Santapan Harian Keluarga, 23 – 29 Desember 2018
AMBON, jemaatgpmsilo.org –
Minggu, 23 Desember 2018
bacaan : Lukas 1 : 39 – 45 (T)
Maria dan Elisabet
39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. 40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. 41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, 42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. 43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. 45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
Membarui Komitmen Untuk Saling Mengasihi
Keluarga kita berkumpul bersama malam ini untuk menyatakan syukur, sukacita dan rasa bahagia menyambut Tuhan Yesus dengan memberi tempat bagiNya hadir dalam rumah kita sehingga keluarga kita dapat hidup saling mengasihi. Natal tinggal dua hari lagi. Dan ini hendaknya membuat kita semakin sadar untuk meningkatkan cinta kasih dalam keluarga kita. Cinta kasih yang mungkin tak pernah terucapkan dan tak pernah dirasakan; cinta kasih yang mungkin terucapkan namun tak pernah dilakukan, sehingga hidup terasa hambar dan kosong. Tiap anggota keluarga sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri sehingga terasa waktu untuk berbagi kasih hampir tak pernah ada. Inilah waktunya untuk membangun komitmen baru dalam keluarga demi memperkuat tali kasih dan persaudaraan yang sejati, baik antar keluarga inti (papa-mama-anak) maupun antar keluarga besar (saudara dan kerabat). Dimana suka dan duka, susah dan senang kita jalani bersama, sebagaimana yang dilakukan oleh Maria kepada Elisabeth kerabat atau sanaknya. Maria dan Elisabeth saling menguatkan untuk menerima apa pun yang telah Tuhan katakan. Begitulah yang mesti kita lakukan juga. Selamat memperkuat ikatan tali kasih orang basudara melalui peristiwa Natal tahun ini!
Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur dan memuliakan namaMu karena malam ini kami bersatu hati menyambut kehadiranMu dan memberi tempat bagiMu dalam hidup keluarga kami. Amin
Senin, 24 Desember 2018
bacaan : Lukas 1 : 46 – 56
Nyanyian pujian Maria
46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” 56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Hati dan Jiwa Bersukacita
(Renungan Keluarga Persiapan Natal)
“Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku….” Itulah gambaran sukacita dan puji-pujian Maria setelah melewati berbagai pengalaman spiritualnya bersama Tuhan. Mengapa Maria memuji Tuhan ? Maria memuji dan mengagungkanTuhan sebagai Allah yang sangat peduli terhadap berbagai pergumulan umat yang berat dan Allah yang bertindak melakukan tindakan pembebasan dan penyelamatan kepada mereka. Allah yang menentang dan memberi hukuman kepada orang-orang kuat (para penguasa) yang bertindak sewenang-wenang dan mengorbankan orang kecil. Tetapi Allah yang melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang rendah hati, yang selalu berbuat baik untuk menolong orang lain, dan Allah memberkati orang-orang yang selalu bergantung dan berharap pada-Nya. Bagaimana Maria memuji Tuhan ? Maria memuji Tuhan dengan Jiwa dan hati, yang adalah pusat terdalam dari keseluruhan kehidupan manusia, artinya seluruh kehidupan Maria dipersembahkan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Maria tidak merasa dirinya hebat atau super, tetapi dia menyebut dirinya sebagai seorang hamba yang percaya bahwa apa yang Tuhan buat itu baik dan ia berserah pada kehendak Allah yang mempercayakan tanggungjawab besar bagi dirinya. Sebagai seorang Hamba, Maria bersedia untuk mendengar, menerima, dan taat serta setia melaksanakan kehendak Tuhan, walaupun dia harus menghadapi berbagai resiko yang berat. Puji-pujian menyambut kedatangan Tuhan tidak sekedar senandung lagu-lagu Natal atau semaraknya hiasan Natal, tetapi sikap hidup umat yang harus dibaharui agar hati dan jiwa sebagai pusat terdalam dari keseluruhan hidup mereka disadarkan untuk memuji Tuhan lewat pikiran, tutur kata dan laku hidup yang baik dan berkenan kepada Allah. Sikap orang-orang percaya yang merayakan Natal Kristus adalah: sikap seorang Murid (spiritualitas seorang Hamba). Sikap yang rendah hati dan bersedia dipakai oleh Allah untuk menyatakan kebaikan Tuhan kepada semua orang yang sementara mengalami berbagai persoalan berat. Allah selalu berpihak kepada mereka yang rendah, miskin dan tertindas dan yang berharap pada-Nya. Tetapi Allah juga tidak menolak mereka yang berkuasa dan kaya, bila kekuasaan dan kekayaan itu digunakan dengan benar untuk menolong dan menjadi berkat bagi banyak orang yang membutuhkan. Hanya dengan demikian makna perayaan Natal akan jadi berarti bagi kita dan bagi kemuliaan Allah. Selamat merayakan Natal Kristus…….! (MRT)
Doa : Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku… amin
Selasa, 25 Desember 2018
bacaan : Lukas 2 : 1 – 7
Kelahiran Yesus
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. 4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– 5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
Berilah Tempat Bagi Yesus Dalam Rumahmu
Hari ini seluruh umat Kristen sejagat merayakan Natal Kristus, hari kelahiran-Nya ke dunia ini. Semua serba baru, dan serba indah. Mulai dari rumah yang dicat baru, baju dan sepatu baru juga Kue Natal yang lezat. Setiap tahun ketika musim Natal tiba semuanya diubah menjadi indah dan meriah. Kita saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat Natal. Tetapi apakah sejak awal Natal memang semeriah yang kita rayakan seperti sekarang ini? Itu yang mesti kita renungkan bersama bahwa semuanya berawal dari sebuah kesederhanaan. Sang Bayi Kristus hanya dibungkus dengan kain lampin dan terbaring dalam palungan. Tidak ada panitia penyambutan, yang ada hanyalah Yusuf, Maria dan para gembala. Tidak ada spanduk dan baliho, yang ada hanya sepotong gubuk reyot tempat makan hewan. Tidak ada ucapan selamat para penggemar, yang ada hanyalah lantunan pujian malaikat yang memuji Allah di tempat yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Itulah Natal, bahwa yang lahir dalam kesederhanaan itu adalah Juruselamat dunia – Mesias – Raja Damai. Dialah Yesus Kristus Putra Natal. Ia datang membawa pengharapan dan damai sejahtera bagi seisi dunia ini. Marilah kita menyambut dan merayakan hari kelahiranNya sambil memberi tempat bagi Dia dalam rumah kita. Perbarui hati dan hidup kita untuk menjadi berkat bagi dunia supaya dunia pun beroleh sukacita dan damai sejahtera serta hidup dalam pengharapan. Selamat Hari Natal Kristus, 25 Desember 2018.
Doa: Tuhan, biarlah damai Natal selalu menaungi seluruh kehidupan kami. amin
Rabu, 26 Desember 2015
Bacaan : Yohanes 1: 14 – 18 (T)
14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. 15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” 16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; 17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. 18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Diberi Kuasa Menjadi Anak-Anak Allah
Natal adalah peristiwa Tuhan berdiam di antara manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Dia bukan Tuhan yang jauh tapi sangat dekat kepada manusia, artinya Dia adalah Imanuel. Dia ada bersama kita dalam suka maupun duka kita. Inilah kekuatan buat kita. Natal membuat kita tidak takut menghadapi tantangan dan persoalan hidup sebab kita tidak sendiri. Dan kalau Tuhan mengasihi serta menyertai kita maka hidup kita harus mencerminkan hidup dari orang yang dikasihi oleh Tuhan. Kita harus hidup seperti layaknya anak-anak Allah, yang mengasihi Tuhan, sesama, dan makhluk ciptaan yang lain. Hidup yang mampu mempengaruhi kebersamaan yang lebih luas menjadi persekutuan yang saling berbagi, saling menopang dan saling memberdayakan. Natal dengan demikian bukan saja menerima; menerima kasih karunia Tuhan (keselamatan). Tetapi Natal adalah juga saat kita memberi. Memberi hidup untuk dipergunakan oleh Tuhan menjadi alat damai sejahtera-Nya, supaya kita belajar mengasihi di mana ada kebencian; mempersatukan di mana ada pertentangan; menimbulkan perngharapan di mana terdapat ketidakpastian. Marilah kita mulai dari setiap keluarga kita sendiri.
Doa: Tinggal dan berdiamlah bersama kami dan jadikan hidup kami alat damai sejahtera-Mu, ya Kristus Putra Natal. Amin.
Kamis, 27 Desember 2018
bacaan : Yohanes 1 : 19 – 28
Kesaksian Yohanes tentang dirinya sendiri
19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” 20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” 21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” 22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” 23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.” 24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. 25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” 26 Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, 27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” 28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.
Kualitas Seorang Pelayan
Seorang hamba biasanya merasa dirinya kecil di hadapan Tuhan. Sedangkan seorang pelayan yang merasa dirinya besar, sering memperlakukan dirinya sebagai seorang tuan di hadapan Tuhan, sesungguhnya dia bukanlah seorang pelayan Tuhan. Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia meninggikan orang yang rendah hatinya namun merendahkan orang yang meninggikan dirinya. Belajar dan memperhatikan kehidupan Yohanes Pembaptis dan kualitas kehidupan yang ada dalam dirinya menjadikan dia seorang yang besar, kita dapat menyimpulkan bahwa kebesaran diri seseorang tidaklah tergantung kepada latar belakang dirinya. Dilahirkan dalam keluarga yang kaya raya tidak dengan sendirinya membuat kita menjadi pribadi yang besar. Tetapi berproses menjadi orang yang rendah hati membuat kita ditinggikan oleh Allah. Artinya siapapun dan bagaimanapun latar belakang hidup kita, selama kita merendahkan diri dihadapan Tuhan, mengenal siapa diri kita dan mengenal siapa yang kita layani dengan rendah hati, maka kita akan ditinggikan oleh Allah
Doa: Tuhan, jadikanlah kami pelayan yang rendah hati dan berkualitas. Amin.
Jumat, 28 Desember 2018.
bacaan : Markus 1 : 12 – 13
Pencobaan di padang gurun
12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. 13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.
Tuhan selalu Menyertai di Padang Gurun
Siapa pun tidak ingin hidup atau memasuki masa padang gurun, karena padang gurun identik dengan suatu keadaan yang gersang dan tandus, penuh dengan kesengsaraan. Meski demikian, kadangkala Tuhan mengijinkan kita melewati masa-masa sukar tersebut, seperti yang pernah dialami oleh bangsa Israel. Mereka tidak dituntun melalui jalan yang singkat atau instan, melainkan dibawa Tuhan berputar-putar melewati padang gurun selama 40 tahun sebelum mencapai Kanaan. Masa padang gurun bisa berarti masa-masa sukar dalam kehidupan kita. Bisnis sedang merosot atau mungkin sudah berada di ujung tanduk, keluarga sedang dalam masalah, kesehatan memburuk dan kita mengalami krisis keuangan, bahkan dikejar-kejar utang. Di masa-masa sulit inilah hati kita mulai tergoncang, stres, mengeluh, bersungut-sungut dan bahkan kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Padahal kita bisa melihat ‘keindahan’ masa padang gurun dengan belajar dari pengalaman bangsa Israel, dimana mereka mengalami mujizat Tuhan yaitu, ketika Air Mara pahit menjadi tawar, malam hari ada tiang api yang menerangi serta tiang awan di siang hari. Jika saat ini anda sedang mengalami masa padang gurun, masalah yang berat, janganlah mengeluh, ini adalah kesempatan kita untuk melihat mujizat Tuhan dinyatakan.
Doa : Ya Tuhan, tolonglah kami untuk memaknai penyertaanMu yang Ajaib, amin
Sabtu, 29 Desember 2018
bacaan : Markus 3 : 7 – 12
Yesus menyembuhkan banyak orang
7 Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. 10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.” 12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.
Percaya Saja Pada Yesus
Seseorang yang terbaring sakit akan semakin memahami apa artinya Hidup, berbagai cara ditempuh untuk menikmati kesembuhan dan hidup. Dalam bacaan kita, Markus 3 : 7 – 12, dikatakan bahwa demi memperjuangkan hidup, banyak orang mengikuti Yesus dan kemanapun Yesus pergi, mereka selalu mengikutiNya. Mereka adalah orang-orang sakit yang mendambakan kesembuhan, orang-orang yang bermasalah dan merindukan jalan keluar. Ketika orang banyak itu datang kepada Yesus, Ia tidak menolak mereka. Yesus selalu membuka tangan untuk menyambut siapapun.Yesus memperlakukan mereka dengan baik, Ia mendengar doa mereka dan bertindak untuk memulihkan mereka. Yesus memberikan jalan keluar dan Ia menyembuhkan mereka. Bayangkan bagaiamana perasaan mereka yang disembuhkan dan dipulihkan oleh Yesus, pasti mereka sangat senang dan bahagia. Demikian juga dengan kehidupan kita sampai di hari ini, sepanjang perjalanan 363 hari di tahun 2018, ada banyak hal yang kita alami. Apakah itu sakit penyakit, permasalahan keluarga, kebutuhan hidup, pekerjaan, pendidikan anak – anak, dan berbagai masalah lainnya. Bahkan mungkin sampai saat ini pun masih ada masalah yang menjadi beban pergumulan. Bacaan kita, mengajak kita untuk belajar dari pengalaman orang banyak yang setia mengikuti Yesus dan membawa setiap persoalannya untuk diselesaikan oleh Yesus. Ingatlah bahwa Yesus tidak pernah menolak siapapun yang datang kepadaNya. Ia selalu membuka kedua tanganNya dan berkata : “marilah kepadaKU……..” (MRT)
Doa : Tuhan Yesus, hanya kepada-Mu aku percaya, amin
*sumber : SHK bulan Desember 2018 terbitan LPJ-GPM

