Nama ke-80 Calon Sidi Gereja Jemaat Silo, Diumumkan
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Calon Sidi Gereja Protestan Maluku di Jemaat GPM Silo untuk Tahun Ajaran 2018/2019 sebanyak 80 orang, sebagaimana nama-nama dibawah ini :
Berdasarkan penjadwalan yang dikeluarkan oleh PHMJ Silo, maka nama-nama Calon Sidi Gereja tersebut telah dibacakan dalam Warta Jemaat pada Minggu, 31 Maret 2019, dan akan dibacakan lagi pada Minggu, 7 April 2019. Adapun agenda peneguhan akan dilaksanakan pada Minggu, 14 April 2019. [BK]


Ada sebuah kisah tentang sebuah biara yang terancam di tutup oleh gereja, karena para biarawan yang ada disitu semakin hari semakin mudah bertengkar, marah, iri, dan berkelahi dengan sesama biarawan. Akhirnya diutuslah seorang pendeta tua untuk mencari tahu duduk perkaranya dan mencari solusi. Apabila tidak ditemukan solusi dan tidak ada perubahan sikap dari para biarawan maka biara itu diputuskan untuk ditutup saja. Pendeta tua tersebut melakukan pengamatan selama beberapa waktu dan ia pun mengambil keputusan untuk menyetujui penutupan biara tersebut. Setelah berkonsultasi dengan pihak gereja, ia pun mengumpulkan para biarawan di kapel pertemuan guna menyampaikan maksud penutupan biara tersebut. Pendeta tua berkata: saya sudah berpikir matang-matang dan mengambil keputusan untuk segera menutup biara ini, tetapi saya masih yakin bahwa salah satu dari kalian layak untuk diangkat menjadi orang suci, jadi persiapkanlah diri kalian sebaik mungkin untuk acara penutupan biara sekaligus pengangkatan orang suci dari biara ini. Setelah pertemuan tersebut, kehidupan di biara sontak berubah. Tidak ada lagi pertengkaran, marah, iri hati dan perkelahian sesama biarawan. Setiap kali ada yang akan marah dengan temannya, ia akan mengurungkan niatnya dengan pikiran: jangan-jangan dia adalah calon orang suci yang akan diangkat oleh pendeta tua. Demikianlah mereka saling bersikap baik satu dengan yang lain karena pikiran yang sama: jangan-jangan dia adalah calon orang suci yang akan diangkat oleh pendeta tua. Akhirnya biara tidak jadi ditutup karena ternyata para biarawan telah mempraktekan sikap penghargaan, penerimaan dan kasih kepada calon orang suci yang akan diangkat oleh pendeta tua.Dari kisah ini kita diajak untuk melihat orang lain dalam pola pandang yang benar. Ketika kita memandang orang lain dengan iri, dengki, marah maka kita akan membenci; tetapi ketika kita meihat dengan hati yang lapang, penuh kemurahan, belas kasihan, serta penerimaan, maka kita sanggup menerima orang yang bahkan telah menyakiti hati kita. Dunia akan menjadi lebih indah ketika ada penerimaan, penghargaan dan cinta yang datang dari hati yang terbuka. Bukankah hati yang gembira adalah obat? Mari kita semua menjadi obat bagi sesama kita. Tuhan memberkati kita dan akan menghebatkan kita sesuai dengan kapasitas diri yang kita muliakan dihadapan-Nya, Amin.