fbpx

Jemaat GPM Silo Jadi Lokasi Pesan Kamtibmas, Polda Maluku Ingatkan Bahaya Nihilisme dan Pengaruh Gadget pada Anak

AMBON – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat dinilai turut membuka ruang bagi penyebaran paham radikal berbasis nihilisme di kalangan anak-anak. Orang tua diminta memperketat pengawasan terhadap penggunaan gadget dan aktivitas anak di dunia maya.

Hal tersebut disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Maluku Kombes Pol Dasmin Ginting, S.I.K., seusai mengikuti ibadah Minggu ke-4 di Jemaat GPM Silo, Ambon, Minggu (23/8/2026) pukul 06.00 WIT.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program Kapolda Maluku untuk menyambangi tempat-tempat ibadah, bersilaturahmi dengan jemaat, beribadah bersama, sekaligus menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Dalam kesempatan itu, Dasmin mengingatkan masyarakat mengenai perkembangan fenomena kekerasan yang kini memiliki pola baru, salah satunya melalui penyebaran pemahaman nihilisme atau nihilistic yang bersifat radikal.

“Dalam waktu beberapa bulan terakhir ada fenomena dengan pemahaman nihilisme atau nihilistic yang bersifat radikal. Sekarang perkembangan baru dengan menggunakan teknologi baru yang berkembang pesat dengan paham radikal yang berkembang yaitu pemahaman nihilistic,” kata Dasmin.

Menurutnya, nihilisme merupakan paham yang tidak berangkat dari ideologi maupun keyakinan keagamaan tertentu, tetapi berdiri sendiri dan cenderung tidak stabil.

“Nihilistic ini adalah paham yang di mana dia tidak berkiblat pada ideologi maupun keagamaan, melainkan berdiri sendiri dan sifatnya tidak stabil,” ujarnya.

Dasmin mengatakan, fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Maluku, tetapi telah menjadi persoalan di tingkat internasional dan nasional. Ia mencontohkan sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan pelajar sebagai gambaran bagaimana anak-anak dapat terpapar pemahaman dan pengaruh negatif.

“Dapat dilihat sudah menimpa anak-anak kita di kalangan pelajar di SMA Jakarta, yaitu mereka meledakan bom. Di Kalimantan dan Padang juga hal yang sama,” katanya.

Ia menjelaskan, paparan nihilisme dapat dipengaruhi berbagai persoalan yang dialami anak. Di antaranya perundungan atau bullying, ketidakharmonisan keluarga, kurangnya perhatian orang tua, hingga penggunaan game dan gadget tanpa batas.

Dasmin mengungkapkan, Polda Maluku juga telah mendeteksi adanya anak-anak di Maluku yang diduga terpapar pemahaman tersebut.

“Hal ini saya sampaikan bukan untuk ditakuti, tapi karena di Maluku sudah terdeteksi anak-anak di Maluku terpapar hal ini. Sekitar tujuh orang, salah satunya di Tanimbar,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta orang tua tidak menganggap penggunaan gadget sebagai persoalan sepele. Pengawasan diperlukan agar anak tidak mengakses konten atau berinteraksi dalam ruang digital tanpa kontrol.

“Tolong dicek anak-anak terkait gadget mereka agar tidak bermain tanpa batas, pemantauan dari orang tua,” tegas Dasmin.

Ia juga menyinggung pengaruh sejumlah permainan daring terhadap perilaku anak, salah satunya Roblox. Menurutnya, anak-anak pada usia tertentu masih berada dalam proses mencari jati diri, pengakuan, hingga dorongan untuk melakukan aksi balas dendam ketika menghadapi persoalan sosial.

“Anak-anak sekarang sedang mencari jati diri, pengakuan, atau balas dendam seperti halnya di Jakarta karena korban bully yang tidak ditangani dengan baik oleh sekolah, dinas, masyarakat maupun keluarga,” ujarnya.

Dasmin mengibaratkan anak-anak seperti gelas yang belum mampu menyaring sendiri apa yang masuk ke dalam dirinya. Karena itu, peran orang tua menjadi penting untuk memastikan informasi dan pengaruh yang diterima anak tidak membawa dampak negatif.

“Anak-anak kita seperti gelas, yang jika dituangkan air tidak bisa memfilter apa yang masuk ke gelas. Sehingga kita sebagai orang tua harus bisa memfilter apa yang masuk ke gelas anak-anak kita agar tidak terpapar pengaruh negatif,” katanya.

Selain persoalan paparan paham radikal, Dasmin juga menyoroti tingginya kasus kekerasan di Maluku. Berdasarkan pengamatannya selama kurang lebih satu tahun bertugas di Maluku, persoalan tersebut masih menjadi perhatian serius.

“Saya di Maluku baru satu tahun, tapi melihat data kita di Maluku tingkat kekerasan itu sangat tinggi. Faktor pemicu yang dominan itu minuman keras,” ujarnya.

Ia menegaskan, kepolisian tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga keamanan dan mencegah berbagai bentuk kekerasan di tengah masyarakat. Dukungan keluarga, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat dinilai sangat dibutuhkan.

“Kami tidak mungkin bisa bekerja sendiri, tanpa dukungan bapak/ibu agar Maluku ini dapat menciptakan kedamaian yang lebih baik,” tandas Dasmin. (MCP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *