Serius Terhadap Kekerasan Perempuan dan Anak, SILO Kembali Gelar Seminar HAM
AMBON, jemaatgpmsilo.org
“… bahwa hak asasi manusia itu bulan pilihan, hak asasi manusia itu sesuatu yang melekat dalam diri seorang, entah bayi, remaja, pemuda ataukah orang tua. Setiap orang yang lahir dan yang dihadirkan Tuhan di tengah-tengah dunia ini mempunyai hak untuk hidup, hak untuk bekerja, hak untuk studi, hak untuk mendapat perilaku yang adil, dan banyak lagi yang menjadi hak-hak dasar. Dan hak itu tidak boleh direduksi oleh siapapun apalagi dihilangkan. Tetapi yang tejadi dalam kehidupan bersama kita, ternyata ada banyak orang yang tidak bisa menikmati haknya dengan baik, oleh karena yang saya bilang tadi, ada yang direduksi oleh pihak-pihak tertentu, oleh orang-orang tertentu, tetapi juga ada yang dihilangkan, dihancurkan. Padahal hak asasi itu adalah anugerah yang Tuhan kasi untuk setiap orang. Dan oleh sebab itu setiap orang harus mempertahankan haknya. Kegiatan hari ini adalah program yang mau diberikan gereja kepada seluruh warga jemaatnya, supaya mereka mengerti apa yang menjadi haknya yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik. Dan jangan mau hak-hak asasi itu kemudian direduksi atau dihancurkan oleh pihak-pihak tertentu.” Demikian yang disampaikan oleh Pendeta Jan. Z. Matatula, Ketua Majelis Jemaat GPM Silo pada saat acara pembukaan Seminar Hak Asasi Manusia Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, yang diselenggarakan di Jemaat GPM Silo, Sabtu 27 April 2019 Pkl. 15.00 WIT, bertempat di ruang serba guna gedung Gereja Silo.
Lebih lanjut Matatula menegaskan, “dalam realitas kehidupan kita, ternyata kekerasan terhadap perempuan dan anak intensitasnya tinggi sekali. Beberapa waktu yang lalu juga terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kita baca koran dan media sosial, peristiwa yang terjadi di Aboru. Kebetulan saja keluarga itu kalau di Suli tinggal dekat saya disana. Suami tega pukul isterinya sampai mati didepan anaknya dengan besi. Dituntut penjara 14 tahun. Saya tidak tahu latar belakangnya apa, tapi bahwa hak hidup perempuan itu jangan dihilangkan. Apalagi yang menghilangkan hak itu adalah suaminya sendiri, bukan orang lain. Dalam Alkitab berkata, seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya, dan keduanya menjadi satu daging. Bagaimana bisa satu daging, daging yang satu hancurkan tubuhnya sendiri…. nah realitas itu selalu ada dalam kehidupan masyarakat kita. Nah tentu kita berharap dengan kegiatan ini ada edukasi yang diberikan kepada keluarga jemaat supaya mereka memahami apa yang menjadi haknya, tetapi juga mereka menolong supaya proses-proseskekerasan dalam rumah tangga itu, baik secara fisik maupun verbal itu tidak sampai terjadi.

Tampil sebagai narasumber adalah Vivi Marantika Direktur Humanum, yang memaparkan masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak dari aspek praktis. Sedangkan narasumber kedua adalah Dino Huliselan, yang sehari-hari berprofesi sebagai advokat dan juga Kepala Devisi Hukum dan HAM Humanum, yang mengkaji kekerasan perempuan dan anak dari konteks penerapan hukum.
Seminar HAM Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak yang digelar atas kerja sama kemitraan Subseksi Perempuan dan Subseksi Laki-laki itu, mengikutsertakan 10 orang peserta dari masing-masing sektor, yang terdiri atas unsur : laki-laki, perempuan, pemuda, anak remaja dan majelis sektor. Dari data absensi, tercatat sebanyak 72 orang peserta yang hadir. [BK]

