Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Oktober 2018

[jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 21 Oktober 2018                          

bacaan : Mazmur 34 : 1 – 23 (T)

Dalam perlindungan TUHAN
Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi. (34-2) Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. 2 (34-3) Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. 3 (34-4) Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! 4 (34-5) Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. 5 (34-6) Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. 6 (34-7) Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. 7 (34-8) Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. 8 (34-9) Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! 9 (34-10) Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! 10 (34-11) Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik. 11 (34-12) Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! 12 (34-13) Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? 13 (34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; 14 (34-15) jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya! 15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; 16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. 17 (34-18) Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. 18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. 19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; 20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah. 21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. 22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman. 

Kutahu Tuhan Pasti Buka Jalan

Dalam kondisi yang kritis, dalam keadaan terjepit, secara manusiawi apa pun bisa jadi dilakukan; jangankan pura-pura gila, gila benaran pun bisa saja terjadi. Pada saat-saat pencobaan, pada saat-saat adanya tekanan, kita biasanya merindukan terjadinya hal-hal yang dahsyat atau pun mukjizat. Dalam situasi yang terjepit, kita kemungkinan mau melakukan apa pun, bahkan sekalipun hal itu salah. Dalam keadaan darurat, segala kemungkinan bisa saja kita lakukan, sekalipun mungkin membahayakan diri kita sendiri. Ketika kita diperhadapkan pada situasi yang sulit, bukan tidak mungkin kita bisa kehilangan pegangan dan harapan. Dalam situasi dan kondisi penyakit yang tidak menentu, kita bisa saja “kecewa” dengan Tuhan, dan tidak mau didoakan lagi. Di bawah tekanan, di bawah ancaman, di dalam kesulitan, di dalam penderitaan, di dalam kesesakan, di dalam kekecewaan (patah hati), di dalam kebingungan, dan dalam situasi yang tidak menentu, kita bisa saja menghalalkan segala cara, berbohong, pura-pura gila, tidak mau makan, berontak, pesimis, bahkan menghujat Tuhan pun bisa saja terjadi. Jangankan kita sekarang ini, Daud saja mengalami pergumulan yang luar biasa itu. Tetapi kita melihat, bahwa dalam “kebohongan” dan “kegilaan yang dibuat-buatnya” itu, ternyata Tuhan Allah bisa berkarya, sekali pun secara Alkitabiah apa yang dia lakukan itu tidak dibenarkan. Yang mau ditekankan di sini ialah bahwa seburuk dan separah apapun kondisi dan situasi kita saat ini, Tuhan pasti mampu berkarya; dan melalui pengalaman hidup yang pahit itu, kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang takut akan Dia. Belajar kehidupan berarti ingin diajar, dibentuk dan dibimbing oleh Tuhan dalam menjalani manis-pahitnya kehidupan ini sebab Tuhan pasti membuka jalan terbaik bagi kita.(DLS)

Doa: Ya Tuhan, kami tahu Penebus kami ada dan hidup. Amin.

Senin, 22 Oktober 2018                           

bacaan : 1 Petrus 1 : 22 – 25 (T)

22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. 23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. 24 Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, 25 tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. 

Bahasa Yang Paling Indah Adalah Bahasa Kasih

Seorang misionaris Amerika sedang berjalan-jalan di jalan sebuah kota di Cina. Ia tertarik dengan anak-anak yang sedang bermain-main. Anak-anak itu bermain sambil menggendong anak-anak lainnya di punggungnya masing-masing. “Ini tidak baik,” gumamnya dalam hati. Dengan simpatik misionaris itu menghampiri anak-anak dan berkata, “Kenapa kalian membawa beban berat?” “Dia bukan beban berat,” kata seorang anak dengan cepat. “Dia saudaraku.”

Dan ketika misionaris ini pulang ke rumahnya dan bertemu keluarganya, ia berkata, “Seorang anak kecil memberiku pengertian mengenai arti “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu…” (Gal.6:2).”

Menurut kita selaku orang tua, menanggung biaya sekolah anak itu sebuah beban ataukah tidak? Bagaimana kalau pertanyaannya diganti, kita membiayai anak tetangga kita sekolah itu beban ataukah tidak? Saya tahu pasti jawaban kita. Dan kalau kita mempunyai prinsip bahwa saudara-saudara kita seiman itu adalah saudara kita sendiri, maka tidak akan ada lagi keberatan dari kita untuk menolong mereka. Anggapan bahwa mereka merupakan beban adalah anggapan yang tidak benar, menurut firman Tuhan. Sebab Allah mengajarkan kita dalam firmanNya untuk saling mengasihi sebagai saudara. Mengasihi, adalah satu kata yang sering diabaikan dan dilupakan oleh kita. Padahal Allah itu kasih, dan mereka yang mengaku sebagai anak Allah wajib hidup di dalam kasih. Dan kasih itu pasti berkorban. Tidak semua orang suka berkorban. Perlakukanlah semua orang sebagai saudara kita sebab kita telah disatukan di dalam Tuhan. Jadi benarlah Alkitab berkata supaya kita saling bertolongan menanggung beban.(DLS)

Doa: Tuhan, pereratkanlah tali kasih persaudaraan diantara kami. Amin.

 

Selasa, 23 Oktober 2018                               

bacaan : Mazmur 1 : 1 – 6 (T)

Jalan orang benar dan jalan orang fasik
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; 6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Mau Bertumbuh..?? Renungkanlah Firman Tuhan !!!

Sang dosen sedang berbincang-bincang dengan dua mahasiswanya di kampus. Mereka mengamati dua batang pohon cemara. Ukurannya berbeda, padahal bersumber dari bibit yang sama dan ditanam pada waktu yang sama pula. “Menurut kalian, apa penyebab perbedaan itu?” tanya sang dosen. “Mungkin pohon yang kerdil, tanahnya kurang subur, pak, sehingga kurang mendapatkan suplai air dan makanan, ” kata yang satu. “Mungkin juga karena kurang mendapatkan sinar matahari, “jawab yang lain.

Keadaan itu mirip dengan kehidupan rohani kita. Kehidupan rohani kita akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang lebat, jika mendapatkan nutrisi yang baik dan memadai. Menurut pemazmur, kunci pertumbuhan orang percaya adalah menyukai Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Merenungkan Taurat Tuhan artinya menjadikan Taurat Tuhan sebagai dasar dan standar untuk menentukan pilihan dan bertindak. Menyukai dan selalu merenungkan Taurat Tuhan adalah rahasia kesegaran dan kesuksesan hidup. Dalam hidup keluarga Kristen, kita pun perlu menyukai dan merenungkan kebenaran firman Tuhan, agar memperoleh nutrisi kerohanian yang cukup. Salah satu caranya dengan menjalankan waktu teduh secara teratur dan juga BINAKEL. Selanjutnya, hendaklah firman Tuhan itu menjadi dasar dan standar untuk menentukan pilihan dan bertindak. Hal ini akan menolong kita untuk bertumbuh, berbuah lebat, selalu segar dan sukses dalam hidup ini. Bukankah itu yang kita rindukan?(DLS)

Doa: Tuhan, ajarlah kami merenungkan firmanMu sehingga kami dapat bertumbuh dan berbuah lebat. Amin.

 

Rabu, 24 Oktober 2018                                      

bacaan : Efesus 2 : 10 (T)

10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Disiapkan Untuk Mengerjakan Pekerjaan Baik

Jika kita mencermati, barang-barang yang dihasilkan secara langsung oleh tangan manusia (misalnya karya seni) memiliki nilai yang lebih besar daripada yang diproduksi dengan mesin. Batik tulis, apalagi dengan desain yang unik dan khusus, berharga sangat tinggi. Seandainya lukisan dan foto memiliki obyek dan tingkat keindahan yang sama, harga lukisan biasanya lebih mahal. Sadarkah kita bahwa kita bukan produk massal Allah? Setiap kita adalah unik di mata Allah. Setiap kita merupakan hasil karya-Nya yang indah, yang dipersiapkan dan dipercayakan sebuah pekerjaan baik sepanjang hidup kita. Allah menyediakan kita kemampuan untuk melakukan itu. Dengan tetap berserah dan hidup di dalam Allah, maka niscaya pekerjaan sorgawi itu akan bisa kita lakukan di sepanjang hidup kita.

Bacaan kita pada hari ini adalah tentang kasih karunia yang telah diberikan Allah kepada kita, Allah telah menganugerahkan keselamatan kepada kita melalui karya penebusan Kristus di kayu salib. Ketika kita telah ditebus dari segala dosa yang ada, maka Allah menyiapkan kita untuk melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Pekerjaan yang akan kita lakukan itu adalah sebuah pekerjaan yang baik, Allah sendiri yang telah menyediakannya bagi kita dan telah mempersiapkan segala sesuatunya. Tinggal bagaimana kita mengerjakannya dengan baik dan benar. Lakukanlah itu di dalam rumah tangga kita sebagai papa, mama. anak-anak dan orang saudara. Kerjakanlah pekerjaan baik melalui peranan kita sehingga mendatangkan berkat sukacita bagi semua anggota keluarga kita bersama dengan orang lain disekitar kita.(DLS)

Doa: Inilah hidup keluarga kami ya Tuhan, kami siap mengerjakan pekerjaan yang baik demi kemuliaan namaMu. Amin.

 

Kamis, 25 Oktober 2018                            

bacaan : Amsal 24 : 19 – 20 (T)

19 Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik. 20 Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam.  

Marah dan Iri Hati Adalah Monster Ganas

Marah dan iri merupakan monster ganas yang bisa merusak damai sejahtera dan sukacita di dalam hidup kita. Dia ada pada anak-anak, orang tua, baik pria dan wanita. Monster itu sangat membahayakan diri kita. Iri hati adalah perasaan tidak senang, tidak suka, tidak bahagia ketika kita melihat kesuksesan, keberuntungan dan kebahagiaan orang lain yang kita inginkan. Terkadang banyak anak Tuhan yang masih iri dengan kesuksesan orang fasik di dalam dunia. Firman Tuhan dalam bacaan hari ini bilang, “Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik. Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam.” Kita tidak boleh memelihara iri hati dalam kehidupan kita. Saat ada iri hati Tuhan tidak akan memberkati hidup kita. Ada hal-hal buruk yang akan terjadi dalam hidup kita saat kita marah dan iri; Merusak Hubungan Kita Dengan Tuhan. Saat kita marah dan iri, maka hubungan kita dengan Tuhan akan rusak. Terkadang kita akan iri lalu menjadi marah saat melihat rekan kita yang jarang ibadah tetapi hidupnya sukses dan kita protes dengan Tuhan. Hal itulah yang membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi terganggu. Jangan pelihara rasa marah dan iri dalam hidup agar hubungan kita dengan Tuhan tidak menjadi rusak. Merusak Hubungan Kita Dengan Sesama. Kalau kita adalah pengikut Kristus tetapi masih menyimpan rasa marah dan iri, maka kita sama halnya dengan manusia duniawi yang memikirkan hal-hal dunia. Saat ada marah dan rasa iri maka hubungan kita dengan sesama pun akan menjadi rusak. Karena iri hati mendatangkan perselisihan, pertengkaran dan perpecahan. Merusak Diri Kita Sendiri. Saat kita marah dan iri, selain merusak hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, maka dapat merusak diri kita sendiri sebab marah dan iri mengganggu metabolisme fisik tubuh kita.(DLS)

Doa: Tuhan, bersihkanlah hidup kami dari sifat marah dan iri. Amin.

 

Jumat, 26 Oktober 2018                             

bacaan : Amsal 17 : 13 – 15 (T)

13 Siapa membalas kebaikan dengan kejahatan, kejahatan tidak akan menghindar dari rumahnya. 14 Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai. 15 Membenarkan orang fasik dan mempersalahkan orang benar, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN. 

Bersyukurlah Untuk Sebuah Kebaikan

Saya teringat sebuah kalimat bijak, “Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah berasal dari si jahat, Membalas kebaikan dengan kebaikan pula adalah manusiawi, membalas kejahatan dengan kebaikan adalah kasih.” Orang yang membalas kebaikan dengan kejahatan, merupakan sikap tidak tahu berterima kasih. Orang yang tidak mengenal Allahpun sangat membenci sikap ini, apa lagi bagi seorang yang mengenal Allah. Konsekuensi yang akan diterimapun sangat mengerikan, “kejahatan tidak akan menghindar/pergi atau beranjak dari rumahnya”.  Kejahatan pasti akan menimpa orang yang memiliki karakter “suka membalas kebaikan dengan yang jahat”.

Gambaran hidup seperti ini ada pada ibu Yenni yang selalu marah, mencaci maki sampai berlaku kasar kepada saudara suaminya dari kampung, Tika. Jika kehilangan barang apapun, entah itu lupa di kantor ataupun di mana saja, ia selalu menuduhnya mencuri. Dan hal yang paling fatal adalah menuduh Tika berselingkuh dengan suaminya, bapak Erwin. Namun Tika tidak pernah mengeluh, bersungut bahkan marah. Ia sabar dan tabah menghadapi semuanya. Dan sifat ibu Yenni ini justru menimbulkan konflik dalam keluarga mereka. Padahal seharusnya ia bersyukur dengan adanya Tika, maka selain semua pekerjaan rumah beres, anak-anaknya pun aman karena selalu dijaga oleh Tika ketika ia dan suaminya pergi bekerja. Karakter buruk ini patut dibenci dan dihindari oleh setiap orang percaya dalam keluarga Kristen sebab Tuhan mengajarkan kita untuk saling mengasihi bahkan jika itu musuh sekalipun. Sifat Tika yang tetap mengasihi dan tidak balik membalas perlakuan jahat ibu Yenni menjadi pembelajaran bagi kita untuk selalu bersikap baik.(DLS)

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk selalu mengasihi dengan bersikap baik bagi sesama kami. Amin.

 

Sabtu, 27 Oktober 2018                                    

bacaan : Amsal 28 : 10 (T)

10 Siapa menyesatkan orang jujur ke jalan yang jahat akan jatuh ke dalam lobangnya sendiri, tetapi orang-orang yang tak bercela akan mewarisi kebahagiaan.

Tuhan Melindungi Kita Dari Perlakuan Orang Jahat

Anak saya bercerita kisah teman satu kelasnya waktu di SMP. Karena takut sepatunya basah akibat hujan deras yang turun, Deo menyimpan sepatunya dalam kantong plastik. Rencananya sesampai di sekolah baru akan dikenakannya. Sialnya ketika sudah di jalan, ia baru sadar sepatunya tertinggal di rumah. Tidak kehilangan akal Deo turun di depan kios dan membeli betadine serta perban lalu membubuhi betadine pada kakinya yang tidak luka kemudian diperban. Bersandal jepit ia lanjut ke sekolah. Pikirnya bila guru bertanya kenapa tidak pakai sepatu, ia punya alasan jitu untuk menjawabnya. Deo masih berusia 13 tahun, dan tanpa diajar sekalipun seorang anak dapat merancangkan siasat licik. Jadi janganlah heran bila kita menjumpai ada orang-orang di sekitar kita yang juga melakukannya untuk mencapai ambisi mereka. Dan bila kita menjadi sasaran kelicikan orang, janganlah takut dan tawar hati. Allah pegang kendali atas hidup kita. Tidak ada satu perkara yang menimpa kita, luput dari mata Allah. Orang yang merancangkan kejahatan atas kita pasti terperangkap oleh kejahatannya sendiri. Sementara berkat yang telah Allah siapkan bagi kita akan tetap menjadi milik kita. Asal kita tidak terpancing membalas kejahatan dengan kejahatan meskipun kita begitu kecewa mungkin saja pernah menjadi korban ambisi orang lain dan kompetisi yang tidak sehat. Allah sedang berurusan dengan kita. Kita ada dalam rencana damai sejahtera Allah. Siapapun kita, apapun posisi kita sekarang, Allah siap untuk mengangkat kita kembali. Peganglah yang baik dan lakukanlah yang tak bercela. Allah setia kepada hukum dan janji-Nya. Hari ini bersyukurlah kepada Allah. Bersyukurlah untuk semua perbuatan baik-Nya dan kesetiaan-Nya atas keluarga kita. Allah sangat mengasihi kita.(DLS)

Doa: Tuhan Yesus, kepada-Mu kami berseru dan daripada-Mu datang pertolongan atas kami. Amin.

 

*sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ-GPM bulan Oktober 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *