Pemkab Bekasi datangi Silo Belajar Kerukunan Beragama
Merujuk pada hasil survei yang dilakukan Kementerian Agama (2016) menunjukkan bahwa Provinsi Maluku berada pada rangking ke-3 sebagai Provinsi dengan Kerukunan Agama Tertinggi di Indonesia memperoleh nilai 81,3%. Maluku berada dibawah NTT yang memperoleh 83,3%, dan Provinsi Bali 81,6%. Berdasarkan data tersebut, maka Pemda Kabupaten Bekasi dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melakukan studi orientasi ke Maluku.
Salah satu agenda studi oreintasi tersebut adalah bertemu dengan Tokoh Agama di beberapa Masjid dan Gereja, termasuk di Gereja Silo, Klasis Kota Ambon. Dalam dialog (17/7), Rombongan Pemda Kabupaten Bekasi dan FKUB Bekasi yang berjumlah kurang lebih 20 orang itu diterima Majelis Jemaat GPM Silo, yang diwakili oleh Sekretaris Jemaat dan Wakil Bendahara Jemaat (12.30 WIT).
Didampingi oleh Pejabat dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Maluku, Max Latuputty, Kepala Kesbangpol Kabupaten Bekasi, Ahmad Kosasih, menjelaskan bahwa setelah berkonsultasi dengan Pemda Provinsi Jawa Barat mereka disarankan datang ke Kota Ambon.
“Kami diminta ke Kota Ambon, sebab Ambon sebagai Ibukota Provinsi Maluku dikenal sebagai Provinsi yang mengusung ide Laboratorium Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Kami ingin belajar di Ambon, dan Gereja Silo menjadi salah satu tujuan kami. Setidaknya kami ingin tahu dari orang-orang di Gereja ini tentang bagaimana cara mereka membangun kerukunan antar umat beragama” ujarnya.
Ketika ditanyakan mengapa memilih Jemaat GPM Silo sebagai lokasi kunjungan ? Pendeta Andi Matkusa dari FKUB Bekasi menjelaskan bahwa Jemaat Silo adalah salah satu jemaat yang mengalami dan sangat merasakan dampak kerusuhan 1999, sampai dengan terbakarnya gedung gereja Silo, bahkan warga jemaatnya tercerai berai. “Kami ingin mengetahui bagaimana membangun kembali kehidupan bersama dan menciptakan kerukunan? bahkan Maluku bisa menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kerukunan tertinggi di Indonesia?” pungkasnya.
Sekretaris Jemaat GPM Silo, Pnt. V. W. Mailoa, memberi penjelasan, “kehidupan umat terus dijaga lewat intensitas perhatian dan pelayanan yang diberikan kepada umat. Serta untuk menjaga kehidupan orang basudara dibangun lewat berbagai kegiatan yang melibatkan semua pihak, terutama pada moment-moment keagamaan, seperti buka puasa bersama Jemaat Silo dengan warga jalan baru (muslim), perayaan Ibadah Natal di Gereja Silo pengamanan oleh remaja masjid, dll”.
Mailoa juga menjelaskan konteks kekinian terkait kondisi wilayah pelayanan Jemaat Silo, bahwa awalnya jemaat ini bersifat teritorial dengan wilayah pelayanan sebagaimana terlihat pada papan informasi jemaat (wilayah seputar gedung gereja, silale-waihaong, mangga dua, urimesing, dll), namun akibat konflik 1999, maka Jemaat Silo berubah menjadi Jemaat Transteritorial yang tersebar dari latuhalat sampai suli banda dan Hative Besar.
*Sumber : VM & VK
*Edit : BK

