Tepis Radikalisme, Silo Gelar Seminar Sehari
Hadir sebagai fasilitator dalam Seminar Sehari tentang Pencegahan Ideologi Radikal dari pihak Korem 151 Binaya Mayor Yoyok Wahyudi, dari Tokoh Muslim Maluku diwakilkan oleh Ustad Asrul Pattimahu, dan Unsur Sinode GPM Pdt. E. T. Maspaitella.
Seminar yang dibuka secara resmi oleh Ketua Majelis Jemaat Silo, Pdt. Jan. Z. Matatula itu berlangsung pada Sabtu, 11 Agustus 2018 di Ruang Serbaguna Gereja Silo. Matatula dalam sambutannya menegaskan, bahwa sejarah Gereja Protestan Maluku (GPM) – termasuk Jemaat Silo didalamnya – telah membuktikan penolakan terhadap radikalisme, sebagaimana sikap GPM untuk menjadi gereja yang mandiri, lepas dari pemerintah penjajahan Belanda (tahun 1935), dan sikap tegas menolak kemunculan Gerakan Separatis Republik Maluku Selatan (RMS) 25 April 1950. “Fakta sejarah ini menunjukan bagaimana secara institusi, GPM sekali lagi tidak tergiur dengan isu-isu radikalisme yang diprovokasikan oleh RMS, malah GPM mengajak umat untuk hidup bersama sebagai satu kesatuan negara Indonesia yang terdiri dari beragam identitas etnik” ungkap mantan Ketua Klasis Kairatu itu.
Fasilitator Mayor TNI Yoyok Wahyudi, dalam materinya menjelaskan bahwa negara dalam rangka menangkal gerakan radikalisme di Indonesia, pemerintah dalam hal ini aparat keamanan (TNI-Polri) telah mendeteksi dan mengidentifikasi paham dan aliran agama yang jelas-jelas mengajarkan paham radikalisme, dengan target utama yaitu merubah/mengganti dasar negara Pancasila dengan membentuk negara khalifa. Menurut Yoyok, 3 kelompok/aliran agama terlarang dan menjadi target pemberantasan radikalisme adalah Hizbut Tahrir Indonesia, Jemaah Ansharut Daulah dan Jabhat Al Nusra.
Sedangkan Ustad Asrul Pattimahu, banyak mengupas tentang akar radikalisme dengan bersandarkan pada misi/dakwah agama. Menurut Pattimahu, Salah satu yang sangat berbahaya saat ini dan mengancam dalam skala besar adalah gerakan transnasional agama dan puritanisasi (pemurnian) agama. “Beragama secara tekstual dengan menolak konteks kehidupan sosial-budaya dan kebangsaan. Beragama seperti ini sering diiringi dengan upaya puritanisasi (permurnian) dan pengharaman terhadap budaya dan nasionalisme suatu bangsa. Fenomena beragama seperti ini dapat kita lihat pada berkembangnya gerakan transnasional agama dewasa ini.” ungkap Pattimahu.

Fasilitator terakhir Pdt. E. T. Maspaitella, dalam paparannya lebih menekankan kepada peran jemaat-jemaat dalam GPM, dan Jemaat Silo pada khususnya. Maspaitella menginginkan Jemaat GPM Silo menjadi Komunitas Penyembuh. “ada 8 langkah yang saya tawarkan kepada saudara-saudara untuk menjadikan Jemaat GPM Silo sebagai Komunitas Penyembuh, yaitu : Mengenali Ulang Siapa Kita; Merumuskan kembali posisi diri; Merumuskan ulang diksi dan carapandang tentang sesama; Mengelolah lingkungan menjadi lebih sehat; Mencari isu bersama dan memecahkan masalah secara bersama-sama; Meningkatkan kualitas komunikasi dan interaksi sosial antarwarga, sehingga warga memiliki ketahanan sosial yang kuat; Membaca teks suci agama dalam bingkai perdamaian; dan Meningkatkan pendidikan perdamaian.” ungkap mantan Ketua Umum Pengurus Besar AMGPM itu.
Seminar yang dihadiri 72 peserta itu, melibatkan unsur-unsur perempuan gereja, laki-laki gereja, pemuda, pengasuh, majelis jemaat dan juga pendeta jemaat. Seminar Sehari ini dikoordinasikan oleh Majelis Seksi Pengembangan Oikumene Semesta, khususnya Subseksi Hubungan Kerjasama Antar Gereja dan Denominasi Gereja.
*sumber data : JM & NS
*Edit : BK

