fbpx

Para Pelayan GKST ber-Wisata Rohani di GPM

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Sejak 1 September 2018, Klasis Kota Ambon  bersama Jemaat-Jemaat didalamnya menerima tamu istimewa yakni 24 orang Pendeta dan 2 orang Penatua dari Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Jemaat Silo sendiri menerima 2 orang tamu, yaitu Pendeta Jeffry Tunggele dan Penatua Desmon Pesoa. Selama berada kurang lebih 1 (satu) minggu di Silo, Pdt Jeffry mendiami rumah Keluarga Bpk Edy Ririhena – Sektor III, dan Pnt. Desmon berada bersama Keluarga Bpk Vino Parera – Sektor II. Pendeta Jeffry mendapat kesempatan memimpin Ibadah Minggu di Gereja Silo, pada Minggu, 2 September 2018 Pkl. 09.00 WIT didampingi juga oleh Pnt. Desmon.

Sebagai tamu istimewa dalam jemaat, Tim Website Silo berkesempatan untuk berjumpa dengan kedua pelayan Tuhan ini. Dalam kesempatan wawancara dengan para Hamba Tuhan asal Klasis Mori Atas – Kota Poso, Sulawesi Tengah itu, Pdt Jeffry menjelaskan maksud kedatangan ber-Wisata Rohani, yakni ingin belajar tentang dinamika pelayanan secara khusus di Klasis Kota Ambon. Pertimbangannya bahwa, Kota Ambon dan Kota Poso adalah dua kota di Indonesia yang sama-sama mengalami konflik horizontal yang berbasis agama. Namun, Ambon justru menunjukkan proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang sangat pesat, tapi sebaliknya Kota Poso masih “sulit” bangkit dari sisa-sisa konflik masa lalu. “kita disana,.. artinya aman ya aman, tetapi saling curiga itu masih ada.. ada was-was, padahal Bupati sudah orang Poso, sudah orang kita… tapi itulah kondisinya, dan kalau kita refleksikan dengan Ambon,.. ooo jauh beda..” tandas Tunggele.

Pdt. Jeffry Tunggele, Ketua MJ Kalvari Taendo, Klasis Mori Atas, GKST

Ketika ditanyakan apa saja pembelajaran positif yang diperoleh di Silo (Ambon), Pendeta yang menjabat Ketua Majelis Jemaat Kalvari Taendo itu menemukan sejumlah hal menarik dalam pelayanan yang patut untuk diterapkan saat pulang kembali ke Poso. Hal pertama menurut beliau adalah soal liturgi di GPM yang memberikan ruang yang sangat leluasa untuk keterlibatan warga jemaat. “Aturan liturgis di GKST sangat didominasi oleh Pendeta, hampir seluruh tata ibadah itu sepenuhnya bertumpu pada peran seorang pendeta, jemaat bahkan majelis perannya sangat minim sekali. Dan ada banyak point dalam tata ibadah yang saya anggap sangat baik untuk diadopsi dan memang harus ada perubahan, sebab tata liturgis demikian akan mendorong jemaat untuk suka beribadah.

Hal kedua menurut beliau, “semangat warga jemaat di Ambon ini untuk membangun sebuah gereja. Saya sudah berkeliling lihat gereja-gereja di Kota Ambon, saya lihat bagus-bagus dan megah. Dan yang hebatnya, waktu pembangunannya relatif singkat. Kalau kami disana membangun gereja itu rata-rata 10 tahun keatas..

Yang ketiga menurut Tunggele adalah menyangkut sarana penunjang ibadah, “.. yang saya lihat menunjang dalam sebuah ibadah juga sound sistem, jadi kemarin saya sudah selidiki semua, lihat semua jemaat Silo punya… musik gereja sangat menunjang, bagaimana kalau di gereja, ketika ibadah mic storing (terganggu), kabel ta tarik-tarik,… sangat mengganggu jalannya suasana ibadah. Satu hal lagi, disini masih mengunakan musik-musik tradisional, itu tetap dipertahankan… Nah itu kita disana kalahnya GKST disitu,.. hanya pada moment-moment tertentu saja digunakan musik tradisional,..” ungkap suami dari Ache Tunggele dengan 2 orang anak itu.

Pnt. Desmon Pesoa, Sekretaris Klasis Mori Atas, GKST

Dalam kesempatan bersamaan, Penatua Desmon Pesoa yang menjabat sebagai Sekretaris Klasis Mori Atas, GKST, menekankan point penting yang didapat saat bertatap muka dengan Ketua Sinode GPM, adalah soal hubungan/relasi harmonis antara pemerintah daerah dan Gereja sebagai organisasi religi dalam masyarakat. “memang berbicara hubungan dengan dengan pemerintah itu, saya lihat hal yang harus… terutama ketika kita mengalami persoalan-persoalan. Kami di GKST itu, pusat GKST (Sinode) berada di Tentena… Tentena itu hanya satu wilayah kecamatan, jaraknya dengan ibukota provinsi di Palu 200-300 Km lebih, sehingga secara intens untuk ketemu dan komunikasi itu kurang… Saya simak penjelasan Ketua Sinode GPM itu (komunikasi pemda dengan Gereja) sebuah hal yang betul-betul harus dilaksanakan, supaya apa yang dirindukan oleh pemerintah, dan apa yang dirindukan oleh kita sebagai orang kristen, kita selalu terhubung…ini kado positif yang ingin saya bawa pulang buat kami di GKST” ungkap Desmon, yang sehari hari berprofesi sebagai Pengawas Sekolah penuh antusias.

Pnt. Desmon juga turut mempercakapkan soal-soal pemberlakuan tata liturgis. Menurutnya perlu banyak perubahan bagi tata liturgis GKST, “..kalau kita di GKST itu terlalu otoriter, karena dari A-Z kebanyakan pendeta betul-betul yang pegang peranan,.. tapi kalau saya lihat disini, kita bisa melatih jemaat, anak muda, anak-anak kita tampil di depan ketika baca Alkitab di depan,… bagi saya itu hal yang luar biasa,..disana kita tidak seperti itu..” ungkap Pesoa yang sudah menduda dan punya 3 orang anak.

Pendeta Jeffry, Pnt Desmon dan ke-24 rekan-rekan Pelayan dari GKST menjalani agenda Wisata Rohani dengan menggunakan dana sendiri (pribadi) itu, dan sempat kuatir tatkala pertama tiba di Ambon. Mereka sempat kuatir kurang terlayani, atau kurang disambut dan semacamnya. “…itu kekuatiran kami semula, tetapi ternyata Tuhan menjawab semuanya lewat kehangatan sambutan dari jemaat-jemaat di Kota Ambon yang sangat menghargai dan menghormati seorang pendeta,.. ini hal yang luar biasa yang saya jumpai disini.”  ungkap Tunggele penuh sukacita di akhir wawancara itu.

*Edit : BK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *