fbpx

Santapan Harian Keluarga, 17-23 Pebruari 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 17 Februari 2019                     

bacaan : Yesaya 1 : 10 – 20 (T)

Bertobat lebih baik dari mempersembahkan korban

10 Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! 11 “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? 13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. 14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. 15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. 16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! 18 Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. 19 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. 20 Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Menolong Orang Lain Adalah Anugerah

David George Lloyd  adalah  Perdana  Menteri Inggris yang  memperjuangkan perdamaian antara Perancis dan Jerman pada tahun 1918 dalam  perjanjian Perdamaian  Versilles  bersama-sama dengan Presiden  Woodrow Wilson dari Amerika Serikat dan Georges Clemenceau dari Perancis yang disebut ‘THE BIG THREE’ pada Perang Dunia I. Ia terpilih sebagai anggota Parlemen yang kemudian mengantarnya menjadi Perdana Menteri Inggris pada tahun 1916-1922. George Lloyd mengaku bahwa ia bisa seperti itu, karena ibunya.  Ayahnya meninggal dunia  ketika Lloyd berusia 1 tahun.  Beberapa waktu kemudian ia mengalami penderitaan sakit yang parah dan hampir meninggal. Untuk mempertahankan hidupnya, ibunya harus berjalan kaki sejauh 5 mil untuk mencari dokter. Awalnya dokter itu tidak mau datang untuk menolongnya karena menganggap mereka hanya orang miskin -seorang janda dan seorang anak yatim. Mereka pasti tidak dapat membayarnya dan kalau dia besarpun akan tetap menjadi pekerja miskin. Tetapi panggilan kemanusiaannya mendorong ia untuk tetap datang mengobati anak itu yang ternyata dikemudian hari menjadi seorang perdana menteri Inggris Raya. Dokter itu telah melakukan apa yang harus ia lakukan bagi seorang anak yatim dan ibu janda. Tuhan dalam bagian  Alkitab kita hari ini mengatakan: ”Belajarlah berbuat baik, usahakan keadilan, kendalikan orang kejam, belalah hak anak yatim dan perjuangkan perkara janda. Artinya kita diajak untuk menghargai dan membela hak orang lain terutama mereka yang lemah seperti ibu janda, dan anak-anak yatim piatu, itulah yang dikehendaki oleh Tuhan dan itu juga merupakan ibadah sejati kita yang menyatakan keberpihakan kepada keadilan.(DLS).

Doa: Ya Tuhan pakailah kami sebagai alat dalam tanganMu untuk menolong orang lain yang ada di sekitar kami. Amin.

 

Senin, 18 Februari 2019                              

bacaan : Mikha 6 : 6 – 8 (T)

6 “Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? 7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?” 8 “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” 

Berlaku Adil, Mencintai Kesetiaan dan Rendah Hati

Karakter adil, mencintai kesetiaan dan rendah hati merupakan cerminan dari kekudusan hidup, yang mesti mewarnai hidup kita orang percaya. Sebab itulah sifat-sifat Allah yang kita imani, sembah dan muliakan sebagai Allah yang kudus. Dikatakan: “Hai anak manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik……” Maksudnya semua yang baik untuk dilakukan oleh kita, telah diberitahukan Tuhan kepada kita sesuai kebenaran firmanNya. Jadi seandainya ada orang miskin yang melakukan kesalahan, jangan karena dia miskin lalu kita membenarkan dia. Atau karena dia miskin, dan dia benar, tapi disalahkan. Sedangkan bagi orang kaya, jangan karena dia kaya, ketika melakukan kesalahan tapi dibenarkan. Ini tindakan yang keliru, karena telah memutarbalikan hukum. Hukum tidak lagi berpihak pada keadilan, tetapi pada kepentingan. Padahal yang Tuhan kehendaki adalah supremasi hukum mesti ditegakkan. Orang Kristen harus berani mengatakan ya, untuk yang benar, dan tidak, untuk yang salah bagi siapa pun tanpa pandang bulu. Begitu juga dalam hidup berkeluarga, Tuhan menghendaki keadilan, hidup keluarga yang mencintai kesetiaan dan juga rendah hati satu terhadap yang lainnya. Tuhan mempercayakan papa dan mama untuk menjadi pemimpin yang bertindak adil, saling setia dan hidup rendah hati dalam keluarga bersama anak-anak cucu, bahkan di gereja dan masyarakat supaya semua orang merasakan kehadiran Tuhan sebagai Hakim yang adil. Oleh karena itu, praktek suap dalam kehidupan orang percaya mesti ditiadakan. Marilah kita menjadi hamba yang rendah hati, setia melayani dengan adil dan benar, sebab melaluinya hidup kita diberkati.(DLS).

Doa:   Ya Tuhan, bentuklah hati kami untuk hidup adil, saling setia dan rendah hati bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.

 

Selasa, 19 Februari 2019                           

bacaan : Matius 22 : 34 – 40 (T)

Hukum yang terutama

34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Kasih Adalah Aksi

Seorang wanita miskin yang berkali-kali meminta pelayanan pada seorang pendeta terkenal, tapi tak pernah dilayani, akhirnya ia menulis sebuah surat kepada si pendeta yang berbunyi: “Aku lapar dan kau membentuk kelompok diskusi untuk mendiskusikan kelaparanku. Aku sakit, dan kau berlutut menaikkan syukur kepada Tuhan atas kesehatanmu. Aku tak punya tempat berteduh dan kau berkhotbah tentang kasih Tuhan sebagai tempat perteduhan rohani. Aku kesepian, dan kau pergi meninggalkan aku sendirian untuk  berdoa bagiku.” Sungguh keadaan yang ironis. Sangat menyedihkan mengetahui seorang pendeta yang telah terlanjur terkenal, jadi tidak punya waktu bagi seorang wanita miskin. Orang, yang justru akan diprioritaskan oleh Yesus dalam pelayanan-Nya. Alangkah tragis, karena si pendeta berkata-kata tentang kepedulian terhadap orang miskin, namun tak bertindak, melakukannya!

Kasih adalah tindakan. Kasih bukanlah sekedar khotbah dari mimbar yang berapi-api tentang bagaimana menolong orang miskin. Tapi kasih adalah sebuah perbuatan. Tindakan, dengan membantu mereka yang menderita. Kasih adalah aksi, dan terwujud dalam perbuatan yang mendatangkan sukacita bagi yang membutuhkan. Berbicara tentang kasih memang mudah. Tapi untuk melakukannya tidak mudah. Bacaan kita hari ini berbicara tentang hukum kasih. Namun dalam kenyataan hidup, kita hanya banyak bicara tentang kasih, tapi justru mengkhianati kasih dalam tindakannya. Jadi jangan pernah berkata mengasihi Tuhan namun mengabaikan sesama di hidup kita. Sebab tindakan itu akan menempatkan hukuman Allah menimpa kehidupan kita. Belajar dari firman Tuhan hari ini, kita diajak untuk mewujudkan kasih itu dalam kehidupan setiap hari sehingga kita menjadi para pelaku kasih!(DLS). 

Doa:  Tuhan Yesus tolong kami untuk bertindak sebagai pelaku-pelaku kasih bagi sesama kami. Amin.

 

Rabu, 20 Februari 2019                               

bacaan : Roma 12 : 12 – 13 (T)

12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! 13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!  

Wujud Dari Kasih Merupakan Tindakan Nyata

Seorang anak berusia 9 tahun dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat aktif dalam pelayanan gereja. Kedua orang tuanya menjadi Majelis di gereja. Setiap kali orang tuanya menghadiri persekutuan rumah tangga, anak ini selalu dibawa dan ia menikmati pelayanan bersama orang tuanya. Suatu waktu dalam melakukan pelayanan di satu keluarga yang tergolong ekonomi lemah, anak ini melihat seorang anak dari keluarga itu menggunakan pakaian yang sudah sobek. Setelah ibadah dan pulang ke rumahnya, anak ini langsung melihat pakaian-pakaian bekas yang masih layak untuk dipakai dan ia memberitahukan kepada kedua orang tuanya bahwa pakaiannya yang telah dikumpulkan itu hendak diberikan kepada anak dari keluarga tadi. Melihat niat baik anaknya tersebut, kedua orang tuanya menyanggupi permintaan anaknya dan mengantarkan pakaian-pakaian itu kepada anak tersebut. Perlakuan anak ini menjadi contoh bagi kita tentang hidup sebagai nilai dari kasih. Anak kecil ini tidak hanya gemar beribadah, melainkan ia berusaha untuk menterjemahkan nilai ibadah itu dalam praktek hidup berbagi demi kesejahteraan orang lain. Allah sangat senang dengan perilaku kita yang menunjukkan keberpihakannya kepada sesama dan itulah ibadah. Firman hari ini mengatakan kepada kita untuk selalu membantu kekurangan hidup orang-orang kudus. Ada banyak orang yang hidup dalam ketidakadilan ekonomi, sosial, dan sebagainya. Jadi kita harus sungguh-sungguh menunjukkan jati diri kita sebagai orang percaya yang mentaati dengan setia firmanNya dalam hidup kita. Tidak perlu kita kuatir terhadap berapa banyak yang kita keluarkan kepada orang lain, karena yang akan datang kepada kita justru jauh lebih besar.(DLS). 

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk mengasihi sebagai ibadah yang berpihak pada keadilan hidup banyak orang. Amin.

 

Kamis, 21 Februari 2019                            

bacaan : Roma 12 : 14 – 15 (T)

14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! 15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! 

Kasih Mengalahkan Kejahatan

Ada seorang pria mempunyai tiga sahabat. Ia sangat mengasihi dua orang dan yang satunya tidak ia sukai. Suatu hari pria itu diperintahkan menghadap pengadilan. Lalu ia mencari seseorang yang dapat membelanya. Ia teringat sahabat yang sangat ia sukai, tetapi sahabatnya itu sama sekali tidak mau bersaksi untuknya di pengadilan. Ia kemudian mendatangi sahabat keduanya. Namun seperti sahabat keduanya hanya mau menemaninya sampai di depan pintu gerbang pengadilan saja. Dalam keputusasaannya, ia mulai teringat akan sahabat ketiganya yang tidak disukainya. Dalam keragu-raguan, ia datang kepada sahabat itu dan meminta bantuan. Ia terkejut mendengar pernyataan, “Pasti saya akan datang untuk membantumu”, kata sahabatnya yang ketiga. Singkat cerita sahabat itupun  membelanya sehingga ia menang. Sahabat ketiga ini sekalipun tahu bahwa ia tidak disukai, namun ia tidak dapat menahan rasa kasih sayangnya kepada sahabatnya. Ia tidak ingin sahabatnya itu menderita. Ia tetap mengasihinya, karena itu ia membelanya. Inilah wujud dari kasih. Kasih yang rela memberi, meskipun dibenci. Bacaan hari ini memberikan pelajaran berharga bagi kita untuk kita sikapi dan terapkan dalam hidup bersama dengan orang lain. Bahwa apapun perlakuan yang kita terima dari orang lain, seburuk apapun itu, kita mesti tetap menunjukkan kasih kita kepada mereka sehingga kita dapat memenangkan hidup mereka. Jangan menahan kasih sayang untuk siapapun, sebagai cerminan dari sikap kita yang selalu setia dan takut kepada Tuhan. Ia mengajar kita untuk mengasihi sesama kita, dengan begitu kita tetap menjadi anak-anakNya.(DLS).

Doa: Tuhan, kami mohon biarlah kasih tetap hidup dalam hati kami supaya dapat mengalahkan kejahatan melalui perbuatan baik kami. Amin.

 

Jumat, 22 Februari 2019                             

bacaan : Roma 12 : 16 – 18 (T)

16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! 17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! 

Cerdas Menyikapi Hidup, Pasti Mendatangkan Damai

Seorang peternak domba di Indiana AS merasa terganggu oleh anjing-anjing tetangganya yang membunuh domba-dombanya yang terbaik. Masalah seperti ini biasanya dihadapi dengan tuntutan di pengadilan, atau membuat pagar berduri atau dengan tembakan. Tapi peternak itu menyelesaikan masalah dengan para tetangganya dengan gagasan yang baik. Dia memberikan seekor atau dua ekor domba kepada anak-anak tetangga yang lain untuk menjadi binatang piaraan mereka. Ketika semua tetangga memiliki kawanan kecil domba, maka tetangganya yang memiliki anjing piaraannya ini mulai mengikat anjing-anjing mereka tersebut, dan hal itu mengakhiri masalah yang ada.

Peternak ini mengalahkan kejahatan dan keburukan dengan kebaikan. Kebaikan yang si peternak ini lakukan, membuat hubungan  antar sesama, antar tetangga,  menjadi lebih indah dan rukun. Hal ini juga yang disampaikan oleh bacaan kita hari ini. kenyataan hidup membuktikan bahwa kita hidup bersama dengan orang lain disekitar kita. Kita hidup bertetangga. Dan dalam menjaga relasi hidup orang tetangga tersebut, maka kita mesti bijak dan cerdas sehingga dapat menciptakan situasi hidup yang selalu penuh kasih dan damai ditengah kejahatan dan keburukan hidup yang ada.(DLS).

Doa: Tuhan, jadikanlah kami keluarga yang bijak dan cerdas dalam hidup bertetangga. Amin.

 

Sabtu, 23 Februari 2019                          

bacaan : Roma 12 : 19 – 21 (T)

19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! 

Kalahkan Kejahatan Dengan Kebaikan

Setiap hari kita menyaksikan berbagai perlakuan kejahatan yang terjadi, baik didunia nyata maupun di dunia maya. Ada orang yang diperlakukan dengan tidak adil, menjadi korban kekerasan, menjadi korban fitnahan, berita hoax (bohong), dan sebagainya. Keinginan untuk membalas perbuatan-perbuatan jahat seperti itu selalu menggoda, sebab banyak orang yang berpendapat bahwa dengan membalas perbuatan jahat seseorang, kita merasa sudah mendapatkan keadilan. Padahal sesungguhnya hal itu bertentangan dengan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Rasul Paulus dalam Roma 12:19-21, yang mengatakan bahwa: Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan, artinya bila menghadapi orang yang melakukan sesuatu yang menyakiti dan mengecewakan, jangan membalas dengan menyakitinya, tetapi balaslah dengan tetap mengasihinya dan berbuat baik kepadanya, sebab pembalasan itu adalah hak Tuhan. Ada beberapa pesan bunda Teresa yang dapat disimak: “Bila engkau jujur dan berterus terang, orang akan menipumu, biar begitu tetaplah jujur dan berterus terang.  Apa yang engkau bangun bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam semalam, biar begitu tetaplah membangun. Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin akan dilupakan orang keesokan harinya, biar begitu tetap lakukan kebaikan,……”  Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang – orang yang melakukan kebaikan dan IA menentang orang-orang yang berbuat jahat. Oleh karena itu ajaklah seisi keluarga untuk selalu berbuat kebaikan, Tuhan Yesus memberkati.(MRT).

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk terus melakukan kebaikan. Amin.

*sumber : SHK terbitan bulan Pebruari 2019 LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *