fbpx

PENTINGNYA BUDAYA MAKAN BERSAMA DI MEJA MAKAN DALAM KELUARGA

Selasa 10/5/2022 Adanya kegiatanSeri diskusi Perkabaran Injil (Seri I)”Pentingnya budaya makan bersama di meja makan dalam keluarga” yang dilaksanakan di ruang Koncistori Gereja Silo pada jam 19.00 WIT. Kegiatan ini di pandu oleh MC Penatua Ny. R. Waas dan doa pembukaan oleh Penatua Ny. S Sasabone serta pemberian arahan sekaligus pembukaan oleh KMJ Silo Pendera D. Picauly.

Arahan sekaligus pembukaan oleh KMJ Silo

Dalam arahannya KMJ Silo mengatakan bahwa kegiatan ini dapat mempersiapkan Pengasuh menjadi agen dalam kaitan dengan pembelajaran kearifan lokal. Proses kegiatan ini berdampak pada proses pembelajaran yang ada pada program kurikulum pendidikan formal GPM. Ada aspek gereja dan konteks dalam kearifan lokal. Oleh karena itu, pengasuh menjadi sasaran dalam kegiatan ini dan harapannnya dalam kegiatan ini dapat dipedomani secara baik.

Narasumber & Moderator

Kegiatan dipandu oleh Moderator Kk Fenny Sairdama dan Pendeta Ny. Nancy Souissa/Gasperz sebagai Narasumber. Dalam paparannya Beliau mengatakan bahwa makan bersama sudah ada sebelum ada pengelolaan tanah. Makan bersama itu sudah terjadi (Arkeolog). Manusia mempunyai jati diri untuk berbagi dan ada kerinduan untuk berbagi atau perilaku yang memberi sesuatu.

Semua budaya mempunyai tradisi makan bersama. Diantara budaya yang ada, tradisi makan bersama ini merupakan satu budaya yang menonjol. Perilaku berbagi bersama bukan dengan yang dekat saja misalnya keluarga, teman dekat dsb, tetapi juga dengan hal-hal yang lain.Makanan memegang peranan penting dalam makan bersama. Misalnya orang mau makan tetapi takut yang haram dsb.

Salah satu proses makan bersama yang penting adalah memasak, memasak membuat orang mempunyai kreativitas mencipta bersama. Secara antropologi ada orang yang mau makan ketika datang ketempat baru, melihat orang ditempat itu makan dulu baru bisa makan. Meja makan bukan hanya tempat atau peralatan tetapi suasana dan ruang yang tercipta bagi sebuah peristiwa. Makan bersama dapat menciptakan persekutuan, kegembiraan, keramahtamahan, penerimaan, persahabatan, berbagi , kesejahteraan, kejujuran, keterbukaan, kesederhanaan, keadilan, kesetiaan pada tradisi masa lalu.

Dalam tradisi makan bersama ada etika (misalnya tidak boleh angkat kaki saat makan, makan tidak boleh tidak pakai baju, makan jangan bercerita, makan sampai abis, dsb). Sacrifice meal = misalnya makan perjamuan kudus dengan Kristus. Dulu buka saja makan roti dan minum anggur tetapi juga makan agape. Makan agape dengan bersama dengan juga dilingkupi dengan kasih Allah.

Ketika makan bersama, ibadah terjadi (bukan saja dikaitkan dengan memuji Tuhan) tetapi mempraktekkan nilai Allah didalam makan bersama didalam kehidupan bersama. Rasa syukur kepada Allah dan ibadah itu terjadi (Ruang Sakral). Makan bersama berhubungan dengan pendidikan (memproses manusia menjadi makhluk sosial (diajarkan etika), berjalan teratur sehingga memiliki nilai-nilai yang telah disebutkan. Pengasuh juga memiliki peran penting dalam proses perkembangan anak.

Doa penutup oleh Ibu V. Louhenapessy

Kegiatan ini dihadiri oleh 30 peserta yang didalamnya Pengasuh dan Majelis Jemaat GPM Silo. Kegiatan berakhir pada jam 22.00 WIT dan didoakan oleh Ibu V. Louhenapessy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *