Silo Kehilangan Sosok Pengasuh yang Ramah dan Baik Hati
AMBON, jemaatgpmsilo.org – Perjalanan hidup tiap-tiap orang sesungguhnya diatur dalam rancangan Sang Khalik Pencipta Semesta Alam. Sebagai manusia kita tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui kapan dan bagaimana kita meninggalkan dunia ini. Itu pula yang dijalani oleh Izack Latumeten (36 thn) yang sehari-hari lebih akrab disapa “chaky”.
Melewati masa kesakitan yang cukup lama dan berat akibat di dera penyakit getah bening, anak muda yang melibatkan diri dalam pelayanan sebagai kolektan dan pengasuh ini, harus menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 23 Januari 2019 di RSU dr. M. Haulussy Ambon.
Dalam tata pelayanan di lingkup Gereja Protestan Maluku diatur bahwa, apabila seorang pengasuh yang masih aktif melayani meninggal dunia, maka jenazahnya akan dibawa ke gereja untuk diibadahkan. Sebelum jenazah dibawa ke gereja, dilakukan ibadah pelepasan di rumah duka Keluarga Latumeten, OSM Ambon pada Kamis 24 Januari Pukul 09.00 WIT, yang dipimpin oleh Pdt. Ny. Y. Rutumalessy/S. Selanjutnya, jenazah Almarhum Izack “Chaky” Latumeten dibawa ke Gedung Gereja Silo dan dilaksanakan ibadah pemakaman yang dipimpin oleh Pdt. Jan. Z Matatula. Prosesi ibadah di Gedung Gereja Silo, diawali dengan penyerahan jenazah oleh pihak keluarga kepada Majelis Jemaat GPM Silo, yang dilaksanakan di halam depan gedung Gereja Silo.

Dalam khotbahnya, Matatula menyampaikan tentang arti penting hidup sebagai manusia selama ada di dunia ini. “Hidup ini penting, sebab itu, hidup ini harus digunakan untuk memuliakan Tuhan. Itu tidak berarti bahwa apa yang kita lakukan lalu menempatkan apa yang kita usahakan : kedudukan, harta, kekayaan, sukses itu lalu menjadi tidak penting..!! Tetap penting..! tetapi persoalannya adalah, semua yang penting itu mesti diletakkan untuk memuliakan kebesaran dan keagungan Tuhan. kenapa..?? karena memang Tuhanlah pemilik hidup ini. Dan kalau Tuhan ambil, selesai..!! Sehingga bagi Pemazmur, semua yang kita anggap penting itu harus diletakkan dalam upaya hanya untuk memuliakan kebesaran nama Tuhan.” Chaky telah melakukan dan mengisi hidupnya dengan sesuatu yang penting, yakni memuliakan Tuhan dalam tanggung jawab pelayanan, baik sebagai pengasuh, bendahara wadah pelayanan laki-laki, maupun kolektan, ungkap Matatula.

Setelah ibadah di gereja selesai, maka ibadah di lokasi TPU Benteng-Ambon, dipimpin oleh Pdt. Ny. E. Ifasaksily/Alfons. Kepergian Izack “Chaky” Latumeten lalu menyisakan kenangan tentang sosok seorang anak muda yang bersedia melayani pekerjaan Tuhan sebagai Pengasuh yang dikenal ramah, periang, dan baik hati.
Wahyu 14 : 13, “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” [BK]

