fbpx

Santapan Harian Keluarga, 13-19 Mei 2018

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 13 Mei 2018

bacaan : Mazmur 92 : 1-16

TUHAN, Hakim yang adil

Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (92-2) Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, 2 (92-3) untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, 3 (92-4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. 4 (92-5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai. 5 (92-6) Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu. 6 (92-7) Orang bodoh tidak akan mengetahui, dan orang bebal tidak akan mengerti hal itu. 7 (92-8) Apabila orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk selama-lamanya. 8 (92-9) Tetapi Engkau di tempat yang tinggi untuk selama-lamanya, ya TUHAN! 9 (92-10) Sebab, sesungguhnya musuh-Mu, ya TUHAN, sebab, sesungguhnya musuh-Mu akan binasa, semua orang yang melakukan kejahatan akan diceraiberaikan. 10 (92-11) Tetapi Kautinggikan tandukku seperti tanduk banteng, aku dituangi dengan minyak baru; 11 (92-12) mataku memandangi seteruku, telingaku mendengar perihal orang-orang jahat yang bangkit melawan aku. 12 (92-13) Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; 13 (92-14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. 14 (92-15) Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, 15 (92-16) untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Kuatir…??? Mengucap Syukurlah

Adakah rasa kuatir dalam hati kita menghadapi kenyataan hidup saat ini, padahal kita sudah berupaya melakukan yang baik? Keadaan keuangan keluarga yang tidak menentu. Karier yang tidak pasti. Kejahatan yang merajalela dan mengintip kehidupan kita sepanjang waktu. Kondisi alam yang seolah tak bersahabat lagi. Serbaneka penyakit yang menakutkan … Hukum dan keadilan yang seolah diputar-balikkan, benar menjadi salah dan yang salah dibenarkan. Orang-orang munafik dan fasik yang semakin makmur sementara orang benar terpuruk hidupnya … ? Yach … ada banyak sekali hal yang dapat mengkawatirkan kita. Dan ini bukan hanya ada dan terjadi di jaman ‘nau’ tapi sudah ada dan terjadi sejak jaman “baheula’. Namun Pemazmur tidak merasa kuatir ketika harus menghadapi semuanya itu karena ia memandang segala hal itu dari sudut pandang Allah, sehingga ia justeru bersyukur dan memuji-muji Allah. Karena ia tahu bahwa segala yang jahat akan dihancurkan kelak, dan mereka yang melakukan kebenaran akan dipelihara Tuhan .. Kejahatan tidaklah kekal dan kebaikan akan terus dijaga. Saudaraku, mungkin saat ini anda sedang menghadapi pergumulan yang menurut anda itu berat lalu anda bertanya: ‘Dimanakah Tuhan?” Dimanakah keadilan-Nya? Pemazmur menjawab anda: “Dia membalaskan perbuatan orang berdosa dengan setimpal (8-10) dan memberkati orang benar dengan kelimpahan : bertunas seperti pohon kurma, tumbuh subur seperti pohon aras dan masih berbuah di masa tua. ( 13-15). Jadi, bersyukurlah! Jangan terpukau dengan tipu daya dunia.

doa : Tuhan buatlak kami tidak kuatir terhadap apapun yang kami hadapi dan biarlah kami selalu bersyukur untuk apa yang kami alami. amin

Senin, 14 Mei 2018

bacaan : Mazmur 93 : 1-5

TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang; 2 takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada. 3 Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN, sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya. 4 Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi. 5 Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa.

Tuhan Allah-ku Maha Kuasa

Hoe katong bajalang putar jua, jang lewat di situ lai… Ada yang bilang kata dong parna dapa lia parampuang rambu panjang, pake baju puti panjang, dia manis paskali. Kata su banya orang yang lia. Dong bilang lai kata itu ruma tu pung penunggu.” Beta pung tamang bilang bagitu par beta waktu katong mau lewat ruma tua satu yang ada pohong waringin di akang pung kintal. Saudaraku, setiap orang menyadari bahwa di luar dirinya ada oknum lain yang lebih berkuasa. Sayangnya bahwa ada banyak orang, termasuk orang percaya yang masih meyakini bahwa pohon, rumah tua, laut, gunung, lembah, jurang memiliki penunggu, sekaligus penguasa masing-masing. Benarkah demikian? Firman Tuhan hari ini menolak sekaligus mematahkan pendapat dan keyakinan di atas dengan mengatakan bahwa : ‘Tuhan adalah Raja, Ia adalah penguasa sejak dahulu, bahkan sejak alam semesta ini belum diciptakan. Dengan demikian Dia jugalah yang berdaulat mengatur alam semesta dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Sebagai raja, kuasa-Nya melebihi lautan yang bergelora dan melampaui kecepatan aliran sungai yang dahsyat dan menggelegar. Tidak ada kuasa lain, yang melebihi kuasa Allah. Semuanya tunduk pada-Nya.  Saudaraku, ingatkah anda dengan lagu sekolah minggu : “aku anak raja, engkau anak raja, kita semua anak raja”? pernakah anda mendengarnya atau malah menyanyikannya? Pasti pernah!. Nah, sebagai anak Raja, kita akan dijaga, dikawal dan selalu dilindungi sehingga tiada kuasa lain yang bisa membuat kita takut. Yuk, sama-sama katakan : SIAPA TAKUT…!!!!

doa : Ya Tuhan, Ya Raja kami, kami adalah anak-Mu, Amin

Selasa, 15 Mei 2018

bacaan : Mazmur 95 : 6-7

6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. 7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Allahku Besar

Masih ingatkah kita pada lagu sekolah minggu ini: “Allahku besar, kuat dan berkuasa Tiada yang mustahil bagi Dia Gunung milikNya, sungai milikNya, Bintang-bintang diciptakan-Nya” Lagu yang sudah biasa dinyanyikan oleh anak anak SMTPI merupakan salah satu nyanyian yang mengekspresikan pengakuan anak anak dan secara umum baik ekspresi kita bahwa Tuhan kita itu benar dan dapat diandalkan kuasaNya. Ekspresi yang sama juga kita temukan dalam pengakuan iman pemazmur pada Mazmur 95; bancaan kita. Ayat 3-6 merupakan kredo bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang besar yang telah menciptakan dan menjadikan dunia ini serta memelihara dan menyelamatkan umat gembalaanNya. Menariknya pernyataan pemazmur ini ditempatkan oleh pemazmur pada satu ruangan yang khusus yang di dalam ruang itu pemazmur merefleksikan ketergantungannya pada Tuhan Allah. Ajakan beribadah dengan menggunakan kata-kata yakni bersujud menyembah berlutut menggambarkan ruang ibadah sebagai suatu perjumpaan pemazmur dengan Allah yang harus terjadi terus-menerus dan sungguh-sungguh. Dengan kata lain kesetiaan beribadah haruslah menjadi sikap iman pemazmur terhadap kebaikan Tuhan Allah. Di dalam kesetiaan beribadah orang beriman dapat mengenal dan memahami pekerjaan dan karya-karya Tuhan Allah dengan lebih baik. Karena itu, akan lahir dan bertumbuh sikap penyerahan diri terhadap kekuatan dan kuasa Tuhan Allah dari orang beriman dalam menjalani kehidupannya bukan mengeraskan hati atau mengandalkan kekuatan diri

doa : ya Tuhan ajarlah kami untuk setia beribadah dan mengandalkan kekuatan-MU, amin

 

Rabu, 16 Mei 2018

bacaan : 1 Korintus 1 : 18-25

Hikmat Allah dan hikmat manusia

18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. 19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” 20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. 22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, 23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, 24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. 25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Salib Kristus adalah Kekuatan

Ada kata bijak mengatakan “salib Kristus adalah motivasi hidup·. Kata bijak ini tentunya lahir dari iman yang murni pada Yesus Kristus, Sang Penyelamat. Namun pada zaman Rasul Paulus, salib bukanlah suatu kebanggaan bagi manusia pada masa itu, sebaliknya merupakan sesuatu yang dipakai untuk mempertontonkan kehinaan dan tidak berarti atau berharganya seseorang. Orang-orang yang tidak mengerti pentingnya salib dalam hubungan dengan pemberitaan tentang Yesus Kristus melihat orang yang mempercayai salib dan percaya bahwa Allah menyatakan karya penyelamatanNya melalui seorang Yahudi yang tersalib merupakan suatu batu sandungan dan kebodohan. Budaya masyarakat yakni unsur-unsur helenisme merupakan salah satu aspek yang sangat kuat mempengaruhi jemaat memahami ajaran-ajaran Kristen terutama tentang Kristus. Penyelamatan dipandang dengan hikmat bukan dengan iman. Bagi mereka, pengetahuan merupakan pusat untuk mereka memahami keselamatan, karena itu pusat hakiki injil pada peristiwa-peristiwa salib yang historis dan kebangkitan Yesus pun digeserkan. Kondisi ini memper1ihatkan bahwa orang-orang saat itu sangat mengandalkan kekuatan dan cara sendiri dari pada bersandar pada iman dan kekuatan pada Allah. Untuk itu Rasul Paulus pun menegaskan bahwa setiap usaha untuk memahami Allah tanpa penyataan-Nya di dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan yang disalibkan, dikutuk sebagai hikmat dunia yang dijadikan oleh Allah sebagai kebodohan (bnd Yes 44:25). Marilah sebagai orang beriman, kita memahami Tuhan Allah, mengimani-Nya dan mengandalkan kekuatanNya di dalam Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit.

doa : Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan kami yang tersalib menjadi kekuatan kami sekarang dan selamanya, Amin

Kamis, 17 Mei 2018

bacaan : 1 Korintus 1 : 26-31

26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. 27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, 28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, 29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. 31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Memegahkan Diri dengan Iman

Sebuah media online (VATIKAN, SATUHARAPAN.COM) memberitakan bahwa Paus Fransiskus mengatakan umat Kristiani yang merasa lebih percaya kepada diri sendiri daripada kekuatan Yesus Kristus berpotensi menjadi pribadi yang tidak bersimpati kepada yang berkekurangan, dan orang seperti ini dapat berpotensi menjadi pribadi yang kehilangan kemuliaan Tuhan. “Lebih percaya pada diri sendiri” dalam pemyataan Paus sama artinya dengan “memegahkan diri” yang dikatakan Rasul Paulus pada nas bacaan kita hari ini. Orang tersebut adalah orang sombong yang tidak membutuhkan pertolongan orang lain bahkan kekuatan Tuhan. Rasul Paulus mengecam sikap tersebut dengan memberi pemahaman jemaat tentang hal panggilan dan pemilihan Allah. Bagi Paulus, seseorang dapat dianggap orang bijak, orang kuat, orang berpengaruh dan orang terpandang karena ia berada dalam rencana panggilan dan pemilihan Allah untuk memberitakan tentang Kristus Yesus yang telah menebus manusia. Dengan kata lain, kehidupan orang tersebut yang mencakup apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukannya haruslah memperlihatkan kehadiran dan peranan Yesus Kristus. Jadi bukan diri orang dimaksud yang dilihat orang lain, namun berita tentang Yesus Kristus sebagai hikmat yang akan dilihat dan diimani. Karena itu, sebagai orang percaya, marilah kita hidup dengan menyadari bahwa kita adalah orang yang dipanggil dan dipilih Allah untuk kemuliaan Tuhan. Supaya kita tidak menjadi orang yang rendah hati dan peduli pada orang lain.

doa : Ya Tuhan kami mau selalu bermegah didalam-Mu, supaya banyak orang memuliakan Engkau, Amin

Jumat, 18 Mei 2018

bacaan : Yeremia 17 : 7-8

7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Hidup Mengandalkan Tuhan

Dalam realitas kehidupan setiap hari kita selalu bertemu dengan dua tipe manusia, yaitu tipe orang jahat yang oleh nabi disebut orang fasik dan tipe orang baik yang disebut orang benar. Orang jahat atau fasik adalah orang yang percaya kepada manusia, yang mengandalkan kuasa, kekuatan dan kekayaan manusia. Sedangkan yang dimaksudkan dengan orang baik atau orang benar adalah mereka yang percaya dan mengandalkan Tuhan. Bagi orang-orang yang percaya dan mengandalkan Tuhan memperoleh jaminan keselamatan dan masa depannya diberkati oleh Allah. Hidup dan perjuangannya akan berhasil sehingga membawa berkat bagi banyak orang, sebagaimana yang diibaratkan seperti pohon yang ditanam di tepi air dan selalu menghasilkan buah. Artinya orang yang baik akan terus menghadirkan kebaikan sepanjang waktu tanpa tergantung pada tempat dan situasi. Pertanyaannya apakah kehidupan keluarga kita mencerminkan perilaku orang fasik atau orang benar ? tentu masing-masing anggota keluarga dapat menilai dirinya sendiri, namun yang pasti adalah bahwa keluarga kita mesti bertekad untuk hanya mengandalkan dan mempercayakan seluruh hidup dan perjuangan kita kepada Allah. Sebab percaya kepada manusia kita akan menemukan kekecewaan dan kegagalan, tetap percaya kepada Tuhan hidup dan masa depan kita pasti terjamrn dan berhasil.

doa : Tuhan, buatlah kami selalu hidup mengandalkan-Mu di segala situasi dan kondisi hidup kami, amin

Sabtu, 19 Mei 2018

bacaan : Mazmur 60: 13-14

(60-13) Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. 12 (60-14) Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

Bersama Tuhan Kita Sanggup melakukan Perkara Besar

Mazmur ini mengungkapkan suatu kebenaran mendasar yang dengannya setiap orang percaya harus hidup. Ditengah­-tengah berbagai kesulitan, kesengsaraan atau pertentangan dari musuh yang kita hadapi setiap hari, kita harus berbalik kepada Allah sebagai tempat Perlindungan dan Pelepas yang tertinggi. Sebab Ia adalah Allah yang maha mengenal dan mengetahui apa yang baik dalam hidup kita. Karena itu, bagi setiap orang percaya yang mengandalkan Tuhan harus dapat mengatakan pada diri­-Nya bahwa “aku tidak akan membiarkan kesukaran, krisis atau penderitaan bagaimanapun menggoyahkan iman dan kepercayaanku kepada Allah. Bukan hanya karena keselamatanku datang dari Allah dan hidupku terjamin didalam tangan-Nya, tetapi bersama Allah aku yakin dapat melakukan perkara-perkara besar bagi manusia dan makhluk ciptaan lain. Perkara-perkara besar yang membuat sesama dan alam ciptaan menikmati kasih dan kebaikan. Namun, satu perkara yang harus selalu kuingat adalah aku sekali-kali tidak mau mengandalkan kekuatan diri sendiri. Jaminan bagiku untuk melakukan perkara-perkara besar adalah bekerja bersama Allah dan mengandalkan-Nya setiap waktu. Aku harus selalu menyerahkan diri kepada-Nya dalam doa yang sungguh-sungguh untuk mencurahkan isi hatiku kepada-Nya sambil percaya dan menantikan Tuhan bertindak menolong dan menanggapi dalam kasih setiap situasi dan keadaan hidupku”.

doa : Tuhan kami yakin bersam-Mu kami sanggup melakukan perkara-perkara besar, Amin

*sumber : Santapan Harian Keluarga, penerbit : LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *