Litbang Silo Kembali Gelar Diskusi Online 2 Bahas : IBADAH TANPA TEMBOK

jemaatgpmsilo.org – Dinamika bergereja berubah sesuai dengan perkembangan zaman, dan begitu cepat terjadi, khususnya di era pandemi covid-19. Dalam era ini kita diharuskan mengikuti protokol kesehatan, social distancing, phisical distancing, pakai masker dan lain-lain. Implikasinya, ibadah dalam satu ruangan kemudian dilarang, dan harus dilakukan dari rumah masing-masing. Dengan menggunakan perkembangan teknologi, maka banyak jemaat telah melakukan ibadah secara live streaming, atau juga dengan menggunakan media sosial lainnya, seperti facebook, whatapps dan lain-lain. Inilah yang kemudian kita sebut sebagai ibadah tanpa tembok.” Demikian pengantar yang disampaikan oleh Ketua Litbang Jemaat Silo, Dr. Pieter Soegijono M.Si, mengawali pelaksanaan Virtual Discussion 2 yang mengangkat tema IBADAH TANPA TEMBOK, berlangsung melalui aplikasi zoom meeting pada Kamis (11/06) Pkl. 18.00 sampai selesai.

Peserta virtual discussions 2 Tim Litbang Silo

Diskusi online kali ini menghadirkan 3 orang narasumber, masing-masing :

  1. Prof. Jhon Titaley, dengan topik : Memaknai Ibadah Tanpa Tembok dalam Pelayanan Gereja Masa Pandemi Covid-19 dan New Normal.
  2. Pdt. Dr. Corneles, A. Alyona, M.Th dengan Topik : Sejarah Gereja dan Perubahan Sosial
  3. Pdt. Rolland A. Samson, M.A dengan topik : Makna Ibadah di Rumah dan Pemberian Kolekta Ibadah.

Hal substansial yang disampaikan oleh Prof. Jhon Titaley adalah memaknai ibadah secara live streaming atau virtual dengan menggunakan teknologi, tidak akan mengurangi makna teologis bergereja, karena yang terpenting adalah hati yang tertuju kepada Tuhan.

Sedangkan Pdt. Alyona mempercakapkan tentang gereja yang mesti mengikuti perubahan zaman atau perubahan sosial, karena bila gereja tidak mengikuti perubahan lingkungan sekitarnya, maka gereja akan tergilas oleh perubahan itu sendiri.

Di kesempatan yang sama, Pdt. Rolland Samson, menyentil tentang pola pelayanan di era pandemi covid-19 dengan menggunakan toa atau pengeras suara. Salah satu implikasi, yang terjadi adalah terjadinya “tubrukan” suara, akibat jam ibadah yang bersamaan dan lokasi domisili antar sektor/jemaat yang berdekatan.

Serupa dengan diskusi online yang telah dilaksanakan sebelumnya, peserta datang dari berbagai kalangan, bahkan diikuti juga oleh simpatisan warga Jemaat Silo yang berdomisili di Bekasi, Papua, dan Kalimantan.

Bertindak sebagai host, Dr. Jemmy J. Pietersz, SH. M.Hum yang juga Sekretaris Tim Litbang Silo, memandu jalannya diskusi online dengan sangat menarik.

Adapun kesimpulan yang dirangkum oleh host adalah sebagai berikut :

  1. Menghadapi pandemi Covid-19 dan menuju New Normal, gereja harus dapat memperbaharui makna ekklesiologi yang didasarkan pada aspek kemanusiaan dengan memberikan perhatian kepada umat manusia
  2. Aktivitas ibadah dalam situasi saat ini secara teologi dapat dilaksanakan berbentuk ibadah virtual sebagai ibadah tanpa tembok, baik ibadah di rumah maupun ibadah dari rumah
  3. Dalam perkembangan gereja pun terutama GPM pernah mengawali wabah yang berakibat gereja senantiasa berubah mengikuti perubahan sosial yang terjadi. Dalam kondisi saat ini, gereja harus mengikuti perubahan sosial. Akibatnya, apabila gereja yang berani menentang perubahan akan digilas oleh perubahan itu.
  4. Makna ibadah sebagai pengabdian manusia kepada Tuhan karena karya-karyaNya. Desain ibadah dapat dilakukan ibadah di gereja saat new normal dengan pembatasan berdasarkan klasifikasi usia dan ibadah virtual serta ibadah di rumah.
  5. Ibadah merupakan respons umat sebagai ungkapan syukur atas kasih Tuhan. Oleh karena itu, persembahan umat saat ibadah di rumah atau dari rumah (tidak dimaknai sebagai kolekta karena kolekta berarti proses memungut) merupakan ungkapan syukur dan pemberiannya pun bukan kewajiban tetapi sukarela.
Peserta virtual discussions 2 saat foto bersama

Mengakhiri diskusi online, peserta kemudian diajak foto bersama dan berkesempatan bertegur sapa melepas kerinduan berjumpa antar warga jemaat yang terpisah selama kurang lebih 10 minggu. [BK]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey