fbpx

Santapan Harian Keluarga, 8-14 November 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Hidup Dalam Kesabaran

Minggu, 08 November 2020     

bacaan : Mazmur 37 : 1 – 11

Kebahagiaan orang fasik semu
Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; 2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. 3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, 4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; 6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. 7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. 8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. 9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri. 10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi. 11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

KESABARAN ADALAH SUATU KEBAJIKAN

Patience is a virtue, kalimat pendek ini artinya: “Kesabaran adalah suatu kebajikan”. Kita sering mendengar ungkapan, “orang sabar disayang Tuhan” atau “sabar itu subur”. Mengapa demikian? Karena tentu saja sabar itu suatu kebajikan atau kebaikan. Ada anggapan bahwa tingkat kesabaran orang Maluku cenderung kurang, karena gampang tersulut emosinya; Terlepas dari anggapan itu, setidaknya kita bisa temukan dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang memiliki sifat tidak sabar sehingga sering menyebabkan terjadinya pertengkaran, permusuhan, sakit hati, iri, hingga dendam. Jika saudara memiliki sifat kurang sabar, maka berhati-hatilah, sebab kesabaran kita sering teruji oleh mereka yang suka berbuat kejahatan. Oleh sebab itulah Daud mengkidungkan Mazmur yang mengajak kita untuk tidak terusik sama sekali dengan hal-hal yang dapat membuat kita menjadi emosi seperti: marah, iri, atau bahkan cuma kesal saja.  Sekali kita terusik maka akan menghilangkan kebajikan. Jika ada orang yang  kaya dan hartanya melimpah, namun ternyata semua itu didapat dari hasil menjadi pengedar narkoba.  Lalu kita jadi iri bercampur marah melihatnya dan bertanya: “Mengapa orang seperti ini bisa “makmur” dan bebas berkeliaran, padahal yang dikerjakannnya adalah hasil kejahatan”. Ketidaksabaran pun bisa menjadi ancaman bagi persekutuan keluarga. Jika kita memilih sabar, maka tak akan ada keributan, namun sebaliknya bila tidak mau menjadi sabar, maka pintu kejahatan selalu terbuka untuk menyambut kita. Memang secara manusiawi, kesabaran ada batasnya, namun jangan diartikan sebagai kesempatan bagi kita untuk berbuat dosa, Serahkan semua persoalanmu kepada Tuhan dan mintalah kuasa Roh Kudus menaungi hati dan pikiran dengan kesabaran, dan biarkanlah kehendak Tuhan yang berlaku.

Doa: Tuhan, penuhilah hati dan pikiran kami dengan Roh Kudus-Mu, dan biarlah kehendak-Mu yang jadi atas kehidupan keluarga kami. Amin.

Senin, 09 November 2020        

bacaan : Kolose 1 : 9 – 12

9 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, 10 sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, 11 dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, 12 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.

HIDUP YANG LAYAK DIHADAPAN TUHAN

Ada orang yang menganggap hidup ini sulit, jangan lagi dibuat menjadi lebih sulit. Namun ada juga yang beranggapan bahwa  hidup ini sebenarnya sederhana,  nikmati hidup ini apa adanya  dan jangan merasa susah. Benar tidaknya pandangan ini, tergantung bagaimana orang memahaminya. Jika orang memahami hidup ini sebagai beban, maka ia akan terus terbeban dengan banyak masalah. Jika orang memahami hidup ini seperti air yang mengalir, maka ia akan menjadi orang yang penurut dan bukan tipe pembangkang. Jika orang memahami hidup ini sebagai berkat dari Allah, maka semua hal yang ia jalani, adalah ungkapan syukur karena berkat dari Tuhan.  Tanpa sadar sebenarnya kita sementara berusah menjadi “layak” di tengah lingkungan tempat kita hidup. Kita ingin dikasihi, dihargai, dihormati, kaya, bahkan berkuasa dan tentunya bahagia. Memang demikian adanya  tujuan hidup ini meski kita tahu bahwa segala yang dimiliki di dunia tidak akan kekal. Oleh sebab itu seluruh standar kehidupan itu tak akan ada artinya bila hidup kita tidak layak di hadapan Tuhan dan tidak berkenan kepada-Nya. Rasul Paulus menekankan bahwa untuk memelihara hidup yang layak di hadapan Tuhan maka ada tiga cara yang dapat dilakukan yakni pertama, berdoa meminta hikmat dan pengertian yang benar dari Tuhan; kedua, mampu menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan ketiga, tahu mengucap syukur. Hikmat dan pengertian akan menuntun kita untuk bertindak, sehingga jika ada persoalan maka kita akan mampu menghadapinya dengan tekun dan sabar. Dengan begitu maka hidup ini menjadi hidup yang selalu penuh dengan ucapan syukur. Jadi apakah kita harus memilih susah atau senang dalam menjalani hidup ini? Bukan kedua-duanya, melainkan hidup yang layak di hadapan Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, berilah Roh hikmat dan pengertian yang benar, agar kami mampu menghadapi berbagai tantangan hidup ini dengan tekun dan sabar, Amin.

Selasa, 10 November 2020       

bacaan : Ibrani 6 : 13 – 15

13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 14 kata-Nya: "Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak." 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

ORANG SABAR DISAYANG TUHAN

Kadang kita tidak sabar menanti, baik menanti sesuatu peristiwa atau menanti seseorang, sebab tak banyak orang yang bisa melaluinya dan terkadang dibutuhkan pengingat agar bisa terus bersabar. “Sabar itu subur, tidak sabar masuk kubur”, istilah using yang mengingatkan kita untuk bersabar dalam sebuah penantian. “Sebagaimana Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya” (15). Orang yang sabar adalah mereka yang mampu menahan diri menghadapi berbagai situasi yang sulit dan yang hidup dalam pengharapan, sebab mereka meyakini janji penyertaan Tuhan yang tak akan pernah berakhir. Sabar memiliki unsur ketaatan, sebab tanpa ketaatan jangan pernah mengharapkan adanya jalan keluar ditengah persoalan. Di zaman sekarang ini, sulit ditemukan orang yang sabar, sebab banyak orang cenderung ingin menyelesaikan permasalahannya dengan cepat. Jika berhadapan dengan orang yang “begitu buruk kelakuannya”, atau orang yang menyakiti kita dengan ucapan maupun perbuatannya, ingatlah bahwa Tuhan Yesus pun tetap sabar menjalani penderitaan-Nya di Tiang Kayu Salib dengan berbagai tuduhan, fitnahan dan hinaan.

Sebab orang yang sabar akan memperoleh kemenangan, sukacita dan kebahagiaan. Jadi marilah kita belajar menjadi sabar, agar dengan sikap yang sabar, kita dapat melakukan kehendak Tuhan. Marilah kita menata hidup kita ditengah berbagai cobaan dan tantangan, dengan belajar menjadi sabar. Orang yang sabar akan dapat berdoa dengan tekun dan tetap tegar, kuat, sehat, dalam   mengerjakan semua pekerjaan yang dipercayakan. Ingatlah  bahwa didalam Yesus kita akan memiliki kesabaran dan orang yang sabar pasti disayang Tuhan.

Doa: Tuhan, ajarlah kami menjadi orang yang sabar, agar kami selalu disayang Tuhan, Amin.

Rabu, 11 November 2020      

bacaan : Amsal 19 : 11

11 Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.

ORANG SABAR MAMPU MENGAMPUNI

Jika seseorang menyakiti kita, pasti kita ingin membalas. Ibarat singa yang akan menerkam mangsanya. Sifat demikian akan membahayakan diri kita sendiri dan sesama dan kita seakan kehilangan akal sehat. Lihat saja jika ada aksi “demo”, ada saja yang memakai kesempatan itu untuk merusak berbagai fasilitas umum. Apakah dengan merusak fasilitas umum,  hati kita senang, puas dan lega? Sebaliknya kita telah berdosa karena telah merusak kepentingan bersama. Jadi marilah berfikir sebelum bertindak, Tuhan yang telah memberikan otak dan kecerdasan berfikir, wawasan yang benar dan tepat, janganlah disia-siakan. “Akal budi membuat seseorang panjang sabar  dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran” (11). Disini penulis kitab Amsal memberi nasehat bijak tentang perilaku hidup yang harus dimiliki oleh orang berhikmat. Jika ada orang yang menyakiti, janganlah saling membalas, baik dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan. Tetapi sebaliknya hendaklah mengasihi dengan sabar, disana ada unsur mengampuni. Memberi pengampunan adalah suatu perbuatan yang berakal budi dan panjang sabar. Hal ini akan menyelamatkan diri sendiri dan juga  sesama kita dari kecendrungan untuk saling menghakimi. Hal penting adalah, jangan saling membalas tetapi saling mengampuni dalam tuntunan kuasa Roh Tuhan, untuk suatu kehidupan yang dibaharui. Apapun yang terjadi, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.

Doa: Tuhan berikanlah kami kecerdasan dalam sikap, perkataan dan perbuatan. Amin.

Kamis, 12 November 2020     

bacaan : Amsal 14 : 29

29 Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

SABAR versus MARAH

“Orang yang sabar besar pengertian, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan”, demikian kata Amsal 14 : 29. Penulis kitab Amsal ingin mengatakan bahwa sabar dan marah adalah dua sikap manusia yang sangat bertentangan. Orang yang sabar akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan baik dan tuntas, sebab orang yang sabar besar pengertiannya sehingga ia sangat berhati-hati untuk mengatakan sesuatu, untuk menanggapi dan memberi penilaian. Ia akan mengamati dengan cermat dan menyelesaikan dengan penuh hikmat. Berbeda dengan orang yang menyelesaikan persoalan dengan sikap marah, ia tidak akan dapat menyelesaikan persoalan itu dengan tuntas, sebab ia terkesan tidak sabar, terburu -buru dan terbawa emosi. Dalam menghadapi setiap ujian hidup, kita dituntut untuk bersabar dan bertekun di dalam iman, jangan goyah sebab Tuhan selalu berpihak kepada orang yang sabar dan taat kepada Tuhan dalam kebenaran Allah. Seringkali manusia tidak kuat untuk bersabar dan melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Padahal sikap tergesa-gesa dan tanpa perhitungan yang matang bisa mendatangkan bencana atau bahaya. Semua manusia akan menghadapi rintangan dan cobaan dalam menjalani hidup.  Cobaan tersebut merupakan cara Tuhan menguji keteguhan hati manusia. Cara melatih kesabaran adalah menjadi seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarnya. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Demikian kita belajar  memahami bahwa banyak sabar, banyak berkat, sebab Yesus juga sabar menghadapi banyak sekali cobaan dan tantangan. Dan karena itu keselamatan menjadi bagian kita.

Doa:  Tuhan berikan kami sabar dalam menghadapi cobaan dan tantangan.  Amin.

Jumat, 13 November 2020     

bacaan : Yesaya 57 : 1 – 6

Orang benar binasa, dan tidak ada seorangpun yang memperhatikannya; orang-orang saleh tercabut nyawanya, dan tidak ada seorangpun yang mengindahkannya; sungguh, karena merajalelanya kejahatan, tercabutlah nyawa orang benar 2 dan ia masuk ke tempat damai; orang-orang yang hidup dengan lurus hati mendapat perhentian di atas tempat tidurnya. 3 Tetapi kamu, mendekatlah kamu ke mari, hai anak-anak dari perempuan-perempuan sihir, hai keturunan orang yang berzinah dan perempuan sundal! 4 Tentang siapakah kamu berkelakar, terhadap siapakah kamu melontarkan kata-kata yang bukan-bukan dan mengejeknya? Bukankah kamu ini anak-anak pemberontak, keturunan pendusta, 5 hai orang-orang yang terbakar oleh hawa nafsu dekat pohon-pohon keramat, di bawah setiap pohon yang rimbun, hai orang-orang yang menyembelih anak-anak di lembah-lembah, di dalam celah-celah bukit batu. 6 Padamu hanya ada batu-batu licin dari sungai, dan hanya itu sajalah yang ditentukan bagimu; kepada mereka juga engkau mengunjukkan korban curahan, dan mempersembahkan korban sajian. Masakan Aku sabar akan hal itu?

SABAR DALAM UJIAN DAN COBAAN

Dalam realita kehidupan setiap hari, kita menjumpai dua tipe manusia, yaitu orang benar/saleh dan orang jahat/fasik. Dan anehnya orang benar/saleh banyak mengalami penderitaan karena ketidakadilan, penindasan dan penganiayaan dari orang jahat/fasik. Sedangkan orang jahat/fasik hidupnya aman-aman saja dan bahagia. Dalam konteks seperti itu terkadang Tuhan disalahkan, apa memang betul Tuhan tinggal diam terhadap orang yang telah melakukan ketidakadilan dan penganiyaan terhadap orang benar. Yang jelasnya tidak, sebab dalam ayat renungan kita (3-5), Allah menghardik mereka yang telah menindas orang benar/saleh. Sebab walaupun sesungguhnya mereka adalah umat Allah, tetapi mereka telah bertingkah laku yang sama saja dengan bangsa kafir, melakukan kebiasaan-kebiasaan kafir yang jauh bertentangan dengan kehendak Allah sehingga menimbulkan murka Allah. Sementara orang benar memang mengalami kesengsaraan bahkan kematian karena perlakuan orang fasik, namun sesungguhnya mereka pergi dalam kedamaian (1-2). Ini karena sifat hakiki Allah adalah kasih dan selalu peduli dengan hidup orang benar. Hal ini lalu menjadi pelajaran berharga bagi kita. Marilah kita tetap setia dan taat kepada Allah dan kehendak firman-Nya. Janganlah menjauh dari Allah, tetapi dekatlah selalu dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita. Beriman teguh kepada Tuhan dalam kondisi apapun termasuk ancaman pandemik covid-19 amat penting, sebab Tuhan tidak pernah tinggal diam melihat orang benar mengalami ancaman, bahkan dianiaya. Pada waktunya Tuhan akan membela orang benar dan menghakimi orang fasik.

Doa:  Tuhan kuatkan iman kami untuk tetap tekun dan bersabar dalam setiap ujian hidup. Amin.

Sabtu, 14 November 2020          

bacaan : Amsal 14 : 17

17 Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

HANYA ORANG BIJAK YANG DAPAT BERSABAR

Seringkali kita diperhadapkan dengan tantangan dan persoalan hidup silih berganti termasuk ancaman pandemik covid-19 sampai saat ini. Tak jarang pula kita suka mengeluh terhadap apa yang menimpa kita. Kita tidak pernah sadar mengapa kita harus mengalami semua ujian itu? bukankah semua itu terjadi karena ulah kita sendiri yang cendrung tidak taat kepada Tuhan. Apa pun cobaan dan ujian itu, semua adalah cara Tuhan untuk mendidik, melatih kesabaran dan keimanan kita. Yang jadi pertanyaan bagi kita adalah bagaiman kita menyikapi dan menjalani tantangan, dan masalah hidup yang banyak termasuk pandemi covid-19 ini? Mungkin saja kita merasa tidak mampu untuk menghadapi semua itu. Namun, ayat renungan ini menolong kita bahwa untuk  hadapi semua masalah dan cobaan itu, kita harus memiliki kebijaksanaan dan kesabaran sebagai karakter hidup beriman. Kita tidak bisa pasrah dengan kelemahan dan keterbatasan kita yang terkadang membuat kita lupa akan Tuhan dan menjauh dari pada-Nya. Untuk itu, penulis Amsal menasihati kita untuk hidup dengan bijaksana dan bersabar. Ini penting bagi orang beriman, karena mengandung makna yang dalam. Bijaksana dalam arti hidup beriman dan takut akan Tuhan, taat pada kehendak firman-Nya. Dan juga harus bisa bersabar dalam cobaan apa pun. Realita tantangan dan ancaman sekarang ini menuntut kita untuk hidup bijaksana dan bersabar dalam ketaatan iman. Hanya dengan begitu kita akan dikuatkan dan dibimbing senantiasa oleh Tuhan dalam menyikapi setiap masalah dan cobaan termasuk ancaman pandemik covid-19 ini. Janganlah berharap dan mengandalkan kekuatan diri sendiri, melainkan andalkan Tuhan dan berharap sepenuh kepada-Nya. Bersama Tuhan, pasti bisa.

Doa: Ya Tuhan, anugerahkan kami kebijaksanaan dan kesabaran dalam menghadapi setiap permasalahan dan cobaan. Amin.

*sumber : SHK November 2020 LPJ GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *