Seminar bagi Keluarga tentang Nilai Kekerabatan Berbasis Pengetahuan Lokal

AMBON, jemaatgpmsilo.org

Berdasarkan arahan RENSTRA Jemaat GPM Silo 2016-2020, ditetapkanlah salah satu kegiatan peningkatan pengetahuan dan informasi bagi keluarga-keluarga tentang Nilai Kekerabatan Berbasis Pengetahuan Lokal.

Kegiatan ini diarahkan untuk dipublikasikan melalui metode media sosial berbasis daring / dalam jaringan, atau secara online. Pertimbangan sederhananya, dengan menggunakan media sosial yang memang sementara trend di masyarakat, informasi yang terkandung akan dapat diserap lebih banyak, baik di kalangan keluarga kristen dalam jemaat, maupun di luar jemaat.

Adapun narasumber yang membahas materi seminar dimaksud adalah Pdt. Rudi Rahabeat. Semoga bermanfaat…!! Syaloommm….

NILAI KEKERABATAN  BERBASIS PENGETAHUAN LOKAL

Oleh: Pendeta Rudy Rahabeat (Pendeta GPM)

Pentingnya Menggali dan Merawat Pengetahuan Lokal

Ibadat “harta karun” pengetahuan lokal dan atau kearifan lokal itu nyaris tenggelam atau ditenggelamkan secara sadar maupun tidak. Sebagai contoh, pemerintah kolonial Belanda menghancurkan situs-situs budaya, termasuk bahasa daerah (bahasa tanah) yang sebenarnya dapat mempersatukan masyarakat Maluku walau berbeda latarbelakang agama. Demikian pula pemerintah Orde Baru telah membuat penyeragaman budaya, antara lain melalui UU Pemerintahan Desa berdasarkan budaya Jawa. Akibatnya, institusi dan nilai-nilai budaya lokal semakin terkikir bahkan hilang. Selain itu, masyarakat Maluku sendiri tidak dengan serius menjaga dan mempertahankan warisan budayanya, melainkan terbuai dengan perubahan dari luar. Padahal, kearifan lokal (lokal wisdom) merupakan sumber nilai yang dapat digunakan untuk merajut kekerabatan maupun kebersamaan lintas budaya dan agama. Hal ini dilandasi oleh argumentasi bahwa ada nilai-nilai positif di dalam kearifan lokal itu seperti persaudaraan, saling menerima, saling berbagi, solidaritas, yang merupakan perekat perbedaan, khususnya perbedaan agama. Kearifan lokal itu bisa berupa pranata budaya seperti Pela-Gandong, Masohi, Badati, dll. Bisa juga dalam seni seperti Kapata, cerita rakyat, permainan rakyat, dst.

Pdt. Rudy Rahabeat (Pendeta GPM)

Seiring perjalanan sejarah, khususnya pasca runtuhnya Orde Baru, muncul kesadaran untuk merayakan perbedaan sebagai anugerah. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah membuka peluang politik unttuk menggali dan menghidupkan kembali budaya lokal, termasuk kearifan lokal. Sebagai contoh, dibuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Pemerintah Negeri di Maluku berdasarkan budaya masyarakat Maluku. Demikian pula pasca konflik 1999, muncul kesadaran untuk menghidupkan kembali, merevitalitasi kearifan lokal seperti Pela Gandong, Ain ni Ain, hukum Adat Larwul Ngabal, Duan-Lolat di Tanimbar, Kai-Wait (Ade-Kaka) di Buru, Kalwedo di Maluku Barat Daya, dst. Ini merupakan peluang yang mesti dimanfaatkan secara baik oleh semua pihak, baik pemerintah, perguruan tinggi, maupun lembaga agama. Misalnya di GPM dikembangkan eklesiologi “Gereja Orang Basudara”. Pemberian nama-nama Gereja berdasarkan nama-nama lokal, dst.

Pertanyaan utama yang perlu direnungkan berkaitan dengan fokus tulisan ini adalah, apakah nilai kekerabatan yang masih hidup di tengah-tengah Jemaat GPM Silo saat ini? Jika jawabannya Ya, maka pertanyaan lanjutan adalah, mengapa hal itu masih hidup dan bagaimana caranya agar nilai-nilai tersebut terus dirawat dan dikembangkan melalui keluarga dan gereja?

Buka Puasa Bersama Gereja Silo dan Jalan Baru: Sebuah Contoh Nyata Kekerabatan

Pada hari Kamis, 30 Mei 2019 berlangsung acara Buka Puasa Bersama antara warga Muslim di Jalan Baru bersama warga jemaat GPM Silo. Acara ini merupakan bukti nyata adanya ikatan kekerabatan di antara komunitas agama yang hidup berdampingan itu. Ketua Majelis GPM Silo. Pdt Jan Matatula, menulis peristiwa itu pada media online Terasmaluku.com.  Mantan Ketua Klasis GPM Kairatu itu antara lain menulis begini: “Hari ini kita juga bersyukur karena Tuhan mengizinkan kami sebagai umat beragama, warga jemaat GPM Silo dan Jemaah Muslim Jalan Baru Kelurahan Honipopu Kota Ambon mengadakan acara Buka Puasa Bersama yang berlokasi di depan Mesjid Nurul Huda. Ini adalah wujud dari kehidupan persaudaraan yang saling menghormati dan saling mencintai di antara umat beragama, tetapi juga sebagai Orang Basudara. Adapun lokasi gedung Gereja Silo berdampingan dengan Jalan Baru dimana setiap hari terjadi interaksi “maso keluar” antar warga dalam semangat kekeluargaan” (Terasmaluku.com, 30 Mei 2019)

Pendapat Pdt Jan di atas menyiratkan dua dimensi kekerabatan pada aras agama maupun budaya. Pada aras agama, tiga agama Samawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam diyakini saling berkerabat yang merujuk pada figur Abraham/Ibrahim. Ketiga agama ini kerap disebut sebagai agama-agama  Abrahamik (Abrahamic religions). Pada aras budaya, hubungan kekeraban itu dibingkai dalam diksi budaya “Orang Basudara”. Bagi masyarakat Maluku, frasa “orang Basudara” menggambarkan hubungan persaudaraan di antara orang Maluku sejak jaman para leluhur. Terdapat keyakinan bahwa semua orang Maluku adalah saudara karena mereka berasal dari leluhur yang sama. Pendapat umum menyebutkan tentang asal-usul orang Maluku dari Nunusaku di pulau Seram (Nusa Ina). Keyakinan ini antara lain nampak pada lagu “Maluku Tanah Pusaka: yang syairnya antara lain berbunyi: “Dari ujung Halmahera sampai Tenggara Jauh, katong samua basudara. Nusa Ina katong samua dari sana”.

Jika menoleh uraian Wikipedia, hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antar tiap entitas yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam antropologi, sistem kekerabatan termasuk keturunan dan pernikahan, sementara dalam biologi  istilah ini termasuk keturunan dan perkawinan.

Tulisan ini memaknai kekerabatan bukan saja dalam arti biologis, melainkan memahaminya secara luas, dalam lingkup sosial dan budaya dalam konteks masyarakat kota yang heterogen. Dalam kaitan ini, Jemaat GPM Silo didekati sebagai kategori masyarakat perkotaan, yang masih tetap memegang nilai-nilai budaya lokal, yang dalam tulisan  ini disebut pengetahuan lokal.

Yang Lokal Bukan Berarti Tidak Keren

Ada orang yang mempertentangkan pengetahuan lokal dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan lokal dianggap tidak ilmiah, hanya terbatas pada kelompok atau wilayah tertentu saja dan tidak memiliki metode yang jelas. Sebaliknya, pengatahuan modern dianggap memiliki metode yang jelas, bersifat universal dan rasional. Pada lain sisi, pengetahuan lokal sering dikaitkan pula dengan sesuatu yang mistik, bahkan bermuatan kepercayaan kepada hal-hal yang tidak masuk akal atau irasional.

Cara berpikir dikotomis atau dialistik ini membuat terjadi saling menafikan satu sama lain. Orang modern dianggap tidak boleh tradisional, orang tradisional dianggap ketinggalan zaman. Pandangan seperti ini tentu bisa berbahaya. Sebab tidak pernah ada seseorang atau sekelompok orang benar-benar modern, dan tidak semua yang tradisional itu tidak baik dan bertentangan dengan yang modern.

Secara teologis, jemaat merupakan satu kesatuan yang diikat oleh Kristus sebagai Kepala Jemaat. Dalam Jemaat, diakui adanya perbedaan latar belakang suku dan budaya, tetapi perbedaan itu dipersatukan di dalam nilai-nilai Kristiani. Secara sosiologis, jemaat itu terdiri dari kelas sosial yang berbeda-beda, suku dan budaya berbeda serta  agama yang berbeda.  Coba cermati dengan seksama keberadaan Jemaat Silo saat ini. Apakah mereka berasal dari satu atau beberapa matarumah saja? Apakah hanya ada beberapa marga (fam) dalam jemaat ini? Apakah jemaat ini hanya terdiri dari beberapa asal-usul kampung atau pulau? Atau sebaliknya. Jemaat Silo sangat beragam suku, marga, asal-usul kampung, status sosial, dan sebagainya. Bahkan jemaat Silo juga berada bersama saudara-saudara yang beragama berbeda, khususnya Islam, dan terus merajut hubungan dan kerjasama lintas agama.

Pendidikan Nilai Kekerabatan Dalam dan Melalui Keluarga

Tak dapat dibantah bahwa keluarga merupakan basis pembinaan. Di dalam dan melalui keluarga ditanamkan nilai-nilai hidup yang bermutu. Di dalam dan melalui keluarga pengetahuan lokal dijaga dan dirawat agar tetap hidup dan lestari. Sebaliknya, jika keluarga lalai untuk menjaga dan merawat pengetahuan lokal, maka dapat dibayangkan kita akan semangat mengalami krisis identitas dan terbawa dalam nilai-nilai budaya asing yang bisa saja makin merenggangkan hubungan kekerabatan dan persaudaraan, karena masing-masing orang makin tertutup, egois dan hanya mencari kepentingan diri sendiri. Terkait hal ini ada tiga catatan penting yang dapat diperhatikan dalam rangka merawat nilai kekerabatan yang terdapat dalam pengetahuan lokal.

Pertama, keluarga-keluarga mesti sadar dan disadarkan bahwa pengetahuan lokal itu penting untuk digali dan dirawat serta dihidupi. Pengetahuan lokal itu bukan sesuatu yang sekedar dimunculkan pada saat-saat tertentu saja, apalagi hanya untuk kepentingan pariwisata, melainkan benar-benar dijadikan pedoman dalam hidup tiap keluarga, jemaat dan masyarakat. Contoh sederhana, kebiasaan adanya meja sombayang dan piring natzar dalam keluarga merupakan hal positif yang mempersatukan keluarga. Demikian pula konsep “rumah tua” sebagai tempat tiap-tiap keluarga tumbuh dan berkembang bersama. Dengan menyebutkan “rumah tua” maka walaupun akhirnya ada yang membangun keluarga sendiri dan mempunyai rumah sendiri, tetapi mesti ingat pada “rumah tua” sebagai rumah bersama yang mengingatkan tentangnya kasih persaudaraan dan kebersamaan orang basudara. Demikian pula kebiasaan ibadah bersama keluarga di setiap akhir pekan (Binakel) mesti tetap dilihat sebagai positif untuk membina kekerabatan dan persekutuan dalam keluarga.

Kedua, membangun kekerabatan lintas suku dan agama. Di tengah konteks masyarakat kota Ambon yang plural dan multikultural maka kita tidak bisa menutup diri dari orang lain. Kita perlu membuka diri dan membangun komunikasi serta kerjasama dalam semangat persaudaraan yang toleran. Nilai-nilai kearifan lokal seperti Pela-Gandong mesti tetap dijaga dan dirawat dalam kehipan tiap-tiap hari. Ini bukan berarti kita membangun romantisme masa lalu, melainkan ketika ada nilai-nilai positif yang dimiliki oleh pengetahuan atau kearifan lokal itu maka hal itu mesti dihidupi dan dibanggakan bersama. Gereja dan jemaat mesti menjadi pelopor dan teladan dalam membangun persaudaraan lintas suku dan agama, seperti ungkapan oikumenis “church for other”, gereja untuk orang lain.  Ketiga, memperkuat ketahanan keluarga di era digital. Dunia terus berubah, segala sesuatu berubah, termasuk keberadaan tiap keluarga. Meja makan keluarga misalnya telah bergeser ke ruang nonton televisi, komunikasi langsung antar anggota keluarga telah beralih dengan komunikasi melalui gadget dan media sosial. Di sini berlaku ungkapan “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Relasi antar ayah ibu dan anak-anak bisa saja “bisu” karena masing-masing sibuk dengan handphonenya. Ikatan kekerabatan telah diperluas menjadi ikatan pertemanan di dunia maya, melalui WA group, jaringan fesbuk, twitter dan instagram. Dalam menghadapi realitas ini tentu dibutuhkan kelenturan dan adaptasi tiap-tiap keluarga. Tentu saja tidak selalu harus dipertentangkan antara pengetahuan lokal dan perkembangan dunia digital saat ini. Sebab keduanya bisa saling melengkapi. Nilai-nilai pengetahuan seperti kekerabatan dan kebersamaan tetap dihormati namun dikemas dalam format dan media yang makin kreatif dan infomatif. Melalui media sosial, pesan-pesan kekerabatan dan persaudaraan lintas suku dan agama dapat terus digemakan. Demikian pula dalam program-program jemaat terus dikembangkan hal-hal yang makin memperkuat kekerabatan dan persaudaraan yang merangkul tiap perbedaan. Semuanya berlandaskan kasih. Yesus berkata “Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri”. Tuhan Memberkati.

*[Subsie Pembinaan Keluarga]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

John Brown Womens Jersey