fbpx

Santapan Harian Keluarga, 27 Januari s.d. 2 Pebruari 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 27 Januari 2019                          

bacaan : Yesaya 45 : 1 8  (T)

TUHAN memakai Koresh sebagai alat-Nya
Beginilah firman TUHAN: “Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup: 2 Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi. 3 Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, bahwa Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu. 4 Oleh karena hamba-Ku Yakub dan Israel, pilihan-Ku, maka Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku. 5 Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, 6 supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, 7 yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini. 8 Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini.”

Hak Prerogatif Allah

Dalam Perjanjian Lama, Pengurapan ialah penugasan Tuhan kepada orang pilihan-Nya dari umat-Nya untuk jabatan tertentu. Koresh adalah raja bangsa Persia yang menyembah berhala, yang tidak mengenal Tuhan Allah, dan jika mengikuti kriteria tersebut, maka sudah tentu  Koresh tidak lulus kriteria untuk menjadi utusan Tuhan. Namun, pada ayat 4, dikatakan “Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku”. Koresh dipilih Tuhan untuk melakukan misi-Nya, membebaskan umat Israel dan menjadi “juruselamat” bagi bangsa Yahudi. Perkenaan Tuhan kepada Koresh adalah Hak Prerogatif (hak istimewa) Allah untuk memakai Koresh sebagai pembebas bagi umat-Nya. Dengan demikian, kita belajar bahwa Allah memilih seseorang untuk menjadi alat-Nya tidak melihat kepada status sosial, pendidikan, ekonomi bahkan moralitas. Tugas kita hanyalah bersiap jika pada saatnya kita diberikan. Sering kita beranggapan bahwa yang layak melakukan tugas pemberitaan injil adalah mereka yang dianggap baik dan benar, sedangkan yangjahat, bahkan murtad dihadapan Allah sangatlah tidak layak menjadi alat-Nya. Inilah penilaian manusia yang hanya mengutamakan yang terlihat, namun tidak mampu menyelidiki kedalaman hati seseorang. Berbeda dengan Tuhan Allah yang melihat hingga kedalaman hati manusia.

Doa : Ya Tuhan, siapkan hati dan kehidupan kami agar layak menjadi utusan-Mu. Amin.

 

Senin, 28 Januari 2019                              

bacaan : Mazmur 49 : 6 13 (T)

5 (49-6) Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku, 6 (49-7) mereka yang percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka? 7 (49-8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, 8 (49-9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya– 9 (49-10) supaya ia tetap hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur. 10 (49-11) Sungguh, akan dilihatnya: orang-orang yang mempunyai hikmat mati, orang-orang bodoh dan dungupun binasa bersama-sama dan meninggalkan harta benda mereka untuk orang lain. 11 (49-12) Kubur mereka ialah rumah mereka untuk selama-lamanya, tempat kediaman mereka turun-temurun; mereka menganggap ladang-ladang milik mereka. 12 (49-13) Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan. 

Harta atau Nyawa?

Pasti kita pernah tau sebuah permainan yang berjudul harta atau nyawa. Permainan ini adalah permainan masa kecil yang menuntut seseorang untuk memilih harta atau nyawa yang dimilikinya. Dengan pertanyaan seorang teman yang bertanya, memilih harta atau nyawa? Jika kita memilih harta, maka nyawa kita akan melayang. Jika nyawa yang kita pilih, maka kita akan kehilangan semua harta kita. Mazmur 49 : 6-13 menegaskan bahwa mereka yang memegahkan diri karena kekayaan, kesombongan dan kekuatan sendiri pada akhirnya tidak akan bertahan. Hal inilah yang menjadikan manusia tidak lagi memandang ciptaan lain sebagai sesama ciptaan Tuhan. Sebagai orang percaya, kita harus menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidaklah terletak pada banyaknya kekayaan, hebatnya kekuasaan, bahkan gemilangnya suatu prestasi. Semua itu hanya titipan Tuhan yang menjadi berkat setiap orang dan harus dibagikan kepada sesama. Kebahagiaan sejati ialah terciptanya hubungan yang Intim dengan Tuhan, terjalinnya relasi yang harmonis dengan suami, istri, orang tua, anak-anak, saudara, dan semua ciptaan Tuhan, dengan demikian, kita akan selalu merasakan kebahagiaan di dalam kehidupan kita.

Doa : Tuhan, ajarkan kami untuk dapat menciptakan kebahagiaan sejati bagi sesama kami. Amin.

 

Selasa, 29 Januari 2019                                

bacaan : Lukas 10 : 1 12 (T)


Yesus mengutus tujuh puluh murid
Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. 5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. 6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: 11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. 12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Bersedia Untuk Setia

Ia biasa dipanggil oma Titi, banyak kesan dan pesan yang oma Titi torehkan semasa hidupnya, dan yang sangat menyentuh ialah pesannya untuk selalu memanggil nama Tuhan Yesus dalam setiap keadaan melalui Doa. Sebelum meninggal di usia 86 tahun, oma Titi masih bisa membaca Alkitab tanpa menggunakan kacamata, masih sanggup mengikuti ibadah unit dan binakel walau kadang tidak mampu berjalan lagi, masih ingin memuji Tuhan dengan suara yang tidak lagi merdu, dan masih setia menasihati anak cucunya untuk selalu melakukan kehendak Tuhan. Kisah pengutusan tujuh puluh murid yang dilakukan Yesus memberi pengajaran kepada kita bahwa kesetiaan adalah kunci untuk melakukan misi-Nya. Murid-murid diajarkan untuk setia dan bersedia menolong siapapun yang mereka temui. Ayat 9 yang menjadi fokus pemberitaan kita saat ini, mengedepankan pertolongan kepada orang yang sakit. Orang sakit disini tidak terbatas sakit secara fisik, namun juga spiritual. Seperti halnya oma Titi yang mengajarkan kepada anak cucunya untuk selalu memanggil Tuhan Yesus dalam setiap keadaan, kita pun diajak Lukas lewat bacaan ini agar selalu berseru kepada Yesus untuk memberikan kekuatan kepada kita untuk melakukan misi pemulihan, menguatkan orang – orang yang sakit dan lemah .

Doa : Ajarkan kami untuk setia melakukan misi-Mu, Ya Tuhan. Amin.

 

Rabu, 30 Januari 2019                              

bacaan : Matius 15 : 29 31 (T)

Yesus menyembuhkan banyak orang sakit

29 Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. 30 Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. 31 Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Keselamatan Yang Besar dan Ajaib

Yang buta dapat penglihatan, yang tertindas dibebaskan, sungguh tahun Rahmat Tuhan sudah tiba…” Penggalan kalimat ini, merupakan sebagian dari nyanyian Kidung Jemaat No.432, Lagu ini oleh penulisnya, Alfred Simanjuntak (1982) menceritakan tentang harapan seorang pemuda untuk terus mewartakan keselamatan yang telah diperolehnya di tengah-tengah peperangan dan penderitaan. Alfred hidup pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Masa kecilnya diwarnai dengan peperangan dan penderitaan. Walaupun demikian, ia tidak kehilangan semangat hidup dan terus berserah kepada Tuhan dan mengamini karya penyelamatan Tuhan di dalam hidupnya.  Pada usia ke 94 tahun, sang maestro ini menghembuskan nafas terakhir. Tubuh dan raga boleh mati, namun semangat dan keyakinannya akan menjadi inspirasi dan selalu dikenang. Belajar dari semangat dan keyakinan Alfred, bacaan saat ini pun menegaskan demikian. Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan menggantungkan hidup mereka kepada-Nya akan beroleh keselamatan dan pemulihan. Sungguh, banyak mujizat yang terjadi saat itu, ketika Yesus menyusuri Danau Galilea. Keyakinan orang-orang tersebut mengajarkan kita untuk juga berlaku hal yang sama. Meyakini dan mempercayakan kehidupan kita seutuhnya kepada Tuhan, maka akan ada pemulihan, ada kesembuhan, ada kebebasan, dan ada sukacita.

Doa : Ya Tuhan. Tolong kami agar kami senantiasa beroleh Keselamatan. Amin.

 

Kamis, 31 Januari 2019                              

bacaan : Yosua 3 : 1 17 (T)

Menyeberangi sungai Yordan
Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang. 2 Setelah lewat tiga hari, para pengatur pasukan menjalani seluruh perkemahan, 3 dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: “Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya– 4 hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya–maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.” 5 Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.” 6 Dan kepada para imam itu Yosua berkata, demikian: “Angkatlah tabut perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu.” Maka mereka mengangkat tabut perjanjian dan berjalan di depan bangsa itu. 7 Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. 8 Maka kauperintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kamu tetap berdiri di sungai Yordan itu.” 9 Lalu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu.” 10 Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu: 11 sesungguhnya, tabut perjanjian Tuhan semesta bumi berjalan menyeberang di depan kamu, masuk ke sungai Yordan. 12 Maka sekarang, pilihlah dua belas orang dari suku-suku Israel, seorang dari tiap-tiap suku. 13 Segera sesudah kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta bumi, berhenti di dalam air sungai Yordan, maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan.” 14 Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. 15 Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu–sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai– 16 maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho. 17 Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan.

God Bless You

Kita sering mengucapkan “God bless you” atau “Tuhan memberkatimu”. Misalnya, dalam ucapan untuk merayakan pertambahan usia kelahiran, usia pernikahan, ucapan untuk kesembuhan, ucapan karena sudah selesai studi atau kelulusan, bahkan ucapan untuk melakukan suatu aktifitas. Tak jarang diakhir kalimat-kalimat yang disampaikan selalu ditutup dengan ucapan God Bless You (GBU). God bless you atau Tuhan memberkatimu juga dirasakan Yosua dalam melakukan tugasnya membantu umat Israel menyeberangi sungai Yordan. Tabut perjanjian menjadi tanda bagi Yosua mengantar umat Israel menyeberang. Dalam perjalanan itu, Yosua meyakinkan umat Israel bahwa Tuhan Allah ada di tengah-tengah kehidupan mereka, Tuhan Allah menyertai mereka. Mereka tidak akan akan diganggu, dan semua musuh dihadapan mereka akan dihalau. Mereka diberkati Tuhan dan akan diselamatkan hingga melewati sungai Yordan. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu mempercayakan kehidupan kita kepada Allah yang hidup, Allah yang tidak pernah meninggalkan, bahkan yang selalu setia melindungi kita. Allah yang hidup itu ada di dalam kehidupan kita dan mengetahui semua yang kita butuhkan. Jika Allah sudah membuka pintu untuk kita, maka tidak akan ada satu kuasa pun yang mampu menutupnya. Selamat akhir bulan saudaraku. God Bless You.

Doa : Terima Kasih Tuhan, karena Engkau selalu Memberkatiku. Amin.

 

Jumat, 01 Februari 2019                         

bacaan : Yesaya 45 : 9 – 13 (T)

TUHAN adalah Pencipta

9 Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: “Apakah yang kaubuat?” atau yang telah dibuatnya: “Engkau tidak punya tangan!” 10 Celakalah orang yang berkata kepada ayahnya: “Apakah yang kauperanakkan?” dan kepada ibunya: “Apakah yang kaulahirkan?” 11 Beginilah firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: “Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepada-Ku mengenai anak-anak-Ku, atau memberi perintah kepada-Ku mengenai yang dibuat tangan-Ku? 12 Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya. 13 Akulah yang menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan Aku akan meratakan segala jalannya; dialah yang akan membangun kota-Ku dan yang akan melepaskan orang-orang-Ku yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap,” firman TUHAN semesta alam.

Tunduklah Pada Rencana Allah

Seandainya kita adalah tanah liat, yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan Sempe (bejana tanah liat), dapatkah kita bertanya kepada tukang pembuat sempe, mengapa saya dibentuk seperti ini? Atau mengapa dia dibentuk seperti Itu? Bukankah hal itu adalah sesuatu yang mustahil? Karena si pembuat bejana/ sempe mempunyai kehendak bebas untuk menentukan seperti apa buatan tangannya. Demikianlah kita dihadapan Tuhan Allah, Pencipta segala sesuatu dan yang menciptakan kita manusia menurut gambar dan rupa-Nya.  DIA tidak sekedar menciptakan, tetapi juga menjaga, melindungi, dan menyediakan apa yang diperlukan. Begitulah Tuhan Allah yang digambarkan oleh Yesaya, dalam Yesaya 45:9-13. Yesaya ingin menegaskan bahwa bumi dan seluruh isinya termasuk manusia yang diam didalamnya adalah ciptaan Allah, dan ketika Allah bertindak untuk membebaskan umat-Nya Israel dari penindasan Babel,  hendaklah semua orang tunduk pada kehendak dan rencana Allah, baik Koresh (Raja Persia yang sudah menguasai Babel), yang dipakai Allah untuk membebaskan umat Israel, maupun umat Israel sendiri yang harus menerima kenyataan bahwa Allah juga menggunakan Koresh untuk membebaskan mereka dari penindasan Babel. Sering kita tidak mengerti apa yang Tuhan rencanakan dalam hidup kita dan ketika kita mengalami persoalan, kita bersungut, dan bertanya, dimanakah Tuhan, mengapa Tuhan melakukan ini dan itu, padahal kalau kita renungkan, dalam segala sesuatu Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan, termasuk membebaskan kita dari segala persoalan kita (bd.Roma 8:28). (MRT).

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk memahami rencana Allah, amin.

 

Sabtu, 02 Februari 2019                       

bacaan : Yesaya 45 : 14 – 19 (T)

14 Beginilah firman TUHAN: “Hasil tanah dari Mesir dan segala laba dari Etiopia dan orang-orang Syeba, orang-orang yang tinggi perawakannya, akan pindah kepadamu dan menjadi kepunyaanmu, mereka akan berjalan di belakangmu dengan dirantai; mereka akan sujud kepadamu dan akan membujuk engkau, katanya: Hanya di tengah-tengahmu ada Allah, dan tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah! 15 Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat. 16 Tetapi tukang-tukang berhala harus mundur dengan penuh noda, semuanya akan mendapat malu dan kena noda juga. 17 Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya; kamu tidak akan mendapat malu dan tidak akan kena noda sampai selamanya dan seterusnya.” 18 Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, –Dialah Allah–yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, –dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami–:”Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain. 19 Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus.”

Allah Menyediakan Apa yang kita Perlukan

Memasuki bulan kedua, sepatutnya membuat langkah kita semakin pasti, sebab dalam perjalanan ini kita tidak sendiri. Tuhan Allah selalu menyertai kita dan menganugerahkan kepada kita penyertaan dan berkat yang kita perlukan. Mungkin ada orang yang sering meragukan kuasa dan penyertaan Tuhan, apalagi ketika menghadapi kesulitan, musibah dan berbagai persoalan lainnya. Hal ini terjadi dalam kehidupan orang-orang Israel yang mengalami penindasan di Babel. Dalam Yesaya 45:14-19, Yesaya mengingatkan Israel bahwa Tuhan Allah mereka adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya, IA adalah Tuhan yang setia memelihara, merawat dan menyediakan semua yang diperlukan oleh manusia dan seluruh ciptaan-Nya (ay.18). IA selalu berkata benar dan setiap orang yang mencari-Nya tak akan sia-sia. Kalau demikian, mengapa Israel sebagai umat pilihan-Nya meragukan kuasa dan penyertaan-Nya?  Apakah keragu-raguan ini juga menjadi keragu-raguan kita di awal perjalanan tahun 2019 ini? Hari ini kita diingatkan oleh Firman Tuhan, bahwa Allah kita dalam Yesus Kristus sangat mengasihi kita, dan karena kasih-Nya, IA rela datang menjumpai kita, bahkan rela mengorbankan hidup-Nya untuk menebus segala dosa kita. Memang perjalanan kita masih panjang dan kita tidak pernah tau apa yang akan kita hadapi di hari esok, tetapi satu hal yang harus kita imani adalah bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai kita baik dalam susah ataupun senang dan IA menyediakan apa yang kita perlukan tepat pada waktunya. (MRT).

Doa: T’rima kasih Tuhan atas berkat yang Engkau sediakan bagi kami, amin.

 

*sumber : Santapan Harian Keluarga Bulan Januari-Pebruari 2019 LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *