fbpx

Santapan Harian Keluarga, 31 Maret – 6 April 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 31 Maret 2019                              

bacaan : Lukas 22 : 63 – 71 (T)

Yesus di hadapan Mahkamah Agama

63 Dan orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya. 64 Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: “Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?” 65 Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya. 66 Dan setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan Dia ke Mahkamah Agama mereka, 67 katanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; 68 dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. 69 Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” 70 Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” 71 Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.”

Belajar Dari Sikap Tuhan Yesus

Apakah Anda pernah menjadi korban penghakiman orang lain? Bagaimana perasaan Anda? Pasti sangat tertekan. Kalau dihakimi itu rasanya tidak enak seharusnya kita juga tidak menghakimi orang lain, apalagi sebenarnya penghakiman itu haknya Tuhan (Roma 2:1). Kebiasaan menghakimi maupun merasa jadi korban penghakiman, biasanya akan mengalami hambatan dalam relasi dengan sesama dan dengan Tuhan. Bagi pelaku penghakiman seringkali memakai firman Tuhan untuk menghakimi orang lain, akibatnya secara rohani ia tidak bisa bertumbuh dengan baik. Firman Tuhan hanya sampai di otak bukan di hatinya. Ia tahu tentang Tuhan, tetapi tidak memiliki keintiman dengan Tuhan. Demikian juga dengan korban penghakiman, jika dalam situasi yang menyakitkan ini ia menjauhkan diri dari kasih karunia Allah,  maka di hatinya akan tumbuh akar pahit yang akan merusak semua relasinya.

Sebenarnya ketika kita menghakimi orang lain, kita juga akan bertindak seperti orang-orang tersebut. Kita menjadi orang jahat kepada orang yang belum terbukti melakukan yang jahat. Sebaliknya, ketika kita dihakimi orang lain, kita akan serba salah dalam bersikap dan selalu terpojok. Sikap seperti Yesus adalah sikap terbaik yang bisa kita lakukan: hati tenang, pikiran dingin dan katakan yang sebenarnya. Disadari bahwa dalam kenyataan hidup ada banyak ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Di minggu sengsara Tuhan Yesus ke-V ini, kita mesti sadari bahwa tanggung jawab kita adalah memperjuangkan keadilan dan kebenaran dari orang-orang yang terhakimi serta tidak menghakimi orang lain dengan ukuran yang ada pada kita.

Doa: Tuhan, bantulah kami memperjuangkan keadilan dan kebenaranMu. Amin.

 

Senin, 01 April 2019                            

bacaan :  Mazmur 140 : 13 – 14 (T)    

13 Aku tahu, bahwa TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin. 14 Sungguh, orang-orang benar akan memuji nama-Mu, orang-orang yang jujur akan diam di hadapan-Mu. 

Allah Berpihak Kepada Kebenaran dan Kejujuran

Dalam kenyataanhidup berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat ada orang yang lemah dan ada orang yang kuat secara sosial, ekonomi, politik dan keagamaan. Mereka yang lemah sering mengalami perlakuan yang tidak adil dan tidak benar oleh mereka yang kuat. Mereka yang lemah sering mengalami kekerasan secara verbal dan fisik. Bahkan hak-hak hidup mereka terkadang dirampas oleh mereka yang kuat. Mereka yang lemah sering tidak berdaya menghadapi mereka yang kuat. Sekalipun mereka memprotes apa yang mereka alami melalui bahasa tubuh atau melalui cara-cara yang bisa mereka lakukan, tetapi mereka terkadang tidak didengar dan diperhatikan oleh mereka yang kuat. Dalam keadaan hidup yang demikian, hanyalah Allah, satu-satunya tempat mereka mengaduh. Mereka yakin bahwa semua manusia, apapun statusnya, apakah dia kuat atau lemah, semuanya berada di bawah kuasa Allah. Keyakinan hidup yang demikian juga dimiliki oleh pemazmur 140. Ia mengalami kekerasan dan penindasan oleh mereka yang kuat. Tetapi dia percaya bahwa Allah akan berpihak kepadanya. Dia yakin bahwa orang  benar dan jujur adalah orang yang berkenan kepada Allah. Karena itu, jadilah orang-orang yang hidup dalam kebenaran, keadilan dan kejujuran. Itulah hidup yang berkenan kepada Allah.

Doa: Ya Tuhan, jadikanlah kami orang yang berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kejujuran.  Amin.

 

Selasa, 02 April 2019                                  

bacaan : Efesus 5 : 1 3 (T)

Hidup sebagai anak-anak terang
Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih 2 dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. 3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.

Jadilah Anak- Anak Allah dan Hiduplah Dalam Kasih

Kita sering mendengar ungkapan bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus adalah anak-anak Allah. Orang-orang yang bukan dilahirkan dari daging, tetapi dari Roh, artinya orang-orang yang telah mengalami hidup yang baru, karena pekerjaan Allah melalui kuasa Roh Kudus. Dalam kehidupan yang baru itu,  orang-orang yang percaya  menjadikan Allah sebagai Bapa dan Ibu atau orangtua mereka. Di sini relasi antara orang percaya dengan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus digambarkan sebagai relasi antara orangtua dan anak-anak. Dalam relasi yang begitu dekat antara orang percaya dengan Allah, orang-orang percaya mengenal siapa Allah dalam hidup mereka. Orang percaya belajar tentang apa yang Allah kehendaki dalam hidup mereka, sehingga orang-orang percaya hidup dalam kasih Allah. Kasih yang nampak, baik dalam relasi dengan Allah maupun dengan sesama manusia dan alam ciptaan Allah. Kasih yang menjadi nilai hidup dalam diri orang-orang percaya sehingga mereka terhindar dari berbagai perbuatan yang jahat seperti percabulan, rupa-rupa kecemaran atau keserahkaan. Karena orang-orang yang memiliki kasih Allah tidak mungkin melakukan kejahatan. Tetapi sebaliknya mereka akan melakukan kebaikan, kebenaran dan keadilan bagi semua ciptaan.

Doa: Ya Tuhan,  jadikanlah kami anak-anak-Mu yang hidup dalam kasih, kebenaran dan keadilan.  Amin.

 

Rabu, 03 April 2019                                           

bacaan : Efesus 5 : 4 – 5 (T)

4 Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas–tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. 5 Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Nyatakan Kasih Allah Melalui Perilaku Baik

Sebagai anak-anak terang, Allah sangat mengasihi kita melebihi makhluk ciptaan lain di muka bumi ini. Karena itu, kita juga dituntut untuk menunjukkan kasih Allah itu kepada sesama orang percaya dan harus diaplikasikan dalam hidup sebagai anak-anak terang, supaya kita hidup benar-benar di dalam kasih.Allah lebih dulu mengasihi kita, maka kita pun dituntut untuk memiliki kasih itu dan hidup dalam kasih itu. Ayat renungan hari ini mengingatkan bahwa orang-orang yang sudah hidup dalam kasih Allah jangan lagi hidup dalam kegelapan, seperti mengucapkan kata-kata kotor, yang kosong dan sembrono. Sebab perkataan kosong dan sembrono itu menunjuk pada kekerasan, seperti kata-kata makian, sumpahan, dsb, yang melebihi batas budi bahasa yang baik, sopan dan santun. Kebiasaan seperti itu tidak boleh ada dalam kehidupan anak-anak terang. Melainkan yang mesti ditunjukkan adalah bersyukur selalu kepada Tuhan dalam perilaku hidup yang berkenan kepada-Nya.Itulah yang Tuhan mau dan inginkan. Karena dengan bersyukur manusia tidak akan pernah merasa kekurangan, dengan demikian tidak akan pernah hidup serakah.Kehidupan orang serakah akan menunjuk pada perbuatan jahat, karena demi memuaskan dirinya dengan keinginan-keinginan duniawi semata, lalu menghalalkan segala macam cara yang tidak berkenan bagi Tuhan, termasuk penyembahan berhala. Orang-orang seperti itu telah membuktikan bahwa mereka tidak hidup dalam kasih Allah, dan tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Kristus, hidup terpisah dari hidup kekal. Marilah sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Kristus dari kegelapan kepada terang, hiduplah selalu memancarkan sinar untuk menerangi kegelapan di mana pun kita berada untuk kemuliaan nama Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, jauhkan kami dari kehidupan tidak senonoh. Amin.

 

Kamis, 04 April 2019                                    

bacaan : Efesus 5 : 6 10 (T)

6 Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. 7 Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. 8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 

Hiduplah Sebagai Anak – Anak Terang

Renungan hari ini mengingatkan kita sebagai anak-anak terang tidak boleh lagi hidup dalam kegelapan, dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan gelap/jahat. Status kita telah berubah yaitu menjadi anak-anak terang yang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Kita tidak lagi mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan gelap yang tidak berbuahkan apa-apa.Tidak lagi berkompromi dengan dosa dan kejahatan, tidak menurut hawa nafsu dan keinginan daging. Dengan begitu kita semakin jauh dari perbuatan jahat yang memalukan seperti: penyembahan berhala, perseteruan, perselisihan, iri hati, dsb. Dunia sekarang ini semakin dipenuhi kegelapan, tetapi kita percaya kegelapan itu hanya dapat dikalahkan oleh terang, dan sebaliknya kegelapan tidak dapat mengalahkan terang. Lihat saja, ketika kita menyalakan pelita atau lilin dan diletakan di tempat yang gelap, maka kegelapan akan sirna dan tempat yang gelap itu akan menjadi terang. Seburuk apa pun kegelapan itu, terang mampu menembusi dan mengalahkannya. Karena itu, sebagai anak-anak terang hendaknya menghadirkan terang itu melalui perilaku hidup kita agar dapat mengalahkan dunia yanggelap.Untuk itu sangat diperlukan keteladan hidup. Sebab keteladan itu jauh lebih dahsyat dari kekuatan perkataan apa pun. Keteladan adalah ekspresi iman yang bisa dilihat, oleh dunia lewat perkataan, tindakan, perbuatan, maupun pekerjaan pelayanan, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati. Marilah kita jadikan keluarga kita mampu memancarkan terang melalui keteladanan hidup agar banyak orang dapat datang dan memuliakan Tuhan. 

Doa: Tuhan, jadikan kami sekeluarga anat-anak terang. Amin.

 

Jumat, 05 April 2019                           

bacaan : Efesus 5 : 11 – 21 (T)

11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, 16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. 

 Anak-Anak Terang Yang Membuahkan Kebaikan

Hidup sebagai anak-anak terang adalah sebutan bagi orang yang telah menerima dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Hidup sebagai anak-anak terang akan tetap setia kepada Kristus, membuahkan keadilan, kebaikan dan kebenaran. Orang yang setia kepada Kristus tidak akan berdiam diri terhadap perbuatan kegelapan dan kejahatan. Mereka akan membeberkan, menegur, dan menentang kejahatan apa pun. Sebagai anak-anak terang mesti selalu memancarkan sinar untuk menerangi kegelapan dari manusia yang melakukan kejahatan.Menentang dengan sungguh-sungguh ketidakbenaran, berarti membenci dosa dan memihak kepada Allah serta setia kepada Kristus (14) “Jangan seperti orang-orang bebal tetapi seperti orang arif”. Orang bebal tidak mau diajar, sedangkan orang arif; orang yang mau belajar, suka menerima nasihatdan bertindak hati-hati dalam hidupnya. Sebab ia tahu sekali ia memutuskan hal yang salah, hal itu akan berdampak pada hidupnya di masa yang akan datang. Selanjutnya dikatakan tentang hari-hari yang jahat adalah tipu muslihat iblis untuk menggagalkan masa depan manusia dengan berbagai cara. Iblis tahu, Allah memiliki rencana yang indah bagi anak-anak-Nya, dan iblis akan cemburu, dan menginginkan agar manusia tidak sampai kepada apa yang dirancangkan Allah. Namun bagi orang yang merenungkan hari-hari siang dan malam akan bertindak hati-hati sehingga akan berhasil dan mengalami berkat Tuhan yang berlimpah. Waktu ini singkat, dan karena itu rasul Paulus menasihati: “Hendaklah kamu penuh dengan Roh”, maksudnya agar dipenuhi dengan Roh dan dipimpin oleh Roh, maka akanmampu melakukan kehidupan dengan sebijaksana mungkin dan menyelesaikan panggilan sebagai anak-anak terang dengan baik. Mari kita selalu bersyukur kepada Tuhan dan semakin mengerti kehendak-Nya.

Doa: Roh Kudus mampukanlah kami menjadi anak-anak terang untuk memahami kehendak baik-Mu. Amin.

 

Sabtu, 06 April 2019                                  

bacaan : Amsal 21 : 15 – 16 (T)

15 Melakukan keadilan adalah kesukaan bagi orang benar, tetapi menakutkan orang yang berbuat jahat. 16 Orang yang menyimpang dari jalan akal budi akan berhenti di tempat arwah-arwah berkumpul. 

Keluarga Yang Mewariskan Nilai Kebenaran dan Keadilan

Ketika mengalami beban persoalan yang berat, seringkali orang berpikir bahwa Tuhan tidak adil, mengapa saya selalu menderita? mengapa keluarga kami tak pernah lepas dari masalah, padahal kami selalu setia beribadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara ada banyak orang yang perilaku hidupnya tidak benar, tetapi hidupnya seperti tanpa masalah. Memasuki perayaan Minggu Sengsara Tuhan Yesus yang keenam, kita akan memaknainya dengan memahami bahwa Tuhan Allah kita adalah Allah yang adil, IA selalu memberi keadilan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Ketika orang benar mengalami penderitaan, hal itu tidak berarti bahwa Allah tidak mengetahuinya dan tidak bertindak memberi keadilan kepadaNya. Amsal 21:15 mengingatkan orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah dan menikmati keadilan Allah, bahwa melakukan keadilan harus menjadi kesukaan mereka atau gaya hidup mereka setiap hari dimanapun mereka berada. Melakukan keadilan dalam hidup setiap hari akan lebih baik kalau hal itu menjadi nilai-nilai hidup yang diwariskan oleh keluarga. Papa dan mama yang saling mengasihi, saling setia, dan saling menghargai untuk berbagi peran dalam keluarga akan mewariskan nilai keadilan kepada anak-anak. Anak-anak yang mendapat perhatian dan kasih sayang yang sama dan setara artinya tidak ada yang diabaikan dan di”anak-tirikan”, akan bertumbuh menjadi anak-anak yang menghargai orang lain dan berlaku adil juga kepada mereka. Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang rela berkorban di Kalvari karena IA mengasihi kita dan membenarkan kita dengan keadilanNya

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berlaku adil dalam hidup setiap hari, amin.

*sumber : SHK bulan Maret & April 2019 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *