Santapan Harian Keluarga, 4 – 10 Maret 2018
Minggu, 4 Maret 2018
bacaan : 2 Timotius 2:1-13 & Yesaya 52:13-53:12
Panggilan untuk ikut menderita
Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. 2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. 3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. 4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. 6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. 7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu. 8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. 9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. 10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. 11 Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; 12 jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; 13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Yesaya 52:13-53:12
Hamba TUHAN yang menderita
13 Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. 14 Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia–begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi– 15 demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.
Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. 3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. 4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. 5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. 7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. 8 Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. 9 Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. 10 Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. 11 Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. 12 Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.
Perjuangan dan Kerja Keras pasti menghasilkan buah
Paulus bilang vor Timotius, kalo hidop orang Kristen tu macang deng prajurit, olahragawan dan petani. Sebagai seorang prajurit Kristus, kita harus selalu siap untuk berjuang, menderita dan patuh kepada komandan. Kita sadar bahwa hidup di dunia ini ibarat berada di medan perang, kita harus terus berjuang mempertahankan iman dan berperang melawan kuasa-kuasa kegelapan (iblis). Karena itu, kenakanlah … seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat berlahan me/awan tipu muslihat iblis; (Efesus 6:11) Sebagai olahragawan, kita harus tekun berlatih dan taati peraturan yang cibertakukan saat mengikuti pertandingan, karena jika tidak maka kita akan didiskualifikasi. Begitu pula di dalam kekristenan, kita harus patuh ke ada aturan yaitu firman Tuhan; selain itu kita harus terus mendisiplinkan diri untuk tetap fokus kepada tujuan akhir. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, .. (7-8). Sebagai seorang petani, kita harus bekerja keras dan tiada kata ‘lelah’ sebab petani yang bekerja keraslah yang mendapat bagian dari hasil panennya, bukan petani yang malas. Bukan hanya rajin, tetapi juga dibutuhkan kesabaran seperti seorang petani yang sabar menunggu hingga musirn panen tiba sebelum menikmati hasil jerih payahnya, jadi tidak dalam semalam benih itu bisa dipanen. Sebagai orang Kristen, kita harus belajar untuk tekun dan bekerja dan terus menabur dalam Roh, karena pada saat yang tepat kita akan menuainya.
doa : Tuhan kuatkan kami untuk berjuang dan bekerja keras sampai kami mendapatkan mahkota kemuliaan. Amin
Senin, 5 Maret 2018
bacaan : Wahyu 2 : 1 – 6
Kepada jemaat di Efesus
“Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. 2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. 4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. 6 Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
Bukan Manusia, tapi Tuhan Yang Menilai
Para pelayan skarang nih tinggal biking barsih rumpu sa… Beta pung opa dolo pameri ewang. Sementara beta jadi majalis ampa periode… Kata Om Eli dengan nada bangga. Ada kebanggaan tersendiri saat kita menceritakan tentang diri kita atau orang tua kita yang banyak meluangkan waktu bagi pekerjaan Tuhan dengan pelayanan yang padat dan lama di Jemaat. Dan tanpa sadar, hal ini menimbulkan kesombongan rohani dalam diri. Melalui renungan ini kita diingatkan untuk tidak terlalu berbangga diri karena yang berhak menilai ‘kualitas’ pekerjaan kita bukanlah manusia, melainkan Tuhan. Secara kasat mata mungkin kita melihat dan menilai bahwa pelayanan kita sudah maksimal. Hal ini bisa terlihat dari jadwal pelayanan yang tak pernah kosong, mulai hari minggu hingga sabtu. Keadaan ini tak jauh beda dengan jemaat di Efesus, · Kepada mereka, Tuhan berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu.” (2a). Jemaat di Efesus adalah jemaat yang dewasa rohaninya karena mereka setia, tekun, mampu membedakan guru-guru palsu, bahkan dikatakan: ” engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.” (3). Bukankah ini sudah membuktikan bahwa kualitas iman jemaat Efesus patut diacungi jempol dan dikenan Tuhan? Kurang apa lagi? Tetapi mengapa Tuhan masih mencela mereka ? ternyata ada hal penting yang terabaikan, dan itulah yang sedang Tuhan ungkap terhadap jemaat di Efesus dan juga kita. Dimana banyak dari kita telah meninggalkan kasih mula mula. Kita telah menggantikan kasih kepada Tuhan dengan pekerjaan atau aktivitas rohani yang ada. Mata Tuhan sanggup melihat jauh melampaui pikiran dan juga penampilan luar kita karena (bd. lbr. 4:13).
doa : ya Tuhan ajarilah kami mengasihi-MU dengan sungguh. amin
Selasa, 6 Maret 2018
bacaan : Kisah Para Rasul 11 : 19 – 30
Barnabas dan Saulus ke Antiokhia
19 Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. 20 Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan. 21 Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. 22 Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia. 23 Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, 24 karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. 25 Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. 26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. 27 Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia. 28 Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. 29 Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. 30 Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.
Pengalaman adalah Guru yang Baik
Saat menemukan seseorang berhasil melakukan sesuatu dengan baik, seperti menurunkan berat badan dalam waktu singkat, tentu kita ingin tahu resep keberhasilan orang itu. Lalu kita bertanya kemudian mencobanya karena sudah lihat hasilnya. Benar bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Apalagi jika mau belajar dan meneladani orang-orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa, apakah rahasia yang membuat mereka sukses. Salah satu contoh adalah Barnabas, tokoh Alkitab yang dapat kita jadikan teladan dalam kehidupan rohani kita, Alkitab mencatat: “Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. la menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.” (Kisah 11 :23-24a). Kehidupan Barnabas menjadi kesaksian bagi orang lain sehingga banyak orang menjadi percaya kepada Kristus. Lalu, Barnabas pergi ke Tarsus untuk menolong pelayanan Saulus (nama Paulus sebelumnya) dan membawanya ke Antiokhia untuk sama-sama melayani. Keduanya mengajar banyak orang di sana dan “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kisah 11:26b). Pelayanan Barnabas di Antiokhia membawa dampak yang luar biasa karena ada kuasa Roh Kudus yang menyertainya; ia juga tidak mencari nama atau popularitas, tapi semua dilakukan semata-mata demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Inilah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya.
doa : Tuhan, seperti Barnabas, biarlah kami juga menjadikan Roh Kudus sebagai andalan kami, amin
Rabu, 7 Maret 2018
bacaan : Mazmur 25 : 1 – 10
Doa mohon ampun dan perlindungan
Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; 2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. 3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. 4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. 6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. 7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. 8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. 9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. 10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.
Tuhan hanya sejauh Doa
Setiap manusia pasti pemah mengalami pergumulan hidup. Demikian juga dengan pemazmur yang dalam bacaan kita ini tak lain adalah Daud. Menurut Maz. 25, pemazmur mengalami pergumulan dan penderitaan. Dalam situasi ini, dia datang berlutut , dan berdoa kepada Tuhan dalam kepasrahan sebagai seorang yang sadar akan dosanya dan memohon pertolongan hanya kepada Tuhan saja. Dalam doanya, pemazmur berkata bahwa ia mengangkat jiwanya kepada Tuhan. Hal itu dilakukannya karena dia percaya bahwa di dalam keadaan yang menghimpit kehidupannya hanya Tuhanlah tempat .untuk berseru. Tidak ada keselamatan lain selain Tuhan. la menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan keyakinan bahwa ia tidak mungkin dipermalukan oleh musuhnya (2), sebab Tuhanlah yang menjadi Pembelanya. Mengandalkan Tuhan sebagai Pembela, menuntut kita untuk selalu membangun relasi dengan Tuhan melalui doa. Berdoa dengan kepasrahan kepada Tuhan, dan setia menanti jawaban Tuhan. Tanpa pengharapan yang besar, seruan yang disampaikan akan mengambang dan tidak akan mendatangkan sukacita dan semangat yang baru. Sebab itu, marilah kita belajar dari iman dan pengharapan pemazmur yang tetap kuat dan teguh di tengah kerapuhan karena kelemahannya dan beban pergumulan yang berat. Tuhan hanya sejauh doa. Tuhan tidak bosan untuk mendengar curhatan hati kita.
doa : Tuhan kami percaya, telinga-Mu selalu siap mendengar doa-doa kami, dan menjawabnya sesuai kehendak-Mu. Amin
Kamis, 8 Maret 2018
bacaan : Kisah Para Rasul 22 : 23 – 29
Di dalam markas
23 Mereka terus berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan debu ke udara. 24 Karena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat diketahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. 25 Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: “Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?” 26 Mendengar perkataan itu perwira itu melaporkannya kepada kepala pasukan, katanya: “Apakah yang hendak engkau perbuat? Orang itu warganegara Rum.” 27 Maka datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata: “Katakanlah, benarkah engkau warganegara Rum?” Jawab Paulus: “Benar.” 28 Lalu kata kepala pasukan itu: “Kewarganegaraan itu kubeli dengan harga yang mahal.” Jawab Paulus: “Tetapi aku mempunyai hak itu karena kelahiranku.” 29 Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum.
Menderita karena Kebenaran, adalah sesuatu yang Berharga
Kebenaran tidak selamanya datang diawal sebuah perkara/peristiwa. Kebenaran selalu/baru datang di akhir peristiwa. Karena itu dibutuhkan ketahanan dan kesabaran serta ketekunan, ketika atas nama kebenaran, seseorang harus mengalami banyak penganiayaan, penindasan dan penderitaan. Kalau orang tidak bertahan menghadapinya maka dengan mudah orang tersebut akan kalah walaupun mungkin ia tidak bersalah. Rasul Paulus pun mengalami hal yang sama untuk sebuah kebenaran. Ia mengalami penganiayaan dan penderitaan karenanya. Namun ia tetap tabah dan terus berjuang untuk mempertahankannya, Memang kebenaran itu mahal harganya dan membutuhkan sebuah spiritualitas yang kuat dalam berjuang dengan satu keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya yang menang. Yesus telah mencontohkannya dalam seluruh penderitaan-Nya bahkan sampai mati di kayu salib supaya manusia dibenarkan dan hidup dalam keselamatan dan kekudusan. Marilah kita belajar dalam hidup kekeristenan kita meneladani hidup dan pelayanan Yesus yang rela menderita sampai mati demi memperjuangkan dan menegakkan kebenaran yang di dalamnya kita semua hidup dan selamat.
doa : ajarilah kami bertahan dalam berbagai kenyataan hidup ini, demi memperjuangkan kebenaran dan keadilan, amin
Jumat, 9 Maret 2018
bacaan : Mazmur 7 : 1 – 6
Allah, Hakim yang adil
Nyanyian ratapan Daud, yang dinyanyikan untuk TUHAN karena Kush, orang Benyamin itu. (7-2) Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku, 2 (7-3) supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan. 3 (7-4) Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, 4 (7-5) jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, 5 (7-6) maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu.
Berani karena Benar, Takut karena Salah
Kalau kita melakukan kebenaran, tidak usah takut bahkan harus berani menyatakannya dengan terus terang. Jangan disembunyikan. Hanya kalau kita melakukan kesalahan atau perbuatan-perbuatan yang merugikan dan mencemarkan nama baik orang lain, barulah kita takut, sebab hukuman menanti kita. Daud dalam Mazmur 7 ini menyatakan kepada Tuhan dengan penuh kejujuran bahwa dia tidak melakukan kesalahan. Ia hidup benar di hadapan Tuhan. Karena itu kepada orang-orang yang memusuhinya, ia serahkan perbuatan mereka kepada Tuhan yang berhak dan yang punya kuasa untuk menghukum. Hanya kalau Daud bersalah, ia rela menerima hukuman dari Tuhan. Sebagai keluarga-keluarga orang percaya, kita pun harus terus berupaya untuk hidup jujur dan benar di hadapan Tuhan sebab Tuhan akan membela kita kalau kita mengalami tekanan dan penindasan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tuhan adalah Hakim yang adil yang Maha mengetahui setiap orang dengan perilaku dan perbuatan hidupnya, baik atau buruk; salah atau benar. Andalkanlah Tuhan dengan kekuatan-Nya dalam hidup kita dan terus berserah dan bersandar kepada-Nya. Dialah yang akan membela dan membenarkan kita kalau ternyata bahwa memang kita hidup benar di hadapan-Nya.
Sabtu, 10 Maret 2018
bacaan : Lukas 18 : 28 – 30
Petrus berkata: “Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.”
Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya,
akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”
Upah adalah Hasil dari Pelayanan
Upah adalah buah atau hasil dari sebuah pelayanan. Tetapi tergantung juga sejauh mana kita memaknai tugas pelayanan kita. Apakah berorientasi pada upah (hasil) atau pada proses yakni upaya untuk memberi penguatan dan penghiburan serta pengharapan bagi orang yang kita layani sebab menyadari sungguh bahwa kita hanyalah alat/sarana di tangan Tuhan. Ketika murid-murid bertanya kepada Yesus, apa upah kami dalam hal mengikuti Engkau.? Kami sudah meninggalkan segala kepunyaan kami. Kata Yesus, ketika kamu rela meninggalkan lebih dari pada itu termasuk keluarga (orang tua, sanak-saudara dan anak-anakmu) maka bukan upah dalam pengertian uang yang akan kamu terima tetapi kamu akan menerima berlipat ganda untuk masa kini dan masa yang akan datang, kamu akan menerima hidup yang kekal. Suatu upah yang tidak dapat diberikan oleh majikan/pemimpin siapapun di bawah kolong langit ini. Yesus pun menghendaki dari kita semua sebagai anak-anak-Nya yang telah Ia tebus dengan harga yang mahal yakni tubuh dan darah-Nya sendiri, supaya jangan mengikuti Yesus hanya kalau ada kesempatan; kalau diberi jabatan yang empuk, kalau sudah pensiun; kalau sudah selesai dengan urusan kerja di dunia ini. Jangan juga berspekulasi dalam hal mengikuti-Nya kalau kondisi kita sukses dan mapan. Mengikuti Yesus juga bukan hanya sebatas wacana (kata-kata saja) tetapi harus dengan seluruh totalitas hidup kita, apa dan siapapun kita. Lakukanlah dengan segenap hatimu dengan penuh ketaatan dan kesetiaan bahkan dengan segala resikonya. Yakinlah bahwa telah tersedia upah bagimu. Itulah hidup yang kekal.
doa : Buatlah kami bersungguh-sungguh menyatakan ketaatan dan kesetiaan kami menjadi pengikut-pengikut-Mu ya Kristus Tuhan dan Penyelamat kami. Amin
*Sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ-GPM

