Santapan Harian Keluarga, 26 Juli – 1 Agustus 2020

jemaatgpmsilo.org

Tema Mingguan : “Peduli Anak Tanpa Diskriminasi

Minggu, 26 Juli 2020                                 

bacaan : Kejadian 21 : 8 – 21

Abraham mengusir Hagar dan Ismael
8 Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu. 9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. 10 Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak." 11 Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. 12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. 13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu." 14 Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. 15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, 16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. 17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. 18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." 19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. 20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. 21 Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir.

JANGAN MENDISKRIMINASI ANAK

Menyandang predikat sebagai penderita corona bukan perkara yang mudah. Butuh perjuangan dan ketegaran hati dalam menghadapi stigma dalam masyarakat. Perlakuan diskrimatif pun kerap dialami oleh orang yang terinfeksi virus tersebut. Ibu Henny tak menyangka anaknya yang masih berusia 4 tahun tertular virus corona dari pengasuhnya. Dan hal tersebut sangat menyakitkan hatinya, apalagi warga disekitarnya mengasingkan dan tidak menerima mereka. Tantangan terberat yang ia hadapi adalah ketika anaknya di bawah untuk diisolasikan, sedangkan Ibu Henny dilarang warga keluar rumah dan tidak boleh menemui siapapun. Ia hanya bisa menangis dan berdoa untuk keselamatan anaknya.  

Perlakuan diskriminasi dalam cerita ini juga ada dalam bacaan kita, ketika hamba perempuan Sara, yaitu Hagar bersama anaknya Ismael, diusir keluar dari keluarga Abraham. Hagar menangis, dan sudah tidak berdaya, tetapi apa dayanya, dia harus keluar dan melangkah tanpa tau harus kemana. Hagar hampir-hampir putus asa mengharapkan pertolongan, tidak ada yang bisa diandalkan selain kematian anak itu. Dalam kesusahan ini, malaikat Allah menjumpai Hagar dan meyakinkan dia, bahwa Tuhan Allah dengan penuh rahmat mendengar keluhan, rintihan, dan teriakan anak itu. Tuhan mendengar suara anak itu, sekalipun ia berada di padang gurun. Oleh sebab itu, bangunlah, angkatlah anak itu (ay. 18). Pelajaran berharga bagi tiap keluarga Kristen bahwa semua anak adalah anugerah Tuhan. Jadi seharusnya papa, mama dan semua orang dewasa dalam rumah dan di lingkungan memperlakukan anak-anak dengan penuh cinta dan kepedulian sebagai wujud menghargai anugerah Tuhan tersebut. Jangan pernah mengabaikan kepedulian kita kepada anak-anak sebab di sorga ada Bapa mereka yang selalu memandang mereka.  

Doa: Tuhan, taruhlah Roh perlindungan-Mu di dalam hati kami sebagai orangtua, agar kami dapat melindungi anak-anak kami. Amin.

Senin, 27 Juli 2020                                   

bacaan : Ulangan 24 : 16 – 17

16 Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri. 17 Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai.

ANAK DILAHIRKAN UNTUK DIKASIHI, BUKAN DITINDAS

Sepanjang tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terjadi begitu banyak kasus kekerasan terhadap anak berupa kekerasan fisik seperti dipukul, disekap, diinjak, dibenturkan kepala ke tembok, disuluti rokok, digantung, diracuni bahkan ditanam hidup-hidup. Sejumlah kasus ini menyebar di berbagai tempat. Dari beberapa kasus yang telah disebutkan dalam artikel ini, relasi orang tua dan anak yang sangat otonom dan tindakan kekerasan yang terjadi di wilayah domestik rumah tangga kerap menyulitkan penegak hukum dan masyarakat untuk mencegahnya. Publik biasanya tahu setelah korban jatuh, namun masyarakat juga sebetulnya bisa lebih aktif bergerak mengawasi jika ada kecurigaan kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Ya, peran aktif anggota keluarga memang sangat diperlukan. Karena jika tidak, barangkali anak-anak kita tinggal menunggu giliran. Ada anak yang dihukum sedemikian rupa karena kesalahan orang tuanya. Setiap anak mesti dilindungi, setiap anak mesti ada dalam kepedulian papa, mama dan orang dewasa. Bacaan kita menasehatkan kita sebagai orantua dan semua orang dewasa untuk tidak bertindak semena-mena dan sesuka hati kita dalam memperlakukan anak. Jika ada anak yang melakukan kesalahan, maka anak tersebut mesti diadili dengan adil dalam bentuk nasehat agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Anak adalah representasi dari orang-orang yang kecil dan lemah seperti  ibu janda, anak yatim, orang asing dan anak-anak. Dalam hal ini juga, Allah menghendaki agar kita tidak menindas mereka yang kecil dan lemah namun mesti melindungi mereka sehingga keberlangsungan kehidupan tetap terjaga dengan baik dalam lingkup keluarga bahkan bersama dengan orang lain.   

Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami melindungi anak-anak kami sebagai anugerah-Mu dalam hidup keluarga kami. Amin.

Selasa, 28 Juli 2020                                   

bacaan : Bilangan 27 : 1 – 11

Hak waris bagi anak-anak perempuan
Kemudian mendekatlah anak-anak perempuan Zelafehad bin Hefer bin Gilead bin Makhir bin Manasye dari kaum Manasye bin Yusuf--nama anak-anaknya itu adalah: Mahla, Noa, Hogla, Milka dan Tirza-- 2 dan berdiri di depan Musa dan imam Eleazar, dan di depan para pemimpin dan segenap umat itu dekat pintu Kemah Pertemuan, serta berkata: 3 "Ayah kami telah mati di padang gurun, walaupun ia tidak termasuk ke dalam kumpulan yang bersepakat melawan TUHAN, ke dalam kumpulan Korah, tetapi ia telah mati karena dosanya sendiri, dan ia tidak mempunyai anak laki-laki. 4 Mengapa nama ayah kami harus hapus dari tengah-tengah kaumnya, oleh karena ia tidak mempunyai anak laki-laki? Berilah kami tanah milik di antara saudara-saudara ayah kami." 5 Lalu Musa menyampaikan perkara mereka itu ke hadapan TUHAN. 6 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 7 "Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya. 8 Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan. 9 Apabila ia tidak mempunyai anak perempuan, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudaranya yang laki-laki. 10 Dan apabila ia tidak mempunyai saudara-saudara lelaki, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudara lelaki ayahnya. 11 Dan apabila ayahnya tidak mempunyai saudara-saudara lelaki, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada kerabatnya yang terdekat dari antara kaumnya, supaya dimilikinya." Itulah yang harus menjadi ketetapan hukum bagi orang Israel, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

HAK DAN KEWAJIBAN SETIAP ANAK SAMA

Setiap anak istimewa dan setiap mereka punya hak yang sama, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Namun terkadang sistem patriarki dalam masyarakat yang merugikan kaum perempuan/anak perempuan adalah sebuah fakta. Allah sendiri tidak berkenan terhadap ketidakadilan ini. Dalam bacaan hari ini, Allah berfirman ketika mendengar keluhan anak-anak perempuan Zelafehad, Allah memberikan hak yang sama bagi anak laki-laki dan anak perempuan untuk mendapatkan tanah warisan. Sebagai keluarga Kristen, kita dipanggil untuk menerapkan hukum berkeadilan dalam keluarga, jemaat dan masyarakat yang memberikan ruang dan kesempatan yang sama bagi anak laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, papa, mama harus memberikan pendampingan dan memperlakukan yang sama kepada semua anak, dengan penuh kepedulian dan keadilan. Jangan hanya fokus kepada anak laki-laki saja dan mendiskriminasikan anak perempuan atau sebaliknya. Semua anak, baik laki-laki dan perempuan, harus diperjuangkan hak- haknya. Ditengah kecendrungan masyarakat yang mendiskriminasi anak perempuan, maka anak – anak perempuan harus diberanikan untuk berbicara dan menolak stigma negatif serta dimampukan mengembangkan diri dengan segala potensinya (Brain, Beauty dan Behavior) sehingga dapat memperjuangkan keadilan kelak bagi kaumnya dan keturunannya. Keadilan dan Kesetaraan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan perlu terus menerus diperhatikan, dan peran keluarga menjadi titik sentral dari pengajaran dan aktualisasi tindakan yang memberi ruang kepada semua manusia (anak-anak) untuk hidup adil dan sejahtera dalam segala bidang kehidupan.

Doa: Tuhan, tolonglah agar kami tidak membedakan antara hak dan kewajiban anak laki-laki dan perempuan kami. Amin.

Rabu, 29 Juli 2020                           

bacaan : Keluaran 21 : 7 – 11

7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar. 8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu. 9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan. 10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia. 11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa."

ANAK HARUS DIKASIHI, BUKAN DIABAIKAN

Dalam kehidupan bangsa Ibrani kuno, menjual diri sebagai budak adalah cara bertahan hidup agar mendapat makanan dan perlindungan dari tuannya. Tuannya bisa memperkerjakan budak hanya enam tahun dan tahun ketujuh (tahun Sabat), budak tersebut akan menjadi orang bebas. Bila tuannya memberikannya istri dan melahirkan anak, maka istri dan anak tersebut tetap merupakan milik tuannya. Pilihan ada pada budak yang telah bebas tersebut, apakah ia memilih menjadi orang merdeka, atau tetap menjadi budak seumur hidup agar bisa bersama istri dan anak di rumah tuannya. Sekalipun sebagai budak, status dan hubungan budak dengan istri dan anaknya dihormati. Untuk budak perempuan, tuannya wajib melindungi dan memperlakukan mereka selayaknya. Bila kewajiban tuan itu diingkari, budak perempuan boleh ditebus, bahkan diizinkan kembali menjadi orang merdeka tanpa membayar tebusan. Tuhan menuntut kepatutan dan belas kasih dalam hidup bangsa Israel. Namun, di zaman modern ini, sering kali kita mendapati perbudakan terjadi di mana-mana. Bukan saja orang dewasa yang dijual dan dijadikan budak, namun anak-anak juga. Begitu banyak kasus anak yang dijual orang tuanya untuk dijadikan budak orang berduit hanya demi melunasi hutang orang tuanya. Ada juga anak sebagai pihak lemah dieksploitasi secara ekonomi maupun politik. Anak perempuan dijebak sebagai buruh murah di negeri lain dalam industri prostitusi. Sebagai keluarga, orangtua dan orang dewasa, mesti menjadikan rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Dan anak-anak mesti dilindungi dari berbagai perlakuan-perlakuan yang menghancurkan hidup dan masa depan mereka. Tuhan menginginkan kita menghargai hak hidup orang lain, teristimewa anak-anak.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami untuk melindungi anak – anak kami demi masa depan mereka, Amin.

Kamis, 30 Juli 2020                                   

bacaan : Kejadian 48 : 17 – 22

17 Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye. 18 Katanya kepada ayahnya: "Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya." 19 Tetapi ayahnya menolak, katanya: "Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa." 20 Lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya: "Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye." Demikianlah didahulukannya Efraim dari pada Manasye. 21 Kemudian berkatalah Israel kepada Yusuf: "Tidak lama lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu. 22 Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori."

DISKRIMINASI MEMECAH BELAH PERSAUDARAAN

Pada 20 Desember 1989, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengesahkan Konvensi Hak Anak dan memberlakukannya sebagai hukum internasional pada 02 September 1990. Konvensi ini dipandang perlu karena bagaimanapun anak masih rentan terhadap perlakuan yang salah, masih bergantung pada orang dewasa, dan sedang mengalami masa tumbuh kembang. Salah satu hak anak yang diatur di dalamnya adalah hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif. Kita ketahui bahwa Yakub begitu mengasihi Yusuf, anak yang lahir pada usia tuanya. Besarnya cinta Yakub terhadap Yusuf membuatnya memperlakukan Yusuf secara istimewa dari anak-anaknya yang lain, sehingga berakibat timbul kecemburuan dan kebencian kakak-kakak Yusuf terhadapnya. Dalam bacaan kita hari ini, terlihat bahwa Yakub tidak belajar dari pengalaman lamanya, dan terkesan Yakub melakukan kesalahan yang sama dalam memberikan berkatnya kepada kedua anak Yusuf. Yakub lebih mendahulukan Efraim (adik) dari pada Manasye (kakak). Yusuf yang pernah merasakan dibedakan ayahnya pada masa lalu, membuatnya belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama pada anak-anaknya, makanya dengan penuh hormat Yusuf menegur ayahnya. Orangtua kadang-kadang terjebak untuk memperlakukan anak dengan pilih kasih. Ada anak yang disayangi lebih dari saudaranya yang lain. Ada anak yang diperlakukan secara istimewa melebihi saudaranya yang lain. Lewat bacaan hari ini, hendaknya orangtua belajar untuk memperlakukan anak-anak secara adil. Setiap anak istimewa dan karenanya layak diperlakukan secara istimewa pula. Orangtua perlu belajar memberikan cinta kasih secara adil dan setara sehingga tidak  menimbulkan iri hati dan kebencian yang dapat merusak hubungan antar saudara-saudara yang lain.

Doa: Bimbinglah kami agar mengasihi semua anak kami secara istimewa. Amin. 

Jumat, 31 Juli 2020                                 

bacaan : 2 Raja-Raja 6 : 24 – 31

Tindakan Elisa pada waktu Samaria dikepung
24 Sesudah itu Benhadad, raja Aram, menghimpunkan seluruh tentaranya, lalu maju mengepung Samaria. 25 Maka terjadilah kelaparan hebat di Samaria selama mereka mengepungnya, sehingga sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak. 26 Suatu kali ketika raja Israel berjalan di atas tembok, datanglah seorang perempuan mengadukan halnya kepada raja, sambil berseru: "Tolonglah, ya tuanku raja!" 27 Jawabnya: "Jika TUHAN tidak menolong engkau, dengan apakah aku dapat menolong engkau? Dengan hasil pengirikankah atau hasil pemerasan anggur?" 28 Kemudian bertanyalah raja kepadanya: "Ada apa?" Jawab perempuan itu: "Perempuan ini berkata kepadaku: Berilah anakmu laki-laki, supaya kita makan dia pada hari ini, dan besok akan kita makan anakku laki-laki. 29 Jadi kami memasak anakku dan memakan dia. Tetapi ketika aku berkata kepadanya pada hari berikutnya: Berilah anakmu, supaya kita makan dia, maka perempuan ini menyembunyikan anaknya." 30 Tatkala raja mendengar perkataan perempuan itu, dikoyakkannyalah pakaiannya; dan sedang ia berjalan di atas tembok, kelihatanlah kepada orang banyak, bahwa ia memakai kain kabung pada kulit tubuhnya. 31 Lalu berkatalah raja: "Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih dari pada itu, jika masih tinggal kepala Elisa bin Safat di atas tubuhnya pada hari ini."

SAYANGILAH ANAKMU, DAN LINDUNGILAH DIA

Di dalam setiap bencana, seperti bencana alam, bencana perang dan bencana kelaparan, hampir dipastikan anak-anak selalu menjadi korban. Seperti yang terjadi di Korea Utara, seorang ayah yang kelaparan diberitakan telah dieksekusi karena membunuh kedua anaknya untuk dimakan. Karena kebijakan tertutup yang dianut negara komunis ini, kelaparan tersembunyi terjadi di provinsi pertanian di Hwanghae Utara dan Selatan yang menewaskan hingga 10.000 orang. Hal itu memicu  kekhawatiran bangkitnya kembali kanibalisme di negara komunis tersebut. Bacaan kita menggambarkan bahwa Aram mengepung Israel, dan memutus suplai makanan, dan mengakibatkan kelaparan. Dan terjadilah peristiwa itu, ketika perempuan – perempuan memakan anaknya sendiri. Raja Israel frustasi menghadapi hal itu dan ia berkata kepada Elisa, malapeta seperti ini atas Israel, mengapa aku berharap kepada Tuhan lagi. Elisa meyakinkan Israel untuk bertahan, namun mereka tak mampu, dan iman mereka rontok. Jelas ini menunjukkan ketidakmampuan raja untuk setia beriman kepada Tuhan, dan akibatnya adalah keterpurukan sebagai  hukuman dari ketidakpercayaan. Sementara soal “memakan anak” di kelaparan, menjadi gambaran penghukuman Tuhan. Bahwa Tuhan tidak membolehkan memakan anak-anak apapun kondisinya. Para ibu mengambil jalan pintas melewati kesukaran, dan menjadikan anak mereka sebagai korban. Melalui peristiwa ini, setiap orangtua diingatkan agar jangan pernah mengorbankan anak – anak, apapun yang dihadapi. Anak-anak harus selalu dilindungi, dicintai, dipelihara, dididik, dibina dengan penuh cinta dan kasih sayang, sebab anak-anak adalah milik pusaka Allah. Tuhan Allah akan bertindak untuk melindungi mereka ketika mereka tidak mendapat perlindungan dari orangtua dan orang dewasa lainnya. Karena itu sayangilah anak – anakmu.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami mengasihi dan melindungi anak-anak kami, Amin.

Sabtu, 01 Agustus 2020                      

bacaan : Kejadian 27 : 1-27

Yakub diberkati Ishak sebagai anak sulung
Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." Sahut Esau: "Ya, bapa." 2 Berkatalah Ishak: "Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. 3 Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; 4 olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati." 5 Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya, 6 berkatalah Ribka kepada Yakub, anaknya: "Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau, kakakmu: 7 Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak, supaya kumakan, dan supaya aku memberkati engkau di hadapan TUHAN, sebelum aku mati. 8 Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu. 9 Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang digemarinya. 10 Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati." 11 Lalu kata Yakub kepada Ribka, ibunya: "Tetapi Esau, kakakku, adalah seorang yang berbulu badannya, sedang aku ini kulitku licin. 12 Mungkin ayahku akan meraba aku; maka nanti ia akan menyangka bahwa aku mau memperolok-olokkan dia; dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku dan bukan berkat." 13 Tetapi ibunya berkata kepadanya: "Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku, pergilah ambil kambing-kambing itu." 14 Lalu ia pergi mengambil kambing-kambing itu dan membawanya kepada ibunya; sesudah itu ibunya mengolah makanan yang enak, seperti yang digemari ayahnya. 15 Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya. 16 Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu. 17 Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya. 18 Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: "Bapa!" Sahut ayahnya: "Ya, anakku; siapakah engkau?" 19 Kata Yakub kepada ayahnya: "Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku." 20 Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: "Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!" Jawabnya: "Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku." 21 Lalu kata Ishak kepada Yakub: "Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan." 22 Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: "Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau." 23 Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia, 24 tetapi ia masih bertanya: "Benarkah engkau ini anakku Esau?" Jawabnya: "Ya!" 25 Lalu berkatalah Ishak: "Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau." Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum. 26 Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: "Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku." 27 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.

JADIKAN RUMAHMU SEKOLAH KEHIDUPAN

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya  bertumbuh menjadi orang dewasa yang memiliki kematangan spiritualitas, baik dalam pikiran tetapi juga dalam sikap dan perbuatannya. Namun hal itu tidak akan “langsung jadi”, tetapi harus melewati suatu proses pendidikan dan pembinaan sejak anak itu masih kecil. Dalam bacaan kita ternyata Ishak dan Ribka membesarkan kedua anak mereka, Esau dan Yakub dengan tidak adil, dikatakan bahwa Ishak sayang pada Esau dan Ribka sayang pada Yakub. Ishak meminta Esau anaknya yang sulung untuk menyiapkan makanan yang enak hasil buruannya supaya ia diberkati oleh Ishak. Namun Ribka mengajarkan Yakub anak bungsu, untuk membohongi Ishak dengan berpura-pura menjadi Esau agar  mendapatkan berkat dari ayahnya. Atas rekayasa Ribka sebagai ibu dari anak-anak itu, akhirnya Ishak memberkati Yakub dan bukan Esau. Hal ini menimbulkan sakit hati pada Esau dan hubungan mereka sebagai adik kakak menjadi terganggu. Esau hidup dengan rasa dendam kepada adiknya Yakub, sedangkan Yakub hidup dengan rasa bersalah dan takut akan pembalasan kakaknya Esau. Sejak kecil, anak-anak belum dapat mengerti kata adil, tetapi dia sudah dapat merasakan perlakuan yang adil dan kurang adil. Jika kita menganak-emaskan seseorang, maka sesungguhnya kita sedang mengajarkan mereka untuk boleh bersikap tidak adil. Dalam kehidupan kita sebagai keluarga Kristen, hendaklah dibangun sikap hidup yang saling mengasihi tanpa diskriminasi, teristimewa sebagai orang tua, jangan membeda-bedakan anak-anak dalam pertumbuhan mereka. Sebab tiap anak mempunyai karakter yang berbeda yang harus dikembangkan dalam pendidikan dan pembinaan yang penuh kasih sayang. Jadikanlah rumah kita sebagai “sekolah kehidupan” bagi masa depan anak-anak yang lebih baik.

Doa: Tuhan, berkati pertumbuhan anak-anak kami agar masa depan           mereka jadi berkat. Amin.  

*sumber : SHK bulan Juli-Agustus 2020, terbitan LPJ-GPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey 
Fatal error: Uncaught exception 'wfWAFStorageFileException' with message 'Unable to save temporary file for atomic writing.' in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:30 Stack trace: #0 /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(650): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/k2376458/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/k2376458/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 30