Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 September 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 22 September 2019                 

bacaan : Matius 5 : 13 – 16    

Garam dunia dan terang dunia

13 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. 15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. 16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Berperanlah Secara Positif !!

Garam punya beberapa manfaat: Menyedapkan masakan, mengawetkan makanan dan berfungsi memperlambat pembusukkan” Sementara terang, jelas sekali perannya yaitu menyinari kegelapan sehingga orang dapat melihat dengan jelas segala sesuatu yang ada disekitarnya dan apa yang terjadi disekelilingnya. Garam dan terang memang merupakan dua komponen yang dibutuhkan oleh manusia dan ciptaan lainnya. Ketika Tuhan Yesus berkhotbah “saat itu” soal garam dan terang, Ia sangat berharap dan menghendaki sungguh agar mereka yang mendengar-Nya akan berperan sebagai garam dan terang ketika mereka hadir di tengah masyarakat. Dengan demikian mereka harus berbaur dan bukan “memagari diri dengan tembok tinggi”.    Mereka harus berperan aktif dan positif ibarat garam dan terang yang menyedapkan, mengawetkan tetapi juga memberi cahaya bagi kehidupan di sekitarnya. Saudaraku, pada kenyataannya, dunia kita sedang “membusuk dan kehilangan cahayanya”. Banyak orang tidak lagi takut kepada Tuhan. Norma-norma hidup yang benar sedang terkikis. Kejahatan semakin merajalela. Sebagai Pengikut Kristus, inilah saatnya bagi kita untuk berperan sebagai garam dan terang.  Perlihatkan dan jadilah contoh yang benar sesuai kehendak Allah. Perangi kejahatan dan hindarilah perbuatan yang merugikan orang lain. Berkata dan bertindaklah dengan jujur. Jangan mengambil keuntungan dari kekurangan orang lain sehingga hidup kita benar-benar bermakna bagi sesama dan dunia ini.

Doa:         Tuhan, tolonglah kami ‘tuk tetap bermakna bagi dunia disekitar kami. Amin.

Senin, 23 September 2019                   

bacaan : Daniel 3 : 28 – 30

28 Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 29 Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” 30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

Jadilah Saksi Kristus Lewat Hidupmu

Kehadiran Daniel bersama dengan teman-temannya di kerajaan Babel dalam pemerintahan raja Nebukadnezar selalu memberi arti dan makna positif, teristimewa memberi kesaksian tentang kuasa Allah yang dasyat dan ajaib. Pengakuan raja Nebukadnezar terhadap kemahakuasaan Allah, dilatarbelakangi dari ancaman kematian yang dialami Zadrakh, Mezakh dan Abednego di dalam dapur perapian. Namun Allah menolong mereka dan hal tersebut membuat raja mengeluarkan titah untuk menghargai Allah sembahan Zadrakh, Mezakh dan Abednego. Pengalaman iman Zadrakh, Mezakh dan Abednego ini juga memberi keteladan bagi kita sebagai keluarga Allah: papa, mama dan anak-anak untuk menceritakan dan menyaksikan kemahakuasan Allah dalam Tuhan Yesus melalui kehidupan kita masing-masing. Hal ini penting sebab kehadiran kita sebagai orang percaya akan memberi dampak yang baik dan positif melalui sikap dan perilaku hidup kita yang baik pula. Ibarat seperti ikan yang hidup di laut tetapi dagingnya tidak menjadi asin namun tetap tawar. Demikian juga kehadiran kita di tengah dunia dalam berbagai tantangan bahkan ancaman sekalipun, namun kita tidak perlu takut dan bimbang sebab Allah kita adalah Allah yang selalu menuntun, menyertai dan memberkati kita. Untuk itu pentingnya membangun relasi dengan Allah dalam Kristus patut kita lakukan dalam ibadah Binakel sebagai wujud kehidupan keluarga kita yang selalu bergantung dan bersandar pada Tuhan.  

Doa: Terima kasih Tuhan untuk kuasa mujizatMu dalam kehidupan keluarga kami, dan mampukan kami untuk menyaksikannya dalam seluruh pengalaman hidup kami. Amin.

Selasa, 24 September  2019                    

bacaan : Yosua 24 : 14 – 24  

14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” 16 Lalu bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! 17 Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, 18 TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.” 19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. 20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.” 21 Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” 22 Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” Jawab mereka: “Kamilah saksi!” 23 Ia berkata: “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” 24 Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.” 25 Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. 26 Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN. 27 Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu.” 28 Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya.

Jadilah Laki Laki Gereja Yang Bermakna…!!!

Mia suka pada Amar dan Sonny, dua pria yang mendapat tempat di hatinya. Sonny ramah, sopan tapi wajah dan isi dompetnya pas-pasan, sedangkan Amar, ganteng, kaya tapi agak kasar dan suka mengatur. Mana yang mau Mia pilih?? Bingung!! tapi Mia harus memilih. Pilihan yang menentukan masa depannya. Manusia memang selalu diperhadapkan dengan pilihan. Ini terjadi juga dalam kehidupan Israel sebagaimana yang dikisahkan dalam bacaan kita hari ini. Yosua tahu bahwa bangsa Israel akan selalu diperhadapkan pada pilihan, antara lain: Kepada siapa mereka harus beribadah. Kepada ilah-ilah sesembahan nenek moyang mereka atau dewa-dewi sesembahan bangsa-bangsa sekitar, ataukah kepada Allah yang telah menuntun mereka sepanjang perjalanan di padang gurun. Karena itu dalam pidato perpisahannya, Yosua memperhadapkan kepada Israel untuk memilih dan sekaligus berjanji bahwa mereka akan tetap setia dan beribadah hanya kepada Allah Israel (Yahweh). Tantangan ini dijawab Israel dengan menyatakan iman dan kesetiaan mereka kepada Allah yang telah menuntun dan menyelamatkan mereka. .

Hari ini, sebagai Gereja Protestan Maluku, kita merayakan HUT Wadah Pelayanan Laki-Laki ke-33. Tantangan Yosua terhadap umat Israel juga diperhadapkan kepada laki-laki GPM, namun dengan rumusan yang agak berbeda yaitu: “Jadilah laki-laki Gereja Yang bermakna bagi Gereja & Bangsa!!!” Sebagaimana Umat menjawab tantangan Yosua, dapatkah laki-laki GPM menjawab tantangan ini juga? Semoga…!

Doa:  Tuhan, tolonglah laki-laki GPM untuk menjawab tantangan: menjadi laki-laki Gereja Yang bermakna… Amin!

Rabu, 25 September 2019                     

bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 9 – 17

9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! 10 Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” 11 Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka. 12 Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan. 13 Kata mereka: “Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat.” 14 Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: “Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu, 15 tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian.” 16 Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan. 17 Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.

Beritakanlah Injil, Baik Atau Tidak Baik Waktunya

Ibarat ilalang yang dibabat semakin merambat, seperti itulah hasil pekerjaan pemberitaan Injil oleh rasul Paulus. Ia dengan berani terus memberitakan injil kerajaan Allah bukan karena kekuatan dan kehebatannya sebagai manusia, namun campur tangan Tuhan melalui kuasa Roh Kudus. Ketika Rasul Paulus berada dalam pelayanan pemberitaan injil di Korintus, bangkitlah orang-orang Yahudi yang tidak senang kepadanya untuk menghasut dan memprovokasi orang-orang dalam persidangan dan juga Galio, Gubernur Akhaya bahwa Paulus mengajarkan orang-orang tentang ajaran baru yang bertentangan dengan hukum Taurat. Kondisi ini ditanggapi oleh Galio dengan menyatakan bahwa dia tidak terpengaruh apalagi soal ajaran atau hukum yang dianut oleh orang Yahudi. Kesaksian ini menjadi pengalaman bahwa menjadi murid dan pengikut Tuhan Yesus tidak sepi dari berbagai tantangan bahkan ancaman. Namun sebagaimana Paulus yang tetap teguh dan berani, maka demikian juga kita sebagai keluarga Allah untuk tetap setia, taat dan teguh dalam iman dan pengharapan kita kepada Allah dalam kasih Tuhan Yesus. Harus diakui bahwa dalam kehidupan ditengah dunia ini, kita mengalami berbagai tantangan, tekanan bahkan ancaman karena iman dan keyakinan kita kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Namun kita mesti bersyukur dan tetap giat untuk terus menyaksikan tentang Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat melalui tutur kata serta tindakan dan perbuatan kita yang baik dan penuh kasih untuk semua orang. Semoga! 

Doa: Tolonglah kami Tuhan agar kami selalu setia dan taat bersaksi tentang kasih dan anugerahMu bagi semua orang. Amin.

Kamis, 26 September 2019                  

bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9

Abram dipanggil Allah
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Berikanlah Yang Terbaik Untuk Tuhan

Kehidupan Abraham sampai pada masa tuanya diberkati Tuhan secara luar biasa.  Sungguh nyata benar apa yang tertulis dalam Yesaya 46:4 bahwa, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”.  Setiap kita yang rindu masuk ke dalam rencana Tuhan, baik dalam hidup di dunia ini maupun untuk hidup yang akan datang, biarlah kita mau belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Abraham. Mari kita belajar taat karena ketaatan adalah kunci mengalami terobosan baru, namun sebelum memberkati, Tuhan meminta milik Abraham yang paling berharga dan yang terbaik, yaitu anak semata wayangnya.   FirmanNya,  “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej.22:2). Abraham tidak kecewa, mengeluh atau membantah dengan Tuhan, dipersembahkanlah Ishak kepada Tuhan. Sudahkah kita memberi yang terbaik dari hidup kita  (waktu, tenaga, talenta, materi)  untuk Tuhan? Muliakan Tuhan dengan apapun yang kita punya dan jadilah berkat bagi sesama.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu memberikan yang terbaik untukMu dalam hidup kami. Amin.

Jumat, 27 September 2019                   

bacaan : Kejadian 41 : 37 – 49

Yusuf di Mesir sebagai penguasa

37 Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. 38 Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” 39 Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. 40 Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.” 41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.” 42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. 43 Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: “Hormat!” Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. 44 Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.” 45 Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. 46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, 48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. 49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.

RencanaNya Selalu Indah Pada WaktuNya

Tuhan mempunyai berjuta-juta cara untuk mewujudkan rencanaNya. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor.2:9). Pada saat Yusuf berserah penuh kepada Tuhan dan Tuhan bertindak sesuai waktuNya, maka Tuhan memakai Yusuf sebagai ‘bejanaNya’ yang siap dibentuk. Ketika terjadi tujuh tahun kelaparan di Mesir, Yusuf dipercayakan oleh Firaun untuk mengatasi bencana kelaparan itu. Ia diberi hikmat oleh Tuhan untuk mengatasi bencana kelaparan, dengan menimbun banyak sekali bahan makanan di waktu musim kelimpahan, sehingga saat kelaparan terjadi Mesir tetap berlimpah makanan, sehingga bangsa-bangsa lain datang meminta pertolongan ke Mesir. Firaun berkata kepada Yusuf “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Tuhan memakai Yusuf menjadi saluran berkat bagi bangsa Mesir, ia di pakai Allah karena Yusuf mengandalkan Tuhan dalam hidup dan selalu meminta hikmat untuk segala sesuatu yang Ia lakukan, Sebagai keluarga kristen, jadilah berkat dimanapun kita berada, selalu mengandalkan Tuhan dan meminta hikmatNya dalam hidup maka DIA akan memakai kita menjadi saluran berkat untuk sesama, karena Tuhan tidak pernah ingkar janji, Ia selalu mendengar seruan umatNya yang bergaul karib denganNya. JanjiNya pasti dan tepat waktu. Ingin hidup kita menjadi berkat dan bermakna? Andalkanlah Tuhan setiap waktu.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami selalu mengandalkanMu dalam hidup kami. Amin.

Sabtu, 28 September 2019                

bacaan : Kejadian 47 : 7 – 10

7 Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun. 8 Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: “Sudah berapa tahun umurmu?” 9 Jawab Yakub kepada Firaun: “Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing.” 10 Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun.

Jadikanlah Hidupmu Penuh Berkat

Sebagai mahluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri, kita membutuhkan orang lain, baik itu saudara, tetangga, teman, rekan kerja dan lainnya. Ketika kita menghadapi kesulitan, Tuhan juga menggunakan orang lain menjadi saudara tempat kita berbagi. Oleh sebab itu kita harus menjaga relasi hidup yang baik dengan semua orang yang ada di sekitar kita. Kejadian 47:7-10, mengisahkan tentang perpindahan keluarga Jakub ke Mesir karena ancaman kelaparan yang hebat. Sebenarnya Tuhan Allah dapat saja memberi pertolongan kepada Jakub dan keluarganya sebagai kaum pilihan Allah, tanpa harus pindah ke Mesir. Tetapi Allah bermaksud lain, sebab di Mesir, Jakub dan anak-anaknya belajar untuk mengalami pertolongan Tuhan lewat bangsa lain, tetapi serentak dengan itu mereka juga dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa Mesir. Hidup yang saling menopang dan menjadi berkat adalah panggilan kristiani kita yang dikehendaki oleh Allah dalam Yesus Kristus. Untuk menjaga keutuhan hidup berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat, maka kita diharapkan dapat menunjukan sikap hidup yang saling menghargai dan saling menerima. Di manapun kita berada dan apapun yang kita kerjakan, hendaklah itu mendatangkan berkat bagi banyak orang dan juga bagi masyarakat, bangsa dan negara kita, sebab dengan demikian kita juga diberkati oleh Allah.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi berkat bagi orang lain, Amin. 

*sumber : SHK bulan September 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey