Santapan Harian Keluarga, 3 s.d 9 September 2017

Sabtu, 9 September 2017

bacaan : Nehemia 1 :8-11

Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa.
Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana.
Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat?
Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minuman raja.

SETIA PADA PERINTAH

“Dicari cowok setia”. Demikian status salah seorang teman di sebuah jejaring. Tapi apakah memang mencari cowok yang setia itu sulit ? Dari komentar-komentar yang ada ternyata teman tersebut baru saja putus cinta karena pasangannya ketahuan selingkuh. Ada sebuah ungkapan “mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami”. Soal ketidaksetiaan memang merupakan masalah besar yang tidak hanya dirasakan oleh manusia, tapi juga oleh Tuhan. Ketika Bangsa Israel tidak setia, Tuhan membuat hidup mereka tercerai berai dan menderita. Namun ketika mereka berbalik kepada Allah dan menjadi setia, Allah pun kembali mengumpulkan mereka dan menyelamatkan mereka. Tindakan keselamatan Tuhan Allah ini tentunya tidak diperuntukan hanya bagi bangsa Israel, namun juga bagi kita.Kesetiaan kita kepada Tuhan Allah akan membawa kita pada kehidupan yang baik atau menurut Nehemia kepada kehidupan yang berhasil. Lalu seperti apakah kesetiaan itu? Dalam kehidupan bangsa Israe, tuntutan untuk setia yakni sikap mengikuti perintah, ketetapan dan peraturan Tuhan. Untuk itu, marilah kita setia membaca Firman Tuhan supaya kita mengetahui apa yang Tuhan Allah kehendaki untuk kita lakukan.

Doa : Ya Tuhan tolonglah kami untuk tetap setia pada ajaran-Mu, amin

Jumaat, 8 September 2017

bacaan : Lukas 15 : 8-10

“Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya ? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.

MENCARI YANG HILANG

Seniman Hungaria Gergely Dudas mengunggah gambar teka-teki bertemakan Natal melalui facebook-nya pada Desember lalu. Ilustrasinya menunjukkan ratusan manusia saljua yang digambar tangan. Diantara manusia salju, ada satu panda yang tersembunyi. Gambar itupun dilengkapi kutipan,’ada panda diantara manusia salju!’ Bisakah anda menemukannya ? Dalam waktu hanya enam hari, sudah ada 12.000 orang mengomentari gambar tersebut, ratusan diantaranya mengungkapkan rasa frustrasi atas kegagalan menemukan si panda. Proses mencari memang bukanlah hal yang muda dilakukan. Umumnya, orang beranggapan bahwa kesabaran haruslah menjadi sikap kita ketika mencari sesuatu. Hal ini memang benar, namun dalam cerita dirham yang hilang, bukan hanya sikap tersebut yang menentukan, namun arti penting dari dirham tersebut menuntut perempuan dalam cerita ini untuk berjuang keras menemukannya. Satu dirham sangat bernilai bagi perempuan tersebut karena berkaitan dengan hidup keluarganya. Dengan kata lain, hilangnya satu dirham sama dengan hilangnya kehidupan keluarganya. Jika dikaitkan dengan konteks kehidupan orang percaya, maka dirham yang hilang adalah simbol dari orang yang ‘hilang’ dari persekutuan. Karena itu, kita harus bersikap seperti perempuan tersebut yakni terus menerus mencari, karena tanpa orang yang ‘hilang’ itu persekutuan kita tidak berarti apa-apa.

Doa : Ajarlah kami ya Tuhan untuk setia mencari saudara seiman kami yang ‘hilang’ Amin.

Kamis, 7 September 2017

bacaan : Lukas 15 :1-7

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. ” Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku  yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

RANGKUL DAN KEMBALIKAN ORANG BERDOSA

Bacaan Alkitab hari ini sejajar dengan bacaan kemarin yaitu perumpaan tentang domba yang hilang. Penulis Injil Lukas mengemukakan tentang cara pandang orang farisi yang sangat jauh berbeda dengan cara pandang Yesus terhadap orang berdosa. Bagi orang Farisi, orang berdosa harus dijauhi atau bahkan dihukum mati. Sedangkan bagi Yesus, orang berdosa harus didekati, dirangkul dan diselamatkan. Karena itu Yesus memandang orang berdosa sebagai ‘domba yang hilang’ yang harus dicari dan dibawa pulang. Artinya, orang-orang berdosa harus didampingi, dibimbing, digembalakan dan dinasehati supaya sadar lalu bertobat dan diselamatkan. Jika satu orang bertobat maka ada sukacita yang luar biasa. Mungkin juga kita berpikiran seperti orang Farisi, yang memandang pada PSK (Pekerja Seks Komersial), SADHA (Saudara dengan HIV/AIDS) dan warga binaan di Lapas, sebagai orang-orang yang paling berdosa sehingga dijauhi. Kita lupa bahwa kita semua ini adalah orang-orang berdosa. Tuhan Yesus mengajar kita supaya tidakmenjauhi dan menghukum mereka, melainkan bersedia mendampingi dan membimbing mereka sehingga bertobat. Kemudian kita menopang mereka dan memberi semangat untuk hidup baru di tengah keluarga dan masyarakat. Kesediaan menerima kembali orang berdosa masuk dalam persekutuan keluarga gereja dan masyarakat merupakan obat penyembuh jiwa yang sakit karena ditolak.

Doa : Tuhan kembalikan kami di jalan yang benar, Amin

Rabu, 6 September 2017

bacaan : Matius 18 : 12-14

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”

MENYELAMATAKAN YANG HILANG

Hari ini kita semua bersyukur kepada Tuhan Yesus yang menuntun perjalanan GPM hingga memasuki usia 82 tahun. Dalam rasa syukur itu kita dipanggil untuk menerapkan kepemimpinan pengembalaan dalam hidup keluarga kita. Artinya, papa dan mama harus melaksanakan tanggung jawab sebagai gembala (pemimpin) dalam keluarga dengan sepenuh hati. Tanggung jawab papa-mama ialah memelihara, menjaga, membimbing dan merawat anggota keluarga dengan cinta kasih. bahkan pergi mencari dan menemukan anggota keluarga yang ‘hilang’ lalu bawa pulang kembali ke rumah. Ini penting sebab kadangkala kita hanya membesarkan anak-anak dengan materi, tanpa memberi perhatian dan cinta kasih. Kita lupa bahwa anak-anak tidak hanya butuh materi, tetapi terutama butuh perhatian dan cinta kasih dari papa-mama. Suatu hari saya harus bertugas keluar kota, anak saya menangis, lalu saya bilang nanti mama kasih uang, langsung dia bilang “Beta seng perlu uang, yang beta perlu itu mama.” Saat itu saya merenung dan sadar bahwa anak-anak perlu kehadiran mama-papa. Mereka butuh kasih sayang bukan uang. Marilah kita belajar dari Tuhan Yesus, Sang Gembala Yang Baik, yang menjaga dan merawat kawanan domba dengan sabar dan penuh kasih. Kiranya tema HUT : Gereja Bersyukur dengan Peduli Keutuhan dan Kesejahteraan Bersama” mendorong kita untuk saling peduli dan mengasihi.

Doa : Tuhan terima kasih untuk anugerah-Mu bagi GPM di usia 82 tahun, satukan kami dalam kasih-Mu, amin

Selasa, 5 September 2017

bacaan : Kolose 3 : 12-15

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah  dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

KELUARGA BAKU SAYANG

Setiap KELUARGA KRISTEN terbentuk karena ikatan cinta kasih antara suami dan isteri atau papa dan mama. Cinta kasih yang didasarkan pada Kasih Yesus Kristus sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Jadi Kasih Kristus adalah dasar hidup keluarga-keluarga kristen. Oleh sebab itu, seharusnya anggota keluarga harus baku sayang; saling menyapa dengan lemah lembut. Kalau ada anggota keluarga yang bikin salah, anggota yang lainnya menegur dengan penuh cinta kasih, dan bersedia untuk memaafkan atau mengampuni. Katakanlah, ada suami atau isteri yang selingkuh sehingga pergi dari rumah, kemudian sadar dan kembali maka suami atau isteri dan anak-anak perlu mengampuni dan menerima kembali, sebab mungkin karena kelemahannya, ia melakukan kesalahan. Demikian juga anak-anak yang nakal, suka berkelahi, ngebut di jalan raya, terlibat narkoba dan judi, orang tua perlu mengampuni, mendampingi dan sabar merawat sehingga ia pulih kembali. Namun dalam kenyataannya masih ada suami-isteri yang suka bertengkar, saling mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor, anak=anak merasa kehilangan perhatian mama dan papa sehingga mereka berbuat jahat. Untuk mengembalikan suasana hidup keluarga yang bahagia, suami-isteri atau papa-mama harus bersedia merawat kembali benih-benih cinta kasih yang hampir mati di antara mereka, dan membangun persekutuan hidup dengan cinta kasih Kristus.

Doa : Tuhan hangatkanlah cinta kami dengan cinta-Mu supaya kami tetap saling menyayangi, Amin

Senin, 4 September 2017

bacaan : Efesus 1 : 7-14

Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus  sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

HIDUP DALAM CINTA KASIH

Kita semua telah ditebus, disatukan dan dibebaskan dari dosa oleh Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus di salib. Peristiwa salib menunjukkan bahwa Allah mengambil inisiatif atau berusaha untuk membebaskan kita karena kita sendiri tidak mampu membebaskan diri dari dosa. Artinya, Tuhan Yesus punya kuasa untuk mengubah orang jahat menjadi baik. Yesus mengampuni dan sekaligus memberi hidup baru. Ajaran Yesus kepada kita bukan mengenai kebencian dan permusuhan melainkan tentang cinta kasih Allah. Bahwa Allah sangat mengasihi kita sehingga mengutus Yesus hadir dalam hidup kita dan kita menikmati kasih-Nya yang besar itu. Bagaimana kita dapat menikmati cinta kasih Allah dalam hidup keluarga kita ? Kita dapat menikmati cinta kasih Allah melalui nafas hidup yang kita hirup tiap hari; melalui hidup yang penuh cinta kasih antara suami dan isteri atau papa dan mama, cinta kasih orang tua dan anak, cinta kasih adik dan kakak. Bahkan kita dapat menikmati cinta kasih Allah melalui rejeki yang Tuhan kasih dalam hidup kita dengan kerja keras. Itulah sebabnya maka berkat yang kita peroleh dari Tuhan haruslah kita gunakan untuk memuliakan nama-Nya dengan cara memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup kita tiap hari dan melayani sesama. Marilah kita memuliakan nama Tuhan melalui hidup dan pekerjaan kita, baik di dalam rumah, di lingkungan kita bekerja dan belajar.

Doa : Tuhan kami bersyukur atas pengampunan-Mu bagi kami, biarlah kami memuliakan nama-Mu, amin

Minggu, 3 September 2017

bacaan : Yehezkiel 37 : 15-28

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku:
“Hai engkau anak manusia, ambillah sepotong papan dan tulis di atasnya: Untuk Yehuda dan orang-orang Israel yang bersekutu dengan dia. Kemudian ambillah papan yang lain dan tulis di atasnya: Untuk Yusuf — papan Efraim — dan seluruh kaum Israel yang bersekutu dengan dia.
Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu.
Maka kalau teman-teman sebangsamu bertanya kepadamu: Tidakkah engkau bersedia memberitahukan kepada kami, apa artinya ini —
katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku mengambil papan Yusuf — yang dalam tangan Efraim — beserta suku-suku Israel yang bersekutu dengan dia dan menggabungkannya dengan papan Yehuda dan Aku akan menjadikan mereka satu papan, sehingga mereka menjadi satu dalam tangan-Ku.
Dan sedang engkau memegang papan-papan yang kautulisi itu dalam tanganmu di hadapan mereka,
katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi; Aku akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka.
Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, di atas gunung-gunung Israel, dan satu raja memerintah mereka seluruhnya; mereka tidak lagi menjadi dua bangsa dan tidak lagi terbagi menjadi dua kerajaan.
Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhalanya atau dewa-dewa mereka yang menjijikkan atau dengan semua pelanggaran mereka. Tetapi Aku akan melepaskan mereka dari segala penyelewengan mereka, dengan mana mereka berbuat dosa, dan mentahirkan mereka, sehingga mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahnya.
Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia.
Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal, ya, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya.
Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.
Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya.”

MENYATU DALAM KASIH

Dua papan yang disatukan menjadi satu papan merupakan simbol dari upaya Tuhan untuk menyatukan Yehuda dan Israel supaya mereka menjadi satu, dan dipimpin oleh satu raja sehingga mereka bisa hidup damai. Itu artinya hidup dalam kesatuan dan persatuan menjadi hal yang sangat penting untuk membebaskan diri dari perpecahan. Apa yang dapat kita maknai dalam kaitannya dengan kehidupan keluarga kita masing-masing? Bahwa keluarga terbentuk dari ikatan cinta kasih antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berbeda, tapi telah menjadi satu sebagai suami-isteri, dan dasar hidup mereka adalah kasih Kristus. Oleh karena itu kalau suami dan isteri yang adalah pemimpin dalam keluarga suka bertengkar atau bermusuhan, maka sudah pasti tidak ada rasa damai, dan keluarga bisa pecah. Perpecahan keluarga dalam hal ini suami dan isteri membawa pengaruh burukterhadap hidup dan masa depan anak-anak, atau adik dan kakak, hanya karena masalah sepeleh. Adik dan kakak bertengkar, bermusuhan dan tidak saling tegur-sapa karena warta warisan, atau karena iri hati. Seandainya keluarga kita termasuk orang yang sedang bertengkar, bermusuhan dan saling menyangkal maka mulai hari ini, kita berusaha untuk berdamai, merajut dan menyatukan kembali tali kasih yang hampir putus itu. Tuhan telah membentuk kita menjadi satu keluarga, dan telah menenun kita sejak dari kandungan ibu. Mari bersatu kembali!

Doa : Tuhan satukanlah kami sebagai keluarga, Amin

by. LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *