Perempuan SILO Belajar Bertanam Secara Vertikultur
AMBON, jemaatgpmsilo.org
Mencermati ketersediaan lahan bercocok tanam yang semakin sulit akibat bertambahnya rumah, bangunan beton, bahkan gedung-gedung besar, maka melalui penetapan program/kegiatan sesuai Hasil Persidangan Jemaat GPM Silo Tahun 2019, dilaksanakannya sebuah kegiatan yang memperkenalkan pola Pertanian Perkotaan dengan Sistem Bertanam Vertikultur oleh Majelis Subseksi Kemitraan Laki-laki dan Perempuan Jemaat GPM Silo [8-Juni-2019].
Kegiatan yang berlangsung di gedung Gereja Silo tersebut menghadirkan 2 orang narasumber yang berkompeten di bidang pertanian, yaitu Dr. Ir.F. Matulessy, MP dan Dr. Ir. A Welsen, MP. Keduanya sehari-hari berprofesi sebagai dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Pattimura.
Diawali dengan paparan oleh Matulessy yang menjelaskan teoritis tentang latar belakang lahirnya sistem bertanam secara vertikultur yang berarti teknik budidaya tanaman secara vertikal [keatas] yang memanfaatkan lahan sempit. Sistem ini mula-mula diperkenalkan di negara Swiss sekitar tahun 1945.
Selanjutnya dipaparkan pula keuntungan, kelebihan dan manfaat bertanam secara vertikultur, dan kemudian dilanjutkan dengan beberapa teknik dan contoh bagaimana melakukan penanaman dengan sistem vertikultur.

Pada sesi berikutnya, para peserta dengan arahan narasumber Dr. Welsen mencoba melakukan praktek secara langsung, bagaimana melakukan bertanam secara vertikultur. Dengan mengambil lokasi pada halaman gedung Gereja Silo, para peserta menyaksikan dan mempraktek secara langsung teknik bertanam tersebut.
Ketika ditanyakan target ataupun output apa yang ingin dicapai melalui kegiatan ini, menurut Dkn. Ny. R. Tuhumury, “para ibu-ibu peserta diharapkan dapat mencoba dan mempraktekkan sendiri di rumah mereka masing-masing. Apalagi bagi mereka yang punya lahan pekarangan terbatas. Ini suatu pembelajaran berharga dalam rangka pengembangan diri dan potensi jemaat”. [BK]

