mereka. 33 Dan sesudah beberapa waktu keduanya tinggal di situ, saudara-saudara itu melepas mereka dalam damai untuk kembali kepada mereka yang mengutusnya. 34 (Tetapi Silas memutuskan untuk tinggal di situ.)

RASA EMPATI DALAM BERSEKUTU

Dengan penjelasan Yudas dan Silas, jemaat dikuatkan, dihiburkan, dan bersukacita. Silas merespons dengan memilih tetap tinggal di Antiokhia untuk mendampingi jemaat. Kata ″hibur″ berarti membuat hati senang, juga memberi gambaran tentang upaya memberi semangat atau dukungan. Siapa di antara kita yang tak pernah bersusah hati sampai taraf butuh dihibur orang lain? Semakmur dan sehebat apapun kita, pasti kita pernah bersusah hati sehingga butuh penghiburan orang lain. Biasanya penghiburan itu tepat sasaran ke hati kita kalau orang itu sendiri pernah mengalami hal yang saat ini kita alami. Ia tahu persis mengapa kita sedih dan bisa memberikan solusi yang sangat tepat. Yudas dan Silas mencoba memahami pergumulan yang dirasakan oleh jemaat Antiokhia sehingga mereka dapat melakukan yang terbaik untuk jemaat tersebut. Ketika kita berhadapan dengan sesama kita yang ada dalam pergumulan berat, biasanya ada yang bersikap acuh tak acuh, tetapi ada juga yang berusaha menenangkan dan menghibur serta menolong mereka. Di masa pandemi ini, semua orang punya persoalan dan kesulitan masing-masing, tetapi itu bukan menjadi alasan untuk kita acuh dan menutup mata terhadap kesusahan orang lain. Makna bersekutu itu nyata ketika kita saling peduli dengan empati, yaitu turut berbela rasa dan berupaya untuk memberi pertolongan,  bukan peduli yang hanya sekedar simpati. Bersekutu dengan rasa empati artinya kita ikut merasakan, sehati dan sepenanggungan dalam keadaan suka maupun duka bersama. Kiranya oleh kuasa Roh Kudus, kita dimampukan untuk bersekutu dengan rasa empati yang menghiburkan dan menolong sesama yang membutuhkan.

Doa: Ya Tuhan,  Berilah rasa empati untuk menghibur dan menolong sesama yang membutuhkan, Amin.

Kamis, 08 Oktober 2020       

bacaan : Efesus 5 : 15 – 21

15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

 ARIF DAN BERHIKMAT DALAM BERSEKUTU

Paulus menasihati jemaat di Efesus supaya mereka dapat memiliki kehidupan seperti orang arif bijaksana dan bukan seperti orang bebal. Orang arif bijaksana yang dimaksudkan Paulus adalah orang yang dapat menggunakan setiap kesempatan dan waktu yang Tuhan berikan dengan sebaik-baiknya untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup mereka. Jadi orang arif bijaksana tahu dan mengerti apa yang Tuhan kehendaki di dalam hidupnya. Ia hidup tidak menuruti hawa nafsunya sendiri dan selalu mau membangun persekutuan bersama orang lain untuk bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan. Diatas semuanya itu, ucapan syukur selalu menjadi gaya hidupnya dalam berbagai situasi. Itulah yang membuat hidupnya tidak merasa sia-sia dan kosong. Menghadapi berbagai situasi krisis seperti sekarang ini, kita perlu menjadi orang arif dan bijaksana, menjadi keluarga kristen yang arif dalam bersekutu. Hal itu akan tercermin dalam perkataan yang diucapkan dan perbuatan yang dilakukan. Sebab itu berkata-katalah dengan baik dan lembut jangan kata-kata yang menjatuhkan atau melemahkan, yang menipu dan menyesatkan. Berusahalah  untuk berkata-kata dengan baik dan benar, sehingga orang yang mendengarnya merasa terbangun dan dikuatkan. Kendalikanlah hawa nafsu agar terhindar dari melakukan perbuatan yang tercela, yang tidak dikehendaki oleh Tuhan dan merugikan orang lain. Itulah yang dapat kita lakukan dalam mengisi waktu dan kesempatan hidup yang masih dianugerahkan Tuhan ini. Jadi marilah kita merenungkan, bagaimana hidup kita selama ini, apakah kita masih berlaku arif dan bijaksana dalam kehidupan dan dalam bersekutu dengan sesama? Mintalah Tuhan memampukan kita tetap arif dan berhikmat dalam bersekutu.

Doa: Mampukanlah kami untuk selalu arif dan berhikmat dalam bersekutu dengan tuntunan Roh KudusMu, Amin.

Jumat, 09 Oktober 2020   

bacaan : 1 Yohanes 1 : 1 – 4

Kesaksian rasul tentang Firman hidup
Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu. 2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. 3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. 4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

BERSAKSI DALAM KATA DAN PERBUATAN

“Perkataannya tidak benar, karena  menurut kesaksian orang-orang yang berada di lokasi kejadian, dia mengalami kecelakaan tunggal, bukan dikeroyok! ” Demikianlah potongan isi berita salah satu media online tentang kesaksian palsu seorang oknum aparat keamanan yang mengakibatkan terjadinya penyerangan salah sasaran dari sekelompok orang, ke salah satu kantor Polisi di Jakarta. Dari hasil penyelidikan melalui kamera CCTV, diketahui kejadian sebenarnya, di mana sang korban ternyata jatuh dari motor akibat terpengaruh minuman keras. Karena takut dan malu diketahui atasannya, maka dibuatlah cerita bohong yang menyebabkan rekan-rekan korban yang terprovokasi akhirnya menunjukkan rasa “solidaritas” dengan cara merusak fasilitas umum,  sehingga muncul lagi korban baru yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Saudaraku, akan sangat berbahaya bila kita terpengaruh oleh cerita yang belum tentu benar. Perkataan yang benar adalah perkataan yang sesuai dengan fakta.  Kesaksian Rasul Yohanes tentang Yesus Kristus, didasarkan atas pengalamannya yang nyata sebagai orang yang pernah bertemu dan mengalami penyertaan, pengajaran serta perintah Yesus secara langsung. Kesaksiannya bertujuan agar banyak orang menjadi percaya dan memilih untuk ada dalam persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang percaya.  Kita telah menjadi gereja yang bertumbuh karena kebenaran kesaksian Injil yang diberitakan oleh para saksi-Nya. Kita pun kini harus mampu bersaksi tentang Kristus dengan tuntunan kuasa Roh Kudus, sehingga  tiap kata dan tindakan kita adalah cerminan dari wajah Kristus sendiri. Rasakanlah kehadiran Tuhan dalam hidupmu, dan  jadilah Saksi-Nya dalam kata dan perbuatan di setiap aktifitas dan situasi yang dialami dan yakinlah bahwa persekutuan dengan Tuhan pasti berbuah baik, indah dan penuh kuasa.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk menjadi saksi Kristus, dalam kata dan perbuatan, amin

Sabtu, 10 Oktober 2020                 

bacaan : Kisah Para Rasul 1 : 12 – 14

Rasul-rasul menanti-nanti
12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. 13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. 14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

KEBERSAMAAN DALAM KETAATAN

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!” Begitulah bunyi peribahasa yang selalu mengingatkan kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan, baik dalam kelompok kecil hingga berskala besar. Memang syarat utama untuk menjadi kuat dan teguh adalah bersatu, karena hanya dengan bersatu maka seluruh kekuatan dapat disatukan untuk mencapai tujuan. Itulah yang dilakukan oleh para Murid setelah Yesus tidak lagi berada bersama mereka. Mereka tetap menjaga persekutuan bersama dan melandasinya dengan doa yang tekun dalam satu hati. Kunci dari persatuan adalah terletak pada rasa kebersamaan dalam satu hati, satu pikiran dan satu tujuan. Bila ada yang menyimpang dari ketiga hal itu maka tak ada lagi kesatuan dan kebersamaan sebaliknya perpecahan yang terjadi. Para murid memberi suatu pelajaran tentang bagaimana membangun hidup dalam kebersamaan dan ketaatan kepada Tuhan sebagai satu keluarga Allah. Ini menjadi penting bagi kita persekutuan keluarga kristen, sebab, seringkali kebersamaan dapat juga digunakan untuk hal-hal yang negatif. Jadi untuk membangun keutuhan persekutuan keluarga Kristen, dibutuhkan kebersamaan dalam ketaatan.  Itulah yang harus diutamakan oleh semua anggota keluarga. Bila dalam keluarga semua anggotanya taat, saling setia, maka otomatis akan berpengaruh bagi kehidupan keluarga tersebut, untuk menjaga dan merawat keutuhan persekutuannya, bahkan dapat berdampak baik bagi keluarga-keluarga yang lain.  Sebaliknya jika dalam keluarga lebih sering terjadi percekcokan, pertengkaran, dan permusuhan karena ketidaktaatan dan kesetiaan, maka dapat dipastikan bahwa keluarga tersebut tidak akan merasakan kedamaian yang sempurna di dalam Yesus.

Doa: Tuhan Yesus, tolonglah keluargaku untuk membangun persekutuan dalam kebersamaan dan ketaatan, Amin.

 *sumber : SHK Oktober 2020 – LPJ GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey