Santapan Harian Keluarga, 1-7 November 2020
jemaatgpmsilo.org
Tema Mingguan : “Hidup Dalam Penguasaan Diri“
Minggu, 01 November 2020
bacaan : Yakobus 1 : 19 – 27
Pendengar atau pelaku firman
19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; 20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. 21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. 22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. 24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. 25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. 26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. 27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.
HIDUP DALAM PENGUASAAN DIRI
Kita sudah memasuki bulan November, dengan harapan agar hidup kita tetap sehat, baik rohani maupun jasmani, seperti kata tema bulan ini. Untuk itulah bacaan hari ini mengajak kita untuk membersihkan hati kita dari segala hal yang tidak sehat, memberi diri dituntun oleh Roh dan Firman Tuhan, agar kita dapat melakukan kehendak Allah. Nasehat ini disampaikan oleh Yakobus kepada jemaat Kristen yang menyebut dirinya dua belas suku di perantauan. Yakobus sangat menekankan perihal perbuatan yang baik kepada sesama, sebagai wujud dari iman kepada Kristus. Artinya bahwa, jika seseorang yang percaya kepada Yesus dan mendengar Firman-Nya, tetapi ia senang melakukan berbagai kejahatan seperti menipu, mencuri, berbohong, menyakiti sesama, maka hidupnya akan sia-sia. Disini, Yakobus memberi nasehat agar orang-orang percaya dapat merawat relasi hidup yang baik dan sehat diantara mereka. Salah satu cara untuk merawat relasi hidup yang baik dan sehat adalah dengan berupaya mengendalikan diri dan terus melakukan berbagai kebaikan. Yakobus katakan: “…setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata..”. Artinya bahwa orang yang mendengar firman Tuhan, hendaklah ia dapat mengekang lidahnya atau mengendalikan dirinya dari kecendrungan untuk mengeluarkan kata-kata yang menyakiti sesama. Untuk itu diharapkan setiap orang percaya, hendaklah hidup dalam penguasaan diri, dituntun oleh kuasa Roh Kudus, untuk mengendalikan segala keinginan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita untuk melakukan berbagai perbuatan baik, seperti menolong sesama yang menderita, bekerja dengan adil dan jujur, tidak menyakiti orang lain, hidup saling menghargai, dan selalu menghadirkan damai dan sukacita, dalam sikap dan tutur kata yang penuh kasih.
Doa: Tuhan, kendalikan hidup kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami dapat melakukan kehendak-Mu. Amin.
Senin, 02 November 2020
bacaan : Amsal 16 : 32
32 Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.
ORANG SABAR, MAMPU MENGUASAI DIRI
Pernahkah saudara melewati suatu proses “antrian” yang panjang untuk sebuah urusan? Apakah yang sangat dibutuhkan pada saat itu? Ternyata lewat suatu tradisi “antrian”, kita belajar untuk sabar dan menguasai diri. Kesabaran dan penguasaan diri adalah cara yang paling tepat untuk mengadapi berbagai persoalan. Hal inilah yang diungkapkan oleh Salomo, seorang raja yang penuh hikmat: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (32). Disini, Salomo hendak memberi penekanan bahwa, untuk menghadapi setiap tantangan dan persoalan, jangan pernah mengandalkan kekuatan fisik semata. Sebab keunggulan manusia tidak terletak pada kekuatan fisiknya tetapi pada kemampuannya untuk sabar dan mengendalikan dirinya. Hal ini sangat penting bagi seorang pahlawan di zaman Salomo, ketika akan merebut suatu kota yang dikelilingi dengan tembok atau benteng pertahanan yang kuat, selain mereka harus memiliki peralatan perang yang canggih, tetapi juga kesabaran dan penguasaan diri untuk menanti waktu yang tepat. Seorang pendeta senior pernah berkata: “untuk menembus sebuah tembok, janganlah menggunakan “martil”, sebab tembok itu akan rusak, tetapi gunakanlah alat “bor” dan kerjakanlah dengan sabar”, maksudnya adalah bahwa, untuk menghadapi suatu “tembok masalah” dibutuhkan kesabaran dan penguasaan diri, agar tidak terjebak untuk melakukan cara- cara yang curang penuh kekerasan dan melahirkan persoalan baru. Orang yang tidak sabar dan tidak mampu menguasai dirinya, akan menggunakan cara yang tidak benar untuk mendapatkan semua keinginanannya, tetapi pada akhirnya semua yang didapatkannya akan lenyap dan sia-sia. Tetapi orang yang sabar dan dapat menguasai dirinya, pasti akan menikmati kehidupan yang penuh berkat.
Doa: Tuhan, ajarlah kami menjadi orang yang sabar dan dapat menguasai diri, amin
Selasa, 03 November 2020
bacaan : Ester 3 : 1 – 6
Muslihat Haman untuk memunahkan orang Yahudi Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. 2 Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud. 3 Maka para pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berkata kepada Mordekhai: "Mengapa engkau melanggar perintah raja?" 4 Setelah mereka menegor dia berhari-hari dengan tidak didengarkannya juga, maka hal itu diberitahukan merekalah kepada Haman untuk melihat, apakah sikap Mordekhai itu dapat tetap, sebab ia telah menceritakan kepada mereka, bahwa ia orang Yahudi. 5 Ketika Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya, maka sangat panaslah hati Haman, 6 tetapi ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja, karena orang telah memberitahukan kepadanya kebangsaan Mordekhai itu. Jadi Haman mencari ikhtiar memunahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros.
KEKUASAAN DAN PENGUASAAN DIRI
Hidup dalam penguasaan diri adalah tanda dari orang yang dipimpin oleh Roh Kudus (Gal.5:23). Tetapi orang yang hidup dalam amarah dan kedengkian adalah tanda dari orang yang dikuasai oleh roh kedagingan (Gal. 5:22). Roh kedagingan adalah roh yang bersumber dari keinginan manusia yang jahat yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, Roh yang lebih mementingkan diri sendiri dan tidak mempertimbangkan kehendak Tuhan demi kebaikan hidup bersama orang lain. Demikianlah Haman, pembesar di istana raja Persia, ketika diberi kekuasaan oleh raja Ahasyweros, ia merasa harus dihormati oleh semua orang. Bukan hanya itu, ia menuntut setiap orang harus sujud dihadapannya. Ia sangat marah dan merasa dengki kepada Mordekhai seorang pegawai berkebangsaan Yahudi di Istana raja Persia. Hal ini disebabkan karena Mordekhai satu-satunya pegawai yang tidak mau sujud kepadanya, karena keyakinan Mordekhai bahwa hanya kepada Allah Israel, dia harus berlutut dan sujud menyembah. Tetapi hal ini tidak diterima baik oleh Haman. Haman merasa Mordekhai tidak menghormatinya dan ia menjadi marah dan ingin melenyapkan Mordekhai dan seluruh bangsa Yahudi yang berada di kerajaan Persia. Di sini nampak bagi kita bahwa keangkuhan dan gila hormat, menyebabkan tidak ada penguasaan diri dan akibatnya ialah tidak dapat menerima dan mengerti orang lain, tetapi sebaliknya merencanakan dan melakukan tindak kejahatan sehingga orang lain menjadi korban. Jika kepada kita diberi kepercayaan atau kekuasaan, gunakanlah dengan baik dalam tuntunan Roh Kudus, agar jadi berguna untuk melayani banyak orang dan bukannya menyusahkan orang lain, dan kuncinya adalah penguasaan diri.
Doa: Ya Tuhan, tuntunlah kami dengan Roh-Mu supaya kami menguasai diri dan terhindar dari kejahatan. Amin.
Rabu, 04 November 2020
bacaan : Amsal 21 : 23
23 Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.
MULIAKANLAH TUHAN DENGAN MULUT DAN LIDAH
Mulut dan lidah adalah alat untuk menyuarakan perasaan dan pikiran. Apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh seseorang akan diketahui melalui suara yang diperdengarkannya. Apakah itu suara yang menyenangkan atau meresahkan. Orang yang mampu menguasai perasaan dan pikirannya akan terhindar dari kata-kata yang meresahkan, menyakitkan dan tidak menyenangkan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menguasai perasaan dan pikirannya, sering membuat dia tidak mampu mengekang lidahnya sehingga dari mulutnya keluar kata-kata yang tidak bisa diterima oleh orang lain. Akibatnya ialah ia tidak disenangi sehingga ia bisa mengalami kesukaraan hidup. Amasl 21:23 mengatakan: “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, melihara diri dari pada kesukaran” (23). Ini adalah hasil perenungan dari pengalaman hidup manusia dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam. Bahwa orang yang tidak dituntun oleh Tuhan, sering tidak mampu menguasai perasaan dan pikirannya, sehingga mulut dan lidahnya tidak bisa dia kendalikan. Tetapi orang yang dituntun Tuhan melalui Roh-Nya akan mampu mengendalikan perasaan dan pikirannya dan kata-kata yang keluar dari mulut dan lidahnya sangat menyenangkan, menguatkan dan menghibur orang lain. Renungan hari ini mengingatkan kita untuk memberi diri dituntun oleh Roh Tuhan, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut dan lidah kita adalah kata-kata yang memuliakan Tuhan dan menyenangkan hati sesama manusia.
Doa: Ya Tuhan, kuasailah persaan dan pikiran kami supaya dari mulut dan lidah kami, nama-Mu dimuliakan. Amin.
Kamis, 05 November 2020
bacaan : 1 Samuel 18 : 6 – 11
Saul benci kepada Daud
6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; 7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." 8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." 9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. 10 Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya. 11 Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: "Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding." Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali.
BEBASKAN DIRI DARI AMARAH DAN DENGKI
Amarah dan kedengkian adalah gambaran kehidupan manusia yang tidak mampu menguasai diri, karena pikiran dan persaannya terganggu, karena merasa tersinggung dengan perkataan dan tindakan orang lain yang tidak bisa diterimanya. Demikianlah Saul, seorang raja yang biasanya menerima kata-kata pujian dan penghormatan dari rakyatnya. Tetapi ketika Daud mampu mengalahkan Goliad, panglima perang Filistin yang tidak mampu dihadapi oleh Saul dan pasukannya, maka masyarakat Israel menyambut peristiwa itu sebagai suatu kemenangan yang besar. Mereka memberikan penghargaan yang luar biasa pada Daud seorang pemuda belia. “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (7.b), demikian nyanyian mereka yang menyambut kemenangan Daud. Sedangkan Saul si raja yang berkuasa merasa tidak dihargai. Hal ini disebabkan karena Saul dianggap tidak mampu mengalahkan panglima Filistin yang telah menghina umat Israel dan Allah mereka. Amarah dan kedengkian Saul kepada Daud, bahkan melahirkan pikiran dan tindakan yang jahat untuk membunuh Daud. Karena Daud telah dianggap sebagai Idola rakyat, dan ini menjadi ancaman bagi kedudukan Saul sebagai raja Israel. Bacaan ini mengajarkan kepada kita bahwa apabila kita mau melepaskan diri dan berbagai pikiran dan tindakan yang jahat, maka kita harus menguasai diri, dengan berpikir positif, dan memberi diri dituntun oleh kuasa Rph Kudus. Orang yang dituntun oleh kuasa Roh Kudus akan digerakkan untuk melakukan pebuatan baik dan menyenangkan banyak orang.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menguasai diri, agar kami tidak melakukan kejahatan. Amin.
Jumat, 06 November 2020
bacaan : Matius 6 : 22 – 23
22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
SIAPAKAH TUHANMU, ALLAH ATAU MAMON?
Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon”, demikianlah ucapan Yesus yang tegas. Didalam ajaran ini ada tuntutan bagi setiap orang untuk menentukan pilihannya, Allah atau mamon. Mamon, berasal dari kata Aram “mamona”, yang secara umum berarti kekayaan atau keuntungan, dan dalam pemakaiannya mengacu kepada harta atau uang. Memiliki mamon yang banyak bukanlah sesuatu yang salah jika itu didapat dengan cara yang benar dan digunakan secara benar pula. Tetapi memilih mencintai mamon, apalagi menghambakan diri kepada mamon, dan bukan kepada Allah, itu sikap yang keliru. Yesus mengingatkan kecenderungan itu: “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Jadi, kepada siapa seseorang menghamba dan menaklukkan diri, itu adalah pilihan yang menentukan. Ada banyak orang yang rela menghamba dan menaklukan diri kepada mamon, sehingga tidak segan-segan mengorbankan harga dirinya, keluarganya, imannya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan dari mamon itu. Kecenderungan itu masih ada dalam kehidupan anak-anak Tuhan hingga sekarang. Jadi, tidaklah heran jika Yesus mengingatkan dengan jelas dan tegas supaya kita membuat pilihan yang tepat, Allah atau mamon?. Peringatan Tuhan ini disampaikan pula kepada kita, bahwa sebagai anak-anak Tuhan, sebagai keluarga kristen, buatlah pilihan yang tepat. Semoga kita memilih mengabdi hanya kepada satu tuan yang sejati, yaitu Allah Pencipta dan Pemilik kehidupan kita yang daripada-Nya hidup kita menerima berkat kehidupan hingga saat ini.
Doa: Ya Tuhan, berilah kami iman untuk tetap memilih taat dan mengabdi hanya padaMu, Amin.
Sabtu, 07 November 2020
bacaan : Amsal 25 : 28
28 Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.
PENGUASAAN DIRI
Ada orang yang mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam hidup kita datangnya dari diri sendiri. Bahkan ada yang lebih ekstrim menegaskan: Musuh terbesar kita adalah melawan diri sendiri. Perkataan ini ada benarnya, sebab dalam kenyataannya, kejatuhan atau kegagalan seseorang terjadi ketika ia kehilangan kendali atas dirinya atau kehilangan penguasaan diri. Ketidakmampuan untuk mengendalikan diri merupakan penyebab utama bagi suatu kegagalan. Akibat tidak bisa menahan diri, menyebabkan orang bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan kawan atau sahabat, peluang emas bisa kabur, berkat dan rejeki juga bisa batal, kesempatan bisa hilang. Oleh karena itu dapat dikatakan: ”faktor utama dibelakang keberhasilan kita salah satunya adalah pengendalian diri. Siapa menguasai diri, ia menguasai kunci untuk pintu-pintu kesuksesannya“. Salomo berkata dalam kitab Amsal 16:32: “Orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota”. Hal itupun diulanginya lagi sebagaimana dalam Amsal 25:28: “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya”. Kedua nats ini intinya sama yakni siapa sanggup menguasai dirinya sendiri, dialah pemenang yang sejati. Sebab itu, marilah kita minta supaya Roh Kudus terus tinggal dan berkarya didalam hati kita tiap-tiap hari dan kita pun menyerahkan diri tunduk dalam kuasa-Nya. Karena hanya orang-orang yang hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus, yang diberi kemampuan dan kesanggupan untuk mengendalikan dan menguasai diri.
Doa: Ya Roh Kudus, berilah kami kemampuan untuk selalu mengendalikan dan menguasai diri sendiri, Amin.
*sumber : SHK November 2020; LJP-GPM

