Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Mei 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Keluarga Yang Merawat Cinta Kasih dan Kesetiaan “

Minggu, 10 Mei 2020                               

bacaan : Kejadian 45 : 1 – 15

Yusuf memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya

 Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini." Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. 2 Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun. 3 Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. 4 Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 5 Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. 6 Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. 7 Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. 8 Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. 9 Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. 10 Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu. 11 Di sanalah aku memelihara engkau--sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi--supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. 12 Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. 13 Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari." 14 Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf. 15 Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.

PENGAMPUNAN ADALAH WUJUD CINTA KASIH

Rasanya sulit jika kita harus mengampuni orang yang sudah menyakiti kita, apalagi orang itu adalah orang yang sangat dekat dengan kita. Dalam bacaan kita diceriterakan bahwa Yusuf tidak seperti itu, padahal dia telah disakiti, dibenci dan dijual oleh saudara – saudaranya semasa ia kecil. Namun ketika Yusuf sudah menjadi orang yang penting dan berkuasa, ia justru mengajak saudara-saudaranya untuk melihat masa lalu dari perspektif yang baru, ia mengajak mereka agar tidak menyesali apa yang pernah terjadi, tetapi menjadikannya sebagai suatu peristiwa yang terjadi dalam pengendalian Tuhan, sebab apa yang pernah mereka lakukan terhadap Yusuf justru dipakai Allah untuk memelihara kehidupan keluarga mereka. Bagi Yusuf masa lalu bukan untuk disesali, tetapi masa lalu perlu direnungkan, agar dapat melangkah ke masa depan dengan baik. Yusuf telah mengampuni saudara – saudaranya dengan tulus, ia mencium mereka satu persatu sambil menangis, ia memeluk mereka dengan penuh kasih. Sikap Yusuf telah mengubah kebencian dan permusuhan menjadi kasih dan damai. Kisah Yusuf memperlihatkan bahwa kehidupan persekutuan, termasuk persekutuan keluarga tidak pernah lepas dari konflik, perselisihan, dan hal lain yang berpotensi untuk memecah belah persekutuan. Melalui kisah ini kita belajar untuk saling mengampuni diantara sesama saudara dan menyelesaikan setiap persoalan dengan kasih dan damai.   Jika kita berada di pihak yang salah, berbesar-hatilah untuk minta maaf, dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan kita. Tetapi jika kita di pihak yang benar atau dikorbankan, berilah pengampunan dan kesempatan bagi saudara kita untuk sadar dan berbalik ke jalan yang benar. Percayalah bahwa Tuhan Allah membentuk masing – masing kita dengan cara-Nya yang ajaib, sebab IA sangat mengasihi dan mau menyelamatkan hidup kita.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk memberi pengampunan. jika saudara kami melakukan kesalahan, Amin.

Senin, 11 Mei 2020                             

bacaan : Mazmur 89 : 2 – 6

Kesetiaan TUHAN kepada Daud

 Nyanyian pengajaran Etan, orang Ezrahi. (89-2) Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. 2 (89-3) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. 3 (89-4) Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: 4 (89-5) Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Sela 5 (89-6) Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus. 

KESETIAAN TUHAN TEGAK SEPERTI LANGIT

Ketika kita merenungkan tentang janji-janji Tuhan dalam hidup, kita akan merenungkan pula tentang  kesetiaan Tuhan. Artinya janji dan kesetiaan Tuhan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena Tuhan itu setia, ia selalu menepati janji-Nya. Kesetiaan adalah sifat-Nya sehingga Tuhan tak pernah ingkar pada janji-janji-Nya. Hari ini melalui ungkapan pemazmur Daud bahwa “kesetiaan Tuhan tegak seperti langit”, kita belajar dari pengalamannya. Ungkapan ini disampaikan Daud karena ia mengalami sendiri dalam hidup pribadi dan dalam keluarganya bahwa janji kesetiaan Tuhan itu  tidak pernah berubah. Janji yang telah diikat bersama Daud untuk menegakkan anak cucunya dan membangun takhtanya menjadi nyata dalam lintasan sejarah. Sebab itulah, Daud menyampaikan puji-pujian dengan bermazmur tentang kesetiaan Tuhan turun-temurun menjadi kesaksian bagi banyak orang. Memang Tuhan tidak pernah berjanji bahwa hidup orang percaya akan bebas dari masalah, tetapi IA berjanji akan selalu menyertai kita, ketika berhadapan dengan persoalan. Hal ini terbukti ketika wabah virus corona mengancam kehidupan manusia, termasuk kita di Maluku. Apakah kita meragukan kasih dan setia Tuhan? Bukanlah kita melihat penyertaan Tuhan yang tidak pernah berakhir? IA memberi hikmat dan kebijaksanaan kepada kita untuk membela dan merawat kehidupan pemberian-Nya, dengan membangun gaya hidup bersih dan sehat, dengan berdoa dan berharap kepada Tuhan, dan dengan membangun solidaritas dengan sesama yang menjadi korban. Pengalaman Daud dan juga pengalaman kita melewati “badai” kehidupan ini, mengingatkan kita bahwa apapun yang kita hadapi baik susah atau senang, baik sakit ataupun sehat, tetaplah berpegang pada kasih dan kemurahan Tuhan, sebab Tuhan yang berjanji itu tetap setia untuk menggenapinya.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami untuk tetap setia berada dijalan-Mu. Amin

Selasa, 12 Mei  2020                                

bacaan : Kejadian 13 : 1 – 18

Abram dan Lot berpisah

 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. 7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. 8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. 9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." 10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- 11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. 12 Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. 13 Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. 14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, 15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. 16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. 17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." 18 Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.

HIDUP RUKUN: “ALE RASA, BETA RASA…”

Gandong la mari gandong, mari jua ale oo. Beta mo bilang ale katong dua satu gandong. Hidop ade deng kaka sungguh manis lawange, ale rasa beta rasa, katong dua satu gandong. Gandong e, ……. satu hati, satu jantong ee..”

Lagu ini pasti sudah akrab di pendengaran kita, bahkan dikenal secara nasional. Syairnya memberi gambaran tentang adanya cinta kasih dalam kehidupan keluarga sehingga apa yang dirasakan seorang anggota “Keluarga” (batih/inti maupun kel. besar) akan dirasakan oleh yang lain: “Ale rasa, Beta rasa.”

“Keluarga yang merawat cinta kasih dan kesetiaan” adalah tema gumulan kita minggu ini. Bertolak dari syair lagu “Gandong” di atas dan belajar dari kisah Abram bersama Lot, dimana Abram sebagai orang tua tidak egois dan mau menang sendiri. Dia berusaha menghindari pertengkaran di antara dia dan keponakkannya yang dipicu para gembala mereka. Karena itu Abram mengalah dan mempersilahkan Lot memilih tempat huniannya lebih dahulu. Sebab siapapun yang diberi kesempatan memilih, pasti akan memilih yang terbaik. Dan bagi Abram, mengalah, bukan berarti kalah. Saudaraku, setiap kita pasti pernah mengalami konflik, apalagi dalam keluarga. Hal-hal kecil bisa menjadi sumber konflik antara suami dan isteri, orang tua dan anak, adik dan kakak lalu kita terdorong untuk mendahulukan kepentingan kita. Abraham menunjukkan kepada kita bagaimana mengatasi konflik itu dengan bijak. Jika perlu mengalah itu bukanlah kalah, tetapi kesempatan untuk mengklarifikasi dan menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Mengalah adalah salah satu cara untuk memberi pengampunan dan kesempatan untuk membarui diri. Lagu “gandong” bilang: “apa yang ale rasa, beta rasa akang lai”. Jadi hindarilah konflik dan rawatlah cinta kasih di antara anggota keluargamu, dan juga diantara keluarga yang lain. Ciptakanlah hidup yang selalu rukun dan damai.

Doa: Tuhan, ajarlah kami agar selalu rukun dengan orang lain. Amin.

Rabu, 13 Mei 2020                                

bacaan : Kejadian 16 : 1 – 16

Hagar dan Ismael

 Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. 2 Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. 3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. 4 Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. 5 Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau." 6 Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. 7 Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. 8 Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku." 9 Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya." 10 Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." 11 Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. 12 Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya." 13 Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?" 14 Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered. 15 Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. 16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

ALLAH MENGERTI, ALLAH PEDULI….

“Tak akan pernah dibiarkan-Nya ku bergumul sendiri, s’bab Allah mengerti.. s’bab Allah peduli…”

Ya, memang benar bahwa Allah tidak membiarkan kita bergumul sendiri. Dia siap membantu kita saat kita membutuhkan pertolongan-Nya. Dia mengerti dan sangat tahu apa yang sedang kita butuhkan. Tapi Dia juga mau supaya kita selalu membangun relasi dengan-Nya. Jangan menjauh dari-Nya. Sebab seringkali yang terjadi adalah Allah mendekat, namun kita-lah yang menjauh.

Dari bacaan kita, dikisahkan tentang Sarai, seorang isteri yang rela memberikan Hagar pelayannya, menjadi gundik bagi Abram suaminya, supaya Abram memiliki keturunan. Rupanya Sarai tidak sabar menunggu kegenapan janji Tuhan dan ia berupaya mengatasi masalahnya, dengan kemampuan dirinya yang kemudian menimbulkan masalah baru. Sarai menjadi tersinggung dan sakit hati ketika Hagar mulai “bertingkah” setelah tahu bahwa dirinya akan melahirkan anak bagi Abram. Sarai merasa “tertindas”, bukan secara fisik tapi psikhis, karena ia merasa terhina. Akibatnya Sarai menekan Hagar, sehingga Hagar melarikan diri bersama anaknya. Dalam kondisi seperti ini, Allah tidak tinggal diam, tetapi IA tetap memperlihatkan kepedulian-Nya kepada keluarga yang sedang “bertikai” ini. Di kemudian hari, janji-Nya kepada Abram dan Sarai tetap digenapi, walau dalam usia tua, tetapi Sarai dapat melahirkan seorang anak bagi Abram. Demikian juga Tuhan mempedulikan Hagar dan anaknya, IA menyertai dan melindungi mereka dalam pelariannya. Belajar dari kisah ini, mari kita serahkan seluruh persoalan hidup kita kepada Yesus, karena IA pasti mempedulikan kita, dan berusahalah untuk menyelesaikan setiap masalah bersama Yesus, dan jangan biarkan persoalan menjadi sumber perpecahan bagi keluarga kita.

Doa:         Tuhan, kami tau bahwa Engkau selalu peduli pada keluarga kami, Amin.

Kamis, 14 Mei  2020                                 

bacaan : Kejadian   4 : 1 – 16

Kain dan Habel

 Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN." 2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani. 3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, 5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. 6 Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 7 Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." 8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. 9 Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?" 10 Firman-Nya: "Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. 11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. 12 Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." 13 Kata Kain kepada TUHAN: "Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. 14 Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku." 15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia. 16 Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN dan ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden.

RAWATLAH HIDUP “BAKUSAYANG”

“Piring jua bisa tatoki, pica di meja makan, bukang cuma sakali saja. Sama deng hidop ade kaka biar laeng marah laeng, mar busu – busu orang sodara jua. Mari hidop bakusayang……”

Syair lagu di atas mengingatkan kita bahwa kalau piring yang adalah benda mati saja bisa “tatoki” satu dengan lainnya, apalagi manusia. Persoalan “tatoki” atau konflik ini paling sering terjadi, teristimewa dalam kehidupan keluarga. Penyebabnya sangat beragam, mungkin karena beda pendapat, cemburu, iri hati, dengki, dan lainnya. Namun demikian, syair lagu di atas mengingatkan  kita bahwa jika suatu waktu terjadi konflik atau “tatoki”, jangan sampai memutuskan hubungan orang basudara, hubungan pertemanan, hubungan kerja, tetapi harus diselesaikan dengan bijak sehingga hubungan antar sesama dan orang basudara itu tetap terjaga. Dalam bacaan kita, diceriterakan bahwa Kain dan Habel yang adalah dua orang kakak beradik ini terlibat konflik atau “baku tatoki” hanya karena cemburu. Kain sebagai kakak, merasa cemburu kepada Habel karena Habel memberi persembahan yang terbaik dan diterima oleh Tuhan, sementara Kain tidak. Hati Kain menjadi panas dan akhirnya ia bertindak membunuh adiknya. Padahal sesungguhnya Kain harus mengevaluasi dirinya, karena persembahan yang ia berikan kepada Tuhan, tidak dengan segenap hati. Belajar dari syair lagu “Piring Tatoki” dan juga kisah ade – kaka “Kain dan Habel”, maka sebagai keluarga kristen kita diajarkan untuk merawat hidup yang penuh dengan cinta kasih, baik dalam keluarga tetapi juga dengan semua orang yang kita jumpai dalam kerja dan pelayanan kita.  Jika ada persoalan, bicarakan baik – baik, dan selesaikanlah dengan bijaksana, minta selalu tuntunan Roh Kudus Tuhan. 

Doa: Tuhan, tolong kami untuk merawat cinta kasih dan kesetiaan dalam keluarga kami, Amin.

Jumat, 15 Mei 2020                                

bacaan : Kejadian  25 : 19 – 34

Esau dan Yakub
19 Inilah riwayat keturunan Ishak, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak. 20 Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi isterinya. 21 Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. 22 Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: "Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?" Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. 23 Firman TUHAN kepadanya: "Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda." 24 Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. 25 Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. 26 Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir. 27 Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. 28 Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub. 29 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. 30 Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. 31 Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." 32 Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" 33 Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. 34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

BERBAGI KASIH SAYANG DENGAN ADIL

Maku dan Engge adalah suami isteri yang memiliki 3 orang anak, Nyong, Endek dan Nona. Maku mengasihi Nona, karena dia adalah si bungsu perempuan. Sedangkan Engge mengasihi Nyong, katanya: “dia yang buka beta pung pintu rahim”. Bagaimana dengan Endek?, ternyata Endek sangat dikasihi oleh “Tete dan Nene”, karena sejak kecil Endek tinggal dengan mereka. Hal ini menimbulkan berbagai persoalan, misalnya Nona merasa lebih berkuasa karena ayahnya Maku yang bekerja mencari nafkah sehingga apa yang dimintanya pasti diberikan oleh ayahnya. Disini, ada anak – anak yang merasa lebih penting dari yang lain, tetapi juga ada anak – anak yang merasa diabaikan, dinomor-duakan, dan diperlakukan dengan tidak adil. Kisah keluarga Maku dan Engge, tidak berbeda dengan kisah keluarga Ishak dan Ribka. Ishak sayang kepada Esau sedangkan Ribka sayang kepada Yakub. Kasih sayang yang diberikan dengan tidak adil dari orang tua kepada anak-anak, bisa menimbulkan kecemburuan dan membuat hubungan di antara anak-anak itu menjadi rusak. Karena jika orang tua memberi kasih sayang yang tidak merata, maka akan ada di antara mereka yang ingat diri sendiri, minder, menyimpan dendam serta sakit hati dan sebagainya. Karena itu para orang tua mesti berbagi kasih yang sama kepada semua anak tanpa melihat apakah dia anak yang sulung atau bungsu, sehingga tidak muncul perseteruan di antara mereka. Berilah perhatian yang sama dan doakanlah mereka, dan teristimewa jadilah teladan dalam kasih, agar mereka menjadi anak – anak yang mewarisi kasih sayang. Inilah salah satu cara kita merawat cinta kasih dalam keluarga.

Doa:       Tuhan tolong kami untuk merawat cinta kasih dalam keluarga dengan berbagi kasih secara adil.  Amin.

Sabtu, 16 Mei 2020                                 

bacaan : Kejadian 37 : 12 – 36

Yusuf dijual ke tanah Mesir
12 Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. 13 Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka." Sahut Yusuf: "Ya bapa." 14 Kata Israel kepadanya: "Pergilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku." Lalu Yakub menyuruh dia dari lembah Hebron, dan Yusufpun sampailah ke Sikhem. 15 Ketika Yusuf berjalan ke sana ke mari di padang, bertemulah ia dengan seorang laki-laki, yang bertanya kepadanya: "Apakah yang kaucari?" 16 Sahutnya: "Aku mencari saudara-saudaraku. Tolonglah katakan kepadaku di mana mereka menggembalakan kambing domba?" 17 Lalu kata orang itu: "Mereka telah berangkat dari sini, sebab telah kudengar mereka berkata: Marilah kita pergi ke Dotan." Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan. 18 Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. 19 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang! 20 Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" 21 Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!" 22 Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" --maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya. 23 Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. 24 Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. 25 Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. 26 Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? 27 Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. 28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. 29 Ketika Ruben kembali ke sumur itu, ternyata Yusuf tidak ada lagi di dalamnya. Lalu dikoyakkannyalah bajunya, 30 dan kembalilah ia kepada saudara-saudaranya, katanya: "Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?" 31 Kemudian mereka mengambil jubah Yusuf, dan menyembelih seekor kambing, lalu mencelupkan jubah itu ke dalam darahnya. 32 Jubah maha indah itu mereka suruh antarkan kepada ayah mereka dengan pesan: "Ini kami dapati. Silakanlah bapa periksa apakah jubah ini milik anak bapa atau tidak?" 33 Ketika Yakub memeriksa jubah itu, ia berkata: "Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam." 34 Dan Yakub mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. 35 Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: "Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!" Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya. 36 Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja.

KELUARGA YANG MERAWAT CINTA KASIH DAN KESETIAAN

“Mayang pinang mayang kelapa, timbang cengkeh di Saparua. Orang bilang ade deng kaka, sagu salempeng patah bage dua…”,

Syair lagu berupa pantun ini, menggambarkan kehidupan persaudaraan orang Maluku yang penuh dengan kasih sayang. Hidup yang saling mengasihi, saling berbagi, saling setia, baik sebagai keluarga, suami dan isteri, adik dan kakak, tetapi juga dalam relasi orang basudara dalam arti yang lebih luas. 

Bacaan kita hari ini, menceriterakan tentang hubungan persaudaraan yang tidak saling mengasihi, tetapi penuh dengan iri hati, cemburu dan keinginan untuk saling menghancurkan. Hal ini terlihat dalam kehidupan Yakub dan keduabelas anaknya. Sebagai seorang ayah, Yakub harus menampakkan kasih sayang yang merata kepada semua anaknya, tetapi yang terjadi adalah, ia membeda-bedakan anak-anaknya, Yusuf yang lahir di masa tuanya,  menjadi “anak emas”, artinya sangat dikasihi oleh Yakub melebihi kakak-kakaknya, dan hal ini menimbulkan iri hati diantara mereka sebagai adik-kakak. Iri hati dan cemburu itulah yang menyebabkan kemudian mereka menjual Yusuf kepada para saudagar yang lewat ke Mesir. Sebagai kakak-kakak yang baik, sebenarnya mereka harus melindungi Yusuf yang masih kecil, dengan penuh kasih dan kesetiaan, namun semua itu sirna, karena merekapun tidak mendapatkan cinta kasih yang sama dari Yakub sebagai orangtua mereka. Memang cinta kasih dan kesetiaan sepatutnya menjadi dasar kehidupan keluarga yang bahagia, dimana suami dan istri saling setia dalam cinta kasih, orangtua mengasihi anak-anak tanpa membeda-bedakan, adik dan kakak saling mengasihi, saling memperhatikan satu dengan yang lain. Cinta kasih dan kesetiaan adalah anugerah Tuhan yang telah kita terima lewat pengorbanan Yesus di Kalvari, karena itu hendaklah kita saling mengasihi.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk saling mengasihi. Amin.  

*sumber : SHK bulan Mei 2020 terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey