fbpx

Santapan Harian Keluarga, 23-29 Juni 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 23 Juni 2019                              

bacaan : Mazmur 104 : 1 – 9 (T)

Kebesaran TUHAN dalam segala ciptaan-Nya
Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, 2 yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, 3 yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin, 4 yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Mu, 5 yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. 6 Dengan samudera raya Engkau telah menyelubunginya; air telah naik melampaui gunung-gunung. 7 Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara guntur-Mu, 8 naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka. 9 Batas Kautentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi.

Kemuliaan Allah Dalam CiptaanNya

Saat kita berdiri di atas gunung dan melihat pemandangan alam yang indah, pasti muncul suatu perasaan kekaguman akan kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan Allah yang telah menciptakan alam semesta dengan segala baik. Demikian pula ketika kita luput dari bencana alam yang dasyat misalnya gelombang tsunami, pasti dengan penuh rasa syukur dan mengakui betapa kerdilnya kita sebagai manusia saat berhadapan dengan kedasyatan dan keganasan alam. Pemazmur mengungkapkan itu melalui puji-pujian yang mengagungkan dan memuliakan kebesaran Allah didalam ciptaanNya. Semua ciptaan yang ada di jagat alam ini tunduk dan patuh kepada perintah dan kehendak Allah. Dengan berfirman Allah menjadikan alam semesta buatan tanganNya. Itulah sebabnya pemazmur memuji dan memuliakan Tuhan atas semua maha karya yang terwujud nyata pada alam semesta. Puji-pujian pemazmur ini juga hendaknya menginspirasi kita semua sebagai orang percaya untuk memuji dan memuliakan Tuhan melalui tanggungjawab untuk menjaga dan merawat alam semesta untuk kehidupan bersama serta bagi anak cucu kita. Sebaliknya dengan sikap serta perilaku hidup yang merusak alam semesta, maka kita tidak menghargai dan memuliakan Tuhan Allah sebagai maha pencipta semesta ini. Kesadaran untuk tetap memelihara alam semesta ini mesti dibangun mulai dari  keluarga kita dan diteruskan dalam kehidupan berjemaat dan masyarakat.

Doa:  Terima kasih Tuhan untuk alam semesta yang Engkau ciptakan bagi kami, tolonglah agar kami dapat memeliharanya dengan baik demi kemuliaan namaMu. Amin.-

Senin, 24 Juni 2019                          

bacaan : Mazmur 104 : 10 – 18 (T)

10 Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, 11 memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; 12 di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. 13 Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. 14 Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. 16 Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanam-Nya, 17 di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; 18 gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk.

Pekerjaan Allah Sulit Di Selami Manusia

Pulau Kisar sangat kecil, berbatu karang dan sedikit tandus, tetapi tersedia beberapa sabana (padang rumput) sebagai tempat bermain, dan sumber makanan bagi domba-domba, juga bertumbuhnya beberapa pohon Koli dan pohon Kelapa. Tidak ada hutan dan tempat khusus untuk berkebun, sehingga lahan di sekitar rumah menjadi tempat berkebun selamanya, turun-temurun (tidak mungkin berpindah) sesuai dengan batas tanah tiap keluarga. Sekalipun demikian, tanah tersebut tetap memberikan  makanan bagi setiap tanaman yang tumbuh diatasnya dan setiap tanaman mengeluarkan buah yang baik untuk tubuh manusia. Buah yang baik dari pulau Kisar adalah jeruk dan jagung. Rasanya sangat manis  dan berbeda dengan jeruk dan jagung dari tempat lain. Koq bisa? Bukankah tanah yang sering digunakan untuk menanam telah habis unsur haranya (humus tanah)? Dalam konteks inilah manusia harus menyadari bahwa pekerjaan Allah sulit dipahami oleh manusia. Allah menciptakan segala sesuatu maka Ia pun akan bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup seluruh ciptaan-Nya. Allah memberikan air bagi ciptaan-Nya; Allah memberikan makanan bagi ciptaan-Nya dan Allah memberikan tempat tinggal bagi ciptaan-Nya. Air, makanan, dan tempat tinggal adalah kebutuhan dasar bagi semua mahluk hidup.Allah telah menyediakan ketiga kebutuhan dasar tersebut sejak Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya. Karena itu, tidak pernah terjadi kelaparan atau kekeringan di pulau Kisar. Jadi, alam semesta dan segala isinya merupakan salah bentuk konkrit dari kemuliaan Allah.Temukanlah Allah dalam seluruh alam semesta. Hormatilah kemuliaan Allah itu

Doa:  Tuhan, berilah air, makan dan tempat tinggal bagikami. Amin.

Selasa, 25 Juni 2019                                

bacaan : Ayub 38 : 1 – 11 (T)

Kekuasaan TUHAN di alam semesta
Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: 2 “Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? 3 Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. 4 Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! 5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? –Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya? 6 Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya 7 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? 8 Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim? — 9 ketika Aku membuat awan menjadi pakaiannya dan kekelaman menjadi kain bedungnya; 10 ketika Aku menetapkan batasnya, dan memasang palang dan pintu; 11 ketika Aku berfirman: Sampai di sini boleh engkau datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan!

Allah Berbicara Dari Dalam Badai

Ketika Badai terjadi di Mozambik dkuatirkan lebih dari 1000 orang meninggal; ketika badai salju terjadi di Kanada, terdapat 250 ribu warga yang hidup tanpa aliran listrik dan bisa menimbulkan kekacauan dan kecelakaan. Badai disertai angin kencang saat ini kerap terjadi di pulau Jawa. Beberapa peristiwa ini mewakili berbagai peristiwa badai di berbagai tempat dalam sejarah dunia. Peristiwa badai membawa kehancuran dalam hidup manusia dan alam semesta yakni kematian manusia, kerusakan infrastruktur, kerusakan sumber mata pencaharian, trauma psikis bagi manusia. Dalam waktu yang tak terduga setiap saat badai selalu terjadi.Apakah badai hanyalah suatu fenomena alam saja? TIDAK. Badai adalah cara Allah berbicara kepada manusia yang sementara bergumul dengan berbagai persoalan hidup. Salah satunya adalah Ayub. Setelah Ayub melewati percakapan dengan para sahabat yang menilainya bahkan protes Ayub kepada Tuhan karena penderitaannya. Maka, dari dalam badai Allah menjawab Ayub. Allah mempertegas posisinya sebagai Pencipta dan Ayub (manusia) sebagai ciptaan Allah.Bahwa, sebagai Pencipta Allah berkuasa megatur segala sesuatu; dan manusiatidak bisa mengatur Allah. Allah berbicara dari dalam badai berartiAllah berkuasa atas badai, Allah yang menciptakan badai, Allah lebih besar dari badai itu, termasuk badai (penderitaan) kehidupan Ayub (juga kita). Saat badai terjadi berarti Allah sementara berbicara menyatakan diri-Nya dan kuasa-Nya bahkan keinginan-Nya ditengah kecongkakan manusia agar manusia menyadari bahwa ia hanyalah debu. Temukanlah kuasa dan keinginan Allah dalam setiap badai yang terjadi

Doa: Tuhan, tolong kami untuk menemukan keinginan-Mu. Amin.

Rabu, 26 Juni 2019                                 

bacaan : Ayub 38 : 12 – 15 (T)

12 Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya 13 untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang-orang fasik dikebaskan dari padanya? 14 Bumi itu berubah seperti tanah liat yang dimeteraikan, segala sesuatu berwarna seperti kain. 15 Orang-orang fasik dirampas terangnya, dan dipatahkan lengan yang diacungkan.

Manusia Tidak Dapat Menyelami Hikmat Allah Sebagai Pencipta

Kasih dalam kelanjutan ayat bacaan kemarin, Tuhan menanggapi Ayub yang dirundung derita. TanggapanNya luar biasa. Ia memaparkan kemahakuasanNya kepada Ayub. Tetapi yang menarik adalah walaupun kemahakuasaNya dipaparkanNya, Ayub tetap dibiarkan Tuhan tanpa penjelasan atas penderitaannya. Penderitaannya tetap menjadi misteri baginya walaupun Tuhan itu Mahakuasa dan mampu berbuat apa pun termasuk menghalau segala kejahatan. Tuhan tetap membiarkan kejahatan dan penderitaan itu selalu ada di dunia ini. Inilah yang bisa membuat kita menjadi frustrasi karena misteri penderitaan dan kejahatan itu tak terjawab. Pertarungan antara Tuhan dan Iblis, yang berkaitan dengan pencobaan Ayub, dimenangkan oleh Tuhan. Ayub tak tergoda untuk menyeleweng atau pun mengutuk Tuhan. Namun kejahatan dan penderitaan tetap dibiarkan menjadi sebuah kenyataan, baik secara sengaja maupun tak sengaja. Keteladanan Ayub mengajak kita untuk tetap setia dalam penderitaan walaupun kita bisa saja protes dan mempertanyakan banyak hal tentang penderitaan itu. Di sinilah kita mendapatkan “ujian” untuk memurnikan iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih Tuhan atau mengikuti jalan lain. Dan walaupun kita memilih Tuhan, hal itu tidak berarti bahwa semuanya enak dan mudah. Jalan untuk mengikuti Tuhan ternyata jalan salib. Dan jika kita tetap setia di jalan salib yang penuh dengan derita itu, kita akan menang dan Allah akan memberikan jalan keluar. Dan kita lebih dikuatkan lagi berkat janji penebusan oleh Kristus. Jadi setialah seperti Ayub.

Doa:  Tuhan, sungguh kami hanyalah manusia yang tak mampu menyelami  hikmatMu sebagai pencipta. Amin.

Kamis, 27 Juni 2019                               

bacaan : Ayub 38 : 16 – 18 (T)

16 Engkaukah yang turun sampai ke sumber laut, atau berjalan-jalan melalui dasar samudera raya? 17 Apakah pintu gerbang maut tersingkap bagimu, atau pernahkah engkau melihat pintu gerbang kelam pekat? 18 Apakah engkau mengerti luasnya bumi? Nyatakanlah, kalau engkau tahu semuanya itu.

Kedaulatan Tuhan Atas Alam Semesta

Jika Allah ada, mengapa orang benar menderita. Inipun pertanyaan yang pernah diajukan oleh Ayub. Ayub berkeluh kesah dengan banyak pertanyaan.Mengapa orang benar tidak mendapatkan hal yang baik, sebaliknya mengapa orang yang tidak mengenal Allah hidup dalam semua yang baik? Semua ini membuat Ayub bingung. Jawaban Allah atas pergumulan Ayub sungguh mencengangkan. Ia sama sekali tidak menyinggung moralitas Ayub baik dengan membenarkan ataupun mempersalahkan, namun setiap pertanyaan yang diajukan Allah membuat Ayub menyadari betapa sungguh tidak mampu menyelami kemahadalaman pikiran Allah; betapa Ayub bukan apa-apa dibandingkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Ayub, dimanakah engkau ketika Aku menciptakan bumi? Ceritakanlah kalau engkau mempunyai pengertian! Apakah engkau mengerti luasnya bumi? dan seterusnya. Minimal Allah ingin Ayub menyadari  dua hal, yaitu betapa besar dan tak terukur kuasa-Nya, dan yang kedua, Betapa dalam dan tak terduga hikmat-Nya.

Pernahkah kita berada dalam posisi Ayub yang mengajukan berbagai pertanyaan kepada Tuhan? Pernahkah kita bertanya mengapa sebagai orang yang mengasihi Tuhan, Tuhan tidak meluputkan kita dari berbagai persoalan yang ada? Kiranya jawaban Tuhan melalui pertanyaan-pertanyaan Ayub mengubah konsep kita. Sesungguhnya Allah berdaulat mutlak atas seluruh ciptaanNya, hikmatNya yang sempurna mengontrol jalanNya sesuai dengan maksudNya yang mulia. Apapun yang kita hadapi, tetaplah percaya dan berharap bahwa Tuhan tetap baik dan adil di dalam kedaulatanNya.

Doa: Ya Tuhan, buatlah kami sadar danbelajar dari Ayub. Amin.

Jumat, 28 Juni 2019                                

bacaan : Ayub 38 : 19 – 30 (T)

19 Di manakah jalan ke tempat kediaman terang, dan di manakah tempat tinggal kegelapan, 20 sehingga engkau dapat mengantarnya ke daerahnya, dan mengetahui jalan-jalan ke rumahnya? 21 Tentu engkau mengenalnya, karena ketika itu engkau telah lahir, dan jumlah hari-harimu telah banyak! 22 Apakah engkau telah masuk sampai ke perbendaharaan salju, atau melihat perbendaharaan hujan batu, 23 yang Kusimpan untuk masa kesesakan, untuk waktu pertempuran dan peperangan? 24 Di manakah jalan ke tempat terang berpencar, ke tempat angin timur bertebar ke atas bumi? 25 Siapakah yang menggali saluran bagi hujan deras dan jalan bagi kilat guruh, 26 untuk memberi hujan ke atas tanah di mana tidak ada orang, ke atas padang tandus yang tidak didiami manusia; 27 untuk mengenyangkan gurun dan belantara, dan menumbuhkan pucuk-pucuk rumput muda? 28 Apakah hujan itu berayah? Atau siapakah yang menyebabkan lahirnya titik air embun? 29 Dari dalam kandungan siapakah keluar air beku, dan embun beku di langit, siapakah yang melahirkannya? 30 Air membeku seperti batu, dan permukaan samudera raya mengeras.

Jangan Menyombongkan Diri Dihadapan Tuhan, Sang Pencipta

Tiga hari berturut-turut, kita masih melanjutkan ayat-ayat bacaan kita yang merupakan bagian dari jawaban Allah kepada Ayub. Allah menegaskan kepada Ayub bahwa pikiran dan pengetahuan manusia itu terbatas, dan dalam keterbatasan itu manusia tidak dapat menyelami hikmat Allah. Alam semesta ini telah diciptakanNya dengan sangat baik atas kedaulatan dan kemahakuasaanNya. Seluruh ciptaan telah dijadikan Allah masing-masing dengan cara dan sifat hidupnya, termasuk manusia dan makhluk ciptaan lainnya. Karena itu manusia tidak bisa menyombongkan diri, melainkan mesti merendahkan diri di hadapan. Allah yang telah mempercayakan tanggungjawab kepada manusia untuk mengerjakan dan mengolah lingkungan alam ciptaan sebagai bumi tempat hunian semua ciptaan sebagai pemberian Tuhan dengan segala kekayaan yang ada, tetapi juga manusia yang diberikan akal pikiran, mesti menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan alam itu demi keselarasan hidup semua ekosistim, guna kesejahteraan hidup bersama, termasuk menjaga relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan alam ciptaan Tuhan. Manusia mesti sadar dan memposisikan diri sebagai ciptaan dan bukan Sang Pencipta sehingga tidak berlaku seperti orang-orang fasik yang seolah-olah penguasa bumi ini. Manusia mestinya tunduk kepada kekuasaan Tuhan sebagai Pencipta di alam semesta ini.

Doa: Ya Tuhan, biarlah Roh-Mu mengingatkan kami akan keterbatasan agar kami tidak menyombongkan diri. Amin.

Sabtu, 29 Juni 2019                                 

bacaan : Ayub 38 : 31 – 38 (T)

31 Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? 32 Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya? 33 Apakah engkau mengetahui hukum-hukum bagi langit? atau menetapkan pemerintahannya di atas bumi? 34 Dapatkah engkau menyaringkan suaramu sampai ke awan-awan, sehingga banjir meliputi engkau? 35 Dapatkah engkau melepaskan kilat, sehingga sabung-menyabung, sambil berkata kepadamu: Ya? 36 Siapa menaruh hikmat dalam awan-awan atau siapa memberikan pengertian kepada gumpalan mendung? 37 Siapa dapat menghitung awan dengan hikmat, dan siapa dapat mencurahkan tempayan-tempayan langit, 38 ketika debu membeku menjadi logam tuangan, dan gumpalan tanah berlekat-lekatan? 39 (38-1) Dapatkah engkau memburu mangsa untuk singa betina, dan memuaskan selera singa-singa muda, 40 (38-2) kalau mereka merangkak di dalam sarangnya, mengendap di bawah semak belukar? 41 (38-3) Siapakah yang menyediakan mangsa bagi burung gagak, apabila anak-anaknya berkaok-kaok kepada Allah, berkeliaran karena tidak ada makanan?

Belajar Mengenal Tuhan Dalam Segala Peristiwa

etiap orang memiliki keinginan dan harapan dalam hidupnya, tetapi bagaimanakah sikapnya jika keinginan dan harapannya itu tidak menjadi kenyataan? Kita belajar dari seorang anak kecil yang meminta dibelikan coklat, tetapi ibunya menolak untuk membelikannya dan membiarkan anak itu menangis sambil meronta-ronta. Anak itu berpikir dengan menangis, ibunya akan menuruti keinginannya, tetapi ternyata ibunya membiarkan dia menangis sampai kelelahan dan akhirnya berhenti menangis. Disini, anak itu harus belajar bahwa tidak semua keinginannya  harus dituruti oleh orang tuanya, sebab yang pasti setiap orang tua punya alasan untuk tidak selalu menuruti keinginan anak-anaknya. Begitulah yang terjadi dengan Ayub dalam Ayub 38:31-38. Di sini Ayub belajar untuk memahami bahwa tidak semua keinginannya dituruti oleh Allah, dan bahwa Allah tau apa yang terbaik bagi Ayub. Ketika menghadapai persoalan, ketika keinginan dan harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan, ketika doa kita belum dijawab, sering kita bertanya kepada Tuhan: mengapa Tuhan?  Di mana Tuhan? Bagaimana Tuhan? Mungkin saja kita akan membandingkan hidup kita dengan orang lain, mengapa saya begini dan mengapa dia begitu? Sesungguhnya Tuhan lebih mengenal kita dan IA tau apa yang kita perlukan. IA tidak menjawab doa kita sesuai dengan apa yang kita minta tetapi jawaban Tuhan pasti sesuai dengan apa yang kita perlukan. Semua pergumulan kita di hadapan Tuhan adalah proses kita mengenal Tuhan yang hidup. Dan jika semua keinginan kita dengan mudah didapatkan, bagaimanakah kita dapat belajar untuk mengenal Allah dan keinginanNya? Percayalah bahwa semua rancangan Allah adalah untuk kehidupan kita.

Doa : Ajarlah kami Tuhan, untuk menuruti kehendakMu, Amin.

*sumber : SHK bulan Juni 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *