Santapan Harian Keluarga 4 – 10 Agustus 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 04 Agustus 2019
bacaan : Keluaran 14 : 1 – 14
Firaun bertindak untuk penghabisan kali
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: 2 “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut. 3 Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. 4 Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.” Lalu mereka berbuat demikian. 5 Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?” 6 Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta. 7 Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. 8 Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan. 9 Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. 10 Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN, 11 dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? 12 Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” 13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”
Keluar dari Jalan Buntu
T. Effendi, seorang penulis kompasiana beranggapan bahwa “jalan buntu” merupakan hasil dari mindset atau pola pikir yang keliru, yang dapat berpotensi mengantarkan orang ke lembah kehancuran. Berada di “jalan buntu” sama dengan berada dalam keadaan tidak mampu untuk melakukan apapun. Kebebasan untuk bertindak ditekan karena kondisi jalan tersebut, sehingga “jalan buntu” sesungguhnya menciptakan juga keadaan tidak bebas atau tidak merdeka.Kemerdekaan sangatlah dekat di hati kita sebagai suatu bangsa yang telah mengalami kemerdekaan di 74 tahun. Tapi apa artinya merdeka bagi kita? Pernahkah kita menemui jalan buntu sebagai warga negara yang hidup di bangsa yang merdeka ini? Apakah hal tentang keadilan dan kebenaran pernah membawa kita pada “jalan buntu” selama hidup di negara ini? Bangsa Israel yang terdesak saat pasukan Firaun mengikuti mereka keluar dari Mesir (ay.10-12), memperlihatkan bahwa kemerdekaan tidaklah mudah mereka peroleh dan “jalan buntu” menutup seluruh pengharapan tersebut. Namun bersamaan dengan situasi yang sulit itu, Tuhan Allah menyatakan pertolonganNya. Bangsa Israel terbebas dari kejaran bahkan penindasan Firaun.“Jalan buntu” dipakai Allah untuk memperlihatkan kemahakuasaanNya kepada Israel. ”Jalan buntu” juga dipakai Allah untuk menyatakan bahwa Dia-lah Tuhan pemberi Kemerdekaan. Supaya dari peristiwa ini, Bangsa Israel dan semua orang percaya harus selalu meyakini bahwa kelepasan hidup dari “jalan buntu” atau kebebasan hidup dari tekanan, kekuasaan orang lain atau pihak lain, hanya dapat terjadi karena anugerah Tuhan.
Doa: Tuhan Allah, anugerahkanlah kemerdekaan sejati sebagai orang beriman dalam kehidupan kami. Amin.
Senin, 05 Agustus 2019
bacaan : Mazmur 18 : 1 – 20
Nyanyian syukur Daud
Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul. (18:2) Ia berkata: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! 2 (18-3) Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! 3 (18-4) Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku. 4 (18-5) Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, 5 (18-6) tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. 6 (18-7) Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. 7 (18-8) Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang, oleh karena menyala-nyala murka-Nya. 8 (18-9) Asap membubung dari hidung-Nya, api menjilat keluar dari mulut-Nya, bara menyala keluar dari pada-Nya. 9 (18-10) Ia menekukkan langit, lalu turun, kekelaman ada di bawah kaki-Nya. 10 (18-11) Ia mengendarai kerub, lalu terbang dan melayang di atas sayap angin. 11 (18-12) Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya, ya, menjadi pondok-Nya: air hujan yang gelap, awan yang tebal. 12 (18-13) Karena sinar di hadapan-Nya hilanglah awan-awan-Nya bersama hujan es dan bara api. 13 (18-14) Maka TUHAN mengguntur di langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya. 14 (18-15) Dilepaskan-Nya panah-panah-Nya, sehingga diserakkan-Nya mereka, kilat bertubi-tubi, sehingga dikacaukan-Nya mereka. 15 (18-16) Lalu kelihatanlah dasar-dasar lautan, dan tersingkaplah alas-alas dunia karena hardik-Mu, ya TUHAN, karena hembusan nafas dari hidung-Mu. 16 (18-17) Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir. 17 (18-18) Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku. 18 (18-19) Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN menjadi sandaran bagiku; 19 (18-20) Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.
Tuhan Menyelamatkan OrangYang Berharap Pada-Nya
Mazmur 18:1-20, mengungkapkan pengakuan pemazmur yaitu Daud, berdasarkan pengalaman imannya. Pengalaman iman Daud yang nyata ialah ketika dia berhasil mengalahkan Goliat, panglima perang Filistin yang gagah perkasa dan ketika dia selamat dari buronan raja Saul. Daud sebagai seorang buronan raja yang berkuasa meyakini bahwa hanya karena pertolongan Tuhan dia diselamatkan dari angkara murka raja Saul. Sebab Saul menggerakkan seluruh kekuatannya untuk mencari dan membunuh Daud, karena dia dianggap sebagai seorang muda yang mengancam kekuasaan raja, tetapi Daud diselamatkan oleh Tuhan. Atas pertolongan Tuhan, Daud kemudian diangkat menjadi raja di Israel menggantikan Saul. Daud dicatat sebagai raja yang berhasil dalam kepemimpinannya, ketika Israel mengalami masa keemasan. Pengalaman iman Daud diungkapan melalui mazmur pujian-pujian kepada Tuhan. Dia mau bersyukur atas pertolongan Tuhan dan mengajak umat yang percaya kepada Tuhan untuk selalu memuji dan memuliakan Tuhan serta mempercayakan hidup mereka dalam tangan Tuhan. Pengakuan Daud tentang pertolongan dan penyertaan Tuhan, juga menjadi pengakuan pendiri bangsa Indonesia. Hal ini nampak dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Bahwa kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah karena Rahmat Allah yang maha kuasa. Pengakuan ini hendaknya menjadi dasar bagi semua orang beragama di negeri ini, khususnya umat kristen untuk mengisi kemerdekaan bangsa kita dengan pekerjaan-pekerjaan yang memuliakan nama Tuhan.
Doa: Tuhan mampukanlah kami untuk bekerja mengisi kemerdekaan bangsa kami. Amin.
Selasa, 06 Agustus 2019
bacaan : 1 Samuel 7 : 2 – 14
Orang Filistin terpukul kalah dekat Mizpa
2 Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN. 3 Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: “Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.” 4 Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN. 5 Lalu berkatalah Samuel: “Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN.” 6 Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa. 7 Ketika didengar orang Filistin, bahwa orang Israel telah berkumpul di Mizpa, majulah raja-raja kota orang Filistin mendatangi orang Israel. Serta didengar orang Israel demikian, maka ketakutanlah mereka terhadap orang Filistin. 8 Lalu kata orang Israel kepada Samuel: “Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.” 9 Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia. 10 Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. 11 Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar. 12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.” 13 Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel, 14 dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.
Dengan Ketaatan, Tuhan Memberi Pertolongan
Bangsa Israel telah lama meninggalkan tabut Tuhan di Kiryat – Yearim, yaitu dua puluh tahun. Bukan hanya itu, mereka juga hidup menjauh dari Tuhan dan menyembah kepada para baal. Akibatnya mereka mengalami kekalahan demi kekalahan dan dipermalukan bangsa-bangsa lain. Sepertinya, bangsa Israel tidak lagi mengalami penyertaan Tuhan, dan melalui Samuel, bangsa Israel ditegur Tuhan dengan keras supaya mereka segera bertobat. Samuel menegaskan bahwa apabila umat berharap untuk menerima perlindungan dan pembebasan dari Tuhan, mereka pertama-tama harus berbalik kepada-Nya dengan segenap hati dengan membuang semua bentuk penyembahan berhala. Sebab, hanya bagi orang yang ingin menyenangkan Allah, dapat mengharapkan pemeliharaan, berkat dan penyelamatan-Nya. Untung saja mereka segera merespons teguran Samuel, dengan menjauhkan para baal dan para Asitoret dan beribadah hanya kepada Tuhan. Pertobatan yang sungguh menjadi kunci pemulihan. Dengan cara-Nya yang ajaib, Allah menyatakan pertolongan bagi bangsa Israel sehingga bangsa Filistin terpukul kalah. Samuel lalu mengambil sebuah batu sebagai tanda peringatan akan pertolongan Tuhan. Samuel menamainya “Ebenhaezer” (Sampai di sini Tuhan menolong kita). Sama seperti umat Israel, kita pun diingatkan agar tidak melupakan Tuhan, baik dalam hidup pribadi maupun keluarga. Dalam ketaatan kepada Tuhan dan kehendaknya, kita percaya bahwa seberat apapun masalah dan penderitaan hidup ini, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Tuhanlah Sang Imanuel kita, tidak ada yang lain. Ketika kita senantiasa meyakini Tuhan beserta kita, pasti ada pertolongan.
Doa: Ya Tuhan, sebagai anak-anak yang berdosa, kasihani dan ampunilah kami, tuntunlah kami dalam ketaatan kepada-Mu. Amin.
Rabu, 07 Agustus 2019
bacaan : Hakim-Hakim 4 : 1 – 24
Samgar Debora dan Barak
Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN. 2 Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim. 3 Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras. 4 Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. 5 Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. 6 Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: “Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, 7 dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.” 8 Jawab Barak kepada Debora: “Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.” 9 Kata Debora: “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh. 10 Barak mengerahkan suku Zebulon dan suku Naftali ke Kedesh, maka sepuluh ribu orang maju mengikuti dia; juga Debora maju bersama-sama dengan dia. 11 Adapun Heber, orang Keni itu, telah memisahkan diri dari suku Keni, dari anak-anak Hobab ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang kemahnya sampai ke pohon tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh. 12 Setelah dikabarkan kepada Sisera, bahwa Barak bin Abinoam telah maju ke gunung Tabor, 13 dikerahkannyalah segala keretanya, sembilan ratus kereta besi, dan seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia, dari Haroset-Hagoyim ke sungai Kison. 14 Lalu berkatalah Debora kepada Barak: “Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau?” Lalu turunlah Barak dari gunung Tabor dan sepuluh ribu orang mengikuti dia, 15 dan TUHAN mengacaukan Sisera serta segala keretanya dan seluruh tentaranya oleh mata pedang di depan Barak, sehingga Sisera turun dari keretanya dan melarikan diri dengan berjalan kaki. 16 Lalu Barak mengejar kereta-kereta dan tentara itu sampai ke Haroset-Hagoyim, dan seluruh tentara Sisera tewas oleh mata pedang; tidak ada seorangpun yang tinggal hidup. 17 Tetapi Sisera dengan berjalan kaki melarikan diri ke kemah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, sebab ada perhubungan baik antara Yabin, raja Hazor, dengan keluarga Heber, orang Keni itu. 18 Yael itupun keluar mendapatkan Sisera, dan berkata kepadanya: “Singgahlah, tuanku, silakan masuk. Jangan takut.” Lalu singgahlah ia ke dalam kemah perempuan itu dan perempuan itu menutupi dia dengan selimut. 19 Kemudian berkatalah ia kepada perempuan itu: “Berilah kiranya aku minum air sedikit, aku haus.” Lalu perempuan itu membuka kirbat susu, diberinyalah dia minum dan diselimutinya pula. 20 Lagi katanya kepada perempuan itu: “Berdirilah di depan pintu kemah dan apabila ada orang datang dan bertanya kepadamu: Ada orang di sini?, maka jawablah: Tidak ada.” 21 Tetapi Yael, isteri Heber, mengambil patok kemah, diambilnya pula palu, mendekatinya diam-diam, lalu dilantaknyalah patok itu masuk ke dalam pelipisnya sampai tembus ke tanah–sebab ia telah tidur nyenyak karena lelahnya–maka matilah orang itu. 22 Pada waktu itu muncullah Barak yang mengejar Sisera. Keluarlah Yael mendapatkan dia dan berkata kepadanya: “Mari, aku akan menunjukkan kepadamu orang yang kaucari itu.” Lalu masuklah Barak ke dalam dan tampaklah Sisera mati tergeletak dengan patok dalam pelipisnya. 23 Demikianlah Allah pada hari itu menundukkan Yabin, raja Kanaan, di depan orang Israel. 24 Dan kekuasaan orang Israel kian keras menekan Yabin, raja Kanaan, sampai mereka melenyapkan Yabin, raja Kanaan itu.
Tuhan Perkasa, Sang Pembela Kehidupan
Debora, seorang wanita biasa, tetapi mampu melakukan tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya, sebagai hakim atas umat Israel. Debora tidak bekerja di istana, tetapi di bawah pohon kurma di pegunungan Efraim. Di situlah ia menyelesaikan tugas-tugas kenegaraannya, di mana banyak orang datang kepadanya untuk meminta nasihat dan jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi. Tugas yang tidak mudah ketika Israel hidup di bawah penindasan raja Kanaan, dengan Sisera sebagai kepala pasukan yang memiliki 900 kereta besi, sementara bangsa Israel tidak memiliki alat perang apa pun. Ketika Tuhan memanggilnya, Debora yakin Tuhan yang perkasa memberikan kemampuan dan keberanian kepadanya. Dan melalui petunjuk Tuhan, ia memanggil Barak lalu memerintahkannya mengumpulkan sepuluh ribu orang untuk pergi ke gunung Tabor. Penting sekali, respon Barak: “Jika engkau maju, akupun turut maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju”. Dengan kepekaan mendengar suara Tuhan, Debora berani untuk maju berperang bersama Barak. Dengan iman kepada Tuhan, Debora maju bersama Barak, akhirnya Debora mampu membawa Israel pada kemenangan. Itu bukan karena kekuatan dan kehebatan Debora dan Barak, melainkan hanya karena Tuhan yang menyertai.Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.Dia sanggup memakai Debora sebagai pahlawan bagi bangsa-Nya. Debora menaikan pujian dan memuji Tuhan, karena Tuhan telah menjadi pembela baginya dan bangsanya. Sama seperti Debora, Tuhan juga memakai keluarga kita.Kiranya spirit keberanian Debora juga menjadi spirit kita untuk meyakini penyertaan Tuhan dalam setiap kehidupan dan gumulan kita. Jalanilah hari-hari dengan iman kepada Tuhan yang perkasa.
Doa: Tuhan, Perkasa, jadilah pembelah bagi keluarga kami. Amin.
Kamis, 08 Agustus 2019
bacaan : Mazmur 18 : 21 – 30
20 (18-21) TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, 21 (18-22) sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. 22 (18-23) Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; 23 (18-24) aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. 24 (18-25) Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. 25 (18-26) Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, 26 (18-27) terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. 27 (18-28) Karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan. 28 (18-29) Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku. 29 (18-30) Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok.
Hiduplah Dalam Kebenaran dan Kesucian
Pengalaman iman Daud bersama Tuhan membawa dia untuk hidup setia pada kebenaran dan kesucian. Daud selalu memperlihatkan sikap dan perilaku hidup taat melakukan yang benar di hadapan Tuhan. Karena itu, Daud sangat terbuka dan jujur menyatakan pengakuannya, bahwa Tuhan telah memperlakukan dirinya sesuai kebenaran dan kesucian Allah.Ia berani mengatakan seperti itu, sebab ia telah mengalami karya kasih Tuhan yang selalu nyata dalam hari-hari hidupnya. Daud sungguh menikmati, mengalami, dan merasakan betapa besar dan banyaknya kebaikan Tuhan kepadanya. Karena itu, dia selalu berkomitmen untuk tetap setia dan mengikuti jalan Tuhan dan tidak berlaku fasik. Dalam pengalaman berjalan bersama Tuhan itulah, telah membawa Daud pada pengakuan bahwa Allah akan berlaku setia kepada orang yang setia, berlaku tidak bercela kepada orang yang tidak bercela, berlaku suci kepada orang yang hidupnya suci, berlaku berbelit-belit kepada orang yang hatinya bengkok. Inilah salah satu sifat hakiki Allah, yaitu sifat keadilan dan kebenaran. Melalui pengalaman beriman Daud bersama Tuhan, kita dimotivasi untuk menjauhkan diri dari sikap dan perilaku hidup yang jahat yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, tetapi semakin dekat pada Allah serta menjalani hidup dalam kebenaran Allah. Dengan begitu, maka segala sesuatu yang kita lakukan dan kerjakan tidak akan pernah sia-sia. Karena itu, janganlah tergoda oleh berbagai rayuan si jahat, tetapi hendaknya tetap hidup di jalan orang benar. Ingatlah, bahwa Tuhan tidak pernah tinggalkan orang-orang yang setia kepada-Nya, dan pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya. Kita akan menjadi pemenang ketika kita memiliki kesetiaan yang teguh kepada Tuhan di segala situasi.
Doa: Tuhan, teguhkan iman kami, agar kami tetap setia kepada-Mu. Amin.
Jumat, 09 Agustus 2019
bacaan : Mazmur 18 : 31 – 43
30 (18-31) Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. 31 (18-32) Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita? 32 (18-33) Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; 33 (18-34) yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit; 34 (18-35) yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga. 35 (18-36) Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, tangan kanan-Mu menyokong aku, kemurahan-Mu membuat aku besar. 36 (18-37) Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah. 37 (18-38) Aku mengejar musuhku sampai kutangkap mereka, dan tidak berbalik sebelum mereka kuhabiskan; 38 (18-39) aku meremukkan mereka, sehingga mereka tidak dapat bangkit lagi; mereka rebah di bawah kakiku. 39 (18-40) Engkau telah mengikat pinggangku dengan keperkasaan untuk berperang; Engkau tundukkan ke bawah kuasaku orang yang bangkit melawan aku. 40 (18-41) Kaubuat musuhku lari dari padaku, dan orang-orang yang membenci aku kubinasakan. 41 (18-42) Mereka berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang menyelamatkan, mereka berteriak kepada TUHAN, tetapi Ia tidak menjawab mereka. 42 (18-43) Aku menggiling mereka halus-halus seperti debu di depan angin, mencampakkan mereka seperti lumpur di jalan.
Jalan Allah Sempurna Dan Janji-Nya Murni
Daud sungguh mengalami jalan-jalan Allah yang sempurna dan janji-Nya yang murni. Daud mengakui bahwa Allah adalah perisai baginya dan semua orang akan datang untuk berlindung kepada-Nya. Selain itu, Daud juga mengakui bahwa sebagai umat yang percaya, selalu dikelilingi oleh orang fasik. Kejahatan dan ketidakadilan terjadi di mana-mana. Itulah sebabnya, Daud mengingatkan umat bahwa tidak ada yang dapat menolong dan meluputkan mereka dari malapetaka selain Tuhan. Di sini Daud hendak menegaskan bahwa tidak ada satu allah atau ilah di dalam dunia ini yang mahakuasa seperti Allah Israel. Dialah yang memberikan perlindungan dan segala kelimpahan hidup kepada umatNya. Dialah perisai keselamatan bagi umatNya. Dialah yang membuat umat yang dikasihi-Nya mampu mengatasi setiap persoalan dan menjadikan mereka sebagai pemenang. Dengan melihat pada kebaikan dan kemahakuasaan Allah, sepatutnya kita sebagai orang percaya menaikkan mazmur dan nyanyian syukur bagi-Nya. Sebab Dialah, Allah yang setia memelihara dan menopang hidup umat-Nya sejak zaman Israel sampai dengan zaman kita sekarang ini. Dialah gunung batu dan penyelamat bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, termasuk kita. Kasih Allah sungguh luar biasa kepada kita. Padahal kalau kita renungkan, siapa kita sebenarnya, sehingga Allah Mahakuasa dan Mahabesar begitu peduli dengan kehidupan kita yang hanya bagaikan bejana tana liat yang penuh dosa ini? Ia sungguh mengasihi dan memperhatikan kehidupan kita. Karena itu, tidak ada yang lain yang bisa kita lakukan bagi-Nya selain menaikkan mazmur dan nyanyian syukur bagi-Nya. Sebab hanya Dialah satu-satunya Tuhan, Penebus, dan Penyelamat kita, bagi-Nya segala pujian, syukur dan hormat dipersembahkan.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk selalu bersyukur pada-Mu. Amin.
Sabtu, 10 Agustus 2019
bacaan : Mazmur 18 : 44 – 51
43 (18-44) Engkau meluputkan aku dari perbantahan rakyat; Engkau mengangkat aku menjadi kepala atas bangsa-bangsa; bangsa yang tidak kukenal menjadi hambaku; 44 (18-45) baru saja telinga mereka mendengar, mereka taat kepadaku; orang-orang asing tunduk menjilat aku. 45 (18-46) Orang-orang asing pucat layu dan keluar dari kota kubunya dengan gemetar. 46 (18-47) TUHAN hidup! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku, 47 (18-48) Allah, yang telah mengadakan pembalasan bagiku, yang telah menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku, 48 (18-49) yang telah meluputkan aku dari pada musuhku. Bahkan, Engkau telah meninggikan aku mengatasi mereka yang bangkit melawan aku; Engkau telah melepaskan aku dari orang yang melakukan kelaliman. 49 (18-50) Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu. 50 (18-51) Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yaitu Daud dan kepada anak cucunya untuk selamanya.”
Bersyukurlah Atas Kasih Setia Tuhan
Apakah yang dirasakan ketika kita dapat melewati suatu pergumulan panjang yang penuh tantangan dan bahkan ancaman? Apalagi kalau dibalik pergumulan itu, kita bukanlah orang yang layak untuk mendapat pertolongan dari Tuhan? Pasti kita akan sangat bersyukur dan merasakan bahwa Kasih Setia Tuhan jauh lebih besar dari apa yang kita pikirkan. Pemazmur yaitu Daud dalam Mazmur 18:44-51, mengungkapkan rasa syukurnya terkait dengan pertolongan Tuhan yang ia rasakan. Pemazmur katakan: “Allah telah mengadakan pembalasan bagiku,…telah meluputkan aku…,telah meninggikan aku….,telah melepaskan aku…” (ay.48-49). Daud merasakan penyertaan dan kekuatan dari Tuhan yang memampukan dia untuk menjalani hidup dan pelayanannya sebagai raja, dan oleh sebab itu Daud menyanyikan syukur dan mazmur bagi Tuhan. Setiap keluarga Kristen pasti memiliki pengalaman iman dengan Tuhan dalam setiap permasalahan keluarga yang dijumpai, baik masalah suami-istri, anak-anak, kesehatan, ekonomi keluarga, dan lainnya. Bagaimana Tuhan menyatakan kasih dan setiaNya yang terus menyertai, memberi jalan keluar dan memelihara hidup keluarga. Demikian juga sebagai warga bangsa dan Negara Indonesia yang di bulan Agustus ini merayakan bulan kemerdekaan, pembebasan dari penindasan dan penjajahan. Kita patut bersyukur dan memuliakan Tuhan lewat seluruh hidup kita, baik kata dan perbuatan yang diwujudkan dengan selalu melakukan kebaikan bagi hormat dan puji nama Tuhan.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk terus memaknai kasih dan setia-Mu lewat ungkapan syukur, Amin
*sumber : SHK terbitan bulan Agustus 2019 oleh LPJ-GPM

