Santapan Harian Keluarga, 1 – 7 September 2019
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Minggu, 01 September 2019
bacaan : Efesus 2 : 11 – 22
Dipersatukan di dalam Kristus
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — 12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. 13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. 14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, 15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, 16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. 17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, 18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. 19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. 21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. 22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Kristus Mempersatukan Semuanya
Hidup dalam persatuan dan semangat kekeluargaan sebagai keluarga Allah merupakan kerinduan dan harapan Bapa di Surga bagi umat-Nya di bumi. Persatuan tersebut dapat dipahami dalam konteks kebersamaan ditengah keberagaman. Memang perbedaan bila tidak disikapi dengan baik dapat membawa perselisihan dan perpecahan. Tetapi perbedaan dapat pula menjadi kekuatan untuk membangun hidup bersama saling mengisi, menopang dan membangun sehingga mempersempit ruang perselisihan dan permusuhan yang dapat menjadi tembok pemisah antara satu dengan yang lainnya selaku umat Allah. Dalam perikop bacaan kita memperlihatkan kehidupan jemaat di Efesus yang hidup dalam perbedaan, saling bertentangan antara kehidupan komunitas Yahudi dan non Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan orang bukan Yahudi dianggap sebagai kafir. Paulus katakan: “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah…” Sebagai gereja kita harus memiliki sikap iman yang tepat agar kita tidak terjebak dalam tembok egoisme, sikap ekslusifisme karena merasa diri superior, merasa diri yang paling benar lalu melecehkan yang lain yang berbeda dari kita. Kristus telah mempersatukan semuanya melalui kebangkitanNya karena itu oleh tuntunan Roh Kudus kita akan terus dilengkapi dan diperbarui oleh kuasa kematian dan kebangkitan Kristus agar kita dapat menatalayani gereja ini sebagai satu keluarga Allah.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk hidup sebagai satu Keluarga Allah. Amin.
Senin, 02 September 2019
bacaan : Roma 10 : 12 – 13
12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Semua Orang Percaya Dipersatukan Sebagai Keluarga Allah
Dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat, ditemukan adanya perbedaan latar belakang sosial, budaya, suku-bangsa dan agama. Perbedaan ini sering menimbulkan konflik yang mengakibatkan hubungan persaudaraan jadi terganggu. Hal ini yang terjadi dalam persekutuan orang percaya di kota Roma, ibu kota kekaisaran Romawi. Di sana hidup orang Yahudi dan Yunani yang percaya kepada Yesus Kristus. Namun perbedaan latar belakang sosial budaya sangat mempengaruhi iman mereka. Akibatnya, mereka saling menghakimi dan mempersalahkan sehingga terjadi konflik. Untuk mengatasi masalah ini, Paulus menasihati mereka bahwa di dalam persekutuan dengan Allah dalam Yesus Kristus tidak ada perbedaan antara Yahudi dan Yunani. Karena Allah adalah Tuhan untuk mereka semua. Jika mereka berdoa dan menyapa Allah sebagai Bapa mereka, berarti mereka sama-sama mengakui bahwa Allah adalah Bapa bagi setiap orang percaya. Kalau Allah menjadi Bapa bagi setiap orang percaya, maka mereka adalah anak-anak dari Allah. Pemahaman iman yang demikian mendorong orang-orang percaya untuk saling mengakui dan menerima satu dengan yang lain sebagai keluarga Allah. Nasihat Rasul Paulus ini tidak hanya disampaikan kepada persekutuan orang percaya di Roma, tetapi juga orang-orang percaya di mana saja dan kapan saja. Termasuk kita di GPM yang terdiri dari berbagai suku, daerah, budaya dan bahasa. Kita terpanggil untuk saling mengakui dan menerima sebagai keluarga Allah di dalam Tuhan kita Yesus Kristus.
Doa: Ya Tuhan, jadikanlah kami sebagai anak-anak-Mu yang saling mengakui dan menerima. Amin.
Selasa, 03 September 2019
bacaan : 3 Yohanes 1 : 11 – 12
11 Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah. 12 Tentang Demetrius semua orang memberi kesaksian yang baik, malah kebenaran sendiri memberi kesaksian yang demikian. Dan kami juga memberi kesaksian yang baik tentang dia, dan engkau tahu, bahwa kesaksian kami adalah benar.
Jadilah Keluarga Allah Yang Selalu Berbuat Baik Kepada Siapa Saja
Dewasa ini kita hidup di tengah berbagai pengaruh pemahaman dan gaya hidup yang sering mengggoda orang percaya untuk melakukan kejahatan. Gaya hidup itu antara lain materialisme dan hedonisme. Paham materialisme beranggapan bahwa materi adalah segala-galanya. Orang yang memiliki materi yang banyak hidupnya akan senang, sebab segala sesuatu dapat dibeli termasuk jabatan, kekuasaan dan kenikmatan hidup. Akibat dari gaya hidup ini, orang ingin menjadi kaya dengan berbagai cara yang tidak benar dan tidak adil, mereka merampas hak hidup orang lain untuk memperkaya diri sendiri. Sedangkan paham hedonisme beranggapan bahwa kenikmatan hidup adalah tujuan dari kehidupan. Karena itu, manusia harus menikmati hidup sepuas-puasnya di dalam dunia ini, sebab apabila kematian datang, maka manusia tidak bisa lagi menikmati hidupnya. Akibat paham ini orang memiliki gaya hidup yang senang berpesta pora, dengan menggunakan narkoba, seks bebas dan berbagai minuman keras yang memiliki zat adiktif, yang membuat orang kecanduan dan sulit melepaskan diri. Menghadapi berbagai pengaruh yang jahat itu, maka penulis Surat 3 Yohanes menasihati orang percaya untuk tidak mencontohi sikap hidup mereka yang melakuka hal-hal yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Orang yang berbuat baik adalah orang yang sungguh memahami bahwa Allah dalam Yesus Kristus adalah Allah yang mengasihi hidup mereka dan telah berkorban demi keselamatan mereka. Karena itu mereka yang hidup dalam kasih Allah, harus menampakkan hal itu dalam perbuatan baik kepada siapa saja.
Doa: Ya Tuhan, kami anak-anak-Mu ingin selalu berbuat baik. Amin.
Rabu, 04 September 2019
bacaan : 1 Petrus 1 : 13 – 16
Kekudusan dan kasih persaudaraan
13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. 14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
Hidup Dalam Kekudusan dan Persaudaraan Sebagai Anak-Anak Allah
Menurut Surat 1 Petrus 1:6, berbagai pengaruh jahat di sekitar hidup orang percaya adalah cobaan iman, yang harus dihadapi. Orang yang percaya kepada Allah dalam Yesus Kristus adalah orang yang telah diselamatkan, dibarui dan dikuduskan oleh Allah. Kudus artinya hidup yang suci, hidup yang telah disendirikan, dipisahkan atau dikhususkan bagi Allah. Hidup yang demikian menunjukkkan kualitas hidup orang percaya yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka selalu berupaya menjauhkan diri dari segala pengaruh jahat dan berupaya untuk selalu melakukan apa yang baik, benar dan adil, sekalipun mereka hidup di bawah tekanan orang-orang yang jahat. Nasihat ini disampaikan oleh penulis Surat 1 Petrus kepada orang percaya yang mengalami penganiayaan dan penghambatan karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Dalam situasi hidup yang demikian penulis Surat 1 Petrus menasihati mereka agar tetap menjaga kekudusan hidup sebagai anak-anak Tuhan dan merawat kasih persaudaraan di antara mereka. Hal itu akan membuat mereka mampu menghadapi semua tantangan hidup yang mereka alami dan terus menjaga kekudusan hidup dan kasih persaudaraan di antara mereka. Nasihat ini juga disampaikan kepada kita sebagai orang-orang percaya masa kini. Bagaimana kita menjaga kekudusan hidup dan kasih persaudaraan di tengah berbagai pengaruh yang jahat. Apakah itu pengaruh paham materialisme, hodonisme dan individualisme yang merasuk dan merusak kehidupan orang percaya.
Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk menjaga kekudusan hidup dan kasih persaudaraan, amin
Kamis, 05 September 2019
bacaan : Kisah Para Rasul 14 : 21 – 28
Kembali ke Antiokhia
21 Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. 22 Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. 23 Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka. 24 Mereka menjelajah seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. 25 Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia, di pantai. 26 Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan. 27 Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. 28 Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu.
Beritakanlah Injil dalam Kasih Persaudaraan
Orang yang percaya kepada Allah dalam Yesus Kristus adalah anak-anak Allah. Mereka hidup sebagai suatu keluarga Allah, dimana Kristus menjadi kepala. Di sini relasi orang percaya dengan Kristus dan dengan sesamanya digambarkan sebagai relasi kekeluargaan, dimana kasih dan persaudaraan menjadi nilai hidup yang harus terus dirawat. Kasih persaudaraan itulah yang mendorong Rasul Paulus dan Barnabas sebagai orang-orang yang telah menikmati kasih Kristus yang menyelamatkan mereka, untuk memberitakan Injil Kristus di luar Yerusalem, termasuk di Antiokhia, Listra, Ikonium dan Derbe. Paulus dan Barnabas mengalami tantangan yang luar biasa dan tantangan itu justru datang dari orang-orang Yahudi yang menghasut orang lain untuk membenci, memusuhi dan mengancam kehidupan mereka. Paulus mengakui bahwa “…untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis. 14:22b). Sekalipun demikian, mereka tetap mengasihi dan membagi pengalaman iman dengan jemaat di Antiokhia dan sekitarnya. Dalam relasi kekeluargaan, orang percaya tidak hanya terpanggil untuk menikmati hubungan mereka dengan Allah, tetapi juga untuk melaksanakan tugas kesaksian dan pelayanan bagi sesama sebagai saudara. Sebagai anak-anak Allah, kita juga terpanggil untuk terus memberitakan Injil, dan berita sukacita itu kepada setiap orang, melalui berbagai perbuatan yang baik, benar dan adil, sekalipun diperhadapkan dengan berbagai tantangan hidup.
Doa: Tuhan, kuatkanlah kami untuk terus memberitakan nama-Mu, sekalipun di tengah tantangan. Amin.
Jumat, 06 September 2019
bacaan : Maz. 136:1-3 & Ef. 4:21-32
Mazmur 136 : 1-3
Kasih setia Allah kepada orang Israel
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 2 Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
Efesus 4 : 21-32
21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, 22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. 25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. 26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. 28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. 29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. 30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. 31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Bersyukur Dan Membarui Diri
Kita patut bersyukur kepada Yesus Kristus yang berkenan memimpin Gereja Protestan Maluku hingga usianya yang ke-84. Seperti kata Pemazmur: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”. Seiring dengan rasa syukur, gereja perlu mengevaluasi diri, apakah sebagai pemimpin gereja pada aras sinode, klasis dan jemaat telah sungguh-sungguh melakukan fungsi dan peran kita sebagai hamba Tuhan dengan baik? Apakah sebagai umat GPM kita telah melakukan peran dan karya kita melalui kesaksian hidup yang memuliakan Tuhan dan terlibat membangun gereja ini sebagai bagian dari membangun tubuh Kristus? Karena itu pertambahan usia GPM adalah sebuah kesempatan untuk terus berbenah dalam membangun kehidupan dan kesatuan jemaat-jemaat yang dibimbing oleh Roh agar setiap kita mendalami dan menghayati tugas panggilan Allah dalam Kristus Yesus. Perenungan dan evaluasi ini akan menuntun kita sebagai GPM untuk terus sadar bahwa hanya oleh anugerah maka GPM masih tetap ada dan hanya karena campur tangan Roh Kudus, gereja terus membarui diri dan menjadi manusia-manusia baru sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dalam Yesus Kristus. GPM didalam seluruh gerak pelayanannya akan mewujudkan kehendak dan panggilan Kristus sebagai Kepala Gereja untuk terus membangun diri, melakukan kebenaran Injil didalam kasih, agar melalui GPM nama Tuhan semakin dipermuliakan dan menjadi berkat bagi banyak orang dan semesta alam. Dirgahayu Gereja Protestan Maluku..!
Doa: Tuhan, jadikanlah Gereja Protestan Maluku sebagai persekutuan yang menjadi berkat bagi dunia ini. Amin.
Sabtu, 07 September 2019
bacaan : 1 Petrus 1 : 17 – 20
17 Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. 18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, 19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. 20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.
Hidup Kita Berharga di Mata Allah
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…..”
Lagu ini menceriterakan tentang Kasih orang tua kepada anak-anaknya, mereka rela mengorbankan seluruh hidup mereka demi masa depan anak-anak yang mereka kasihi. Cinta kasih orang tua kepada anak-anaknya tidak akan dapat dibayar dengan apapun selain ketika mereka dapat melihat kesuksesan dan keberhasilan dari anak-anak mereka. Oleh sebab itu setiap anak diharapkan berlaku taat dan dengar-dengaran pada orang tuanya. Rasul Petrus dalam suratnya kepada orang Kristen mula-mula, mengandaikan Allah sebagai Bapa yang sangat mengasihi anak-anaknya, bahkan karena kasihNya yang agung itu, IA rela menebus dan membayar lunas semua hutang dosa mereka dengan darahnya yang mahal. Dan jika orang percaya mengakui Allah dalam Yesus Kristus sebagai Bapa yang mengasihi, menebus dan menyelamatkan hidupnya, maka selayaknya mereka menghormatiNya, taat dan setia mengikuti kehendakNya, walaupun saat itu, mereka merasa bahwa hidup mereka tidak berarti bahkan tidak berharga karena penindasan dan tekanan dari masyarakat sekitar yang tidak mengenal Kristus. Dalam keadaan seperti apapun, janganlah pernah ragu bahwa Allah tetap mengasihi kita umatNya, sebab IA mengasihi kita dan kita sangat berharga di mata Tuhan.
Doa: Tuhan, jadikan kami sebagai anak-anak yang berharga di mataMu. Amin.
*sumber : SHK bulan September 2019 terbitan LPJ-GPM

