fbpx

Santapan Harian Keluarga, 16-22 Juni 2019

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Minggu, 16 Juni 2019            

Bacaan : Kej. 6 : 11 – 13 & 7 : 10 – 24 (T)

11 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. 12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. 13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

10 Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. 11 Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. 12 Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. 13 Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu, 14 mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap; 15 dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. 16 Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. 17 Empat puluh hari lamanya air bah itu meliputi bumi; air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga melampung tinggi dari bumi. 18 Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi, terapung-apunglah bahtera itu di muka air. 19 Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi, dan ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit, 20 sampai lima belas hasta di atasnya bertambah-tambah air itu, sehingga gunung-gunung ditutupinya. 21 Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, serta semua manusia. 22 Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat. 23 Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu. 24 Dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh hari lamanya.

Penderitaan Semesta Akibat Kejahatan Manusia

Sikap dan perilaku manusia dengan berbagai tindak kejahatan telah membuat sedih hati Allah. Di mata Allah tidak ada lagi kebaikan yang dilakukan oleh manusia, yang ada hanya kejahatan dan kejahatan, sehingga Allah sangat menyesal dan mengambil keputusan untuk menghapus kehidupan manusia dan makhluk hidup yang lain di muka bumi dengan mendatangkan air bah. Allah tidak segan-segan menghukum manusia dengan mendatangkan air bah yang mengakibatkan kematian semua makhluk hidup akibat dosa dan kejahatan manusia. Tindakan penghukuman Allah ini sebagai didikan kepada manusia untuk tidak melakukan kejahatan tetapi harus melakukan kebaikan. Penghukuman ini juga merupakan pembelajaran bagi kita semua untuk menyadari bahwa perbuatan dosa dan kejahatan  akan berakibat bagi semua makhuk hidup yang lain. Tindakan kita terhadap alam dengan merusak, mengeksploitasinya secara serakah, maka pasti akan berdampak pada alam semesta. Banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, kebakaran hutan, kekeringan, kelaparan adalah keadaan yang memprihatinkan dan membawa bencana kepada manusia serta alam dan semua makhluk ciptaan. Sebagaimana Nuh dan keluarganya maka baiklah kita sekeluarga dapat dipakai Allah untuk menyelamatkan alam ciptaan dengan hidup berkenan kepada Allah melalui sikap memelihara, merawat dan melestarikan alam semesta.

Doa: Ya Tuhan tolonglah kami agar kami selalu hidup berkenan kepadaMu sehingga menjauhkan kami dari penghukuman serta bencana yang membinasakan hidup kami. Amin.

Senin, 17 Juni 2019                             

bacaan : Yesaya 24 : 4 – 5 (T)

4 Bumi berkabung dan layu, ya, dunia merana dan layu, langit dan bumi merana bersama. 5 Bumi cemar karena penduduknya, sebab mereka melanggar undang-undang, mengubah ketetapan dan mengingkari perjanjian abadi.

Jangan Buat Bumi Berkabung

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa di beberapa tempat di Indonesia terjadi berbagai bencana yang memakan korban jiwa dan menghilangkan banyak harta benda.Banjir, longsor, gempa bumi, bahkan sampai hujan dan angin badai yang menumbangkan banyak pepohonan. Kuatnya ancaman dari alam yang tak terduga mengingatkan kita agar berhati-hati dan tidak serakah terhadap alam. Kalau alam bergejolak, maka mengancam kehidupan kita, manusia. Yesaya 24:6-13 mempelihatkan nubuatan akhir zaman dimana bumi akan dihancurkan. Namun sebelum semuanya digenapi, manusia sudah lebih dahulu menggenapinya dengan jalan merusak tatanan penciptaan Allah yang begitu amat baik bagi hunian manusia. Manusia sangat berambisi dan merasa sok berkuasa karena diberikan kewenangan menguasai isi alamini. Namun manusia salah menggunakan kuasanya dengan menghancurkan alam maka bukan hanya alam yang rusak, melainkan hidup manusia itu sendiri akan rusak. Karena itu, manusia tidak boleh serakah. Manusia harus bersahabat dengan alam. Memelihara alam berarti menyelamatkan hidup semua makhluk, termasuk manusia itu sendiri. Oleh Karena itu, sebagai keluarga kristen, kita selalu diingatkan agar jangan serakah. Tidak serakah menebang pohon tetapi ikut melestarikan alam dengan kegiatan penghijauan. Kita juga diingatkan agar selalu waspada terhadap kekuatan alam yaitu badai yang mengancam, merusak, merugikan dan mematikan. Sebab itu taatilah peringatan di dalam Alkitab, jangan buat bumi berkabung sehingga kehidupan berkelanjutan tidak dapat dinikmati sampai anak-cucu.

Doa: Banyak kali kami serakah terhadap alam ciptaan Tuhan dan kurang memeliharanya. Ampunilah kami ya Tuhan dan kuatkan kami agar selalu aktif melestarikan alam ciptaan-Mu. Amin.

Selasa, 18 Juni 2019                              

bacaan : Yesaya 24 : 6  – 13 (T)

6 Sebab itu sumpah serapah akan memakan bumi, dan penduduknya akan mendapat hukuman; sebab itu penduduk bumi akan hangus lenyap, dan manusia akan tinggal sedikit. 7 Air anggur tidak menggirangkan lagi, pohon anggur merana, dan semua orang yang bersukahati mengeluh. 8 Kegirangan suara rebana sudah berhenti, keramaian orang-orang yang beria-ria sudah diam, dan kegirangan suara kecapi sudah berhenti. 9 Tiada lagi orang minum anggur dengan bernyanyi, arak menjadi pahit bagi orang yang meminumnya. 10 Kota yang kacau riuh sudah hancur, setiap rumah sudah tertutup, tidak dapat dimasuki. 11 Orang menjerit di jalan-jalan karena tiada anggur, segala sukacita sudah lenyap, kegirangan bumi sudah hilang. 12 Yang terdapat dalam kota hanya kerusakan, pintu gerbang telah didobrak dan runtuh. 13 Sebab beginilah akan terjadi di atas bumi, di tengah-tengah bangsa-bangsa, yaitu seperti pada waktu orang menjolok buah zaitun, seperti pada waktu pemetikan susulan, apabila panen buah anggur sudah berakhir.

Untuk Kita Renungan…..!!!

Baca dan maknailah lirik lagu ini…!!!

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat… singkirkan debu yang masih melekat…

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya, kita mesti tabah menjalani…Hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia diatas segalanya…Anak menjerit-jerit, asap panas membakar, lahar dan badai menyapu bersih…Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat bahwa kita mesti banyak berbenah…

Memang bila kita kaji lebih jauh..dalam kekalutan, masih banyak tangan yang tega berbuat nista…..Tuhan pasti telah memperhitungkan… amal dan dosa yang kita perbuat….

Kemanakah lagi, kita kan sembunyi, hanya kepadaNya, kita kembali… Tak ada yang bakal bisa menjawab, mari tunduk sujud padaNya…Kita mesti berjuang memerangi diri, bercermin dan banyaklah bercermin. Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini, berusahalah agar Dia tersenyum…. 

berusahalah agar Dia tersenyum….

Yesaya 24:6-13 menceriterakan tentang bumi yang hancur sebagai hukuman Allah akibat dosa dan perbuatan manusia. Hukuman itu bertujuan untuk menyadarkan manusia bahwa Tuhan semesta alam adalah Allah yang berkuasa atas seluruh ciptaanNya dan Ia tidak akan membiarkan ciptaanNya dihancurkan oleh siapapun, Ia akan bertindak menyelamatkan.

Doa:  Tuhan, ampunilah keegoisan kami sebagai manusia. Amin.

Rabu, 19 Juni 2019                              

bacaan : Yesaya 24 : 14 – 20 (T)

14 Dengan suara nyaring mereka bersorak-sorai, demi kemegahan TUHAN, mereka memekik dari sebelah barat: 15 “Sebab itu permuliakanlah TUHAN di negeri-negeri timur, nama TUHAN, Allah Israel, di tanah-tanah pesisir laut!” 16 Dari ujung bumi kami dengar nyanyian pujian: “Hormat bagi Yang Mahaadil!” Tetapi aku berkata: “Kurus merana aku, kurus merana aku. Celakalah aku! Sebab para penggarong menggarong, ya, terus-menerus mereka melakukan penggarongannya!” 17 Hai penduduk bumi, kamu akan dikejutkan, akan masuk pelubang dan jerat! 18 Maka yang lari karena bunyi yang mengejutkan akan jatuh ke dalam pelubang, dan yang naik dari dalam pelubang akan tertangkap dalam jerat. Sebab tingkap-tingkap di langit akan terbuka dan akan bergoncang dasar-dasar bumi. 19 Bumi remuk redam, bumi hancur luluh bumi goncang-gancing. 20 Bumi terhuyung-huyung sama sekali seperti orang mabuk dan goyang seperti gubuk yang ditiup angin; dosa pemberontakannya menimpa dia dengan sangat, ia rebah dan tidak akan bangkit-bangkit lagi.

Jangan Buat Bumi Hancur dan Remuk Redam

Ketika Tuhan menciptakan alam dengan segala isinya, betapa semuanya sungguh amat baik. Manusiapun dipercayakan untuk menjaga, merawat dan melestarikan alam agar berguna bagi hidup berkelanjutan.Namun manusia, oleh ulah dan tingkahnya selalu memposisikan dirinya sebagai tuan dan kepala yang memerintah, menguasai dan semena-mena. Akhirnya, alam tidak lagi menjadi sahabat yang saling menghidupkan tetapi musuh  yang menakutkan. Lingkungan alam dijarah tanpa ampun; lingkungan alam dijajah tanpa belas kasihan; Pohon ditebang; sungai tercemar; ladang, sawah dan kebun tidak menjanjikan bahkan hewan terhalau dari habitatnya.Semuanya karena ulah dan keserakahan manusia.Yesaya dalam nubuatannya tentang akhir zaman dan bumi akan dihancurkan, jauh-jauh hari memperingatkan kita sebagai manusia agar mulai membenahi perilaku hidup kita sebab Tuhan memberi kehidupan dalam lintasan zaman; agar kita bisa menyaksikan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib dan mempesona itu. Dalam murka Tuhan, alam tidak menghasilkan sesuatu; tetapi umat tetap bersorak-sorai dan  bersukacita di dalam Tuhan sebab Tuhan pasti akan memberi kekuatan dan semangat baru agar terus bertanggung jawab terhadap seluruh hunian. Marilah kita memperbaiki lingkungan alam dan hunian kita selagi ada kesempatan supaya tetap indah dan asri sambil mengingat bahwa bumi ini adalah titipan dari anak-cucu kita.

Doa: Buatlah kami selalu bertanggung jawab terhadap lingkungan alam di sekitar kehidupan kami, ya Tuhan. Amin.

Kamis, 20 Juni 2019                                 

bacaan : Yesaya 24 : 21 – 23 (T)  

21 Maka pada hari itu TUHAN akan menghukum tentara langit di langit dan raja-raja bumi di atas bumi. 22 Mereka akan dikumpulkan bersama-sama, seperti tahanan dimasukkan dalam liang; mereka akan dimasukkan dalam penjara dan akan dihukum sesudah waktu yang lama. 23 Bulan purnama akan tersipu-sipu, dan matahari terik akan mendapat malu, sebab TUHAN semesta alam akan memerintah di gunung Sion dan di Yerusalem, dan Ia akan menunjukkan kemuliaan-Nya di depan tua-tua umat-Nya.

Inga, Bumi Ni Titipan Untuk Anana Cucu, Jadi Kalesang Akang Bae-Bae…

Biking apa katong mo batahang, Mo batahang dengan tu dosa-dosa. Minta ampong jua par Tuhan Yesus, su seng lama Dia mo datang…. Dunia su lebe tua, jahat mo lebe jahat,“

Ini sepenggal syair lagu yang dinyanyikan Youke Fritz. Lagu dengan judul “Dunia Su Lebe Tua” ini ingin kasih ingat katong bahwa kajahatang su merajalela, mari katong sadar la minta ampong tagal Tuhan Yesus su mo datang, jang katong batahang deng katong pung dosa-dosa tu. Tuhan datang bukan lagi dengan belas kasihan tapi Antua datang bawa pedang, lalu yang sala pasti dapa hukum, sedangkan yang biking batul pasti dapa salamat...  

Saudaraku, Yesaya dalam bacaan hari ini juga kasih ingat katong kalo hari Tuhan su makin dekat. Lalu pada hari itu, tanpa pandang bulu, Tuhan akan menghukum setiap orang yang biking kajahatang. Termasuk kajahatang yang biking alam semesta ni menderita.. yang tabang pohong takaruang, la seng ada pohong par lindong mata aer, par tampa tinggal burung-burung deng binatang laeng, par tahang tana supaya jang longsor, par tahang aer la jang banjir. Manusia  gale tana deng bahan galian laeng par dong pung parlu, par cari mas, yang pake bahan-bahan kimia par olah hasil tambang tu lalu biking kotor tana deng aer, la biking manusia laeng dapa panyaki macang-macang. Khalil Gibran bilang bagini : Bumi ini bukan warisan nenek moyang tetapi titipan anak cucu. Jadi mari katong kalesang akang la katong pung anana cucu dapa dong pung bageng lai.

Doa: Tuhan, mampukan katong par kalesang bumi ni bae-bae supaya akang seng rusak, apalai jadi petaka par katong. Amin!!

Jumat, 21 Juni 2019                               

Bacaan : Kejadian 3 : 17 – 24 (T)  

17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” 20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. 21 Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. 22 Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” 23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Dan Merekapun Terusir

Ebiet G. Ade dalam lagunya “Berita Kepada Kawan: berujar: MUngKinTuhan mulai bosan, melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita…”

Dalam syair lagu ini alam dan Tuhan menjadi kambing hitam atas bencana yang manusia alami. Dan itu juga yang kita dapati dalam kehidupan Pasutri pertama, Adam dan Hawa.Mereka lakukan pelanggaran dan melempar kesalahan kepada pihak lain, yaitu ular. Tetapi Allah yang adil tak mau kompromi dengan kejahatan. Yang salah tetap mesti dihukum. Sehingga baik ular maupun pasutri pertama ini harus dihukum. Namun di balik murka Tuhan, kita temukan kasih dan anugerah-Nya. Keadilan-nya menuntut penghukuman, tetapi kasih-Nya menyediakan keampunan. Pasutri inipun terusir dari taman Eden, namun bukan karena kebencian Allah, tetapi agar penderitaan mereka tidak berkepanjangan dan langgeng, karena masih ada “buah pohon kehidupan” yang jika mereka memakannya maka manusia akan hidup selama-lamanya.. Bayangkan saudaraku, kalau manusia tidak mati-mati. Umur 60-an saja penglihatan, pendengaran, ingatan, kesehatan mulai menurun. Karena itu saudaraku, Tuhan Allah yang mengasihi kita tak ingin kita menderita berkepanjangan, jadi belajarlah dari kehidupan pasutri pertama ini. Jangan melanggar perintah-Nya, dan jangan mencari kambing hitam dan mencuci tangan. Tetap setia lakukan kehendak-Nya dan bertanggungjawablah atas apapun yang kita lakukan, termasuk atas perintah-nya untuk memelihara dan merawat bumi.

Doa: Tuhan, mampukan kami ‘tuk tetap setia melakukan perintah-Mu dan merawat alam pemberian-Mu dengan baik. Amin!!!

Sabtu, 22 Juni 2019                                 

bacaan : Ratapan 2 : 1 – 2 (T)

Murka Allah terhadap Sion
Ah, betapa Tuhan menyelubungi puteri Sion dengan awan dalam murka-Nya! Keagungan Israel dilemparkan-Nya dari langit ke bumi. Tak diingat-Nya akan tumpuan kaki-Nya tatkala Ia murka. 2 Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub. Ia menghancurkan dalam amarah-Nya benteng-benteng puteri Yehuda. Ia mencampakkan ke bumi dan mencemarkan kerajaan dan pemimpin-pemimpinnya.

Penderitaan Semesta Akibat Kejahatan Manusia

Sungguh indah alam ciptaan Tuhan, hewan, burung, ikan, tumbuh-tumbuhan.Dan angkasa raya bintang dan bulan, seg’nap tata surya memuji Tuhan.Tuhanku menjaga sejagat raya, burung, margasatwa cukup makannya.Ajar aku Tuhan, buka mataku, b’lajar dari alam lihat hikmatMu”

Empat bait lagu dari Kidung Jemaat No. 61, ini mengingatkan kita tentang indah dan harmonisnya alam ciptaan Tuhan dan manusia adalah bagian dari kesatuan alam yang tidak terpisahkan. Alam semesta dan semua makhluk lain tidak bisa berbicara tetapi manusialah yang menjadi komunikator, menterjemahkan segala keindahan alam ini. Dalam kitab Ratapan 2:1-2, penulis menggambarkan ratapan alam akibat kemarahan Tuhan, yang menimpa Sion dan berdampak juga terhadap kehancuran alam.

Semua itu terjadi karena kejahatan manusia, ketidaktaatan dan ketidaksetiaan manusia kepada Tuhan.Ladang Yakub adalah sumber kehidupan bagi Yakub dan anak-anaknya dan jika semua itu dihancurkan maka tidak ada lagi kehidupan yang dapat dipertahankan. Kalau kita maknai ratapan alam ini dengan realitas kehidupan kita saat ini, maka harus diakui bahwa seringkali kita tidak setia melaksanakan tanggungjawab merawat dan memelihara alam ciptaan Tuhan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sebab ketika alam ini menjadi rusak maka kehidupan kita akan terganggu. Misalnya, jika kita menebang pohon-pohon di sumber mata air, maka sumber air akan terganggu dan kita akan kekuarangan sumber air bersih.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk untuk taat dan setia merawat alam, Amin.

*sumber : SHK terbitan Bulan Juni 2019 LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *