Sedikit perspektif tentang covid-19 dan kekristenan.

oleh : Pdt. Theo Matatula

Ada banyak cerita tentang covid-19 yang kini telah menjadi sebuah pandemi global setelah ditetapkan oleh WHO. Diantara sekian banyak cerita, saya ingin menyentil sedikit cerita tentang covid-19 dan kekristenan dalam 3 catatan penting:

1. Iman dan tidak beriman.

Sampai saat ini masih saja ada orang yang saling berdebat tentang iman dan tidak beriman di tengah2 pandemi covid-19, bahkan ada juga yang tidak segan-segan mengkritik keputusan sinode gereja mereka, sebab mereka beranggapan bahwa pendeta-pendeta mereka tidak beriman karena menghimbau umat untuk tidak berkumpul dan beribadah bersama di tengah-tengah wabah ini.
Kawan!! Sekali lagi, iman itu persoalan subjektif!! Jangan samakan imanmu dengan iman orang lain. Lalu apakah pendeta2 yang telah meninggal akibat wabah ini, mereka tidak beriman sehingga terjangkit wabah ini? Tentu tidak!! Saya juga ingin bertanya, indikator apa yang kawan pakai untuk mengukur tingkat keimanan seseorang? Apakah dapat memindahkan gunung? Berjalan di atas air? Atau apa? Kawan semua orang beriman, sebab iman itu tidak hanya soal percaya tapi juga soal kebenaran “percaya terhadap yang benar” dan tentunya bukan hanya sekedar kebenaran partikular semata tetapi kebenaran yang menyeluruh atau holistik. Karena itu lewat kacamata dialektika Hegel, kebenaran partikular (yang menurut anda adalah iman anda) harus bersintesa dengan berbagai kebenaran lainnya (iman orang lain yang juga sifatnya partikular) sebab kebenaran partikular anda mempunyai tesis (yang ada) sekaligus mempunyai anti tesis (yang tidak ada) sehingga informasi kebenaran yang partikular itu perlu disintesa dengan kebenaran lainnya untuk mendapatkan sebuah kebenaran mutlak dan untuk memberikan fakta serta memverifikasi bahwa anda juga beriman. Sebab itu semua orang pada dasarnya beriman karena melekat hakikat dari kebenaran partikular dalam dirinya masing-masing, ya kebenaran tentang realitas tertinggi (Tuhan) dan cara mengalami realitas tertinggi itu sendiri. Disisi lain, ketika anda mengetahui bahwa semua orang mempunyai iman, maka anda juga harus menerima setiap kebenaran yang telah disampaikan seperti menjaga social distancing, melakukan PHBS, juga mengikuti seluruh himbauan dari pemerintah, gereja, dan dinas kesehatan terkait, sebab itu adalah iman mereka yang terbentuk di dalam sebuah kebenaran yang diaktakan. Jadi hentikanlah perdebatan antara iman dan tidak beriman.

2. Kalau tidak ibadah dan merayakan jumat agung di gedung gereja rasa asing.

Kawan, sebagai makhluk sosial kita saling terikat satu dengan yang lain di dalam jejaring sosial, dan keterikatan tersebut telah menjadi identitas kita dalam konteks primordial maupun nasional. Bahkan menurut Durkheim, identitas sebagai makhluk sosial yang melekat pada diri kita juga turut memainkan peran penting dalam habitus (meminjam kata Bourdieu) keagamaan kita untuk mengkonsepkan yang sakral dan yang profan serta melegitimasinya dan menghidupinya bersama sebagai sebuah memori kolektif yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai satu kekuatan dalam habitus keagamaan kita. Karena itu banyak ajaran, banyak simbol yang telah mendapat kekuatan sakral dari legitimasi itu sendiri, dan gedung gereja adalah salah satu bagian dari kekuatan sakral itu. Pertanyaannya ialah, apakah kita kemudian benar-benar teralienasi (meminjam kata Marx) ketika kita tidak beribadah dan melayankan jumat agung di gedung gereja? Secara teori kita memang terasing dari produk keagamaan kita jika kita memandang gereja (gedung) sebagai satu-satunya kekuatan sakral kita. Padahal ada begitu banyak kekuatan sakral lain di dalam habitus keagamaan kita. Bahkan jika bertolak dari pengertian gereja, gereja itu bukan hanya soal gedung, tetapi juga soal manusia. Karena itu, manusia (yang adalah gereja) harus mampu menjadi kekuatan sakral itu sendiri serta menghidupinya di dalam habitus keagamaan, sebagai simbol dari gereja yang sakral. Bahkan dalam beberapa kasus seperti tragedi kaisar Nero yang membuat orang Kristen hanya dapat beribadah di rumah-rumah tidaklah kemudian membuat orang Kristen pada saat itu merasa terasing dari habitus keagamaan mereka, bahkan dalam KPR 2: 41-47, jemaat mula-mula juga tidak hanya melayankan ibadah di Bait Allah tetapi juga di rumah-rumah mereka masing-masing dan mereka tidak sama sekali merasa terasing, bahkan mungkin saja ada saudara-saudara kita yang akibat gempa 26 September 2019 masih belum bisa merayakan ibadah di gedung gereja mereka karena kondisi gedung gereja yang tidak memungkinkan, dan apakah mereka merasa terasing dalam habitus keagamaan mereka? Belum tentu. Apakah orang tua kita yang sakit dan yang sudah lanjut usia ketika mereka mendapatkan pelayanan di rumah-rumah dan di rumah sakit merasa terasing dari habitus keagamaan mereka sebab tidak dapat dilayani di gedung gereja? Tentu tidak. Disisi lain, dari segi filsafat, sebagai manusia kita adalah pengada yang selalu bereksistensi untuk mengadakan/mengidekan segala sesuatu dengan sifat yang bebas dan universal, karena itu mengadalah sebagai yang sakral itu sendiri (gereja) dan bersungguh-sungguh melakoninya, sehingga kita tidak terasing dari habitus keagamaan kita ketika dalam kondisi tertentu misalnya (dilanda pandemi covid-19) kita tidak dapat melayankan ibadah dan jumat agung di gedung gereja melainkan harus melayankannya di rumah-rumah kita.

3. Perayaan paskah dalam model diakonia.

Paskah adalah sebuah titik balik iman kekristenan, sebab tanpa kebangkitan, maka sia-sialah iman kekristenan. Karena itu paskah dirayakan dengan berbagai simbol sakral dan dengan perayaan yang luar biasa. Itu tidaklah salah, karena itu wujud sukacita kita. Tetapi, kalau boleh saya menganjurkan untuk merayakan paskah tahun ini dengan melakukan perayaan diakonia, saling membantu dan berbagi dengan sesama kita yang dalam kondisi pandemi covid-19 ini tidak dapat bekerja dengan baik sehingga ada dalam masa-masa sulit, bahkan juga saling menguatkan dengan sesama kita, dan mereka yang berstatus ODP, PDP, bahkan yang telah dikonfirmasi positif covid-19, dan bukannya membuat stigma yang buruk tentang mereka, supaya kita dapat bersama-sama saling menghidupkan satu dengan yang lain di tengah-tengah pandemi ini, sebab bukankah kehidupan adalah arti dari pengorbanan Yesus di Salib?

Selamat memasuki usbu baru. Tetap saling menolong dan menguatkan, tetap dengar himbauan, tetap sehat, jaga jarak aman anda, dan kalau tidak ada keperluan mendesak tinggal di rumah saja.

Tuhan Memberkati.
Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey