[ jemaatgpmsilo.org – Ambon ]

Minggu, 16 September 2018

bacaan : Galatia 1 : 6 – 10

Hanya satu Injil

6 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. 10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.

Jangan Salah Tertarik

Tanpa disadari kita lebih suka tertarik kepada barang palsu atau “kawe” yang banyak beredar di mana-mana. Bahkan, bisa jadi kita juga pernah menjadi korban dari barang palsu yang kita kira asli pada awalnya. Memang, barang-barang palsu biasanya menarik dari segi harganya yang lebih murah. Namun, kualitas barang palsu seringkali jauh di bawah yang asli. Barang palsu hanya enak sewaktu dibeli tetapi tidak enak sewaktu digunakan. Demikian pula dengan “injil palsu”. Tampaknya, Paulus sedang khawatir dengan “injil” versi lain yang sedang beredar dan dipercayai oleh banyak warga jemaat di Galatia. Kalau kita baca dalam pasal 3 dan 5, “injil palsu” disini mengajarkan bahwa seseorang diselamatkan dengan beriman kepada Kristus dan mematuhi hukum Taurat. Tentu saja, Paulus menolak “injil palsu” ini karena keselamatan semata-mata oleh anugerah Allah. Sewaktu kita mempercayai “injil” yang salah, maka kita sebenarnya sudah “berbalik dari Allah” (6). Mengimani “injil palsu” sama dengan murtad. Injil yang asli adalah injil sejati di dalam Kristus sesuai ajaran Alkitab. berhati-hatilah jangan sampai kita menjadi korban terhadap ajaran injil yang salah, yang mendatangkan dosa kepada Tuhan.

Doa: Tuhan, bantulah kami agar hanya tertarik kepada injil Yesus Kristus, yang adalah kabar baik tentang keselamatan diri kami. Amin.

Senin, 17 September 2018

bacaan : Ibrani 11 : 1 – 8

Saksi-saksi iman

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. 3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. 4 Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. 5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. 6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. 7 Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. 8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.

Mujizat Lahir dari Iman

Apakah kita lelah dengan pergumulan yang bertubi-tubi menggempur kehidupan kita..?? Mungkin ekonomi kita yang mulai terpuruk, keluarga yang tidak lagi harmonis maupun sakit penyakit yang menggerogoti tubuh. Itulah tantangan hidup yang terjadi di sekitar kita dan tanpa sadar sering mempengaruhi dan membentuk kehidupan rohani kita. Apa yang terlihat oleh mata kita, terdengar oleh telinga kita, menyita begitu banyak perhatian sehingga energi kita habis hanya untuk berkutat memikirkan masalah yang tidak ada habisnya. Sebagian orang memutuskan untuk menghadapi tantangan itu meski tidak tahu tujuan akhirnya. Sebagian lagi memilih untuk menyerah, frustasi, marah, kecewa dan masih banyak lagi reaksi negatif lainnya. Dalam situasi seperti itu, kita diingatkan firman Tuhan agar menghadapi kehidupan ini dengan pendekatan iman dan bukan dengan kalkulasi matematis.     Mujizat itu tidak ada rumusnya dan hanya dapat dialami dengan iman. Mujizat itu sudah disediakan Tuhan, namun seringkali belum kita lihat secara kasat mata; adapun tugas kita adalah percaya dengan iman. Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat. Ibrani 11:1 menjelaskan iman kekristenan mengandung unsur harapan dan bukti akan segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kita. Pandangan mata seringkali menipu dan membuat kita lupa kuasa Allah yang besar, padahal yang dilihat tidak seperti yang tampak. Jadi mulailah belajar melihat dangan kacamata iman, maka kita akan dibawa kepada kebenaran yang sejati. Gunakan iman kita, maka kuasa-Nya akan nyata!

Doa: Ya Tuhan, kami percaya mujizatMu. Amin.

Selasa, 18 September 2018

bacaan : 1 Tesalonika  2 : 1 – 12

Pelayanan Paulus di Tesalonika

Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis–hal itu kamu ketahui–dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi–Allah adalah saksi– 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Biking Yang Paleng Bae Supaya Tuhan Pung Hati Sanang…

Ngongare satu datang par Bapa Niko la tanya antua soal rahasia apa yang biking antua bisa jadi orang sukses. Bapa Niko bilang par ngongare tu bagini : “angka ale pung talapak tangang kamari. Ale lia, ada garis-garis di situ to? Itu ale pung garis nasib. Ale tutu tangang la loko samua garis tu..” Ngongare bingong. Bapa Niko lanjut: “Ale su tutu tangan la loko garis-garis di ale pung talapak tangang, mar masi ada garis yang seng dapa ale loko to? Itu akang pung arti bagini: bagemana ale pung kaadaan nanti, itu ada di ale pung tangang. Jadi ale musti karja sunggu-sunggu. La inga lai, ale karja tu bukang par biking manusia pung hati sanang, mar par biking sanang Tuhan pung hati. Tagal itu sama sa deng ale su iko kas tau Tuhan pung kabar bae par orang-orang yang lia ale pung karja. Tarus, karja yang ale pung bageang sa, yang sisa, yaitu garis yang ale seng bisa loko akang tu Tuhan pung bageang, jadi bawa par Tuhan bageang yang ale seng mampu biking akang. Itu beta pung rahasia”.

Basudara e, katong ni manusia yang seng sempurna, mar Tuhan su parcaya katong la kasi penghormatan buat katong par kasi tau Antua pung Kabar Bae par orang-orang.. Kas tau Tuhan pung Kabar Bae tu bukang cuma deng khotbah, ka renungan sa. Mar kalo katong bisa karja bae-bae deng sunggu-sunggu, la biking Tuhan pung hati sanang, itu sama sa deng katong su kas tau Tuhan pung Kabar Bae.

Jadi basudara, macang deng yang Paulus su kasi conto, dalang katong pung karja tu, jang katong cuma mulu manis sa mar hati rarobang. Tarus jang makang puji, deng gila hormat, jang kasar deng orang, musti baku sayang. La inga lai, jang sampe katong jadi beban par orang laeng.. Tuhan Yesus tolong basudara dong deng beta lai, la katong karja par biking Tuhan pung hati sanang.

Doa:  Tuhan, tolong katong par biking Tuhan pung hati sanang…! Amin.

Rabu, 19 September 2018

bacaan : 1 Tesalonika 4 : 1 – 8

Nasihat supaya hidup kudus

Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

Barsi itu moi (indah/cantik)

Sabang taong, waktu Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi di jamat Ananyonya biking dong pung program par biking hari Paskah, GPM pung Har Jadi deng Tuhan Yesus pung Kajadiang, pasti ada lomba yang dong kas nama akang “Sektor barsi”. Jadi samua warga sektor musti biking barsi dong pung ruma-ruma, kintal, got-got, jalang-jalang sampe ka jiku-jiku sektor. Waktu abis lomba, dalang nagri di jamaat Ananyonya ni pung bagus apa lai, barang nagri barsi paskali.

Par GPM pung har jadi barbaru ni, dong biking lomba tu lai. Jadi sakarang ni nagri Ananyonya ada paleng moi. Waktu ibada syukur, Pandita riwayat bagini: Basudara, kalo lia katong pung nagri oras ni, hati sanang ka seng. Katong pung nagri kaliatang moi to.. Beda paskali deng waktu balong lomba to? Oras ni seng ada tai anjing di jalang-jalang, daong sukung, nangka deng laeng-laeng di kintal-kintal. Jadi Beta mo bilang par basudara dong bagini, katong pung kintal, ruma, jalang, got, samua su barsi. Itu bagus. Katong su mandi jadi badang lai su barsi. Maar bukang cuma itu sa. Katong musti kasi barsi katong pung hati lai. Tagal parcuma kalo katong pung badang deng lingkungan barsi mar hati masi pangkotor. Orang Kristen yang bae tu, dia pung hidop musti bagus. Jadi yang su kaweng, musti ator ruma tangga bae-bae. Jang baku pukul, baku kata, baku maki, apalai seng cuma dalang ruma, mar sampe di jalang-jalang.. tarus jang mata karanjang. Hidop orang sudara tu musti manis-manis, jang biking parlente basudara la ambel untung dar dong.. tagal kalo katong biking tarbae, nanti Tuhan balas akang par katong. Yang beta bilang ni sama deng yang Paulus bilang akang par orang di Tesalonika. Jadi basudara, mari katong ator hidop ni bae-bae jua kio, supaya akang barsi luar dalang, tagal barsi tu moi..

Doa: Tuhan, Bantu katong par jaga hidop deng hati yang salalu barsi. Amin!

 

Kamis, 20 September 2018

bacaan : 1 Tesalonika 4 : 9 – 12

9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

Melayani Sesama Dengan Sungguh = Melayani Tuhan

Tete….beta timba makanang for tete makang siang jua ee, supaya beta bisa siap-siap par pi skola lai.., kata Stevi kepada tete Banci yang sementara duduk di atas tempat tidur sambil mendengarkan lagu dari radio, di dalam rumahnya yang sederhana. Dulu, tete Banci sangat rajin berkebun, rajin beribadah dan suka menolong orang yang susah. Dalam usia 72 tahun, sekalipun tete Banci hidup sendiri karena tidak menikah, dan jauh dari sanak keluarga tetapi Tuhan tidak menerlantarkannya. Stevi (16 tahun), dengan penuh kasih berbagi hidup dengan tete Banci. Rumah orang tua Stevi tidak terlalu jauh dengan rumah tete Banci, karena mereka tinggal di satu jemaat. Stevi memilih tinggal bersama dengan tete Banci supaya bisa melayani tete Banci dengan makanan, pakaian, dan mengantarkannya ke ibadah-ibadah, atau kemana saja. Jadi, masa remaja Stevi habis terpakai untuk belajar dan melayani tete Banci. “Stevy, gara-gara melayani tete Banci ose zeng punk waktu maeng bola deng katong lai eee…lalu kapan waktu untuk pacar?? Oeee…tamang ee…umur masih muda, nikmati akang sampe puas!!!” Jimmy menegur Stevy dengan nada kesal, saat mereka bertemu dalam ibadah remaja. Stevy menjawab Jimy: ”tamang eee.. ale ni Ketua remaja dalam jemaat, paleeng rajin ibadah, ale lupa Firman Tuhan tadi? Yaitu mengasihi saudara dengan sungguh-sungguh sama seperti mengasihi Allah? Beta seng ada hubungan saudara deng tete Banci, tapi beta mengasihi ontua. Kalo beta melayani ontua deng sungguh-sungguh, berarti beta sudah melayani Tuhan Allah to.. Tamang, jang cuma dengar Firman Tuhan, tapi buktikan Firman Tuhan itu dalam kehidupan setiap hari. Itu baru disebut orang Kristen!!!” Gunakan setiap waktumu untuk melayani sesamamu dengah sungguh!

Doa: Tuhan…ampuni kami jika tidak  peduli dengan sesama. Amin.

 

Jumat, 21 September 2018

bacaan : Lukas 10 : 38 – 42

Maria dan Marta

38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Hospitalitas

Slamat siang mama deng kaka-kaka. Beta parlu sadiki jua?” suara Bety (17 thn) di tengah canda tawa ibu Cathrin dan anak-anaknya, di suatu sore, di teras rumah. Tanpa bertanya, ibu Cathrin mempersilahkan Bety: ”mari masuk…..nona ada perlu apa?” Baru saja Bety duduk, Mei sudah datang membawa segelas teh gula dan roti dan berkata: “Nona  silahkan minum dan makan roti, sepertinya nona ada masalah?”. Bety lalu bercerita: “Perkenalkan, beta nama Bety (17 thn). Beta kasi tinggal b pung adi laki-laki (13 thn) di kapal, lalu beta bajalang kaki dari pelabuhan besar datang di rumah-rumah par minta kerja cuci piring, setrika atau apa saja yang penting beta bisa dapat uang tiket kapal par beta deng adi supaya bisa berangkat ke Tual sabantar malam”. Tanpa bertanya panjang lebar, ibu Cathrin menyuruh anak-anaknya menyiapkan sedikit uang dan makanan dirantang untuk persediaan makan Bety dan adiknya selama berlayar dengan kapal. “Bety, mama cuma bisa kasi ini saja eee. Bety zeng usa karja lai, skarang Bety balik ke kapal jua sebab ade laki-laki pasti su lapar”. Dengan menangis, Bety menyampaikan terima kasih kepada ibu Chatrin dan anak-anaknya lalu bergegas pergi. “Siooo….kasiang eee….kalo katong tadi zeng kasi uang deng makanan, pasti Bety masih bajalang ka rumah lain lai sampe dia bisa dapat uang. La kalo Bety zeng dapat lai, berarti Bety deng adiknya musti turun dari kapal” kata Wily. “Yaialah !!!! Tapi dong pung saudara-saudara ada di Ambon ka zeng la? sampe hati lai e?” Kata Mei. “Yang penting, katong su biking katong pung tugas: melayani siapa saja, dengan ramah, dengan segenap hati, dan tidak mempersulit orang yang sementara susah. Berikan pelayanan yang terbaik bagi mereka tetapi sesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki” kata ibu Chatrin. Itulah Hospitalitas

Doa: Tuhan, berikanlah kami hati yang bisa melayani orang lain dengan sukacita. Amin.

 

Sabtu, 22 September 2018

bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 36 – 43

36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. 37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. 38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.” 39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. 40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. 43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.

Mujizat Tersembunyi

Suasana terasa panas dalam ruang pertemuan saat itu. Banyak protes dan kritik menghujam sebagian orang yang dianggap bertanggung jawab sebagai pelaksana kegiatan pelayanan. Menariknya, pelaksana kegiatan dimaksud menyikapi tantangan tersebut dengan giat bekerja dan mengubah desain perencanaan mereka secara lebih tepat dan terfokus. Jam telah menunjuk pukul 11 malam, namun mereka masih bekerja dengan semangat walaupun wajah dan tubuh mereka tidak bisa menutupi kelelahan yang sementara mereka pikul. Salah satu dari mereka berujar: Semua yang kita lakukan ini, semoga bermanfaat untuk umat Tuhan. Karena kita tidak bekerja untuk menyenangkan hati manusia, namun untuk menyenangkan hati Allah.” Motivasi pelayanan atau bekerja seperti ini hampir sulit ditemukan dalam era dewasa ini, dimana tujuan orang bekerja lebih pada penonjolan diri, kepuasan materi dan kekuasaan. Apalagi jika sudah diperhadapkan dengan tantangan bahkan ancaman, maka posisi aman pun menjadi pilihannya.

Cerita Petrus membangkitkan Dorkas, tidak hanya menjadi cerita yang mengedepankan kekuatan mujizat dari murid Tuhan Yesus, tapi juga memperlihatkan cara Petrus yang tidak mencari ketenaran diri. Ia tidak melakukan mujizat itu di depan orang banyak, malah ia meminta mereka keluar barulah ia berdoa dan membangkitkan Dorkas. Setelah itu baru orang banyak dipanggil untuk melihat Dorkas yang sudah bangkit. Petrus sungguh-sungguh hendak meletakan fokus pandangan orang banyak dan iman mereka bukan pada tindakannya tapi kepada Allah yang adalah sumber kehidupan.

Seperti Petrus, hendaklah kita juga menjadikan tujuan kita bertindak untuk menyenangkan hati Allah dan untuk kemuliaan namaNya.

Doa: Kami mau menyenangkan hatimu ya Tuhan melalui hidup kami. Amin.

 

*sumber : Santapan Harian Keluarga LPJ – GPM Edisi Bulan September 2018