Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 September 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Pemimpin Sebagai Hamba Allah Yang Melayani

Minggu, 20 September 2020       

bacaan : Yohanes 13 : 1 – 20

Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 2 Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. 16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. 18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. 20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."

MELAYANI BERARTI MENANGGALKAN EGO DIRI

Sebuah kisah menarik yang menjadi pelajaran berharga bagi setiap pribadi dalam keluarga dan juga gereja serta masyarakat, yakni: “Ada rombongan besar pendeta-pendeta Eropa yang menghadiri Konferensi Alkitab D.L. Moody di Massachusetts pada akhir  tahun 1800-an. Sesuai dengan tradisi Eropa, mereka biasa menaruh sepatu di luar kamar, agar malamnya para pelayan bisa membersihkan dan menyemirnya. Mereka lupa bahwa saat itu sedang berada di Amerika, yang tidak mengenal tradisi itu. Melihat hal ini, Moody meminta bantuan beberapa siswa untuk membersihkan sepatu-sepatu itu, tapi mereka enggan. Supaya tidak mempermalukan para tamu, Moody – sang penginjil ternama itu – mengumpulkan semua sepatu lalu membersihkan dan menyemir semuanya, di dalam kamarnya. Tanpa sengaja seorang teman masuk ke kamarnya dan melihat apa yang ia lakukan. Esok paginya para tamu sudah memakai sepatu yang mengilap, tanpa tahu siapa yang membersihkannya. Moody tidak memberi tahu siapa pun. Namun, teman yang memergoki Moody memberi tahu beberapa orang sehingga selama sisa konferensi itu mereka bergantian membersihkan sepatu para tamu diam-diam”. Kisah ini mengingatkan kita bahwa manusia cenderung ingin dilayani tanpa mau melayani, demikian juga para pelayan yang cenderung hanya mau dilayani. Memang untuk merendahkan diri dan melayani sesama merupakan tindakan yang sulit, apalagi jika pelayanan terhadap sesama itu menuntut pengorbanan. Bila kita ingin mengikuti teladan Tuhan Yesus, kita harus memulai dengan menanggalkan “jubah” (kesombongan) kita dan mengenakan kasih Allah agar kita bisa “turun” untuk melayani sesama. Teladan Tuhan Yesus hendaknya menjadi teladan bagi kita untuk melakukan hal yang sama pada keluarga dan orang lain. Perbuatlah yang sama seperti yang diperbuat oleh Tuhan Yesus!

Doa: Tuhan, berikanlah kami hati seorang hamba yang mau melayani sesama, dengan penuh ketulusan. Amin.

Senin, 21 September 2020   

bacaan : 1 Korintus 4 : 1 – 5

Tuhan adalah satu-satunya hakim
Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. 2 Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. 3 Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. 4 Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. 5 Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

MENJADI PRIBADI YANG DAPAT DIPERCAYA

Menjadi pribadi yang dapat dipercayai adalah salah satu hal penting yang perlu dimiliki oleh setiap anggota keluarga.  Orang mempercayai kita karena hidup kita jujur, setia, bertanggungjawab dan disiplin. Atau dengan kata lain kita dipercayai karena kata dan perbuatan kita sama. Artinya apa yang kita katakan, itu pula yang kita lakukan. Dengan begitu orang lain tidak akan mempermalukan atau mempersalahkan dan menghakimi kita, tetapi sebaliknya kita akan dihargai, disegani, dihormati dan dipercayai. Keluarga Kristen dapat memetik pesan berharga di hari ini melalui nas bacaan ini. Pertanyaan penting, apakah kita saling mempercayai atau justru saling mencurigai? Kalau selama ini kita tidak saling mempercayai: mama tidak mempercayai papa dan sebaliknya;  orang tua tidak mempercayai anak-anak, dan anak-anak pun demikian. Maka hari ini, Paulus menasihati kita semua untuk membangun hidup pribadi dan keluarga menjadi orang-orang yang bisa dipercayai. Mama dan papa saling mempercayai dari sikap hidup yang jujur, setia dan bertanggungjawab. Papa-mama mempercayai anak-anak karena anak-anak jujur, dengar-dengaran dan bertanggungjawab. Anak-anak pun mempercayai orang tua karena papa-mama selalu menepati janji. Cara hidup berkeluarga seperti itu membawa damai dan sukacita di hati, sehingga setiap anggota keluarga selalu ingin berada di dalam rumah untuk berbagi kasih. Rumah menjadi taman yang indah dimana benih-benih cinta kasih di antara semua anggota keluarga selalu dipupuk dan ditumbuhkan sehingga menyebarkan aroma kebahagiaan. Bukan saling mempersalahkan dan menghakimi.  

Doa:  Tuhan, limpahilah hidup kami dengan damai-Mu. Amin!

Selasa, 22 September 2020                 

 bacaan : Ulangan 1 : 9 – 18

Riwayat pengangkatan hakim-hakim
9 "Pada waktu itu aku berkata kepadamu, demikian: Seorang diri aku tidak dapat memikul tanggung jawab atas kamu. 10 TUHAN, Allahmu, telah membuat kamu banyak dan sesungguhnya, sekarang kamu sudah seperti bintang-bintang di langit banyaknya. 11 TUHAN, Allah nenek moyangmu, kiranya menambahi kamu seribu kali lagi dari jumlahmu sekarang dan memberkati kamu seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu. 12 Tetapi bagaimana seorang diri aku dapat memikul tanggung jawab atas kesusahanmu, atas bebanmu dan perkaramu? 13 Kemukakanlah dari suku-sukumu orang-orang yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman, maka aku akan mengangkat mereka menjadi kepala atas kamu. 14 Lalu kamu menjawab aku: Memang baik apa yang kauanjurkan untuk dilakukan itu. 15 Kemudian aku mengambil kepala-kepala sukumu, yakni orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman, lalu aku mengangkat mereka menjadi pemimpin atas kamu, yakni sebagai kepala pasukan seribu, kepala pasukan seratus, kepala pasukan lima puluh dan kepala pasukan sepuluh dan sebagai pengatur pasukan bagi suku-sukumu. 16 Dan pada waktu itu aku memerintahkan kepada para hakimmu, demikian: Berilah perhatian kepada perkara-perkara di antara saudara-saudaramu dan berilah keputusan yang adil di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing yang ada padanya. 17 Dalam mengadili jangan pandang bulu. Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan. Jangan gentar terhadap siapapun, sebab pengadilan adalah kepunyaan Allah. Tetapi perkara yang terlalu sukar bagimu, harus kamu hadapkan kepadaku, supaya aku mendengarnya. 18 Demikianlah aku pada waktu itu memerintahkan kepadamu segala hal yang harus kamu lakukan."

MENJADI PEMIMPIN YANG BIJAKSANA

Menjadi pemimpin yang bijaksana, baik, berkualitas, dan berintegritas tidaklah mudah. Dibutuhkan kepribadian yang bertanggung jawab agar sesuai dengan yang diharapkan. Melalui bacaan ini, kita belajar menjadi pemimpin yang bijaksana. Dikisahkan bahwa ketika Musa mulai kewalahan menangani setiap persoalan umat, maka ia membutuhkan orang – orang yang dapat dipercayai untuk membantunya mengurus umat Allah. Karena itu, Musa meminta 12 suku Israel mengajukan orang-orang yang sesuai dengan kriteria yang ia tetapkan, yaitu bijaksana, berakal budi, dan berpengalaman. Menarik sekali bahwa kata “bijaksana” ini juga dipakai di Ul. 4:6, ketika Musa memerintahkan umat Israel untuk berpaut pada Tuhan dan melakukan perintah Tuhan (Ul. 4:4-6). Musa juga meminta kepada mereka terpilih agar dapat menjalani kepemimpinan mereka dengan baik sesuai dengan tugas dan tanggung jawab, yaitu mengepalai pasukan dengan jumlah yang ditetapkan, mengambil keputusan dengan adil tanpa pandang bulu, mengadili dengan netral dan tidak gentar, serta berkoordinasi dengan Musa dalam perkara yang terlalu sukar. Demikianlah gambaran para pemimpin yang Takut Akan Tuhan pada waktu itu. Cara, strategi, dan kriteria Musa di atas dapat dijadikan pertimbangan yang berharga saat kita berkesempatan untuk memilih para pemimpin, baik dalam persekutuan bergereja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika kita memilih pemimpin yang tidak takut akan Tuhan dan tidak meminta hikmat dari Tuhan Allah, akibatnya akan sangat fatal. Kesejahteraan hidup keluarga, gereja dan masyarakat akan sangat ditentukan oleh para pemimpin yang Takut Akan Tuhan.

Doa:  Tuhan, tuntunlah para pemimpin kami, agar mereka memimpin dalam Takut akan Tuhan, Amin.

Rabu, 23 September 2020     

bacaan : Yakobus 1 : 5 – 8

5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya. 6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. 7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. 8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

SETIAP PERSOALAN MEMBUAT IMAN SEMAKIN KUAT

Setiap masalah tentu membutuhkan penanganan secara serius sehingga dapat teratasi dengan baik. Jangan menggangap remeh sebuah masalah walaupun itu hanya masalah kecil atau ringan. Sebab jika tidak ditangani secara serius, maka akan menjadi besar dan mungkin sulit teratasi. Namun, hal yang penting di sini ialah bagaimana memahami masalah atau cobaan dan tantangan yang kita hadapi. Apakah kita memahaminya sebagai hal buruk sehingga mempersalahkan orang lain, bahkan juga menyalahkan Tuhan; atau sebaliknya memahami sebagai kesempatan (ujian) untuk memperkuat iman kita kepada Tuhan. Sebab kalau kita memandangnya sebagai ujian, maka kita akan menggantungkan seluruh pergumulan hidup kepada Tuhan, sambil tetap bersabar dan tekun menanti jawaban Tuhan. Itulah yang dikatakan dalam bacaan Alkitab hari ini. Bahwa orang percaya harus sabar, tabah dan kuat menghadapi berbagai permasalahan hidup yang dialami sebagai ujian atas iman. Orang percaya harus meminta hikmat dari Allah agar dia bisa kuat menghadapi dan mengatasi semua permasalahan hidup yang dialami dan dihadapinya. Orang percaya tidak boleh ragu-ragu tentang pimpinan dan penyertaan Tuhan bersamanya. Karena bila orang percaya yakin akan penyertaan Tuhan, maka dia tidak akan ragu-ragu menghadapi semua permasalahan hidup yang dihadapinya. Tetapi bila dia ragu-ragu, maka dia akan tersesat dalam jalan hidupnya. Dan jika dia mencari pertolongan pada kuasa-kuasa di luar Tuhan, maka semuanya akan sia-sia..

Doa:  Ya Roh Kudus, cerahilah hati kami supaya mampu melihat cobaan hidup  sebagai ujian iman. Amin!

Kamis, 24 September 2020    

bacaan : Matius 21 : 28 – 32

Perumpamaan tentang dua orang anak
28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. 29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. 30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. 31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. 32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

MENJADI LAKI-LAKI GEREJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH

Hari ini, Laki-Laki GPM merayakan HUT ke-34, dan di moment ini kita patut bersyukur bersama Persekutuan Laki-Laki GPM atas kasih dan kemurahan Tuhan yang telah menyertai pelayanan Laki-laki dalam tugas dan tanggungjawabnya, baik di keluarga, gereja dan masyarakat. Perumpamaan tentang dua orang anak dalam bacaan ini mengingatkan kita bahwa ada orang yang mengabaikan tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya dengan berbagai alasan, tetapi ada orang yang menyesal dan kemudian pergi untuk melaksanakannya. Setiap orang, teristimewa Laki-laki gereja, yang diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab, baik sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin dan pelayan dalam pelayanan gereja, sebagai pemimpin dan pelayan ditengah masyarakat, pasti diawali dengan akta pengukuhan atau pelantikan yang meminta persetujuan dan janji untuk melaksanakan tugas. Apakah kemudian janji itu akan dilaksanakan dengan setia? Itulah yang menjadi pertanyaan untuk direnungkan dan kemudian dievaluasi. Bagaimana dengan tanggungjawab sebagai kepala keluarga di masa pandemic covid-19, dimana arah pelayanan gereja semakin memperkuat ketahanan iman dan spiritualitas keluarga, dan Ibadah Keluarga semakin digiatkan? Firman Tuhan di hari ini mengingatkan kita bersama dengan semua laki-laki GPM di usia – 34 tahun agar kembali mengevaluasi diri dan membuat komitmen baru agar tetap menjadi Laki-laki GPM yang setia melakukan kehendak Tuhan.

DIRGAHAYU Wadah Pelayanan Laki – Laki GPM Ke – 34, Tuhan Yesus Memberkati.-

Doa:  Tuhan, inilah kami laki-laki GPM, yang Kau berkati untuk melakukan kehendak-Mu. Amin.

Jumat, 25 September 2020      

bacaan : 2 Tawarikh 15 : 1 – 7

Pembaharuan oleh Asa
Azarya bin Oded dihinggapi Roh Allah. 2 Ia pergi menemui Asa dan berkata kepadanya: "Dengarlah kepadaku, Asa dan seluruh Yehuda dan Benyamin! TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya. 3 Lama sekali Israel tanpa Allah yang benar, tanpa ajaran dari pada imam dan tanpa hukum. 4 Tetapi dalam kesesakan mereka berbalik kepada TUHAN, Allah orang Israel. Mereka mencari-Nya, dan Ia berkenan ditemui oleh mereka. 5 Pada zaman itu tidak dapat orang pergi dan pulang dengan selamat, karena terdapat kekacauan yang besar di antara segenap penduduk daerah-daerah. 6 Bangsa menghancurkan bangsa, kota menghancurkan kota, karena Allah mengacaukan mereka dengan berbagai-bagai kesesakan. 7 Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

MELAYANI DENGAN PENUH SEMANGAT

Setiap kali saya menelepon keluarga saya yang tinggal di kota lain, mereka selalu menyampaikan pesan yang sama sebelum menutup telepon, “tetap semangat!” Pesan ini  selalu menguatkan terutama pada saat dimana saya sangat memerlukannya. Semangat akan membuat raut muka dan gerak tubuh kita berbeda. Orang yang bersemangat akan terlihat sangat kontras dengan yang tidak bersemangat. Orang patah semangat biasanya terlihat lesu dan murung. Sebaliknya orang yang bersemangat akan terlihat antusias dengan wajah berseri dan ceria. Senyum pun akan mengembang di wajah mereka. Dalam kitab 2 Tawarikh kita bisa membaca kisah seorang raja bernama Asa yang melakukan reformasi terhadap bangsa Yehuda yang dipimpinnya. Sebelum ia melakukannya, ia terlebih dahulu didatangi oleh nabi Azarya bin Oded yang diberikan mandat oleh Allah untuk menyampaikan pesan khusus untuknya. Rangkaian pesan dari Allah pun disampaikan, dan salah satu diantara pesan itu adalah mengenai semangat. (2 Tawarikh 15:7). Tuhan menjanjikan upah bagi orang-orang yang memiliki semangat. Asa mendengar pesan itu, dan proses reformasi menyeluruh pun ia lakukan. Dalam melakukan tugas yang Tuhan percayakan kita harus melakukannya dengan penuh semangat, apapun tantangan yang dihadapi dalam melayani Tuhan dan sesama, janganlah kita menjadi lemah. Milikilah hati seorang hamba yang melayani, milikilah semangat yang tidak pernah padam, andalkanlah Tuhan dalam melayani, dan lakukan tugas itu dengan sungguh dan penuh semangat

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami memiliki hati seorang hamba dalam melayani dan penuh semangat, amin.

Sabtu, 26 September 2020     

bacaan : Keluaran 39 : 32 – 43

Pekerjaan itu diterima baik oleh Musa
32 Demikianlah diselesaikan segala pekerjaan melengkapi Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu. Orang Israel telah melakukannya tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah mereka melakukannya. 33 Dibawa merekalah Kemah Suci itu kepada Musa, yakni kemah dengan segala perabotannya: kaitannya, papannya, kayu lintangnya, tiangnya dan alasnya, 34 tudung dari kulit domba jantan yang diwarnai merah, tudung dari kulit lumba-lumba, tabir penudung, 35 tabut hukum Allah dengan kayu-kayu pengusungnya dan tutup pendamaian, 36 meja, segala perkakasnya dan roti sajian, 37 kandil dari emas murni, lampu-lampunya--lampu yang harus teratur di atasnya--dan segala perkakasnya, minyak untuk penerangan, 38 mezbah dari emas, minyak urapan, ukupan dari wangi-wangian, tirai pintu kemah, 39 mezbah tembaga dengan kisi-kisi tembaganya, kayu-kayu pengusungnya dan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya, 40 layar pelataran, tiangnya dan alasnya, dan tirai untuk pintu gerbang pelataran, talinya dan patoknya, segala perkakas untuk pekerjaan mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu; 41 pakaian jabatan yang dipakai apabila diselenggarakan kebaktian di tempat kudus, pakaian kudus untuk imam Harun, dan pakaian anak-anaknya untuk memegang jabatan imam. 42 Tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel segala pekerjaan melengkapi itu. 43 Dan Musa melihat segala pekerjaan itu, dan sesungguhnyalah, mereka telah melakukannya seperti yang diperintahkan TUHAN, demikianlah mereka melakukannya. Lalu Musa memberkati mereka.

MODEL KEPEMIMPINAN SEORANG HAMBA

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” pepatah tua ini dapat menjelaskan apa yang dilakukan Musa bersama dengan umat Israel untuk menyelesaikan pekerjaan perlengkapan Kemah Suci. Suatu pekerjaan berat, jika dikerjakan bersama-sama akan menjadi ringan dan semua orang akan diberi kesempatan untuk terlibat didalamnya. Bacaan kita menceriterakan bahwa, ketika Tuhan Allah memerintahkan Musa untuk mengerjakan semua perlengkapan untuk membuat Kemah Suci dengan semua perabotannya, Musa tidak bekerja sendiri, dia juga tidak menggunakan kekuasaannya hanya dengan memerintah saja, tetapi dia membagi tugas dengan bijaksana, dia memberi kepercayaan kepada orang Israel dari semua suku untuk mengerjakannya sesuai dengan ketrampilan mereka. Musa juga tidak lepas tangan, dia memberi petunjuk, mengawasi dan terus mendampingi mereka, dan itulah manajemen kepemimpinan yang baik dan patut diteladani. Setelah semua pekerjaan  mempersiapkan perlengkapan Kemah Suci seperti: papan, kayu, tabut Hukum Tuhan dengan kayu pengusung dan tutup perdamaian, meja perkakas dan roti sajian, kandil emas, lampu-lampu, mezbah emas, mezbah tembaga, minyak urapan, wangi-wangian, bejana pembasuhan, dll (ay.33-40) telah selesai, orang Israel mengantarkannya kepada Musa sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kepercayaan yang diterima. Dan Musa melihat bahwa apa yang dikerjakan itu tepat atau sesuai dengan yang diperintahkan oleh Tuhan Allah kepadanya dan karena itu Musa memberkati pekerjaan mereka. Managemen kepemimpinan seperti ini, adalah juga model kepemimpinan Tuhan Yesus, yang memberi kepercayaan, berbagi tanggungjawab, memberi petunjuk, mengawasi, mendampingi, bersama-sama dan memberkati, hendaklah menginspirasi kehidupan persekutuan keluarga Kristen, gereja dan juga masyarakat dalam kepemimpinannya.

Doa: Tuhan ajarlah kami menjadi pemimpin yang dapat diteladani, Amin.

*sumber : SHK bulan Sept 2020 by. LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey