fbpx

Santapan Harian Keluarga, 29 Juli – 4 Agustus 2018

[ jemaatgpmsilo.org – Ambon]

Minggu, 29 Juli 2018

bacaan : Matius 13 : 31-35

Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi

31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” 33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” 34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, 35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

Dari Kisah Tikus yang Akhirnya Menjadi Berkat

Ian seorang anak miskin, bermaksud mendapatkan uang dengan cara membantu seperlunya pada keluarga ibu Renny. Namun, ibu Renny keluar dari rumahnya dan sambil mencemooh membuang ke hadapan Ian, perangkap tikus yang berisikan beberapa ekor tikus yang hampir mati, ibu Renny berkata: ambil itu dan pergilah. Dengan sedih Ian mengangkatnya dan melangkah tanpa tujuan. Tiba-tiba Nathan temannya, memanggil dan bertanya, … Ian-pun menjelaskan semuanya. Nathan berkata: mari kita berikan saja kepada kucingku. Setibanya di rumah, Nathan menjelaskan kepada ibunya, bahwa ia ingin menolong temannya untuk mendapatkan uang. Kemudian ibunya Nathan, memberi Ian makan dan setengah kilo Kacang ijo, sebagai bayaran tikus-tikus yang telah menjadi makanan kucing itu. Ian berterima kasih dan pulang membawa kacang ijo itu, ia menyerahkannya kepada ibunya. Kacang ijo itu menjadi modal awal yang kemudian berkembang menjadi usaha penjualan jajan sore dilingkungan mereka. Usaha itu, perlahan mengubah kenyataan hidup Ian dan keluarganya menjadi keluarga yang mapan ekonomi. Matius 13 : 31-35 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama Biji Sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang dan bersarang pada cabang-cabangnya”.

doa : Tuhan, jadikan hidup kami berkat bagi sesama, amin

Senin, 30 Juli 2018

bacaan : I Samuel 9 : 15-21

15 Tetapi TUHAN telah menyatakan kepada Samuel, sehari sebelum kedatangan Saul, demikian: 16 “Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku.” 17 Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” 18 Dalam pada itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?” 19 Jawab Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu. 20 Adapun keledai-keledaimu, yang telah hilang tiga hari lamanya sampai sekarang, janganlah engkau kuatir, sebab telah diketemukan. Tetapi siapakah yang memiliki segala yang diingini orang Israel? Bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu?” 21 Tetapi jawab Saul: “Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?”

Samuel dan Saul

Tetapi jawab Saul: Bukankah aku seorang suku Benjamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benjamin? Mengapa Bapa berkata demikian? (21). Adalah pernyataan Saul, ketika nabi Samuel menyatakan kepadanya, “bahwa keledai-keledainya yang telah hilang selama tiga hari telah ditemukan. Tetapi siapakah yang memiliki segala yang diingini orang Israel bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu”? (22). Seolah Samuel hendak menyatakan miliknya yang hilang itu tidak berarti apa-apa bagi Sang Raja, sebab apapun yang dimiliki orang Israel adalah milik Raja. Saul merasa heran atas jawaban Samuel. Sebab, Saul belum tahu, bahwa dirinya telah ada dalam rancangan Tuhan untuk menjadi Raja Israel (bd. Ay.16). Saul merasa mana mungkin dia memiliki semua yang dimiliki kaum Israel. Menurutnya, ia berasal dari suku dan kaum keluarga yang kecil dan hina. Itulah Tuhan, Allah kehidupan. Dalam kedaulatan kuasa-Nya, banyak pengalaman hidup kita membuktikan bahwa, Allah banyak kali bertindak berlawanan dengan pikiran manusia. Ia berkuasa menjadikan yang kecil dan sedikit menjadi akbar, berkualitas dan berpengaruh. Itulah kekuatan, harapan dan iman kita.

doa : Dalam kesadaran akan kekecilan hidup kami, sanggupkan kami menjadi umatMu yang berkualitas, amin

Selasa, 31 Juli 2018

bacaan : Amsal 6 : 6-8

6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

Evaluasi Hidup

Hanya Oleh Anugerah, Tuhan, Allah kehidupan telah menyelamatkan kita hingga di akhir bulan Juli ini. Bagimana kita menyatakan rasa syukur kita? Firman Tuhan di hari ini, mengajak kita bercermin pada cara hidup semut. Semut memiliki semangat dan harapan hidup kearah masa depan (bd ay.8). Kita dapat melihat, Tuhan memperlengkapi semut, yang lemah itu dengan kekuatan perilaku hidupnya secara menyeluruh. Semut memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Pertama: caranya bekerja sama dan bekerja bersama-sama (kerukunan) (bg.ay.6-7). Kedua: penggunaan waktu sebagai peluang dan kesempatan (ketekunan) (bd. ay 8). Di hari pengucapan syukur akhir bulan ini, kita diajak menyatakan syukur kita dalam bentuk mengevaluasi kehidupan bersama. Apakah bulan ini, telah dijalani dengan ketekunan menggunakan setiap peluang dan kesempatan untuk menggumuli masa depan? Apakah kerukunan hidup terus menafasi kerja sama dan bekerja bersama-sama kita? Kita hendak memasuki hidup di bulan Agustus yang menanti. Artinya, kita kembali diberi waktu untuk menggumuli berkat-berkat Tuhan melalui setiap peluang dan kesempatan yang Tuhan siapkan. Biarlah nilai-nilai hidup yang kita pelajari dari Semut yakni: kerukunan dan ketekunan terus menafasi perjalanan hidup kita, sebagai orang-orang yang bersyukur.

doa : Tuhan anugerahkan kerukunan dan ketekunan menjadi karakter hidup yang bersyukur, amin

Rabu, 1 Agustus 2018

bacaan : Amsal 15 : 16-17

16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan. 17 Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.

 

Kamis, 2 Agustus 2018

bacaan : Amsal 12 : 8-9

8 Setiap orang dipuji seimbang dengan akal budinya, tetapi orang yang serong hatinya, akan dihina. 9 Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan.

 

 

Jumat, 3 Agustus 2018

bacaan : Amsal 17 : 1

Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.

 

Sabtu, 4 Agustus 2018

bacaan : Amsal 16 : 8

Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.

Hiduplah Dalam Pengucapan Syukur

Papa saya adalah seorang pegawai negeri tetapi hidup kami tergolong sangat sederhana. Beberapa kali saya mendengar mama mengeluhkan kejujuran papa. Kata mama, papa tipe orang yang terlalu amat jujur. Seandainya saja papa bisa seperti pegawai lain, tentu hidup kami ada dalam kemewahan. Tetapi inilah petuah papa: hidup biar sederhana, yang penting takut Tuhan. Petuah yang sama pula disampaikan melalui bacaan hari ini. Tidak ada masalah kalau kita kelihatan sangat sederhana, yang penting kita tidak mencuri atau menginginkan barang orang lain. Amsal mengajarkan kepada kita bagaimana kita memandang kekayaan. Benar, kita harus bekerja, tetapi biarlah pekerjaan yang kita kerjakan itu dilakukan dengan penuh kejujuran. Rasa takut akan Tuhan menjadi dasar seluruh pekerjaan kita. Penghasilan yang kita nikmati baiklah itu merupakan hasil kerja keras kita yang dibarengi tentunya dengan keadilan yang mendatangkan rasa syukur dan sukacita.

doa : Tuhan, ajar kami untuk bersyukur dengan apa yang Engkau berikan kepada kami. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *