Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Juni 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Jangan Menyakiti Bumi “

Minggu, 14 Juni  2020                              

bacaan : Yeremia 14 : 1 – 9

  

Mengenai musim kering
Firman TUHAN yang datang kepada Yeremia mengenai musim kering. 2 Yehuda berkabung, pintu-pintu gerbangnya rebah dan dengan sedih terhantar di tanah; jeritan Yerusalem naik ke atas. 3 Pembesar-pembesarnya menyuruh pelayan-pelayannya mencari air; mereka sampai ke sumur-sumur, tetapi tidak menemukan air, sehingga mereka pulang dengan kendi-kendi kosong. Mereka malu, mukanya menjadi merah, sampai mereka menyelubungi kepala mereka. 4 Pekerjaan di ladang sudah terhenti, sebab hujan tiada turun di negeri, maka petani-petani merasa kecewa dan menyelubungi kepala mereka. 5 Bahkan rusa betina di padang meninggalkan anaknya yang baru lahir, sebab tidak ada rumput muda. 6 Keledai-keledai hutan berdiri di atas bukit gundul, mengap-mengap seperti serigala, matanya menjadi lesu, sebab tidak ada rumput. 7 "Sekalipun kesalahan-kesalahan kami bersaksi melawan kami, bertindaklah membela kami, ya TUHAN, oleh karena nama-Mu! Sebab banyak kemurtadan kami, kami telah berdosa kepada-Mu. 8 Ya Pengharapan Israel, Penolongnya di waktu kesusahan! Mengapakah Engkau seperti orang asing di negeri ini, seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk bermalam? 9 Mengapakah Engkau seperti orang yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong? Tetapi Engkau ada di antara kami, ya TUHAN, dan nama-Mu diserukan di atas kami; janganlah tinggalkan kami!"

JANGAN MENYAKITI BUMI

Akhir – akhir ini, kita mengalami berbagai musibah dan bencana alam, seperti gempa bumi di Bacan, Ambon, Kairatu dan di beberapa tempat lain, tetapi juga bencana non alam yaitu wabah virus corona. Bagaimana perasaan saudara ketika mengalami musibah atau bencana – bencana ini? Pasti banyak orang yang hidup dalam ketakutan, kekuatiran, kesulitan dan penderitaan. Hari ini kita belajar dari pengalaman menyedihkan umat Israel akibat bencana kekeringan. Mereka merasakan kondisi yang sulit, yaitu: kemarau panjang, tanah retak dan tandus, kekeringan, hewan – hewan sekarat dan mati, petani gagal panen. Mereka sudah putus asa dan hilang harapan, sebab semua itu terjadi karena kesalahan umat yang tidak setia kepada Allah, tetapi Yeremia mengajak umat untuk berdoa memohon pengampunan dan belas kasihan Allah, agar alam tempat hunian mereka bisa dipulihkan dan kehidupan mereka bisa berlanjut. Menyikapi berbagai bencana yang melanda kehidupan manusia akhir-akhir ini, baik bencana alam maupun non alam, tindakan Yeremia untuk mengajak umat berdoa mohon  pengampunan dan pemulihan, biarlah mengajak kita untuk berdoa mohon belaskasihan Allah, agar kita dilepaskan dari berbagai bencana dan marabahaya. Sesungguhnya, Allah kita panjang sabar dan mau mengampuni serta memulihkan seluruh ciptaan-Nya, tetapi Dia juga mempercayakan tanggungjawab pemulihan itu kepada kita. Sebagai umat ciptaan-Nya, kita diberi tanggungjawab untuk merawat bumi ini, dan menjaga kelestarian alam, membudayakan pola hidup bersih dan sehat. Memang seringkali kita tidak mengindahkan bumi yang sudah diciptakan Allah dengan sangat baik dan indah. Dengan sadar ataupun tidak, kita telah mencemari dan merusak bumi, mengambil hasil-hasil bumi tanpa berpikir untuk melestarikannya kembali agar dapat dinikmati oleh anak – cucu kedepan. Saat ini, kita diminta untuk terus berdoa dan menjadi sahabat bagi alam ini.

Doa : Tuhan, selamatkan kami dari bencana, jadikan kami sahabat alam, Amin.                                                                                             

Senin, 15 Juni 2020                                   

bacaan : Zakharia 11 : 1 – 3

Bukalah pintu-pintumu, hai Libanon, supaya api dapat memakan pohon-pohon arasmu. 2 Merataplah, hai pohon sanobar, sebab sudah rebah pohon aras dan sudah dirusakkan pohon-pohon yang hebat! Merataplah, hai pohon-pohon tarbantin Basan, sebab telah rata hutan yang lebat itu! 3 Dengar, para gembala meratap! Sebab kemegahan mereka sudah dirusakkan. Dengar, singa-singa mengaum! Sebab sudah dirusakkan kebanggaan sungai Yordan.

BUMI MEMBUTUHKAN SOLIDARITAS KITA

Bumi, tempat kita huni adalah “rumah bersama” dimana didalamnya kita sebagai ciptaan Tuhan, baik manusia, hewan dan tumbuh – tumbuhan termasuk pohon – pohonan, membutuhkan kehidupan. Seandainya ada pohon – pohon yang tumbang dan tidak diganti dengan tanaman yang baru, maka tanah dan mata air akan terganggu yang berakibat pada kehidupan manusia, sebab dapat saja terjadi kerusakan tanah, longsor dan penurunan debit air. Apalagi jika hutan dibakar, tanah dan batuan alam diambil dengan serakah untuk kepentingan diri, maka yang menikmati dampaknya adalah manusia. Kondisi seperti itu yang digambarkan dalam nubuat Zakharia kepada bangsa – bangas sekitar Israel, yang menunjukan bahwa akan ada kerugian – kerugian yang dialami oleh musuh – musuh Israel, ketika pohon – pohon seindah pohon aras Libanon akan tumbang dan rusak, tidak ada padang rumput dan hutan bagi domba – domba dan kawanan singa. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa Allah berkuasa atas seluruh ciptaan-Nya, Allah melindungi setiap orang percaya yang  berharap kepada-Nya, dan Allah memberi tanggungjawab kepada kita manusia untuk mengasihi semua ciptaan-Nya, termasuk tumbuh – tumbuhan, pohon – pohonan, hewan, air, tanah dan seluruh alam semesta. Jika salah satu dari ciptaan Allah itu terganggu hidupnya, maka manusia jualah yang menanggung kerugiannya. Oleh sebab itu panggilan kita sebagai orang percaya adalah mengasihi, menjaga, merawat dan melestarikan semua  ciptaan, agar memberi kehidupan bagi kita sendiri. Di masa pandemi virus corona, ketika orang mengalami situasi yang sulit, kita menjadi sadar bahwa kita sebagai sesama ciptaan Tuhan saling membutuhkan. Menciptakan pola hidup bersih dan sehat, merawat dan memanfaatkan lahan kosong, halaman rumah dengan berbagai tanaman pangan, sayur, obat – obatan. Ternyata bumi ini juga membutuhkan solidaritas kita.     

Doa : Tuhan, tolong kami untuk merawat alam ciptaan-Mu, Amin.

Selasa, 16 Juni  2020                              

bacaan : Yoel 1 : 8 – 12  

8 Merataplah seperti anak dara yang berlilitkan kain kabung karena mempelai, kekasih masa mudanya. 9 Korban sajian dan korban curahan sudah lenyap dari rumah TUHAN; dan berkabunglah para imam, yakni pelayan-pelayan TUHAN. 10 Ladang sudah musnah, tanah berkabung, sebab gandum sudah musnah, buah anggur sudah kering, minyak sudah menipis. 11 Para petani menjadi malu, tukang-tukang kebun anggur meratap karena gandum dan karena jelai, sebab sudah musnah panen ladang. 12 Pohon anggur sudah kering dan pohon ara sudah merana; pohon delima, juga pohon korma dan pohon apel, segala pohon di padang sudah mengering. Sungguh, kegirangan melayu dari antara anak-anak manusia.

MERATAPLAH KEPADA TUHAN

Di masa pendemi virus corona ini, hampir setiap hari kita disuguhi berita “update” korban virus corona di TV dan media massa lainnya. Belum lagi berita tentang musibah dan bencana, baik gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan dan fenomena alam lainnya silih berganti. Apakah ini berarti bumi yang semakin tua? ataukah Tuhan mulai bosan dengan tingkah dan ulah manusia yang semakin serakah untuk mengeksploitasi bumi dengan seluruh isinya, demi uang dan kepentingan sekelompok orang? Dalam bacaan kita, nabi Yoel menyampaikan firman Tuhan lewat nubuatnya tentang bencana yang akan menimpa umat Israel. Serbuan jutaan belalang yang mengerikan!, begitu mengerikan karena bencana sehebat itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Dapat kita perkirakan betapa besarnya “pasukan” belalang ini. Seluruh dedaunan luluh lantak digunduli dan tanaman dibuat rata dengan tanah. Bagi masyarakat petani, bencana ini sangat mengerikan sebab membuat gagal semua usaha dan kerja yang dilakukan dengan berkeringat. Namun, dibalik nubuat tentang bencana, Yoel mengajak umat untuk “meratap”, beberapa kali Yoel berseru mengingatkan umat: “merataplah….”. Hal ini berarti bahwa Yoel mengingatkan umat tentang kemahakuasaan Allah sang pemilik bumi ini, DIA-lah yang berkuasa atas seluruh ciptaan-Nya. Merataplah kepada Tuhan, mohon pengampunan dan belaskasihan-Nya, agar Tuhan Allah melalukan “tulah belalang” dan memberi kehidupan kepada umat. Bagaimana dengan kita, apa yang kita lakukan ketika musibah, bencana, dan berbagai peristiwa alam mengancam hidup kita? Ajakan Yoel kepada umat Israel untuk “meratap kepada Allah”, hendaklah memberi inspirasi kepada kita untuk menghadapi setiap peristiwa dengan selalu memandang kepada Allah dalam Doa dan Ratapan kita, tetapi juga kepedulian kita untuk menjaga dan merawat bumi ciptaan-Nya.

Doa: Tuhan, selamatkanlah kami dari bencana dan marabahaya, Amin.

Rabu, 17 Juni 2020                              

bacaan : Yoel 1 : 13 – 20

13 Lilitkanlah kain kabung dan mengeluhlah, hai para imam; merataplah, hai para pelayan mezbah; masuklah, bermalamlah dengan memakai kain kabung, hai para pelayan Allahku, sebab sudah ditahan dari rumah Allahmu, korban sajian dan korban curahan. 14 Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah para tua-tua dan seluruh penduduk negeri ke rumah TUHAN, Allahmu, dan berteriaklah kepada TUHAN. 15 Wahai, hari itu! Sungguh, hari TUHAN sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa. 16 Bukankah di depan mata kita sudah lenyap makanan, sukaria dan sorak-sorai dari rumah Allah kita? 17 Biji-bijian menjadi kering di dalam tanah, lumbung-lumbung sudah licin tandas, rengkiang-rengkiang sudah runtuh, sebab gandum sudah habis. 18 Betapa mengeluhnya hewan dan gempar kawanan-kawanan lembu, sebab tidak ada lagi padang rumput baginya; juga kawanan kambing domba terkejut. 19 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, sebab api telah memakan habis tanah gembalaan di padang gurun, dan nyala api telah menghanguskan segala pohon di padang. 20 Juga binatang-binatang di padang menjerit karena rindu kepada-Mu, sebab wadi telah kering, dan apipun telah memakan habis tanah gembalaan di padang gurun.

DENGARLAH RINTIHAN ALAM

Penderitaan yang dialami oleh manusia karena suatu bencana, baik bencana alam seperti gempa bumi,  maupun bencana non alam seperti wabah virus corona, adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan. Bacaan kita, Yoel 1 : 13 – 20, menggambarkan suatu penderitaan hebat yang dialami oleh umat Israel akibat bencana “tulah belalang” yang telah memporak-porandakan semua sendi kehidupan manusia dan alam. Bukan hanya manusia yang menderita, tetapi juga tumbuhan dan hewan serta binatang hutan. Dikatakan di ayat 18 – 20, bahwa, hewan mengeluh karena tidak ada lagi rumput di padang yang bisa mereka makan, api telah memakan habis tanah gembalaan dan menghanguskan pohon – pohon di padang. Alam sangat menderita dan segala makhluk mengeluh karena sulitnya menemukan makanan. Di tengah kondisi itu, Yoel mengajak umat dan para pelayan untuk berkabung, berpuasa dan merataplah  kepada Tuhan Allah. “Kepada-Mu ya Tuhan, aku berseru……., binatang – binatang di hutan menjerit karena rindu kepada-Mu”, demikianlah doa mereka. Rintihan manusia dan alam adalah rintihan kehidupan semua makhluk yang berseru memohon belaskasihan dan pemulihan dari Tuhan Allah. Bagaimana kita memaknai seruan penderitaan alam yang hancur karena ulah manusia? Semua ini mengingatkan tanggungjawab kita sebagai mitra Allah yang dipercayakan untuk merawat ciptaan Tuhan, sambil tetap memaknai setiap bencana dengan memandang kepada Tuhan Allah sang pencipta dan pemelihara bumi ini. Biarlah dengan hikmat dari Tuhan kita belajar dari setiap kejadian yang kita alami dan mengambil keputusan untuk melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan sesehari kita termasuk bagaimana menjadi “sahabat” yang baik bagi alam sehingga alam tak menjadi ancaman tetapi sebaliknya menyediakan apa yang kita perlu untuk kelanjutan hidup kita.

Doa:   Tuhan, tolonglah kami untuk tidak menyakiti bumi.  Amin.

Kamis, 18 Juni  2020                             

bacaan : Mikha 7 : 11 – 13

11 Akan datang suatu hari bahwa pagar tembokmu akan dibangun kembali; pada hari itulah perbatasanmu akan diperluas. 12 Pada hari itu orang akan menghadap engkau dari Asyur sampai Mesir, dari Mesir sampai sungai Efrat, dari laut ke laut, dari gunung ke gunung. 13 Tetapi bumi akan menjadi tandus oleh karena penduduknya, sebagai akibat perbuatan mereka.

RAWATLAH BUMI SEBAGAI RUMAHMU

Kitab Mikha menggambarkan keadaan Israel ketika kehidupan mereka dipulihkan dari ancaman Babilonia, dan perbatasan wilayah diperluas, maka banyak orang dari Asyur dan Mesir akan datang menghadap mereka dan mereka mendiami tepian sungai, gunung, tepian laut, tetapi mereka tidak memelihara dan merawatnya, sehingga bumi menjadi tandus. Bumi yang adalah  tempat berpijak bagi segala mahluk hidup, dimana disana  semua makhluk saling bergantung sesuai fungsi masing-masing, tetapi manusia diberi tanggungjawab untuk mengelola dan memelihara bumi. Sangat ironis ketika bumi hanya satu, tetapi harus menampung semua mahluk hidup yang terus berkembang, terutama manusia. Peningkatan jumlah manusia berdampak pada peningkatan kebutuhan hidup yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Demi kebutuhan hidup, manusia merusak berbagai sistim yang telah ada sejak awal. Banyak lembah, pegunungan dan hutan-hutan serta tepian pantai diubah menjadi tempat hunian manusia. Untuk pembuatan pemukiman baru atau perluasan kota dan berbagai bangunan bertingkat, serta jalan raya, maka tanah-tanah digusur, pengeringan tepi pantai, pohon-pohon ditebang, hutan dibakar  sehingga tidak ada lagi daerah resapan air untuk memberi sumber air; tanah-tanah menjadi tandus dan kering sehingga tidak berguna untuk pertanian dan perkebunan; banyak hewan dan tumbuhan punah dengan terpaksa; manusia dan mahluk hidup yang lain kekurangan sumber makanan dan minuman yang alami. Penambangan pasir laut berakibat tenggelamnya pulau-pulau kecil dan merusak ekoisitem laut dan berbagai polusi. Tanpa di sadari sepertiga permukaan bumi menjadi tandus dan berpotensi menjadi padang gurun, sebab manusia tak pernah merawat bumi sebagai rumahnya. 

Doa : Tuhan, ampunilah kami yang telah merusak bumi ini. Amin 

Jumat, 19 Mei 2020                                

bacaan : Yesaya 24 : 4 – 13

4 Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. 5 Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi. 6 Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap, dan manusia akan tinggal sedikit. 7 Air anggur tidak menggirangkan lagi, pohon anggur merana, dan semua orang yang bersukahati mengeluh. 8 Kegirangan suara rebana sudah berhenti, keramaian orang-orang yang beria-ria sudah diam, dan kegirangan suara kecapi sudah berhenti. 9 Tiada lagi orang minum anggur dengan bernyanyi, arak menjadi pahit bagi orang yang meminumnya. 10 Kota yang kacau riuh sudah hancur, setiap rumah sudah tertutup, tidak dapat dimasuki. 11 Orang menjerit di jalan-jalan karena tiada anggur, segala sukacita sudah lenyap, kegirangan bumi sudah hilang. 12 Yang terdapat dalam kota hanya kerusakan, pintu gerbang telah didobrak dan runtuh. 13 Sebab beginilah akan terjadi di atas bumi, di tengah-tengah bangsa-bangsa, yaitu seperti pada waktu orang menjolok buah zaitun, seperti pada waktu pemetikan susulan, apabila panen buah anggur sudah berakhir

ALAM IBARAT TUBUH MANUSIA

Aleta Baun, atau dikenal dengan sebutan “mama Aleta”, adalah perempuan asal Timor, yang berhasil mendapatkan beberapa penghargaan di tingkat Nasional maupun Internasional, sebagai pejuang lingkungan dan Hak asasi manusia. Tahun 2013, bertempat di San Fransisco AS, Aleta menerima penghargaan Goldman Enviromental Prize. Menurut Aleta, alam itu ibarat “tubuh manusia”; batu adalah tulang – tulangnya; air adalah darah; tanah adalah daging; hutan sebagai kulit, paru – paru dan rambut. Jadi merusak alam sama dengan merusak tubuh manusia. Aleta sangat marah ketika lingkungan alam menjadi rusak karena penambangan beberapa perusahan yang mendapat ijin pemerintah. Mereka membabat hutan Kasuari yang dulunya hijau, berubah kering kerontang dan sumber mata airpun berkurang. Bersama Piter Oematan (tua adat), Aleta melakukan demonstrasi dan menggalang dukungan, menolak penambangan marmer di wilayah tersebut. Ia berusaha keras menyadarkan masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup dan ancaman penambangan batu marmer bagi lingkungan sekitar. Aleta mengajak para perempuan untuk berdemonstrasi dengan menenun di cela-cela gunung batu yang hendak ditambang dan motif kain tenun yang mereka hasilkan bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Cerita Aleta hampir sama dengan nubuat Yesaya dalam bacaan kita, yang mengecam kejahatan manusia yang telah merusak alam ciptaan Tuhan dan menyebabkan segala makhluk menderita. Yesaya mengingatkan bahwa Tuhan Allah akan bertindak melawan para penguasa yang melanggar undang – undang dan mengingkari perjanjian. Oleh sebab itu, marilah kita berjuang untuk merawat dan membela kehidupan segala makhluk. Jika ada kebijakan para penguasa yang tidak berpihak bagi kelestarian lingkungan hidup, tanggungjawab kita adalah mengingatkan mereka, dan itulah panggilan iman kita.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk berjuang membela kehidupan alam. Amin.

Sabtu, 20 Juni 2020                                

bacaan : Yesaya 24 : 14 – 20

14 Dengan suara nyaring mereka bersorak-sorai, demi kemegahan TUHAN, mereka memekik dari sebelah barat: 15 "Sebab itu permuliakanlah TUHAN di negeri-negeri timur, nama TUHAN, Allah Israel, di tanah-tanah pesisir laut!" 16 Dari ujung bumi kami dengar nyanyian pujian: "Hormat bagi Yang Mahaadil!" Tetapi aku berkata: "Kurus merana aku, kurus merana aku. Celakalah aku! Sebab para penggarong menggarong, ya, terus-menerus mereka melakukan penggarongannya!" 17 Hai penduduk bumi, kamu akan dikejutkan, akan masuk pelubang dan jerat! 18 Maka yang lari karena bunyi yang mengejutkan akan jatuh ke dalam pelubang, dan yang naik dari dalam pelubang akan tertangkap dalam jerat. Sebab tingkap-tingkap di langit akan terbuka dan akan bergoncang dasar-dasar bumi. 19 Bumi remuk redam, bumi hancur luluh bumi goncang-gancing. 20 Bumi terhuyung-huyung sama sekali seperti orang mabuk dan goyang seperti gubuk yang ditiup angin; dosa pemberontakannya menimpa dia dengan sangat, ia rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi.

LAIN DIBIBIR, LAIN DI HATI

“Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata – kata. Tinggi gunung s’ribu janji, lain di bibir lain di hati….”,. lirik lagu ini mengisahkan suatu karakter hidup yang tidak tulus dan tidak jujur. Apa yang dikatakan berbeda dengan apa yang dilakukan, ada orang yang senang berargumentasi, beropini dengan lantang, tetapi sayangnya hal itu tidak terlihat dalam sikap dan perilaku hidupnya sehari – hari. Bacaan kita hari ini menggambarkan kehidupan manusia yang tidak jauh berbeda dengan realitas kehidupan saat ini. Yesaya melihat bahwa meskipun banyak orang di dunia memuji Allah dengan bibir mulutnya, dengan seruan dan puji -pujiannya, namun hati mereka tidak tertuju kepada Allah. Hati mereka tetap melekat pada berbagai kesenangan dan kenikmatan dunia, kepada anggur yang memabukkan dan pesta pora yang keji. Mereka lebih mencintai kemewahan dunia daripada menyembah Allah, mereka tidak menghormati Tuhan Allah lewat sikap dan laku hidup mereka. Mereka terus melakukan kejahatan, mereka bahkan disebut sebagai penggarong yang menggarong. Oleh sebab itulah Yesaya terus menyampaikan nubuatnya tentang penghukuman Tuhan bagi orang – orang yang tidak setia kepada-Nya. Yesaya menggambarkan bahwa hukuman itu berupa ancaman kehancuran bumi dan seluruh isinya termasuk manusia. Memang tanggungjawab manusia adalah merawat bumi tempat huniannya, dengan menjaga kesuburan tanah dari ancaman pestisida, menjaga kebersihan sumber air dari pencemaran lingkungan, menjaga lingkungan tetap bersih, semua itu adalah  cara kita mewujudkan iman kepada Tuhan. Kita beribadah, berdoa dan memuji Tuhan adalah ibadah ritual kita, namun tidaklah lengkap jika tidak disertai dengan ibadah sosial, yaitu menjalin relasi persaudaraan dan persahabatan dalam solidaritas dengan sesama manusia dan juga alam semesta, itulah iman yang sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah.

Doa: Tuhan, biarlah apa yang kami katakan, itu yang kami kerjakan, Amin.

*sumber : SHK bulan Juni 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey