Penguatan Komitmen Melayani, Silo Gelar Sosialisasi bagi Pendukung Peribadahan Minggu

AMBON, jemaatgpmsilo.org –  Kenyamanan dan rasa sukacita dari jemaat ketika mengikuti rangkaian sebuah ibadah minggu, menjadi sangat berarti dalam proses penguatan spiritualitas umat, maupun pertumbuhan iman. Jemaat akan merasa terlayani dan merasakan “sentuhan” TUHAN atas diri mereka, kalau para pelayanan mampu menjaga dinamisasi, relevan dan ‘kesempurnaan’ rangkaian liturgis. Itulah yang diungkapkan Pdt. Petter Salenussa, mengawali penyampaian materi dalam Sosialisasi tentang Pentingnya Kesadaran terhadap Tugas dan Tanggung Jawab dalam Peribadahan, yang digelar Selasa, 20 November 2018 bertempat di Ruang Konsistori Gereja Silo.

Para peserta yang diikutkan dalam sosialisasi dimaksud adalah para pendukung liturgis peribadahan minggu, yakni kantoria [singers], pemain musik [paduan trompet, paduan suling dan pemain keyboard], penyanyi [solo, duet, vokal grup dan paduan suara], kolektan, pemandu multi media dan pemandu sound sistem, yang mana berdasarkan data absensi sebanyak 25 orang.

Pdt. Salenussa dalam paparannya menjelaskan, nyanyian yang dipilih harus mendukung suasana ibadah. Harus sesuai dengan rumpun liturgi dan tahun gerejawi. Gunakan juga lagu-lagu yang gampang dimengerti oleh seluruh peserta ibadah. Perlu diperhatikan dasar teologis dari lagu-lagu harus selaras dengan ajaran gereja. “.. yang bertugas menyusun lagu-lagu untuk ibadah minggu adalah tim musik gerejawi. Dan khusus untuk pelayan musik [pemain musik dan kantoria/singers] harus hadir lebih dulu [lebih awal], agar bisa memperkenalkan lagu-lagu baru yang akan dinyanyikan bersama dalam ibadah tersebut”, ungkap Salenussa lebih lanjut.

Ditemui setelah penyampaian materi, Pdt Salenussa ditanyai tanggapan dan harapan terhadap perkembangan pelayanan di Silo dan juga terkait kegiatan sosialisasi menegaskan bahwa, “… pertama, semua pemangku kepentingan, dalam hal ini pemain musik harus bisa memahami kepentingan pelayanan. Kedua, memahami pentingnya fungsi mereka. Fungsi dan tanggung jawab dalam mendukung peribadahan, dalam hal ini untuk para pelayan-pelayan musik itu. Lalu yang ketiga, bagaimana caranya mereka secara tepat mempersiapkan diri. Jadi, secara teknik mempersiapkan semua yang menyangku tanggung jawab mereka itu… itu hal yang penting. Harapannya, esok-esok di kemudian hari Jemaat Silo menjadi jemaat model bagi pola-pola peribadahan yang dinamis dan releven” ungkap Salenussa penuh optimisme.

Dikesempatan yang berbeda, salah satu peserta yaitu Ny. Gely Tomasoa, saat dimintai pendapatnya tentang kegiatan sosialisasi, “… kegiatan ini sangat mendukung bagi pelayanan Gereja Silo, karena ada banyak kekurangan yang dimiliki sehingga pembaharuan seperti tadi itu bukan saja katong dengar, tapi harus ditindaklanjuti dalam ibadah setiap saat. Harapan saya, Gereja Silo bisa menjadi lebih lagi dan menjadi contoh, karena Gereja Silo ada di tengah-tengah pusat Kota Ambon” tandas Tomasoa. [BK]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *