Santapan Harian Keluarga, 29 April – 5 Mei 2018
Minggu, 29 April 2018
bacaan : Mazmur 16 : 1-11
Bahagia orang saleh
Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. 2 Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” 3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku. 4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku. 5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. 6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. 7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. 8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; 10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Siapa yang akan membelaku melawan yang jahat ?
Di dalam kehidupan, kita tidak hanya berjumpa dengan orang-orang baik yang melakukan kebaikan kepada kita, tetapi kita juga berhadapan dengan orang-orang yang merancang dan melakukan kejahatan terhadap kita. Berhadapan dengan orang-orang jahat seperti ini sering kita bertanya siapakah yang dapat menjadi penolong dan pembela bagi kita? Dalam pengalamannya, pemazmur mengungkapkan bahwa Tuhan adalah pembela keadilan dan kebenaran. Tuhan tidak pernah berdiam diri ketika umatNya menderita karena tertindas atau tertekan dalam hidupnya. Tuhan sanggup membela karena Dialah Pencipta yang berdaulat atas segala sesuatu di dunia ini. Karena itu, ketika kita menghadapi orang-orang yang berlaku jahat dalam kehidupan, marilah kita memiliki keyakinan seperti pembuat sumur yang selalu meminta campur tangan dan pertolongan Tuhan. Marilah kita tetap berharap dan mengandalkanNya dalam situasi situasi terberat dalam hidup, karena Tuhan adalah pembela kebenaran dan keadilan yang akan memberikan kekuatan kepada kita sehingga memampukan kita menghadapi kesulitan-kesulitan itu. Kita tidak perlu takut menghadapi orang-orang yang melakukan kejahatan atas hidup kita dan berpikir “kaki kita goyang” karena sesungguhnya kasih dan kesetiaan Tuhan itulah yang akan menyokong kita untuk tetap teguh berdiri menghadapi mereka, dan itulah yang memberi penghiburan dan ketenangan dalam hati dan hidup kita.
doa : Tuhan, ketika kami berpikir kaki kami goyang, berilah kasih setiaMu menyokong kami, amin.
Senin, 30 April 2018
bacaan : Ulangan 30 : 15-20
15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, 16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. 17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, 18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. 19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, 20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”
Pilihlah Kehidupan
Kehidupan atau kematian adalah dua pilihan yang diperhadapkan oleh Musa kepada bangsa Israel sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Sejak awal Musa mengingatkan mereka bahwa negeri yang akan dimasuki ini adalah negeri dengan kemakmuran, potensi yang berlimpah, tetapi juga ada bangsa-bangsa disekitar mereka yang dapat memberi pengaruh bagi kehidupan mereka. Hal ini dapat membuat umat menjadi lupa kepada Tuhan. Karena itu, kalau pilihan mereka salah maka konsekuensi yang buruk akan mereka terima. Sebaliknya jika mereka memilih yang benar, maka kehidupan mereka akan terus terberkati. Karena itu, Musa menegaskan: ”Pilihlah kehidupan, supaya engkau dan keturunanmu akan hidup”, dengan mengasihi Tuhan, mendengar suara-Nya dan berpaut pada-Nya. Dalam hidup kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Pilihan kita akan sangat menentukan kehidupan kita. Ketika kita mengambil keputusan yang salah dalam hidup maka konsekuensi yang buruk akan kita terima. Dan kalau kita memilih untuk hidup dalam kebenaran maka kita sedang memutuskan untuk hidup dalam Kristus yang adalah sumber kehidupan, sehingga konsekuensi yang akan kita terima adalah kebaikan. Karena itu, pilihlah kehidupan, dengan selalu mengasihi Tuhan, mendengar suara-Nya dan hidup sesuai kehendak-Nya, melakukan apa yang baik dan benar agar kehidupan kita terus diberkati.
doa : Tuhan kami mau tetap memilih hidup berada dijalan-jalan Tuhan yang baik, amin
Selasa, 1 Mei 2018
bacaan : Filemon 1 : 8-22
Permintaan Paulus kepada Filemon mengenai Onesimus
8 Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, 9 tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, 10 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus 11 –dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku. 12 Dia kusuruh kembali kepadamu–dia, yaitu buah hatiku–. 13 Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, 14 tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela. 15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, 16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. 17 Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. 18 Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku– 19 aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya–agar jangan kukatakan: “Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!” –karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri. 20 Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus! 21 Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan. 22 Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu.
Keberanian Memperbaiki yang Salah
Gambaran kehidupan yang dipaparkan bacaan ini menyiratkan bagaimana orang-orang yang tadinya tidak berguna, orang-orang yang melakukan perjalanan lembaran hidupnya dengan kesulitan, dengan kegagalan, dengan torehan tinta yang gelap boleh berubah dan akhirnya menjadi berguna di masa yang akan datang. Dan itulah Onesimus. Paulus secara pribadi mengantar seorang yang bernama Onesimus kembali kepada tuannya yang bernama Filemon. “Kalau ada utangnya kepadamu, aku Paulus akan membayarnya kembali … ” (18-19). Masalah yang terjadi, setelah mencuri uang tuannya, Filemon, Onesimus lari dari Kolose tempat Filemon tinggal di daerah Asia dan akhimya bertemu Paulus di penjara di kota Roma. Onesimus adalah satu nama yang sangat bagus sekali, Onesimus berarti ‘berguna.” Dari namanya ini Paulus kemudian menggunakan permainan kata yang bagus ” Dulu Onesimus tidak berguna, namun sekarang dia bergunan (11). Dulu cuma namanya ‘berguna’ tetapi secara karakter dan sifat sudah merugikan Filemon, tetapi setelah bertobat dan perubahan yang terjadi, dia memulai lembaran hidup baru dan dia menjadi seorang anak Tuhan yang berguna. Seperti Onesimus yang pernah gagal, yang pemah melakukan kesalahan dengan membuat keputusan yang tidak tepat di dalam hidupnya, maka pastilah kita pun demikian adanya. Namun Tuhan selalu menyediakan jalan yang terbaik untuk kita. Jika kita sadar dan bertindak cepat untuk memperbaiki kesalahan kita. Jalan Tuhan adalah jalan kehidupan bagi kita jika kita mampu membuat keputusan hidup yang benar sesuai firmanNya.
doa : Ya Tuhan Engkaulah Jalan Kebenaran dan Hidup keluarga kami, amin
Rabu, 2 Mei 2018
bacaan : Amsal 2 : 1-9
Faedah dari pada menuntut hikmat
Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, 2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, 3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, 4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, 5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. 6 Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. 7 Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, 8 sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. 9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
Belajar merenungkan Firman = Kunci Meraik Keberhasilan
Hidup adalah belajar. Belajar untuk melakukan perubahan. Dan selama kita hidup, sesungguhnya tidak ada istilah berhenti untuk belajar. Tidak hanya menuntut ilmu secara formal di sekolah, lebih penting lagi belajar di ‘sekolah kehidupan’ yaitu belajar dari pengalaman kegagalan di masa lalu, belajar dari keberhasilan orang lain, belajar untuk menerima kelebihan dan kekurangan orang lain dan seterusnya, terlebih lagi belajar untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita. Setelah kita mengetahui apa panggilan Tuhan dalam hidup kita, kita perlu menyiapkan diri, dan persiapan itulah yang dinamakan belajar. Seperti dikatakan Salomo, untuk memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan memperoleh pengenalan akan Dia, kita harus ‘mencari’ dan ‘mengejar’nya; ada usaha yang keras dan tekun untuk belajar. Seberapa banyak waktu yang kita luangkan untuk belajar, meneliti dan merenungkan kebenaran firman Tuhan, sebanyak itu pula hikmat, pengetahuan dan kebaikan yang kembali kepada kita. Bila kita hanya menyediakan sedikit waktu untuk belajar tentang firman Tuhan, maka hikmat, pengertian dan kebaikan yang kita peroleh pun juga hanya sedikit. Kita diperintahkan untuk belajar firman Tuhan setiap waktu dan harus merenungkan firman itu siang dan malam. Jadi janganlah kita cuman membaca Firman Tuhan sambil lalu atau asal saja, tetapi galilah isi firman itu sedalam-dalamnya hingga kita beroleh pengertian dan memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Firman Tuhan adalah pelita yang menuntun perjalanan hidup keluarga kita. Jika kita berhikmat, maka kita akan memberi banyak waktu untuk bersekutu, membangun keintiman dan merenungkan firman Tuhan, sehingga Roh Kudus menyingkapkan hal-hal yang baru.
doa : Ya Tuhan, berilah Hikmat MU bagi keluarga kami, sehingga terus belajar tentang Firman yang memberi kehidupan, amin
Kamis, 3 Mei 2018
bacaan : Mazmur 119 : 9-16
9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. 10 Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. 11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. 12 Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. 13 Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. 14 Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. 15 Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. 16 Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.
Dosa = Melawan Firman Tuhan
Perkembangan zaman yang semakin maju, menampakan norma susila dan agama pun semakin ketinggalan zaman. Hidup baik dan kudus di tengah dunia seakan-akan menjadi sesuatu yang istimewa. Saat seseorang ditangkap karena kasus korupsi, kita pasti marah karena mereka korupsi yang sebagian berasal dari pajak kita. Di sisi lain, seseorang ditangkap karena video asusilanya beredar di dunia maya dan kita lantas berkata bahwa tiap manusia bisa berbuat salah. Ada standar ganda: dosa satu lebih berat atau ringan dari dosa lainnya? Mazmur 119 bukan hanya merupakan pasal terpanjang di Alkitab, melainkan juga pasal yang tiap ayatnya mencantumkan kata yang mengandung pengertian firman Tuhan. Ada Taurat Tuhan, ketetapan Tuhan, janji Tuhan dan masih banyak lagi, yang semuanya merujuk pada firman Tuhan. Pemazmur meyakini benar bahwa firman Tuhan adalah pandu yang mengarahkan langkahnya, yang membuatnya bertahan untuk berlaku bersih. Firman Tuhan membuatnya menjauhi dosa, tidak malu, dan berbahagia. Hidup sebagai keluarga Kristen yang sudah ditebus tidak lantas membebaskan kita dari segala potensi untuk berbuat dosa. Selalu ada jatuh bangun dalam melawan dosa, terlebih lagi jika kita berjuang dengan kekuatan sendiri. Namun Tuhan selalu menyediakan jalan terbaik bagi hidup kita. Oleh karena itu, mintalah kekuatan kepada Tuhan untuk menjaga hati kita; mintalah kepada-Nya supaya Dia menumbuhkan kerinduan di hati untuk merenungkan Firman-Nya tiap hari, supaya iman kita makin peka dan dikuatkan dalam melawan pengaruh dosa.
doa : Tuhan hidupkan FirmanMU dalam hati ku setiap waktu amin
Jumat, 4 Mei 2018
bacaan : Amsal 3 : 1-26
Berkat dari hikmat
Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, 2 karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu. 3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, 4 maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia. 5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; 8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu. 9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, 10 maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. 11 Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. 12 Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. 13 Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, 14 karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. 15 Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. 16 Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. 17 Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. 18 Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia. 19 Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, 20 dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun. 21 Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, 22 maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. 23 Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. 24 Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. 25 Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. 26 Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.
Tuhan Menyediakan Berkat bagi orang Berhikmat
Hikmat, erat hubungannya dengan perkataan, pengertian perintah atau juga kepandaian, seperti yang sampaikan oleh Salomo di dalam Amsal 1: 1-4. Hikmat itu tidak datang sendiri kepada kita seperti durian jatuh atau sesuatu yang turun dari langit seperti rintik-rintik hujan; hikmat bukanlah pembawaan dari lahir; hikmat itu bukanlah sesuatu yang akan datang menghampiri kita, tanpa adanya usaha. Jadi, hikmat adalah gabungan dari anugerah Tuhan dan upaya pribadi kita (Arnsal 2:4-6). Menurut cara pandang dunia, seseorang dapat dikatakan hidupnya berbahagia dan berhasil jika ia memiliki banyak harta (emas, perak), jabatan tinggi dan juga keturunan. Itulah sebabnya manusia berjuang mati-matian supaya mendapatkan itu semua, bahkan berbagai cara ditempuh agar keinginannya terwujud. Namun penulis Amsal justru memiliki penilaian yang berbeda: mendapatkan hikmat itu jauh lebih berharga daripada mendapatkan emas, perak dan permata; keberhasilan sejati tidak dilihat dari berlimpahnya materi, tetapi berlimpahnya hikmat. Maka marilah kita berjuang untuk mengejar hikmat lebih dari mengejar harta dunia. Adapun langkah awat memperoleh hikmat adalah takut akan Tuhan (Amsal 9: 10). Kata ‘takut’ yang dimaksud adalah hormat, menghargai, respek, mengutamakan, bukan dalam artian ketakutan terhadap sesuatu yang menyeramkan atau berbahaya. Seseorang yang memiliki hikmat senantiasa rindu untuk bergaul karib dengan Tuhan, sehingga semakin memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya. Ia tidak lagi berjalan menurut pengertiannya sendiri, tetapi melibatkan Tuhan di segala jalan hidupnya! dan hidupnya pasti berhasil sebab Jalan Tuhan yang tersedia itu mendatangkan kehidupan baginya.
doa : terima kasih Tuhan untuk berkat hikmatMU bagi hidup keluarga kami, amin
Sabtu, 5 April 2018
bacaan : Hakim-Hakim 19 : 1-30
Perbuatan noda di Gibea
Terjadilah pada zaman itu, ketika tidak ada raja di Israel, bahwa di balik pegunungan Efraim ada seorang Lewi tinggal sebagai pendatang. Ia mengambil seorang gundik dari Betlehem-Yehuda. 2 Tetapi gundiknya itu berlaku serong terhadap dia dan pergi dari padanya ke rumah ayahnya di Betlehem-Yehuda, lalu tinggal di sana empat bulan lamanya. 3 Berkemaslah suaminya itu, lalu pergi menyusul perempuan itu untuk membujuk dia dan membawanya kembali; bersama-sama dia bujangnya dan sepasang keledai. Ketika perempuan muda itu membawa dia masuk ke rumah ayahnya, dan ketika ayah itu melihat dia, maka bersukacitalah ia mendapatkannya. 4 Mertuanya, ayah perempuan muda itu, tidak membiarkan dia pergi, sehingga ia tinggal tiga hari lamanya pada ayah itu; mereka makan, minum dan bermalam di sana. 5 Tetapi pada hari yang keempat, ketika mereka bangun pagi-pagi dan ketika orang Lewi itu berkemas untuk pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu kepada menantunya: “Segarkanlah dirimu dahulu dengan sekerat roti, kemudian bolehlah kamu pergi.” 6 Jadi duduklah mereka, lalu makan dan minumlah keduanya bersama-sama. Kata ayah perempuan muda itu kepada laki-laki itu: “Baiklah putuskan untuk tinggal bermalam dan biarlah hatimu gembira.” 7 Tetapi ketika orang itu bangun untuk pergi juga, mertuanya itu mendesaknya, sehingga ia tinggal pula di sana bermalam. 8 Pada hari yang kelima, ketika ia bangun pagi-pagi untuk pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu: “Mari, segarkanlah dirimu dahulu, dan tinggallah sebentar lagi, sampai matahari surut.” Lalu makanlah mereka keduanya. 9 Ketika orang itu bangun untuk pergi, bersama dengan gundiknya dan bujangnya, berkatalah mertuanya, ayah perempuan muda itu, kepadanya: “Lihatlah, matahari telah mulai turun menjelang petang; baiklah tinggal bermalam, lihat, matahari hampir terbenam, tinggallah di sini bermalam dan biarlah hatimu gembira; maka besok kamu dapat bangun pagi-pagi untuk berjalan dan pulang ke rumahmu.” 10 Tetapi orang itu tidak mau tinggal bermalam; ia berkemas, lalu pergi. Demikian sampailah ia di daerah yang berhadapan dengan Yebus–itulah Yerusalem–;bersama-sama dengan dia ada sepasang keledai yang berpelana dan gundiknya juga. 11 Ketika mereka dekat ke Yebus dan ketika matahari telah sangat rendah, berkatalah bujang itu kepada tuannya: “Marilah kita singgah di kota orang Yebus ini dan bermalam di situ.” 12 Tetapi tuannya menjawabnya: “Kita tidak akan singgah di kota asing yang bukan kepunyaan orang Israel, tetapi kita akan berjalan terus sampai ke Gibea.” 13 Lagi katanya kepada bujangnya: “Marilah kita berjalan sampai ke salah satu tempat yang di sana dan bermalam di Gibea atau di Rama.” 14 Lalu berjalanlah mereka melanjutkan perjalanannya, dan matahari terbenam, ketika mereka dekat Gibea kepunyaan suku Benyamin. 15 Sebab itu singgahlah mereka di Gibea, lalu masuk untuk bermalam di situ, dan setelah sampai, duduklah mereka di tanah lapang kota. Tetapi tidak ada seorangpun yang mengajak mereka ke rumah untuk bermalam. 16 Tetapi datanglah pada malam itu seorang tua, yang pulang dari pekerjaannya di ladang. Orang itu berasal dari pegunungan Efraim dan tinggal di Gibea sebagai pendatang, tetapi penduduk tempat itu adalah orang Benyamin. 17 Ketika ia mengangkat mukanya dan melihat orang yang dalam perjalanan itu di tanah lapang kota, berkatalah orang tua itu: “Ke manakah engkau pergi dan dari manakah engkau datang?” 18 Jawabnya kepadanya: “Kami sedang dalam perjalanan dari Betlehem-Yehuda ke balik pegunungan Efraim. Dari sanalah aku berasal; aku tadinya pergi ke Betlehem-Yehuda dan sekarang sedang berjalan pulang ke rumah. Tetapi tidak ada orang yang mengajak aku ke rumahnya, 19 walaupun ada padaku jerami dan makanan untuk keledai kami, pula roti dan anggur untuk aku sendiri, untuk hambamu perempuan ini dan untuk bujang yang bersama-sama dengan hambamu ini; kami tidak kekurangan sesuatu.” 20 Lalu berkatalah orang tua itu: “Jangan kuatir! Segala yang engkau perlukan biarlah aku yang menanggung, tetapi janganlah engkau bermalam di tanah lapang kota ini.” 21 Sesudah itu dibawanyalah dia masuk ke rumahnya, lalu keledai-keledai diberinya makan; maka merekapun membasuh kaki, makan dan minum. 22 Tetapi sementara mereka menggembirakan hatinya, datanglah orang-orang kota itu, orang-orang dursila, mengepung rumah itu. Mereka menggedor-gedor pintu sambil berkata kepada orang tua, pemilik rumah itu: “Bawalah ke luar orang yang datang ke rumahmu itu, supaya kami pakai dia.” 23 Lalu keluarlah pemilik rumah itu menemui mereka dan berkata kepada mereka: “Tidak, saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat; karena orang ini telah masuk ke rumahku, janganlah kamu berbuat noda. 24 Tetapi ada anakku perempuan, yang masih perawan, dan juga gundik orang itu, baiklah kubawa keduanya ke luar; perkosalah mereka dan perbuatlah dengan mereka apa yang kamu pandang baik, tetapi terhadap orang ini janganlah kamu berbuat noda.” 25 Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengarkan perkataannya. Lalu orang Lewi itu menangkap gundiknya dan membawanya kepada mereka ke luar, kemudian mereka bersetubuh dengan perempuan itu dan semalam-malaman itu mereka mempermainkannya, sampai pagi. Barulah pada waktu fajar menyingsing mereka melepaskan perempuan itu. 26 Menjelang pagi perempuan itu datang kembali, tetapi ia jatuh rebah di depan pintu rumah orang itu, tempat tuannya bermalam, dan ia tergeletak di sana sampai fajar. 27 Pada waktu tuannya bangun pagi-pagi, dibukanya pintu rumah dan pergi ke luar untuk melanjutkan perjalanannya, tetapi tampaklah perempuan itu, gundiknya, tergeletak di depan pintu rumah dengan tangannya pada ambang pintu. 28 Berkatalah ia kepada perempuan itu: “Bangunlah, marilah kita pergi.” Tetapi tidak ada jawabnya. Lalu diangkatnyalah mayat itu ke atas keledai, berkemaslah ia, kemudian pergi ke tempat kediamannya. 29 Sesampai di rumah, diambilnyalah pisau, dipegangnyalah mayat gundiknya, dipotong-potongnya menurut tulang-tulangnya menjadi dua belas potongan, lalu dikirimnya ke seluruh daerah orang Israel. 30 Dan setiap orang yang melihatnya, berkata: “Hal yang demikian belum pernah terjadi dan belum pernah terlihat, sejak orang Israel berangkat keluar dari tanah Mesir sampai sekarang. Perhatikanlah itu, pertimbangkanlah, lalu berbicaralah!”
Kerjakanlah Pembebasan Terhadap Perempuan
Namanya Livia Pavita Soelistio. Usianya 20 tahun. Dia mahasiswa Universitas Bina Nusantara. Di angkot, dia mengalami peristiwa yang tak seorang pun ingin mengalaminya. Sekelompok pria memperkosanya dengan sadis (April, 2011 ). Begitu keras dia berteriak malam itu, tetapi tak ada orang yang mendengar termasuk para pemerkosanya. Berulang kali dia memohon belas kasihan, namun hati nurani para pelaku sudah dingin dan beku. Akhirnya Livia membisu. Dia tidak lagi bersuara. Dia tidak bisa lagi berteriak kecuali membiarkan dirinya terbuang ke selokan di daerah Cisauk, Tangerang. Livia tidak bisa lagi membela dirinya. Livia tak punya kesempatan untuk bersuara. Dia hanya diam. Kisah Livia bukan yang pertama dan terakhir terjadi untuk kaum perempuan. Ada begitu banyak perempuan yang mengalami kekerasan dan ketidakadilan di hidup mereka. Bacaan kita juga mencatat peristiwa kejam, perkosaan massal, terhadap seorang perempuan tanpa nama dengan keji dan sadis. Kekerasan yang dialami seorang gundik dari seorang Lewi membuatnya tidak mampu bersuara karena dirinya akhirnya tidak lagi bernyawa. Dia tidak punya kesempatan untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya. Kalaupun hidup, sebagai perempuan yang hidup dalam dunia patriakhal dan statusnya sebagai gundik, dia tidak berhak untuk bersuara. Dia harus menerima kekerasan yang dialaminya tanpa pembelaan. Dari berbagai peristiwa kekerasan terhadap perempuan yang kita jumpai sehari-hari, apa yang sesungguhnya ingin kita katakan tentang Allah? Refleksi ini dengan jelas mau menggambarkan Allah tidak absen dalam derita para perempuan, korban kekerasan. Di hari ulang tahun perempuan GPM ini, marilah kita tampil menjadi agen pembebas bagi kaum perempuan kita yang mengalami peristiwa tragis dalam hidup mereka. HBD Perempuan GPM ke-50, Tuhan berkati!!!!
doa : Tuhan mampukan kami menjadi agen pembebas bagi kaum perempuan yang mengalami kekerasan, amin
*sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ-GPM

