Santapan Harian Keluarga, 29 Sept – 5 Oktober 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 29 September 2019                 

bacaan : Zakaria 8 : 13 – 19  

13 Dan kalau dahulu kamu telah menjadi kutuk di antara bangsa-bangsa, hai kaum Yehuda dan kaum Israel, maka sekarang Aku akan menyelamatkan kamu, sehingga kamu menjadi berkat. Janganlah takut, kuatkanlah hatimu!” 14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: “Kalau dahulu Aku telah bermaksud mendatangkan malapetaka kepada kamu, ketika nenek moyangmu membuat Aku murka, dan Aku tidak menyesal, firman TUHAN semesta alam, 15 maka pada waktu ini Aku kembali bermaksud berbuat baik kepada Yerusalem dan kepada kaum Yehuda. Janganlah takut! 16 Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. 17 Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman TUHAN.” 18 Datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya: 19 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Waktu puasa dalam bulan yang keempat, dalam bulan yang kelima, dalam bulan yang ketujuh dan dalam bulan yang kesepuluh akan menjadi kegirangan dan sukacita dan menjadi waktu-waktu perayaan yang menggembirakan bagi kaum Yehuda. Maka cintailah kebenaran dan damai!”

Jadilah Berkat Bagi Sesama

Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan, namun kasih Allah tak berkesudahan, selalu baru setiap hari…”.

Saudaraku, Tuhan memang tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya. Ia marah dan memberi hukuman jika umat-Nya berbuat dosa. Ia juga tidak menyesali tindakan memberi hukuman itu. Namun setelah hukuman selesai, Allah kembali mengasihi dan memperbaharui relasi-Nya dengan umat yang tak henti dicintai-Nya. Itulah yang terjadi dalam hidup Israel di zaman Zakaria…

Karena dosa, Israel dihukum lalu mereka perpuasa dan berkabung atas penderitaan yang diakibatkan oleh dosa itu. Mereka melakukan puasa dan berkabung di bulan ke-4 (untuk penyerbuan Nebukadnezar ke Yerusalem), bulan ke-5 (untuk kehancuran Baith Allah), bulan ke-7 (untuk kematian Gedalya-Gub. Yerusalem yang dikudeta) dan bulan ke-10 (untuk pengepungan Yerusalem oleh pasukan Nebukadnezar). Allah-pun melihat keadaan mereka, kemudian Ia menggantikan perkabungan itu dengan sukacita. Dan umat diajak untuk tidak takut, dan mereka harus: 1). selalu berkata benar, 2). laksanakan hukum dengan benar 3). membawa damai kepada semua orang, 4). tidak merancang kejahatan dan 5). tidak bersumpah palsu. Itu yang mesti umat lakukan sebagai tanda bahwa mereka benar-benar telah sadar dan bertobat. Kesadaran dan pertobatan yang menghasilkan perbuatan-perbuatan baik. Keadaran dan pertobatan yang memungkinkan orang lain terberkati. Saudaraku, ajakan terhadap Israel ini juga ditujukan kepada kita, Israel baru agar kita juga menyadari perbuatan salah kita lalu berusaha melakukan yang baik agar kita selalu menjadi berkat bagi sesama dan dunia ini.

Doa: Bapa, jadikanlah kami saluran berkat-Mu. Amin.

Senin, 30 September 2019                      

bacaan : Amsal 23 : 17 – 18

17 Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. 18 Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Masa Depan Yang Berpengharapan

Sebagai anak-anak Tuhan, kita tidak perlu risau dan kuatir memikirkan masa depan kita karena ada janji Tuhan kepada umat-Nya, yaitu kepastian akan masa depan yang cerah seperti tertulis:  “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  (Yer.29:11).  Pernyataan Yeremia ini sejalan dengan apa yang diungkapkan dalam Kitab Amsal 23:18, yang mengatakan bahwa: “….masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan  hilang”. Ini adalah suatu penegasan bahwa masa depan itu adalah sesuatu yang pasti, bukan pernyataan meninabobokan, sekedar hiburan atau basa-basi. Untuk menjadikan masa depan cerah sebagai milik yang pasti, kita harus memperhatikan bagaimana hidup kita di masa sekarang ini, bukan terpaku atau berorientasi pada masa lalu.  Jadikan masa lalu hanya sebagai pembelajaran, bahan evaluasi, atau guru yang terbaik, ambil yang positifnya saja. Dengan kata lain apa yang kita lakukan di masa sekarang inilah yang menentukan akan seperti apa masa depan kita nanti.  Janji masa depan yang cerah adalah pasti bagi orang yang takut akan Tuhan atau hidup dalam kesalehan.  Hidup takut akan Tuhan menunjuk kepada rasa hormat kepada Tuhan.  Wujud rasa hormat itu adalah melalui ketaatan kita melakukan Firman Tuhan. Di dalam Tuhan masa depan kita lebih dari sekedar baik.

Doa: Tuhan, Ajarlah kami untuk meyakini bahwa di dalam tanganMu masa depan kami indah. Amin.

Selasa, 01 Oktober 2019                       

bacaan : Yunus 4 : 1 – 11

Yunus belajar menginsyafi, bahwa Allah mengasihi bangsa-bangsa lain
Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. 2 Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. 3 Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” 4 Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” 5 Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. 6 Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. 7 Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. 8 Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” 9 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” 10 Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. 11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

Jadilah Berkat Bagi Orang Lain Tanpa Pandang Bulu

Bagaimana perasaan anda saat tahu bahwa pertemanan dan pelayanan anda membuat seorang “pendosa” bertobat….?”

Begitulah pertanyaan yang disampaikan kepada Sandro, seorang pemuda sederhana yang bisa membawa Alif – seorang preman non-Kristen, pemimpin gerombolan perompak yang tak segan membunuh korbannya – ke jalan yang benar. Kata Sandro: ”Yang pasti saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena dipakai sebagai alat-Nya untuk menolong orang lain.” Sandro sempat berhenti sejenak karena terharu, lalu dia melanjutkan: “Sekalipun saya senang dan bersukacita sekali saat tahu Alif bisa berubah menjadi baik, tidak lagi merugikan orang lain dengan perbuatan jahatnya, malah dia mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, namun saya sadar bahwa itu bukan karena saya, tetapi karena kehendak Tuhan yang ingin Alif selamat, saya hanya alat”.

Saudaraku, dari kisah Sandro dan cerita Yunus dalam bacaan hari ini, kita belajar bahwa Allah mengasihi seseorang tanpa pandang suku, agama, dan golongan, termasuk penjahat sekalipun dan tidak ada satupun yang dapat menggagalkan misi kasih Allah. Saudara dan saya dipanggil juga untuk menjadi alat-Nya seperti Sandro dan Yunus. Sekalipun Yunus marah saat Tuhan mau mengampuni orang Niniwe, namun pada akhirnya Yunus sadar bahwa Allah mengasihi semua orang tanpa pandang bulu.

Memasuki bulan PI, mari kita menjadi pemberita Injil, bukan hanya dengan kata, tetapi juga dengan karya. Hari ini, sebagai warga negara Indonesia, kita merayakan hari KESAKTIAN PANCASILA. Mari amalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sesehari dan jadilah berkat bagi sesama tanpa pandang bulu.

Doa: Tuhan, mampukan kami ‘tuk menjadi berkat bagi orang lain tanpa pandang bulu. Amin.

Rabu, 02 Oktober 2019                          

bacaan : Roma 15 : 7 – 13

7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. 8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, 9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.” 10 Dan selanjutnya: “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.” 11 Dan lagi: “Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.” 12 Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.” 13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Saling Menerima Karena Yesus

“Hai Alif, apa kabar?” demikian saya menyapa Alif. “Puji Tuhan, luar biasa baik” jawab Alif. “Bagaimana perasaan Alif sekarang?”, tanya saya. “Saya bersyukur bisa lepas dari jeratan iblis yang menjerumuskan saya dalam lembah dosa. Saya  berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah mempertemukan saya dengan Sandro dan jemaat gereja yang bisa menerima saya apa adanya. Saya senang karena mereka begitu ramah dan bersahabat. Awalnya saya takut nanti dicela dan dipandang sebelah mata. Tapi luar biasa, saya malah mendapat dukungan sehingga saya bisa memperbaiki hidup saya sesuai ajaran Tuhan Yesus, yang sudah saya terima sebagai “Juruselamat” hidup saya. Saya tidak hanya belajar dari kata-kata mereka, tetapi juga dari sikap dan perilaku mereka. Saya jadi punya banyak saudara sekarang. Terima kasih Tuhan Yesus“ jawab Alif penuh rasa haru.

Itulah sepenggal percakapan dengan Alif, pemuda mantan preman, pemimpin gerombolan perompak. Saudaraku, untuk menerima seseorang yang berlatar belakang “penjahat” dalam kehidupan kita memang sangat sulit. Pasti masih ada keraguan, kecurigaan, malah ketakutan. Takut “ketularan” atau “jadi korbannya”. Namun belajar dari kisah Alif dan nasehat Paulus kepada jemaat Roma, kita diharapkan untuk saling menerima seorang terhadap yang lain karena Tuhan sudah lebih dulu menerima dan mengampuni kita. IA berkorban demi keselamatan kita dan semua bangsa di dunia. IA berkarya demi orang benar tapi juga orang fasik, karena IA ingin agar semua orang diselamatkan. Marilah saling menerima dan terus beritakan Injil dengan kata dan karya agar semakin banyak orang diselamatkan dan memuliakan Allah.  

Doa: Tuhan, tolong kami ‘tuk menjadi pemberita Injil dengan kata dan karya sehingga semakin banyak orang diselamatkan. Amin! 

*sumber : SHK bulan September & Oktober 2019, LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey