Jemaat GPM Silo menyelenggarakan Seminar Peran Warga Gereja Profesi bagi Gereja dan Umat

[Ambon, Jemaat Silo] Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang mampu memberdayakan umatnya menghadapi tantangan dan problematika hidup. Gereja yang bertumbuh, juga berarti gereja yang bergandengan tangan bersama dengan umatnya melintasi zaman dan waktu. Gereja yang bertumbuh, adalah gereja yang mampu menghadirkan tanda-tanda syalom Allah [kasih, sukacita, damai sejahtera, kesejahteraan, keadilan dll] dalam kehidupan umat.

Untuk dapat bertumbuh, maka gereja-gereja dalam  lingkup GPM pertama-tama, mesti bersandar pada motto GPM sebagaimana I Kor 3 : 6 “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Namun untuk terus bertumbuh, gereja juga mesti secara proaktif menggerakkan potensi dan talenta umat demi kemajuan dan kebaikan bersama.

Doa buka oleh Pnt Ny. R. Soselissa, Ketua Seksi Pemberdayaan Teologi dan Pembinaan Umat [PTPU]
Pdt. A.J. Timisela selaku Ketua Majelis Jemaat GPM Silo saat memberikan arahan pembukaan dalam Seminar peran Warga Gereja Profesi bagi Gereja dan Umat yang dilaksanakan oleh Subseksi Warga Gereja Profesi [WGP], Jemaat Silo bertempat di Ruang Serbaguna Gereja Silo [01/09/2017] menegaskan bahwa, Seminar ini sebagai bagian untuk penyamaan persepsi dan sekaligus mendapatkan masukan tentang persoalan-persoalan dalam jemaat. Seminar ini diharapkan dimanfaatkan untuk memahami apa saja kontribusi WGP bagi jemaat dan gereja ? sebab profesi itu sesungguhnya adalah anugerah Tuhan bagi masing-masing orang.

Pdt. Timisela dalam paparan materi selanjutnya menjelaskan bahwa, gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya kepada Kristus – termasuk Warga Gereja Profesi – adalah orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, orang-orang yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani, tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan [I Petrus 2 : 9-10].

Orang-Orang percaya itu mempunyai tanggung jawab memberitakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar bagi dunia. Pemberitaan itu bukan hanya dilakukan dengan kata-kata, tetapi juga harus diaktakan. Bukan hanya dibicarakan, tetapi juga dikerjakan. Konkritnya, warga gereja tidak boleh merasa puas dan berhenti dalam ruang-ruang ibadah ritual saja, tetapi harus masuk pada persoalan-persoalan sosial umat atau bermasyarakat.

Mengapa ? karena proses pemberitaan kabar baik itu, bukan hanya dilakukan oleh pendeta, penginjil dan majelis jemaat saja, tetapi memberitakan tentang Kristus terjadi pada semua aspek kehidupan, pada berbagai bidang kerja dan profesi.

Sampai disini, Pdt Jems Timisela lalu membedakan antara kerja dan profesi. Kerja adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. sedangkan profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu.

Contohnya, seorang yang bekerja di instansi Dinas Kesehatan belum tentu seorang dokter, namun ia adalah PNS. Sedangkan seorang berijazah kedokteran yang bekerja di Dinas Kesehatan adalah seorang PNS, namun juga memiliki profesi yakni sebagai seorang dokter.

Dengan demikian Warga Gereja Profesi, adalah warga gereja yang memiliki pendidikan atau keahlian tertentu. Karena tertentu itulah, maka WGP punya potensi dan sumberdaya manusia berkualitas yang diharapkan memberikan sumbangsih bagi persoalan-persoalan berjemaat.

Contoh konkrit yang dikemukakan dalam perjalanan melayani, bahwa beliau pernah bersama-sama dengan para warga gereja yang berprofesi guru melakukan terobosan berupa pemberian les tambahan selama 6 bulan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional/Tes Kenaikan Kelas, sebagai upaya mempersiapkan anak-anak menghadapi soal-soal ujian/tes.

Lebih lanjut dikupas oleh Ketua Majelis Jemaat Silo yang mulai bertugas di Jemaat Silo sejak 8 Februari 2015 itu bahwa, berdasarkan Renstra Jemaat GPM Silo 2015-2020, sasaran pengembangan kapasitas umat adalah terciptanya pemahaman spiritualitas WGP berdasarkan profesionalisme kerja, dan Seminar ini adalah strategi demi mewujudkan peran WGP dalam aktivitas gerejawi.

Sesungguhnya, WGP berdasarkan aneka profesi yang dimiliki menjadi asset [kekayaan] yang dapat diberdayakan untuk melaksanakan apa yang menjadi visi dan misi pelayanan gereja dalam jemaat. Renstra mengarahkan Jemaat Silo supaya menjadi Jemaat yang berakar di dalam Tritunggal Allah yang bertambah kuat di dalam dan di luar jemaat dengan mengedepankan kualitas umat yang pro hidup.

Di akhir paparannya, Pdt Jems menaruh harapan besar bahwa melalui kegiatan Seminar ini, Jemaat Silo akan mendapatkan masukan, ide, pikiran bagi gereja untuk mendayagunakan Warga Gereja Profesi di masa-masa yang akan datang. Apa yang WGP dapat berikan kepada gereja dan sebaliknya, apa yang dapat gereja fasilitasi supaya warganya semakin dapat diberdayakan melalui profesi yang dimiliki.

Peserta Seminar WGP

Narasumber kedua yang hadir dalam Seminar tersebut adalah Pdt. Reza Dumatubun – dosen pada Fakultas Teologia, Universitas Kristen Indonesia Maluku [UKIM]. Di awal paparan, Pdt Reza membagi pengelompokan profesi dalam jemaat ke dalam 2 kelompok besar, yaitu Profesi Sekuler : dokter, guru, dosen, pengacara, notaris dll. Yang kedua adalah Profesi Rohani : Pendeta dan Penginjil.

Menurut Pdt. Reza,  melaksanakan peran sebagai WGP harus menyadari sungguh bahwa itu dalam tanggung jawab BERMISI. Yang dimaksudkan dengan BERMISI, adalah bahwa mesti timbul kesadaran untuk melaksanakan peran profesi itu dengan kesungguhan, tetapi juga kesadaran tulus bekerja dan melaksanakan profesi dengan tidak saling berbantah-bantahan. WGP mesti melihat tiap profesi itulah adalah anugerah Tuhan yang mesti disyukuri, dan bentuk syukur itu adalah dengan bekerja dengan kesungguhan, tetapi juga dalam konteks bisa berbagi anugerah pemberian Tuhan itu dengan sesama.

Penegasan akhir yang disampaikan oleh Pdt Reza, dalam mencermati peran-peran WGP dalam konteks berjemaat selama ini bahwa ada kencenderungan inisiatif lebih dominan datang dari pihak gereja untuk mengefektifkan atau mendayagunakan potensi WGP, padahal seharusnya inisiatif atau sikap pro-aktif itu mesti datang dari keterlibatan WGP sendiri.

Dengan demikian kunci pemberdayaan WGP bagi gereja dan umat adalah masalah komunikasi. Bagaimana menjembatani keterlibatan WGP dalam konteks bergereja dan berjemaat menjadi penting, supaya profesi yang adalah anugerah Tuhan itu dapat lebih bermakna dalam membangun persekutuan hidup jemaat yang lebih baik dan lebih berkualitas.

Sesi Diskusi, Pnt Ny. V. Louhenapessy

Dalam sesi diskusi, para peserta seminar sangat antusias dan memberi apresiasi terhadap penyelenggaraan seminar ini, karena sangat berguna untuk membuka ruang sekaligus mendorong tumbuhnya peran-peran konstruktif dari WGP. Para peserta menyatakan kesiapan dan dukungan untuk berbagai langkah konkrit yang akan dilakukan gereja, dalam hal ini Majelis Jemaat GPM Silo untuk mendayagunakan potensi WGP, di semua bidang profesi, baik itu kesehatan, pendidikan, hukum maupun profesi-profesi lainnya. Semoga melalui seminar ini, potensi jemaat pada WGP dapat berkontribusi dalam tanggung jawab membangun kehidupan berjemaat yang lebih baik dan prohidup. Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *