Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 November 2018
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 18 Nopember 2018
bacaan : Lukas 18 : 1 – 8 (T)
Perumpamaan tentang hakim yang tak benar
Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. 2 Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. 4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, 5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” 6 Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! 7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Jang Pastiu! Sombayang Tarus, Sampe Dapa Jawabang!!
Apa tempo Tuhan jawab katong pung sombayang ee?” Tanya skaligus keluhan ini sering katong dengar dari mulut orang yang ada sombayang par dong pung “maksud”. Jawab pertanyaan ni, mari katong balajar dari Yesus pung ajarang par Antua pung anana bua. Yesus bilang ande-ande satu soal parampuang janda yang mangadu dia pung hal par hakim supaya hakim bela dia. Mar tagal hakim ni seng taku Tuhan, la dia lai seng paduli deng orang laeng, jadi dia seng urus janda ni pung parkara. Mar janda ni jua seng pata smangat, dia datang tarus-tarus par hakim tu. Akang pung laste, hakim biking apa yang janda ni minta, tagal hakim ni seng suka kalo janda ni datang tarus-tarus par biking pastiu dia.
Dar ande-ande ni Yesus mau kasi ketegasang par Antua pung anana bua waktu itu deng katong, Antua pung anana bua oras ini ni lai, supaya jang katong pastiu par sombayang.. Jang “pastiu” tu akang pung arti : “Jang menyerah”, “jang pata smangat” deng “jang barenti sombayang.” Jadi kalo katong ada sombayang par satu maksud, sombayang tarus par akang sampe katong dapa akang pung jawabang.
Mar ada satu hal lai yang katong musti inga, kalo katong seng bole paksa katong pung kehendak par Tuhan. Jang katong biking jawabang tarus katong sorong akang pi par Tuhan la bilang Tuhan biking iko akang. Tagal labe bae Tuhan jawab katong iko Antua pung mau tagal itu yang paleng bae par katong. Sama deng Tuhan Yesus waktu sombayang di taman Getsemani to? Antua bilang : Jang iko Beta pung mau Bapa, mar biar bapa pung mau yang jadi par Beta jua…(MKT).
Doa: Tuhan, beta blajar par seng pastiu, la sombayang tarus sampe ada jawabang yang sesuai deng Tuhan pung mau par beta.. Amin!!!
Senin, 19 November 2018
bacaan : 2 Tawarikh 6 : 12 – 17 (T)
Doa Salomo
12 Kemudian berdirilah ia di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, lalu menadahkan tangannya; 13 –karena Salomo telah membuat sebuah mimbar tembaga yang panjangnya lima hasta, lebarnya lima hasta dan tingginya tiga hasta, yang ditaruhnya di halaman–;ia berdiri di atasnya lalu berlutut di hadapan segenap jemaah Israel dan menadahkan tangannya ke langit, 14 sambil berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit dan di bumi; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; 15 Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kaufirmankan dengan mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini. 16 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, peliharalah apa yang Kaujanjikan kepada hamba-Mu Daud, ayahku, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus di hadapan-Ku dan tetap akan duduk di atas takhta kerajaan Israel, asal anak-anakmu tetap hidup menurut hukum-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku. 17 Maka sekarang, ya TUHAN, Allah Israel, biarlah terbukti kebenaran firman-Mu yang telah Kauucapkan kepada hamba-Mu Daud.
Biking Tampa Khusus Par Bicara Deng Tuhan
Beta inga waktu kacil, kalo Papa deng Mama dapa gaji, dong taru akang kepeng gaji tu di dalang piring “mister” (piring natsar) la dong panggel katong, dong pung anana deng sodara-sodara yang ada tinggal deng katong waktu itu, par badiri malingkar meja natsar baru sombayang. Bagitu lai kalo dong mau sombayang par satu maksud, dong berlutut di muka “meja natsar” baru sombayang. Beta parna tanya Papa, mangapa kong katong musti badiri di meja natsar dalang kamar yang kacil ni baru sombayang? Mangpa seng di voris yang labe Tagal beta masi kacil, Papa cuma bilang bagini : “Nona, meja natsar ni katong pung tampa sombayang par Tuhan. Katong bisa sombayang di mana sa, mar labe bai kalo sombayang di sini.”
Memang Tuhan tu ada di mana-mana, mar manusia ni sangat terbatas, manusia memerlukan tempat dan waktu untuk sombayang par Tuhan. Balajar dari Salomo deng umat Israel, ternyata Salomo su biking tampa khusus (mimbar- mezbah Tuhan) par sombayang. Jadi waktu sombayang deng umat, Salomo badiri di Mesbah tu baru sombayang. (ay.12-13)
Bagitu lai deng Tuhan Yesus, dalang Antua pung ajarang soal sombayang Antua jua bilang : Maso di kamar, tutu pintu la sombayang bagini : Bapa kami…” Jadi sebetulnya katong juga musti pung tampa khusus di ruma par sombayang. Tampa yang katong rasa aman, tenang deng nyaman par bangong hubungan deng Tuhan. Tampa yang jadi katong pung mezbah dalang keluarga. Di mezbah tu katong somba Tuhan (Salomo berlutut) la bilang katong pung maksud deng sunggu-sunggu par Tuhan. Itu skaligus mau kasi lia kalo katong memang salalu ingin bicara deng Tuhan dan biking Antua jadi katong pung Tamang Bae.(MKT).
Doa: Tuhan, katong mau bicara deng Tuhan salalu, Birlah ada waktu deng tampa yang katong siapkan par Tuhan. Amin!
Selasa, 20 November 2018
bacaan : 2 Tawarikh 6 : 18 – 21 (T)
18 Tetapi benarkah Allah hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. 19 Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu ini! 20 Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan akan menjadi kediaman nama-Mu–dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini. 21 Dan dengarkanlah permohonan hamba-Mu dan umat-Mu Israel yang mereka panjatkan di tempat ini; bahwa Engkau juga yang mendengarnya dari tempat kediaman-Mu, dari sorga; dan apabila Engkau mendengarnya, maka Engkau akan mengampuni.
Berdoalah Dengan Sungguh Agar Rumah Kita Menjadi Rumah Doa…
Berdoa dengan sungguh-sungguh untuk sebuah maksud sering dilakukan oleh orang kristen. Namun kesungguhan yang diperlihatkan kadang bersifat sesaat.
Saudaraku, Salomo dan umat Israel dalam bacaan kita, melandasi seluruh rencana membangun kembali baith Allah dengan doa. Dalam doanya Salomo mengagungkan Allah dan merendahkan dirinya di hadapan Allah. Dia tahu ketidaklayakan dirinya dan umatnya berhadapan dengan Allah yang Agung. Karena itu Sebagai pemimpin umat, Salomo yang langsung memimpin sendiri doa itu memohon dan “menghiba-hiba” kepada Tuhan (kata orang tatua: PALETI TUHAN) agar Tuhan menolong umat untuk membangun sekaligus menjadikan Baith Allah secara efektif sebagai rumah doa.
Saudaraku, belajar dari Salomo dan Israel, marilah kita melandasi seluruh “perjuangan” kita kepada Tuhan. Kita yang sedang berjuang untuk mendapatkan hidup layak dengan bekerja mencari nafkah bagi keluarga. Kita sedang berjuang untuk membela kebenaran dan keadilan karena diperlakukan dengan tidak adil. Kita sedang berjuang untuk mendapatkan kebebasan karena merasa tertekan dan tetindas. Kita yang sedang berjuang untuk sembuh dari sakit. Dan masih banyak perjuangan lainnya yang sedang kita lakukan. Seperti salomo dan Israel, kita juga meminta dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan agar Tuhan mengabulkan doa dan perjuangan kita lalu menolong kita untuk menjadikan rumah kita sebagai bath Allah bagi Tuhan di mana Tuhan selalu bersemayam di dalamnya. Rumah kita menjadi rumah doa bagi Tuhan. Tetapi ingat, Tuhan melihat hati kita, karena itu berdoalah dengan sungguh-sungguh.(MKT).
Doa: Bapa, jadikanlah rumah kami rumah doa bagi-Mu …. Amin!
Rabu, 21 November 2018
bacaan : 2 Tawarikh 6 : 22 – 27 (T)
22 Jika seseorang telah berdosa kepada temannya, lalu diwajibkan mengangkat sumpah dengan mengutuk dirinya, dan ia datang bersumpah ke depan mezbah-Mu di dalam rumah ini, 23 maka Engkaupun hendaklah mendengar dari sorga dan bertindak serta mengadili hamba-hamba-Mu, yakni membalas perbuatan orang bersalah dengan menanggungkannya kepada orang itu sendiri, tetapi membenarkan orang yang benar dengan membalaskan kepadanya sesuai dengan kebenarannya. 24 Apabila umat-Mu Israel terpukul kalah oleh musuhnya karena mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka berbalik dan mengakui nama-Mu, dan mereka berdoa dan memohon di hadapan-Mu di rumah ini, 25 maka Engkaupun kiranya mendengar dari sorga dan mengampuni dosa umat-Mu Israel dan mengembalikan mereka ke tanah yang telah Kauberikan kepada mereka dan nenek moyang mereka. 26 Apabila langit tertutup, sehingga tidak ada hujan, sebab mereka berdosa kepada-Mu, lalu mereka berdoa di tempat ini dan mengakui nama-Mu dan mereka berbalik dari dosanya, sebab Engkau telah menindas mereka, 27 maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga dan mengampuni dosa hamba-hamba-Mu, umat-Mu Israel, –karena Engkaulah yang menunjukkan kepada mereka jalan yang baik yang harus mereka jalani–dan Engkau kiranya memberikan hujan kepada tanah-Mu yang telah Kauberikan kepada umat-Mu menjadi milik pusaka.
Beribadah dan berdoalah dengan kerendahan hati!!
Banyak orang Kristen yang terlalu keras hati dan terus melawan Tuhan sehingga tanpa sadar mereka berada di ambang batas murka Tuhan. Hidup mereka telah rusak di hadapan Allah. Banyak pula orang yang mengaku Kristen, namun tetap mencuri, berzinah, memberontak, menipu, serta mengumbar kemarahan, egoisme, dan ambisi duniawi, yang semuanya membangkitkan murka Tuhan. Tetapi setelah melakukan semua itu, tanpa rasa bersalah mereka masuk ke dalam persekutuan – persekutuan ibadah dan beribadah dengan khusuk. Yang lebih menyedihkan lagi, ada orang yang tanpa risih atau canggung datang ke persekutuan ibadah tidak dengan pasangan hidup yang sudah dipersatukan dalam pernikahan, tetapi dengan selingkuhannya.
Saudaraku, belajar dari bacaan hari ini, Salomo mengajak kita untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, mengakui kesalahan lalu memperbaikinya baru datang kepada Tuhan. Sebab jika tidak demikian, maka akan percuma ibadah dan doa kita. Malah Tuhan akan menjadi murka dan menghukum kita karena ibadah kita tidak sejalan dengan perilaku kita.
Hiduplah dalam takut akan Tuhan! Bila kita bersalah, kita harus segera berdamai dengan Tuhan, jangan tunggu sampai kita berada dalam kondisi yang kritis dan keadaan terjepit baru kita menyesali diri. memang biasanya pada saat pencobaan, ketika ada tekanan dan dalam keadaan darurat, kita merindukan terjadinya hal-hal yang dahsyat atau pun mukjizat. Tuhan pasti mampu berkarya dan melakukannya bagi kita karena Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang takut akan Dia. Namun yang Tuhan inginkan adalah : kerendahan hati dan kesucian hidup kita.(MKT).
Doa: Ya Tuhan, kami bukan orang kudus, kami telah berdosa kepada-Mu. Ampuni kami dan ajarlah kami untuk selalu rendah hati. Amin.
Kamis, 22 November 2018
bacaan : 2 Tawarikh 6 : 28 – 33 (T)
28 Apabila ada kelaparan di negeri ini, apabila ada penyakit sampar, hama dan penyakit gandum, belalang dan belalang pelahap, apabila musuh menyesakkan mereka di salah satu kota mereka, apabila ada tulah atau penyakit apapun, 29 lalu seseorang atau segenap umat-Mu Israel memanjatkan doa dan permohonan di rumah ini dengan menadahkan tangannya–karena mereka masing-masing mengenal tulahnya dan penderitaannya sendiri– 30 maka Engkaupun kiranya mendengar dari sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau mengampuni, dan membalas kepada setiap orang sesuai dengan segala perbuatannya, karena Engkau mengenal hatinya–sebab Engkau sajalah yang mengenal hati anak-anak manusia, — 31 supaya mereka takut akan Engkau dan mengikuti segala jalan yang Engkau tunjukkan selama mereka hidup di atas tanah yang telah Kauberikan kepada nenek moyang kami. 32 Juga apabila seorang asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari negeri jauh oleh karena nama-Mu yang besar, tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung, dan ia datang berdoa di rumah ini, 33 maka Engkaupun kiranya mendengar dari sorga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, dan kiranya Engkau bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel, dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini.
Berdoa Untuk Orang Lain Termasuk Mereka Yang Tak Seiman..
Tiga bulan terakhir ini (Agustus – Oktober) sudah begitu banyak bencana alam yang melanda bumi Nusantara dan memakan korban jiwa serta harta yang tidak sedikit. 31 Agsutus gempa lombok, 28 September gempa palu dan Donggala, 11-12 Oktober banjir bandang di Mandailing Natal – Sumatera Utara dan Tanah Datar – Sumatera Barat. Bersamaan dengan itu terjadi gempa di Situbondo/ Sumenep. Belum lagi sejumlah gunung berapi yang mengeluarkan lahar dan debu panas serta sejumlah daerah yang kekeringan namun di daerah lainnya terendam banjir. Dan menjadi korban lebih banyak mereka yang tidak seiman dengan kita.
Dalam doanya kepada Tuhan, Salomo meminta 2 hal :
- Baith Allah menjadi tempat pemulihan. Memulihkan keadaan orang yang “terluka” (fisik dan non fisik) adalah kewajiban kita sebagai orang percaya. Sebelum kita melakukan sebuah aksi nyata, yang paling pertama mesti kita lakukan adalah mendoakan mereka yang “terluka” itu dan meminta Tuhan turun tangan untuk membantu mereka. Biarlah siapa saja Tuhan pakai, termasuk saudara dan beta sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong mereka.
- Baith Allah menjadi tempat di mana orang asing dapat diterima dan dilindungi. Doa ini mengajak kita untuk tidak pandang buluh untuk memperlihatkan rasa peduli kita. Kepedulian kita harus menjangkau “orang asing” termasuk mereka yang menjadi asing bagi kita karena berbeda keyakinan. Karena itu sebelum melakukan aksi nyata, sekali lagi kita juga harus mendoakan mereka. Jangan “pamali” untuk bedoa bagi mereka yang tidak seiman. Mereka adalah saudara kita, mereka juga adalah keluarga kita yang perlu kita doakan dan tolong. Kata Tuhan Yesus : Ada padaku domba yang lain yang bukan dari kandang ini (Yoh. 10:16).(MKT).
Doa: Tuhan, tolong kami agar mau peduli dan berdoa kepada orang lain termasuk mereka yang tidak seiman dengan kami. Amin.
Jumat, 23 November 2018
bacaan : Daniel 9 : 1 – 19 (T)
Doa Daniel
Pada tahun pertama pemerintahan Darius, anak Ahasyweros, dari keturunan orang Media, yang telah menjadi raja atas kerajaan orang Kasdim, 2 pada tahun pertama kerajaannya itu aku, Daniel, memperhatikan dalam kumpulan Kitab jumlah tahun yang menurut firman TUHAN kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni tujuh puluh tahun. 3 Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu. 4 Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu! 5 Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu, 6 dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri. 7 Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau. 8 Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. 9 Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia, 10 dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya. 11 Segenap orang Israel telah melanggar hukum-Mu dan menyimpang karena tidak mendengarkan suara-Mu. Sebab itu telah dicurahkan ke atas kami kutuk dan sumpah, yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, hamba Allah itu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Dia. 12 Dan telah ditetapkan-Nya firman-Nya, yang diucapkan-Nya terhadap kami dan terhadap orang-orang yang telah memerintah kami, yakni bahwa akan didatangkan-Nya kepada kami malapetaka yang besar, yang belum pernah terjadi di bawah semesta langit, seperti di Yerusalem. 13 Seperti yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, segala malapetaka ini telah menimpa kami, dan kami tidak memohon belas kasihan TUHAN, Allah kami, dengan berbalik dari segala kesalahan kami dan memperhatikan kebenaran yang dari pada-Mu. 14 Sebab itu TUHAN bersiap dengan malapetaka itu dan mendatangkannya kepada kami; karena TUHAN, Allah kami, adalah adil dalam segala perbuatan yang dilakukan-Nya, tetapi kami tidak mendengarkan suara-Nya. 15 Oleh sebab itu, ya Tuhan, Allah kami, yang telah membawa umat-Mu keluar dari tanah Mesir dengan tangan yang kuat dan memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini, kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik. 16 Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami. 17 Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. 18 Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. 19 Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!”
Berdoa dan Jadilah JURU SYAFAAT
Berdoa untuk diri sendiri dan keluarga dalam sebuah keluarga, itu biasa. Tetapi berdoa untuk orang lain, untuk pemerintah, dan gereja, biasanya hanya dilakukan dalam persekutuan seperti ibadah minggu, unit wadah-wadah atau persekutuan etnis dan perkumpulan lainnya. Pengalaman menarik yang diperoleh dalam Kunjungan Akhir Tahun, saat akhir saya menanyakan “Beta mau sombayang apa saja ni? Yang menjadi jubir (Papa/ mama) meminta doa untuk keluarga batih [orang seisi rumah] saja. Dan saya pun bertanya : Mama deng Bapa punya anak serani? Mereka menjawab tetapi sebelumnya pikir dan hitung dengan jari dulu. “Ada tiga kapa ibu” Saya bertanya lagi : Mengapa kapa? Kapa berarti belum pasti. Kesimpulannya, jarang atau mungkin seng inga ana sarani dalam doa keluarga to?
Daniel menyadari akan alasan mengapa Allah membuang Israel ke Babel, setelah dia membaca Firman Tuhan. Kesadaran ini mengharubiru pikiran dan perasaan Daniel lalu dengan segala kerendahan hati Daniel berdoa dan memohon keampunan Allah bagi umat, bagi para raja, bagi pemimpin Israel lainnya tetapi juga bagi leluhurnya. Apa yang dilakukan Daniel dan pengalaman KAT di atas menjadi pelajaran berharga bagi kita. Sehingga dalam doa janganlah kita hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga batih saja tetapi jadilah juru syafaat untuk mendoakan semua orang , anak-anak sarani, tetangga kiri-kanan, para pemimpin bangsa, para pelayan dan juga bagi mereka yang berada dalam kesulitan seperti dalam bencana, peperangan dsb. Karena jika atas doa kita para pemimpin memimpin dengan bijak maka kita akan sejahtera, para pelayan melayani dengan baik, iman kita bertumbuh, para “tetangga” (rumah/ keyakinan dll) berhati baik, kitapun rukun.(MKT).
Doa: Tuhan, jadikan aku JURU SYAFAAT…Amin.
Sabtu, 24 November 2018
bacaan : 2 Tawarikh 6 : 34 – 42 (T)
34 Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 35 maka Engkau kiranya mendengar dari sorga doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka. 36 Apabila mereka berdosa kepada-Mu–karena tidak ada manusia yang tidak berdosa–dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat, 37 dan apabila mereka sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di negeri tempat mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, 38 apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 39 maka Engkau kiranya mendengarkan dari sorga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan segala permohonan mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada mereka, dan Engkau kiranya mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu. 40 Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. 41 Dan sekarang, bangunlah ya TUHAN Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya, ya TUHAN Allah, imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita karena kebaikan-Mu. 42 Ya TUHAN Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud, hamba-Mu itu.”
Berdoa Untuk Mendapatkan Kemenangan Atas Peperangan
Hidup di dunia ini ibarat kita sedang berada dalam peperangan. Karena setiap hari memang kita sedang berperang. Berperang melawan apa sajakah, kan kita sudah merdeka?? Mama, Papa Oma, Opa deng anak-anak, saat ini kita sedang berperang melawan:
- Sampah, ada banyak orang yang lego sampah dengan sembarang. Tidak berpikir akan ke mana arah sampah ini. Masuk got dan bikin mampet? Masuk rumah orang waktu hujan turun dan banjir? Yang penting tangan seng pegang sampah, lego saja.
- Kebodohan, ada banyak anak-anak kita yang sudah malas belajar. Mereka ke sekolah asal-asalan. Waktu malam kalau tidak ada wifi di rumah, keluar untuk cari tempat agar bisa “TADAH WIFI”. Kalau mama papa sudah ngantuk dan kurang peduli untuk mencari, menemukan dan membawa pulang mereka, maka sampai jam 01-02 tengah malam bahkan hingga matahri terbit mereka masih berkeliaran di luaran. Mereka mendapat banyak pelajaran tetapi sayang pelajaran itu membuat moral mereka menjadi rusak
- Perzinahan, ada banyak pasangan yang tidak lagi setia pada janji pernikahan. Mereka Ber-STT (selingkuh tipis-tipis, abis itu tipis-tebal dan meningkat menjadi tebal-tebal, kalau yang terkhir ni, su seng malu dan sembunyi-sembunyi lai) Akhirnya banyak rumah tangga terancam bubar. “Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku”, kata Betha S.
- Korupsi, ada banyak orang yang ingin cepat kaya. Liat uang mata ijo, hati galap, sikat yang bukan menjadi hak
- Berbagai kejahatan lainnya.
Persekutuan keluarga, bacaan hari ini mengajak kita untuk berdoa dan meminta Tuhan menolong agar kita menjadi pemenang dalam berbagai peperangan yang sedang kita hadapi.(MKT).
Doa: Inilah hidup keluarga kami ya Tuhan, jadikan kami pemenang. Amin.
*sumber : Santapan Harian Keluarga bulan November 2018 LPJ-GPM

