Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Januari 2020

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 05 Januari 2020                         

bacaan : 1 Korintus 11 : 17-34

Kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam perjamuan malam
17 Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. 18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. 19 Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji. 20 Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. 21 Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. 22 Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji. 23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" 25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" 26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. 27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. 28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. 29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. 30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. 31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. 32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia. 33 Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain. 34 Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum. Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.

Perjamuan Kudus Sebagai Bentuk Solidaritas  Allah.

Hari ini adalah hari minggu partama di tahun 2020. Dan di minggu yang pertama ini kita merayakan Perjamuan Kudus. Perayaan ini dilakukan untuk mengingatkan kita bahwa Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus selalu ada bersama kita melalui Firman dan Roh-Nya.  Oleh karena itu, kita tidak perlu takut menjalani hidup di tahun ini. Kehadiran Tuhan tidak hanya terjadi dalam kehidupan manusia secara pribadi, tetapi juga dalam kehidupan bersama sebagai suatu persekutuan. Perjamuan Kudus adalah tanda adanya  persekutuan yang hidup di antara orang-orang percaya dengan Tuhan dan orang-orang percaya satu dengan yang lain. Persekutuan yang berbagi kasih melalui pemecahan roti dan penuangan anggur yang dapat dibagi dan dinikmati bersama. Namun hal ini tidak terjadi dengan umat Tuhan di Korintus. Mereka datang merayakan perjamuan kudus, tetapi mereka hanya ingat diri sendiri. Mereka tidak solider dengan orang lain yang miskin. Karena itu mereka tidak mau berbagi dari apa yang dimiliki dengan orang misikin.  Menurut rasul Paulus, orang yang demikian tidak layak hidup dalam persektuan dengan Tuhan dan manusia. Sebab Perjamuan Kudus mengingatkan kita bahwa Allah sungguh-sungguh solider dengan manusia yang menderita. Karena itu manusia juga harus solider satu dengan yang lain. Khususnya dengan mereka yang miskin dan hidup dalam kekurangan. Ingat, Tuhan solider  dengan orang  miskin, karena itu kitapun harus berlaku demikian.

Doa: Ya Tuhan jadikanlah kami orang yang solider dengan orang miskin.

Senin, 06 Januari 2020                          

bacaan : Amsal 28 : 27

Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki.

Allah Peduli Dengan Orang Yang Lemah

Orang-orang lemah, adalah orang-orang miskin yang sering mengalami ketidak-adilan sosial. Hak-hak hidup mereka sering dirampas oleh orang-orang yang kuat secara sosial, ekonomi dan politik. Akibatnya ialah mereka terus mengalami penderitaan dalam hidup mereka. Orang-orang yang miskin ini adalah orang-orang yang dipedulikan oleh Allah. Oleh karena itu, Allah memberikan firman-Nya sebagai petunjuk kepada umat Israel untuk melindungi hak-hak hidup orang miskin. Walaupun demikian, karena keserakahan, orang – orang yang kuat, seringkali memanfaatkan mereka yang lemah secara sosial, ekonomi dan politik, sehingga mereka tidak berdaya untuk melepaskan diri dari masalah kemiskinan. Apa yang dialami oleh orang miskin yang lemah ini diamati oleh penulis kitab Amsal. Karena itu dia menyampaikan ajarannya, bahwa siapa yang memberi kepada orang miskin dia tidak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki (Amsal 28:27). Penulis kitab Amsal mau mengatakan kepada pembacanya bahwa orang yang bersedia membantu orang miskin tidak akan berkekurangan, karena Tuhan sanggup melimpahkan berkat-Nya kepada mereka. Tetapi orang yang tidak mau berbagi dengan orang miskin akan dikutuki oleh Tuhan, karena Tuhan memberkati dia dalam segala usahanya. Sebagai orang yang diberkati Tuhan, marilah kita berbagi dengan orang sesame yang membutuhkan.

Doa: Marilah kita hidup saling peduli dan berbagi kasih.

Selasa, 07 Januari 2020                     

bacaan : Filipi 4 : 10 – 20

Terima kasih atas pemberian jemaat
10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. 11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. 14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. 15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. 16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. 17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. 20 Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.

Hidup Yang Bersolidaritas

Salah satu hal yang berguna dalam hidup kita adalah membangun hidup yang bersolidaritas, yaitu hidup yang peka, peduli dan mau berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Hidup yang bersolidaritas adalah panggilan kristiani kita, karena Allah dalam Tuhan Yesus telah lebih dulu bersolidaritas dengan kita manusia. Seluruh karya Yesus di dunia menampakkan solidaritas-Nya dengan manusia yang lemah dan tak berdaya. Lewat bacaan kita, rasul Paulus menceriterakan pengalamannya dalam relasi solidaritas dengan jemaat di Filipi. Orang – orang di Filipi telah ikut dalam tanggungjawab pemberitaan Injil, ketika mereka membantu dan menopang Paulus dengan berbagai bantuan. Hal ini yang membuat Paulus bersyukur dan bersukacita karena masih ada yang mau peduli dan berbagi untuk menopangnya dalam tanggungjawab pelayanan. Jemaat di Filipi ternyata telah membangun dan menunjukkan sikap hidup yang penuh kasih. Dengan solidaritas, peduli dan berbagi, orang lain terberkati dan tertolong, hidup kita sendiri menjadi berarti untuk sesama. Hidup yang bersolidaritas akan menjauhkan kita dari sifat egoisme atau hanya bertumpu pada diri sendiri dan tidak peduli pada yang lain.Tuhan menciptakan kita untuk saling menolong, saling menopang dan saling mendukung. Keluarga dan rumah tangga,  gereja dan masyarakat akan terasa indah kalau terus membangun hidup yang bersolidaritas.Maka cara terindah untuk hidup damai dan bahagia adalah melupakan diri sendiri dan peduli dengan orang lain.

Doa: Tuhan, anugerahkan hati yang selalu peduli dengan orang lain, Amin!

Rabu, 08 Januari 2020                       

bacaan : 2 Korintus 9 : 6 – 9

Memberi dengan sukacita membawa berkat
6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."

Memberi Dengan Sukacita Menuai Berkat Melimpah

“Jujur saja, kadang-kadang saya kurang rela ketika memberikan persembahan. Saya juga pernah merasa sedih setelah memberi, terutama setelah memberi dalam jumlah yang cukup besar menurut kemampuan keuangan saya”, ujar seorang ibu. Berbicara tentang persembahan, kadang-kadang kita hanya berfokus pada takaran pemberian itu. Memang Alkitab mencatat bahwa orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga. Sebaliknya, orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga (ay. 6). Namun, hal yang tak kalah pentingnya adalah menilik kondisi hati ketika kita memberi. Ada tiga prinsip yang perlu kita perhatikan dalam memberi. Pertama, memberi dengan penuh kerelaan, karena kita memberi kepada Tuhan. Kedua, jangan memberi dengan sedih hati karena kita tidak sedang kehilangan, tetapi sedang menabur. Ketiga, jangan memberi karena terpaksa. Lebih baik menunda untuk memberi daripada kita memberi karena terpaksa. Memberi dengan sukacita tidak bisa dilepaskan dari ketiga prinsip di atas. Seseorang tidak mungkin bisa memberi dengan sukacita jika ia tidak rela, bersedih hati, apa lagi kalau terpaksa. Memang tidak mudah melakukan tiga prinsip di atas, tetapi juga bukan mustahil untuk dilakukan. Bagaimana dengan kondisi hati kita selama ini ketika memberi? Marilah memberi dengan sukacita!!!

Doa: Ya Tuhan, tolong aku untuk selalu memberi dengan tulus dan penuh sukacita,  Amin!

Kamis, 09 Januari 2020                         

bacaan : 2 Korintus 9 : 10 – 15

10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

Kalahkan Keserakahan Dengan Memberi

Seseorang pernah berkata : “bukti bahwa kita sudah berhasil mengalahkan keserakahan adalah dengan memberi”. Itu berarti memberi adalah sesuatu yang baik. Sayangnya, banyak orang enggan bahkan menolak untuk memberi atau membantu, sebab prinsip hitung-hitungan duniawi telah melekat dalam dirinya. Jika memberi, maka akan ada yang berkurang dari dia; atau apa yang nanti didapat sebagai balasan? Pemahaman seperti ini yang kadang menjadi faktor penghambat seseorang bisa memberi. Padahal ketika  kita memberi, sebenarnya kita hendak bersaksi bahwa Tuhan memberkati kita; sebaliknya jika kita menerima, kita hendak bersaksi bahwa Tuhan memelihara hidup kita. Jadi, baik yang memberi maupun yang menerima sama-sama diberkati oleh Tuhan; yang memberi dan menerima sama-sama merasa bersukacita dan bersyukur lalu memuji nama Tuhan. Kita sadar bahwa niat memberi itu datangnya dari ketaatan kita pada perintah Tuhan, bukan karena paksaan atau sebaliknya memberi dengan harapan orang lain akan melihat dan memuji kita. Jika kita memberi dengan tulus dan sukacita, ketulusan kita akan diberkati, sehingga ketulusan kita untuk tetap memberi tidak akan pernah berhenti. Kita yakin dalam iman, Tuhan adalah sumber berkat, Ialah yang mencukupkan segalanya agar kita dapat terus berbagi.

Doa: Ya Tuhan,  biarlah aku terus berbagi dari berkat melimpah yang Tuhan beri dalam hidupku, Amin!

Jumat, 10 Januari 2020                       

bacaan : Galatia 6 : 1 – 10

Saling membantulah kamu 
Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. 3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. 5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. 6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. 7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Janganlah Jemu-jemu Berbuat Baik

Semua kita pasti suka atau senang berbuat baik. Tetapi berbuat baik sesungguhnya bukan semata-mata pada  perbuatan baik itu sendiri, tetapi kepada sikap hati di balik perbuatan baik yang dilakukan. Perbuatan baik yang dilakukan dengan sikap hati yang benar akan berdampak sangat positif dan menjadi sebuah kesaksian bagi orang lain. Banyak orang Kristen sekarang ini lebih banyak berwacana tentang berbuat baik, tetapi sikap atau perilaku hidupnya sendiri seringkali tidak menunjukkan hal itu, malah menjadi batu sandungan, dengan berlaku jahat untuk  sesama.  Melalui firman ini kita selalu diingatkan bahwa perintah untuk berbuat baik itu bersifat  permanen, terus-menerus, bukan  hanya sesekali atau musiman.  Karena itu, Janganlah jemu-jemu berbuat baik. Hal ini menunjuk  kepada suatu  tindakan yang harus dilakukan secara terus-menerus kepada semua orang dalam situasi dan kondisi apapun,  “..,,selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”  (Gal 6:10).  Kita masih diberi kesempatan untuk berbuat baik, dan berbuat baik itu hendaklah ditujukan kepada semua orang artinya kepada orang yang mengasihi kita maupun yang membenci kita. Berbuat baik itu hendaklah dimulai dari keluarga terdekat kita, saudara seiman kita sebagai sesama anggota tubuh Kristus. Tetapi harus dilanjutkan juga kepada semua orang yang kita jumpai dalam relasi kerja di tengah gereja dan masyarakat. Jangan menunda waktu dan menjadi kendor dalam berbuat baik.  Teruslah miliki  kesetiaan untuk mengerjakan kebaikan setiap hari, itu yang Tuhan mau.

Doa: Ya Roh Kudus, tolong aku untuk selalu mengerjakan kebaikan dalam hidup ini, Amin!

Sabtu, 11 Januari 2020               

bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 32 – 37

Cara hidup jemaat
32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. 34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Hidup Saling Berbagi

Hidup berbagi adalah suatu kekuatan untuk merawat keutuhan persekutuan agar dapat terus berjalan bersama. Sebab dalam suatu persekutuan ada orang – orang yang kuat tapi juga ada yang lemah. Oleh sebab itu yang diharapkan adalah yang kuat membantu yang lemah bahkan yang lemah juga dapat membantu yang kuat. Hal inilah yang menjadi komitmen dan solidaritas persekutuan jemaat kristen yang mula – mula, yang hidup dalam tuntunan kuasa Roh Kudus Allah. Dikatakan, mereka sehati sejiwa dan semua milik mereka menjadi milik bersama. Apa yang mereka punyai, mereka akan membagikannya agar dapat dinikmati oleh semua orang dalam persekutuan itu. Tidak ada diantara mereka yang hidup untuk diri sendiri, mereka saling memperhatikan sehingga tidak ada yang merasa terabaikan. Cara hidup seperti ini sepatutnya menjadi cara hidup persekutuan kristen, teristimewa keluarga – keluarga kristen. Untuk merawat keutuhan persekutuan keluarga kristen maka hal penting yang perlu dibangun adalah sikap hidup “sehati, sepikir”, artinya untuk menyatukan segala perbedaan, dibutuhkan adanya ruang untuk saling terbuka, saling pengertian untuk menerima satu dengan yang lain. Meja makan hendaknya menjadi tempat untuk menyatukan hati dan pikiran untuk menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi dalam keluarga. Saling memaafkan jika ada yang melakukan kesalahan, saling melayani dalam suka dan duka. Jadikanlah Rumah sebagai “Rumah Doa” dimana semua anggota keluarga akan “sepakat” berkumpul dan berdoa. Tuhan Yesus katakan: “Jika dua orang padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga,……akan dikabulkan……”(Matius 18:19)

Doa : Tuhan ajarlah kami untuk merawat hidup saling berbagi, Amin

*sumber : SHK bulan Januari 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey