Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Mei 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : ” Keluarga dan Hidup Sederhana “

Minggu, 17 Mei 2020                           

bacaan : Pengkhotbah 5 : 7 – 19

Kesia-siaan Kekayaan
 8 (5-7) Kalau engkau melihat dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa, janganlah heran akan perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka. 9 (5-8) Suatu keuntungan bagi negara dalam keadaan demikian ialah, kalau rajanya dihormati di daerah itu. 10 (5-9) Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. 11 (5-10) Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? 12 (5-11) Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur. 13 (5-12) Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri. 14 (5-13) Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatupun padanya untuk anaknya. 15 (5-14) Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya. 16 (5-15) Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? 17 (5-16) Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan. 18 (5-17) Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya. 19 (5-18) Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah. 20 (5-19) Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.

HIDUPLAH DENGAN SEDERHANA

Benny, seorang siswa SMP yang saya kenal, terlahir dalam keluarga yang kaya raya. Ia tinggal di rumah gedung yang megah, memiliki beberapa mobil dan banyak barang mewah lainnya. Dia juga punya beberapa pembantu rumah tangga yang bisa disuruh untuk mengerjakan apa yang dia mau. Dengan kondisi seperti ini mestinya Benny tumbuh menjadi anak yang manja. Tetapi tidak demikian, Benny memilih ke sekolah dengan mengayuh sepeda dan bergaul dengan teman-teman dari kalangan keluarga yang ekonominya pas-pasan, bahkan berkekurangan. Perilaku Benny ini membuat kedua orang tuanya heran sekaligus kagum karena ternyata Benny menjadi anak yang rendah hati dan tidak sombong serta bisa mempraktikan pola hidup sederhana. Saudaraku, banyak orang yang mengaitkan hidup sederhana dengan kemiskinan. Tetapi yang terjadi dengan Benny sangat berbeda. Orang tuanya kaya, tetapi hidupnya sederhana. Inilah yang diharapkan dari keluarga Kristen saat ini, yaitu “Keluarga yang Hidup Sederhana”. Hari ini, kitab Pengkhotbah mengajarkan kepada kita bagaimana menikmati berkat Tuhan dengan rasa syukur. Pengkhotbah katakan bahwa, banyak orang suka memuaskan keinginannya, dengan  mengejar harta benda yang menurut mereka dapat memenuhi segala keinginannya itu. Cara apapun dihalalkan seperti : menindas,  merampas hak orang lain, ataupun  mencuri. Pengkhotbah mengecam cara hidup yang seperti ini dan menegaskan bahwa kekayaan seperti itu akan menjadi sebuah kesia-siaan, apalagi jika dipakai dengan tidak bertanggung jawab. Karena itu saudaraku, mari kita belajar untuk menikmati berkat Tuhan dengan rasa syukur, dan jika berkelebihan berbagilah dengan sesama yang susah dan berkekurangan. Wariskanlah itu dalam kehidupan keluarga.

Doa:         Tuhan, tolong kami untuk bekerja dengan jujur dan selalu mensyukuri berkat Tuhan dengan hidup berbagi. Amin.

Senin,  18 Mei 2020                               

bacaan : Mazmur. 116 : 6 

6 TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.

ORANG SEDERHANA DIPELIHARA TUHAN

Hidup sebagai orang sederhana, bukanlah hal yang mudah dijalani. Hidup sederhana, yaitu menerima apa adanya hidup ini lalu mensyukurinya tanpa persungutan dan keluh kesah. Hidup sederhana bukanlah hidup dalam kemiskinan, tetapi hidup yang “merasa cukup”, dan mereka yang menjalaninya menjadi rendah hati, tidak sombong, tidak tamak, dan tidak  serakah. Dalam bacaan kita Mazmur 116 : 6, pemazmur menempatkan diri-nya sebagai orang – orang sederhana, padahal pemazmur Daud yang adalah seorang raja, mempunyai kedudukan tinggi dan memiliki berbagai fasilitas kehidupan yang memadai. Namun berhadapan dengan berbagai persoalan yang mengancam kehidupannya, pemazmur menempatkan dirinya sebagai orang yang “sangat kecil” dihadapan Tuhan. Jadi menjadi “orang sederhana” disini dikaitkan dengan sikap iman yang merendahkan diri dalam pengendalian Tuhan. Dengan merendahkan dirinya, pemazmur mengakui bahwa ketika ia lemah, Tuhan bertindak untuk menyelamatkannya. Hal ini berarti bahwa hidup sebagai orang sederhana adalah hidup yang berserah pada kehendak Tuhan. Orang sederhana memahami bahwa apapun yang ia miliki dalam hidupnya, baik kekuatan, kepandaian, kesuksesan, kekayaan, semuanya adalah anugerah dan pemberian Tuhan. Karena itu harus terus disyukuri, diterima, dan digunakan untuk memuliakan Tuhan. Jika Tuhan memberikan sesuatu yang “lebih”, hal itu menjadi isyarat agar dapat dibagikan dengan yang berkekurangan, dan jika ada orang yang berkekurangan, janganlah mengeluh apalagi mempersalahkan Tuhan, sebab Tuhan pasti memberi pertolongan lewat tangan – tangan yang berkelebihan. Disinilah kita memahami apa artinya hidup sederhana, yaitu berserah kepada Tuhan, menikmati semua pemberian Tuhan dengan “rasa cukup” dan saling berbagi.

Doa: Bapa, tolong kami menjadi orang – orang sederhana dihadapan-Mu, amin

Selasa, 19 Mei 2020                                 

bacaan : 1 Timotius 6 : 6 – 10

6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

HIDUPLAH DENGAN RASA CUKUP

“Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keinginan satu orang tamak”, demikianlah satu kata bijak dari Mahatma Gandhi yang mengajarkan setiap manusia untuk bersyukur dengan apa yang ia miliki. Rasa puas dan rasa cukup berawal dari hati yang dipenuhi rasa syukur. Cukup bukan berarti kita berhenti bekerja dan berusaha atau berpuas diri, tetapi cukup adalah melihat dan menikmati apa yang kita terima dengan rasa syukur. Rasul Paulus dalam suratnya memperingati Timotius agar berhati – hati dengan orang – orang yang serakah, mereka senang mencari keuntungan sebanyak – banyaknya untuk diri sendiri, bahkan dalam ibadah pun mereka mencari keuntungan dan memecah-belahkan  persekutuan, orang – orang seperti ini tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka miliki, mereka suka mencari – cari kesalahan, memfitnah dan menipu, hanya untuk mendapatkan keuntungan. Oleh sebab itu Paulus menasehati Timotius agar ia  memberi pengajaran dan nasehat tentang ibadah yang sesungguhnya, yaitu ibadah yang disertai rasa cukup, bahwa Tuhan sudah lebih dahulu memberi berkat yang cukup kepada kita dan karena itu kita harus bersyukur dan memuji Nama-Nya. Sebagai orang percaya, kita harus mengakui bahwa, telah begitu banyak berkat yang kita terima dari Allah, baik jasmani maupun rohani, terutama penyertaan, perlindungan dan keselamatan yang telah kita alami sampai saat ini. Bahkan semua kebutuhan hidup kita telah dicukupkan oleh Tuhan, artinya kita tidak pernah berkekurangan apalagi kelaparan disaat musibah dan bencana mendera hidup kita, sebab Tuhan memberi berkat, selalu tepat pada waktunya. Itulah pengakuan kita sebagai orang percaya, karena itu seluruh hidup kita, ibadah kita, kerja kita, hendaklah disertai rasa cukup dan sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah.

Doa: Tuhan ajarlah kami untuk hidup dengan bersyukur dan rasa cukup, Amin.

Rabu, 20 Mei 2020                                 

bacaan : 1 Timotius 2 : 9 – 10

9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, 10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.

DANDANILAH HATIMU DENGAN KASIH, SUKACITA DAN DAMAI

Berdandan untuk menjadi cantik dan lebih baik serta terhormat selalu diutamakan oleh semua orang, di semua lapisan masyarakat. Berdandan selalu disesuaikan dengan acara dan perkembangan mode. Umumnya cara berdandan seseorang akan menentukan kepribadiannya dan status sosialnya dalam pergaulan di masyarakat. Berdandan juga memberi kepuasan tersendiri bagi orang yang senang berdandan. Karena itu, berapapun biaya yang diperlukan untuk berdandan, orang selalu berusaha memenuhinya, sekalipun biayanya lebih besar dari biaya makan atau pendidikan anak – anak, sekalipun tidak ada rumah yang penting orang berdandan. Kebiasaan berdandan menciptakan persaingan diantara manusia dan membuat banyak orang berani berhutang. Persaingan ini pun sering terbawa sampai dalam suasana beribadah. Penonjolan diri dengan cara berdandan membuat orang tak lagi membedakan mana suasana pesta dan mana suasana ibadah. Hari ini, Firman Tuhan menegaskan bahwa

setiap orang Kristen hendaklah berdandan dengan sopan, dengan pantas dan sederhana dan harus sesuai dengan tatakrama yang berlaku, tidak berlebihan atau menonjolkan kemewahan. Berdandanlah dengan sederhana dan pantas agar hati kita tidak terpaut hanya pada keinginan lahiriah. Disini, Paulus ingin memberi penekanan bahwa dandanan seorang kristen adalah perbuatan – perbuatannya yang baik. Sikapnya, tutur katanya, dan perbuatannya hendaklah menjadi perhiasan yang indah dan menarik, sehingga ia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Dandanilah hati dengan kasih sayang, sukacita, damai sejahtera, kesucian dan menjadi kemuliaan bagi Tuhan.

Doa: Tuhan, biarlah hati kami didandani oleh kasih, sukacita dan damai sejahtera, amin

Kamis, 21 Mei 2020                              

bacaan : Kisah 1 : 6 – 11

Yesus terangkat ke sorga
6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" 7 Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. 8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." 9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

MENJADI SAKSI BAGI KEMULIAAN YESUS

Hari ini kita merayakan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, terjadi setelah peristiwa Kebangkitan-Nya, artinya Yesus yang naik ke Sorga adalah Tuhan yang hidup dan Ia memberi kehidupan itu kepada manusia dan seluruh ciptaan-Nya. Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga adalah suatu peristiwa ilahi, dimana Yesus Kristus ditinggikan dan dimuliakan. Inilah suatu pengakuan iman kita bahwa : Yesus Kristus adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Ia berkuasa atas langit dan bumi dan atas segala yang telah diciptakan-Nya. Dalam Kitab Kisah Para Rasul 1:6-11, Tuhan Yesus berbicara tentang Kuasa yang akan diberikan kepada para murid-Nya. Percakapan ini diawali dengan pertanyaan murid – murid-Nya tentang : “kapan terjadi pemulihan bagi Kerajaan Israel ?” Bagi Yesus, pertanyaan itu kurang penting dan itu bukan urusan para murid. Sebab yang paling penting bagi para murid adalah bagaimana mereka melaksanakan tugas menjadi Saksi Kristus baik di Yerusalem, di Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Yesus katakan bahwa dalam melaksanakan tugas mereka sebagai Saksi Kristus, murid – murid tidak sendiri, mereka tidak perlu takut dan ragu, sebab Ia akan mengirimkan Kuasa Roh Kudus-Nya untuk menyertai mereka. Para murid akan menerima Kuasa dari Tuhan pada waktu Roh Kudus turun keatas mereka sehingga mereka akan dimampukan untuk menjadi Saksi Kristus di dunia ini. Menjadi Saksi Kristus  adalah tanggungjawab kita sebagai orang percaya untuk memberitakan Kasih dan Kebaikan Tuhan Yesus Kristus yang telah kita alami dalam kehidupan kita setiap hari. Memberitakan Kasih dan Kebaikan Tuhan harus terlihat dalam seluruh aktifitas hidup kita, baik lewat pikiran, tutur kata sikap dan perilaku atau gaya hidup kita.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk menjadi saksi bagi kemuliaan Nama-Mu, Amin.

Jumat, 22 Mei 2020                               

bacaan : Ibrani 13 : 1 – 6

Nasihat dan doa selamat
Peliharalah kasih persaudaraan! 2 Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat. 3 Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini. 4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. 5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." 6 Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

  HIDUPLAH DALAM KESEDERHANAAN 

Roni sangat merasa cukup dengan penghasilannya sebagai seorang tukang ojek. Sekalipun ia diperhadapakan dengan tanggungjawabnya sebagai suami dan ayah bagi tiga orang anak yang masih sekolah, dan juga bagi dua orang adiknya yang masih kuliah tetapi Roni tidak perna ragu untuk mejalani hidupnya yang sangat terbatas secara ekonomi. Ia  tetap menjalani hidup dan kerjanya dengan rajin dan jujur, karena ia meyakini janji Tuhan, bahwa : “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (ay.5.b). Di setiap Ibadah Binakel, Roni selalu mengajak istri dan anak-anaknya serta kedua adiknya agar mereka menjadi keluarga yang hidupnya  sederhana dan  selalu bersyukur dengan berkat yang diberikan Tuhan, serta tidak  memaksakan diri untuk menjadi sama dengan orang lain yang berkelebihan. Hidup sederhana adalah panggilan iman dan ditemukan dalam sikap Yesus: Ia meninggalkan kehormatan dan kemewahan sorgawi. Ia tidak mengejar kehormatan material tetapi mengosongkan diri, untuk mengambil bagian dalam hidup manusia. Yesus bertindak dengan hati nurani-Nya, membagikan yang ada pada-Nya supaya manusia hidup dan selamat. Jadi, hidup sederhana merupakan sikap hati yang tidak ingin mencari pujian atau penghormatan orang lain, sehingga tidak dikendalikan oleh uang atau material tetapi mau berbagi dengan orang lain. Hidup sederhana tidak sama dengan hidup miskin, dan tidak dinilai dengan harga benda/barang yang dimiliki. Hidup sederhana lebih mengutamakan kebutuhan pokok dari keinginan dan merasa puas dengan apa yang dimiliki, serta memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan batas pendapatan yang wajar dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk menikmati hidup dalam kesederhanaan. Amin

Sabtu, 23 Mei 2020                                    

bacaan : Matius 6 : 19 – 21

Hal mengumpulkan harta
19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

KELUARGA DAN HIDUP SEDERHANA

Rini, seorang perempuan yang lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana  bahkan terkesan miskin, ayahnya hanya berkebun dan ibunya berjualan kecil-kecilan untuk menghidupi kelima anaknya, termasuk Rini. Mereka hidup dalam kesederhanaan, namun semua anak-anak berhasil dalam studi dan mendapat pekerjaan yang memadai. Walaupun demikian, Rini merasa tidak puas dengan keadaan dirinya, dia ingin berpenampilan dengan gaya modern, dengan menggunakan pakaian yang terlihat mahal  seperti teman – temannya. Rini menikah dengan Jun yang bekerja sebagai karyawan sebuah Perusahan. Jun sangat menyayangi Rini dan memenuhi semua keinginannya, mulai dari membeli pakaian, sepatu dan Tas yang mahal, sampai pun membeli mobil dan sebuah rumah mewah. Bagi Rini, kebahagiaannya adalah bersenang-senang, menghabiskan uang untuk jalan-jalan, belanja, arisan, nonton dan tanpa disadari, ternyata suaminya telah lama menggunakan uang perusahan untuk memenuhi segala keinginannya. Akhirnya sang suami harus mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan semua harta yang mereka miliki termasuk mobil dan rumah, diambil oleh perusahan sebagai jaminan. Memang hidup yang tidak pernah puas dengan berkat yang diberikan Tuhan, adalah hidup yang tidak tau bersyukur. Bacaan kita hari ini mengajarkan  tentang pola hidup sederhana, yaitu belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Hidup mencukupkan diri artinya memiliki kekuatan untuk mengelola semua berkat Tuhan dengan rasa syukur. Hidup sederhana tidak sama dengan kemiskinan. Ada orang yang secara ekonomi kaya, tetapi memilih hidup sederhana dan senang berbagi dengan yang berkekurangan. Pola hidup sederhana hendaklah menjadi gaya hidup keluarga kristen.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk hidup sederhana. Amin.

*sumber : SHK bulan Mei 2020 terbitan LPJ GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey