fbpx

Kilas 2017 : Silo Wujudkan “Gereja Orang Basudara”

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Sinode GPM mencanangkan motto “Gereja Orang Basudara” dalam sebuah pemahaman teologis-sosiologis bahwa, kehadiran GPM adalah menjadi gereja yang mampu berdamai dengan siapapun dan selalu membawa misi perdamaian di tengah-tengah pluralisme masyarakat Maluku. Penduduk Provinsi Seribu Pulau ini memiliki kemajemukan agama, suku, ras, bahasa dan semua itu membaur menyatu dalam konteks hidup sehari-hari sebagai orang basudara. Karena itu, GPM mesti mampu mengkonkritkan cara-cara berteologi yang mengedepankan manusia dan kemanusiaan sebagai wujud cinta kasih Kristus yang melintasi sekat-sekat primodialisme. Jemaat Silo mencoba mewujudkan model Gereja Orang Basudara itu dalam perjumpaannya dengan basudara muslim sepanjang Tahun 2017, termasuk pada Malam Natal maupun Malam Tahun Baru .

Indahnya kebersamaan itu terjadi pada persiapan Ibadah malam Tahun Baru pada Minggu, 31 Desember 2017 dalam lingkup Jemaat GPM Silo, yang diatur untuk 2 kali jam ibadah, yaitu pkl. 16.00 WIT dan Pkl. 19.00 WIT. Walaupun kehadiran jemaat tidak membludak sebagaimana yang terjadi pada ibadah malam natal Tgl. 24 Desember 2017, ternyata umat yang berdatangan di kedua jam ibadah tersebut, tetap memenuhi seluruh tempat duduk yang disiapkan. Ini terlihat dari meluber-nya umat hingga memenuhi ruang lobby utama pintu masuk. Pasokan tambahan kursi memang sudah dipersiapkan sebelumnya, sehingga tidak ada jemaat yang berdiri karena tidak memiliki tempat duduk.

Pdt. Ny. Y. Rutumalessy, dalam khotbah malam akhir tahun 2017 (pkl.16.00 WIT) yang didasarkan pada pembacaan Firman Tuhan dari Yosua 1 : 1-9, menegaskan bahwa “…sebagaimana yang terjadi pada kepemimpinan Yosua bersama dengan Bangsa Israel yang dipanggil untuk memasuki Tanah Perjanjian, maka para pemimpin dan semua orang percaya saat ini juga diminta untuk teguhkan dan kuatkan hati. Jangan pernah tawar hati, sebab janji penyertaan Tuhan itu selalu ya dan amin atas umat-Nya. Janji penyertaan Tuhan telah kita saksikan sepanjang tahun 2017, maka yakinlah bahwa Tuhan yang sama akan menjaga dan memelihara kita di tahun 2018 nanti.

Sedangkan Pdt. D. A. Saununu, yang melayani pada ibadah ke-2 Pkl. 19.00 WIT dalam doa syafaatnya, mendoakan perjalanan kehidupan umat Tuhan di Silo sepanjang tahun 2017 yang walaupun tidak selalu mulus, tetapi janji penyertaan Tuhan tidak pernah berhenti. Sepanjang masa itu, ada sukacita tetapi juga dukacita. Ada keberhasilan tetapi juga ada kegagalan. Ada tertawa, tetapi juga menangis. Diatas semua itu, kita tetap bersyukur selalu ada Tuhan yang tetap setia, bahkan diatas ketidaksetiaan kita. Ketua Majelis Jemaat GPM Silo itu juga mendoakan umat Tuhan di Silo, agar tetap ada dalam pemeliharaan TUHAN ALLAH memasuki Tahun Baru 2018. Bahkan janji-janji dan rancangan keberhasilan TUHAN kiranya turun dan memenuhi kehidupan keluarga-keluarga di Silo.

Jemaat memenuhi Lobby Utama Pintu Masuk
Ruang Serbaguna dipenuhi oleh Umat Tuhan.

Dalam ibadah malam akhir tahun itu juga dilaksanakan perhadliran, yaitu sebuah proses pernyataan kesediaan umat Tuhan menikmati Perjamuan Kudus di Minggu, 7 Januari 2018, dengan cara menjawab ke-4 soal-soal perhadliran. Ibadah juga diramaikan dengan puji-pujian berupa solo oleh Nia Tupamahu, Natalia Tomatala, Danny Hukom, Nn. Febby Oraplean, Trio Seharlawan, dan Vocal Grup Kayber’s.

Sebagaimana lazim yang berlaku di gereja-gereja dalam lingkup GPM ketika ibadah akhir tahun, maka dilaksanakan  in-memoriam, berupa saat teduh seketika untuk mendoakan ke-27 orang anggota Jemaat Silo yang meninggal dunia sepanjang tahun pelayanan 2017.  Setelah in-memoriam, disampaikan jumlah anggota Jemaat GPM Silo per 31 Desember 2017 yang keseluruhan sebanyak : 2.845 jiwa; 838 Kepala Keluarga, 1.337 orang Laki-laki; dan 1.508 orang perempuan, yang diperinci masing-masing :

Sektor 1 : jumlah jiwa : 449; jumlah KK : 125; jumlah laki-laki : 215; jumlah perempuan :  234.

Sektor 2 : jumlah jiwa : 185 ; jumlah KK : 57 ; jumlah laki-laki : 85; jumlah perempuan :  100.

Sektor 3 : jumlah jiwa : 190; jumlah KK : 59; jumlah laki-laki : 80; jumlah perempuan :  110.

Sektor 4 : jumlah jiwa : 286; jumlah KK : 79; jumlah laki-laki : 129; jumlah perempuan :  157.

Sektor 5 : jumlah jiwa : 115; jumlah KK : 51; jumlah laki-laki : 50; jumlah perempuan :  65.

Sektor 6 : jumlah jiwa : 254; jumlah KK : 71; jumlah laki-laki : 124; jumlah perempuan :  130.

Sektor 7 : jumlah jiwa : 147; jumlah KK : 49; jumlah laki-laki : 69; jumlah perempuan :  78.

Sektor 8 : jumlah jiwa : 228; jumlah KK : 65; jumlah laki-laki : 102; jumlah perempuan :  126.

Sektor 9 : jumlah jiwa : 121; jumlah KK : 40; jumlah laki-laki : 60; jumlah perempuan :  61.

Sektor 10 : jumlah jiwa : 241; jumlah KK : 65; jumlah laki-laki : 127; jumlah perempuan :  114

Sektor 11 : jumlah jiwa : 331; jumlah KK : 90; jumlah laki-laki : 156; jumlah perempuan :  175.

Sektor 12 : jumlah jiwa : 289; jumlah KK : 87; jumlah laki-laki : 140; jumlah perempuan :  158

Peristiwa kependudukan penting lainnya sepanjang tahun 2017, kelahiran : 14 orang; kematian 27 orang; baptisan kudus : 35 orang; pernikahan : 27 pasang; astetasi keluar : 7; astetasi masuk : 0 ; pendidikan katekesasi 2017/2018 : 52 orang aktif; sidi baru tahun 2017 : 55 orang.

Di akhir ibadah, maka Umat Tuhan berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing, dan disanalah peristiwa menarik itu terjadi. Bahwa, basudara muslim dari Remaja Mesjid, telah menunggu di depan pintu pagar gereja. Tujuan utama dari kehadiran mereka di lingkungan Gereja Silo, adalah untuk membantu petugas kepolisian menjamin keamanan selama ibadah berlangsung di Silo. Tujuan berikutnya adalah mereka turut membantu kelancaran lalu lintas, serta menghindari terjadinya kecelakaan lalu-lintas terhadap umat Kristen yang baru selesai beribadah. Dan tujuan terakhir, yang jauh lebih menarik adalah mereka ingin menyalami seraya mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada basudara sarani. Dengan sukacita, seluruh warga jemaat yang berjumpa dengan basudara salam ini, menerima uluran tangan dan ucapan tulus itu. Manisnya perjumpaan itu dibuktikan sendiri oleh Bapak Ch. Maurits [75], salah seorang anggota Jemaat GPM Silo yang tetap bersemangat untuk menghadiri ibadah di gereja walaupun kondisi fisik tidak terlalu mendukung. Beliau disapa dengan hangat, dibantu dan dituntun untuk menuruni anak tangga trotoar di depan Gedung Gereja Silo oleh Rasyid, salah satu Remaja Masjid yang membantu menjaga keamanan.

Penumpangan Tangan sebagai Tanda Janji Berkat memasuki Tahun 2018
Ucapan selamat tahun baru dari basudara salam, remaja masjid.
Remaja Masjid yang membantu Bpk. Ch. Maurits menuruni trotoar
Warga Jemaat GPM Silo buka puasa bersama dengan warga ponegoro (20/6/2017)

Inilah bukti bahwa Jemaat Silo telah mampu mewujudkan model “Gereja Orang Basudara”, sebab bukan hanya pada Perayaan Hari-hari Gerejawi seperti Natal-Tahun Baru ini saja proses berjumpa dalam harmoni kehidupan antar basudara salam-sarani terjadi, namun pada setiap Bulan Ramadhan saat Basudara Salam melaksanakan Ibadah Puasa pun, Jemaat GPM Silo selalu mengagendakan kegiatan “Buka Puasa Bersama” dengan basudara salam sebagai wujud rasa syukur dan ungkapan toleransi serta saling menghargai, saling menghormati diantara sesama Orang Basudara.

Foto : Majelis Jemaat Silo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *